open mind.com weblog


TUHAN, menurut logika tidak selalu dibutuhkan. Meskipun demikian, kita tetap bisa memiliki cinta, perilaku etis dan bahkan pengalaman abadi .

 

“Roh bukanlah substansi. Lebih tepatnya roh merupakan sebuah fungsi, kapasitas, tindakan (tindakan berpikir, berkehendak, berimajinasi, membuat lelucon cerdik) – dan tindakan ini, setidaknya tidak dapat disangkal karena tidak ada yang dapat dibuktikan keliru tanpanya. Kita adalah makhluk fana yang terbuka terhadap keabadian, dan mahluk relatif yang terbuka pada yang absolut. Keterbukaan ini adalah roh itu sendiri. Semua agama melibatkan spiritualitas, paling tidak sampai pada titik tertentu. Tetapi tidak semua agama bentuk spiritualitas bersifat keagamaan. Menjadi seorang ateis bukan berarti mengingkari eksistensi yang absolut, melainkan lebih kepada mengingkari aspek transendensinya, spiritualitasnya, dan sifat-sifat yang dimilikinya, yakni mengingkari bahwa yang absolut adalah Tuhan.”(Andre Comte-Sponville).

 

 

Sekilas tentang filosofi Spiritualitas tanpa Tuhan.

Rangkaian kalimat pembuka di atas adalah sebuah ringkasan yang sangat lengkap untuk mewakili keseluruhan intisari dari filosofi yang dukenal sebagai SPIRITUALITAS TANPA TUHAN.

 

Para penganut filosofi spiritualitas tanpa Tuhan ini jelas tidak percaya Tuhan dan sangat skeptis terhadap agama. TETAPI mereka bukanlah orang yang tidak butuh spiritualitas. Tetapi spiritualitas yang mereka inginkan inginkan bukanlah pemenuhan spirit yang berasal dari sesuatu yang lain, baik dari agama maupun Tuhan.

 

Manusia, kata Sponville bisa hidup tanpa agama, tapi ia tidak bisa hidup tanpa komune, ketaatan atau cinta.  Bahkan manusia tidak bisa hidup tanpa spiritualitas. Inilah landasan asasi mengapa Sponville tetap menginginkan hidupnya diwarnai spiritualitas.

 

Spiritualitas menurut Sponville adalah kehidupan dengan roh. Roh itu sendiri, dengan meminjam uraiannya Rene Descartes dikatakan Sponville sebagai sesuatu yang berpikir. Roh itulah yang berpikir, mencecap, mengetahui, merasakan, dan sebagainya. Sesuatu itu dalam pandangan Sponville adalah otak sementara Descartes meyakininya sebagai substansi material.

 

Kebutuhan akan spiritualitas itulah yang kemudian mendorong Sponville menawarkan spiritualitas tanpa Tuhan atau spiritualitas ateis. Kebutuhan akan spirit atau roh bukanlah kepentingan akan sesuatu yang ada di luar manusia. Tuhan atau agama tidak selalu memberikan spirit.  Karena itulah spiritualitas bisa dipenuhi tanpa melibatkan agen eksternal.

 

Di awal tahun 2008 ini muncul satu buku yang diilihat dari judulnya saja sepertinya sangat menantang. Yaitu “Spiritualitas Tanpa Tuhan”. banyak orang tak setuju dengan judul ini. Bahkan di beberapa milis di internet, teramat banyak yang menyangkali, mengkritik – tapi juga tak sedikit yang setuju dengan judul tersebut.

 

André Comte-Sponville, penulis buku ini sepertinya ingin memisahkan konsep spiritualitas lepas dari lembaga agama dan entitas Tuhan. Menurutnya (Comte) pandangan ini tidak mereduksi atau hendak menafikan hakikat kehidupan spiritual, dalam arti yang sebenarnya (an-sich). Kendati demikian, disatu sisi kita juga tidak perlu menolak nilai-nilai dan tradisi-tradisi kuno, semisal Islam, Kristen, dan Yahudi yang telah menjadi bagian dari warisan kita, dan mengkristal, mendarah-daging dalam kehidupan kita hingga saat ini. Tetapi, kita mesti memikir ulang relasi kita dengan nilai-nilai tersebut seraya bertanya apakah nilai-nilai itu signifikan bagi kebutuhan manusia untuk berhubungan antara satu dengan lainnya dan alam semesta, kata Comte.

 

Untuk mendukung pandangan tersebut, Comte-Sponville menyajikan argumen dengan merujuk pada satu contoh real tentang dirinya dan spiritualnya. Banyak orang mengangap dia sebagai “ateis kristen”. Meskipun Comte seorang Ateis, namun tak sedikit pun dia menjauhkan dirinya dari ranah sosial historis dirinya sebagai seorang Katolik. Comte pun mengakui bahwa dia tak bisa luput dari apa yang dinamakan Katolik. Sebab Katolik merupakan “masa lalunya” yang telah mengkristal dalam benak dan memorinya. Karena itulah pandangan-pandangannya seringkali juga terpengaruh dengan kekatolikannya itu. Dengan ini Comte sedang menyodorkan dirinya sebagai contoh dari seseorang yang dapat meraih spiritualitas meski ia kehilangan keimanan pada Tuhan.

 

Pada sebagian besar bagian, pandangan spiritualitas tanpa Tuhan, yang notabene dpt diklasifikasikan sebagai ateis ini, teramat sangat mirip (klu tdk boleh dibilang identik) bahkan mungkin berakar dari pandangan kaum liberalis-modernis.

 

 

Para pengusung liberalis-modernis yang berujung pada spiritualitas tanpa Tuhan ini beranggapan bahwa filosofi yang mereka usung adalah sebuah pencerahan akan kebenaran kontemporer yang menjawab semua permasalahan yang tidak dapat dijawab agama2 tradisional di jaman modern.

 

Agama dan spiritualitasnya sulit mendapat tempat dalam dunia modern, yang segala sesuatu diukur pada nilai kebenaran ilmu pengetahuan rasional. Dualisme dalam pandangan jiwa dan tubuh, spiritual dan matrial digagas dalam pendekatan rasional pada kepercayaan publik modern dan kalaupun ada yang mengandalakan iman itu semata-mata hanya keyakinan privat (individu).

 

Perkembangan ilmu dalam wacana ilmu pengetahuan seakan menjadikan teologi seperti kulit dari iman manusia yang tanpa makna. Teologi dalam perkembangan intelektual membagi diri dalam menjadi dua. Pertama disebut sebagai teologi konserfatif-fundamentalis yang mendasarkan diri pada adanya wahyu supranatural yang secara historis dapat diuji secara ilmu pengetahuan. Jenis kedua adalah teologi liberal modern yang terselubung sekularisme yang kosong.

 

Ilmu-ilmu alam, cabang pokok lain dari pengganti teologi era-modern, memberi kebenaran dasar tentang alam semesta sehingga menggantikan semua teologi terdahulu beserta doktrin-doktrinnya yang dianggap palsu. Singkatnya bahwa teologi tersisih karena perdaban modern memberi dampak pemikiran yang tidak memberikan kemungkinan suatu visi teologi sekaligus rasional dan bermakna. Selain itu untuk mencapai keselamatan dalam dunia modern telah digantikan dalam ciptaan jaman modern itu.

 

 Epistemologi Liberalisme

Epistemologi, derivasinya dari bahasa Yunani, bermakna teori ilmu pengetahuan. Epistemologi merupakan rangkapan dua kalimat episteme, pengetahuan; dan logos, teori. Epistemologi adalah cabang ilmu filsafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan.  Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya, dan relasi eksak antara ‘alim (subjek) dan ma’lum (objek). Atau dengan kata lain, epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat.

 

Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak dari sebuah pengetahuan, konsep, dan pandangan dunia.

 

Dalam pembahasan Liberalisme, setelah meninjau secara global kemunculannya, masalah epistemologi yang digunakan sebagai pijakan dalam maktab ini harus dibahas. Tema pertama yang mengemuka dalam pembahasan epistemologi adalah media epistemologi yang digunakan.

 

Karakteristik Epistemologi Liberalisme 

Sebagian filosof yang menjadi founding fathter Liberalisme seperti John Locke memperkenalkan kita tetap bisa memiliki cinta, perilaku etis dan bahkan pengalaman abadi .

 

Dalam masalah empirisisme mengemuka permasalahan bahwa kita hanya dapat mengenal dan mencerap sesuatu dengan indra kita. Segala sesuatu yang berada di luar ranah persepsi tidak dapat dicerap dan dikenal. Empirisisme pertama kali diperkenalkan oleh filosof dan negarawan Inggris Francis Bacon dan dikembangkan oleh John Locke, tokoh Empirisisme, sekaligus pendiri Liberalisme, yang mendesain konsep empirisisme ini secara sistemik dalam “Essay Concerning Human Understanding (1690). John Locke memandang bahwa akal manusia pada awal lahirnya adalah ibarat sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis kosong tanpa isi, tanpa pengetahuan apapun. Lingkungan dan pengalamanlah yang menjadikannya padat berisi. Pengalaman inderawi menjadi sumber pengetahuan bagi manusia dan cara mendapatkannya lewat observasi dan pemanfaatan seluruh indera manusia.

 

John Locke adalah orang yang tidak percaya terhadap konsepsi intuisi dan batin. Filosof Empirisisme lainnya adalah Hume. Hume memandang manusia sebagai sekumpulan persepsi (“a bundle or collection of perceptions”). Manusia hanya mampu menangkap kesan-kesan saja lalu menyimpulkan kesan-kesan itu seolah-olah berhubungan. Pada kenyataannya, menurut Hume, manusia tidak mampu menangkap suatu substansi. Apa yang dianggap substansi oleh manusia hanyalah kepercayaan saja. Begitu pula dalam menangkap hubungan sebab-akibat. Manusia cenderung menganggap dua kejadian sebagai sebab dan akibat hanya karena menyangka kejadian-kejadian itu ada kaitannya, padahal kenyataannya tidak demikian. Selain itu, Hume menolak ide bahwa manusia memiliki kedirian (self). Apa yang dianggap sebagai diri oleh manusia merupakan kumpulan persepsi saja.Dalam kaitannya dengan Liberalisme, Hume memproklamirkan Liberalisme sebagai jawaban atas tantangan zaman. Kemunculan Liberalisme merupakan keniscayaan sejarah.(Garandeu, Le Liberalisme)

 

Sebagian filosof Liberalisme lainnya juga menyokong Rasionalisme; orang-orang yang tergolong dalam pengusung filsafat ini memandang akal sebagai media epistemologinya dalam mencerap hakikat dan pengetahuan. Apa yang dicerap oleh akal diterima dan dianggap sebagai pengetahuan dan menafikan apa yang tidak dicerap oleh akal.  Media pengenalan manusia adalah akalnya.

 

Mereka berpandangan bahwa sumber utama dan pengujian akhir ilmu pengetahuan adalah  logika deduktif  yang bersandarkan kepada prinsip-prinsip swabukti atau axioma-axioma.  Hal ini tentu saja bersebarangan dengan aliran Empirisisme yang berkeyakinan bahwa sumber utama dan pengujian akhir ilmu pengetahuan adalah bersandar kepada logika induktif, pengalaman,  persepsi dan inderawi.

 

Aktifitas manusia harus berdasarkanpada akal dan rasionya. Artinya pengenalan akal adalah standar penerimaan harus (must) dan tidak bolehnya (must not) manusia. Dalam kamus kaum liberal, segala sesuatu harus diuji validitasnya.   Seluruhnya tidak serta merta langsung diterima. Segala sesuatu dapat diurai dan dianalisa.

 

TUHAN tidak dapat dibuktikan eksistensinya secara empirik dan kita tetap bisa memiliki cinta, perilaku etis dan bahkan pengalaman abadi  tanpa melibatkan entitas tertinggi  sebagai agen eksternal.

 

Setiap gagasan dan pandangan dapat diterima melalui ujian. Setiap ujian juga tidak dapat menunjukkan pada kita realitas yang sesungguhnya. Apa  yang dikatakan oleh Kant bahwa segala sesuatunya harus dikritisi, maksudnya adalah bahwa agama juga tidak terkecuali harus dikritisi.

 

BUKAN BARANG BARU.

Bisakah kita hidup tanpa agama ? Dapatkah kita beretika tanpa Tuhan ? Atau, adakah  sesuatu yang dapat disebut sebagai spiritualitas Ateis?

 

Pertanyaan- pertanyaan mendasar itu menjadi sebuah bagian dari perjalanan pemikiran dan spiritualitas  banyak orang, kususnya penganuh ateis  saat ini. Dan sepertinya pemahaman akan adanya “spiritualitas tanpa Tuhan ” setidaknya tidak hanya menjadi ajang perdebatan lagi , namun semakin diyakini . Hal itu ditunjukkan dengan semakin berkembangnya penganut ateis dan semakin diterimanya pemikiran ini.

 

“Spiritualitas Tanpa Tuhan “Adakah , atau benarkah ? . Sebuah pertanyaan yang umum dipertanyakan oleh banyak orang. Sebelum menjawabnya , sebaiknya kita memahami arti spiritualitas itu sendiri dan arti bertuhan itu sendiri.

 

Spiritualitas dalam pandangan Andre Comte berbeda dengan agama. Dalam pemikirannya setidaknya kita dapat menyimpulkan bahwa tanpa agama kita bisa memiliki  spiritualitas namun kita tidak bisa beragama tanpa spiritualitas . Jadi spiritualitas bersifat internal dan natural yang  hadir  dalam diri kita sedangkan agama bersifat doktrinal dan selamanya berdiri sendiri diluar spiritualitas sejati diri kita sendiri. Termasuk Tuhan sendiri , adalah eksistensi yang tidak ada hubungannya dengan spiritualitas kita. Tuhan berdiri sendiri diluar spiritualitas kita.

 

Filosofi di atas semakin mendapat tempat dewasa ini. Filosofi ateis ini utamanya didukung semakin banyaknya pengusung rasionalisme dan liberalisme. Terlebih kaum skeptik yg selalu mengesankan agama sebagai salah satu agen/pilar yg terbukti gagal dlm menjawab tuntutan kemajuan jaman.  Agama dipandang sebatas retorika tentang jati diri dan pemikiran serta gagasan yg telah gagal dalam mewujudkan cita2 manusia akan sebuah perikehidupan dlm sebuah utopia (“surga”).

 

Terlepas dari pandangan yang masih debatable bahwa agama terbukti gagal menghadirkan “surga” bagi umat manusia, mari kita tinjau apakah benar spiritualitas tanpa tuhan adalah sebuah pemikiran genuine abad modern yang menjawab tantangan jaman? 

 

Apa kata Alkitab tentang hal ini?

 

Alkitab secara gamblang menjelaskan bahwa filosofi tersebut eksis sejak pasangan manusia pertama hidup di Taman Eden. Dengan melihat kisah kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa, maka spiritualitas yang disebut sebagai perkembangan perjalanan spiritualitas manusia ini sedang menuju sebuah alur flash back. Kembali kepada “hasil telaah” Hawa tentang buah dari pohon pengetahuan baik dan buruk.

 

Kejadian 1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

 

Dari ayat tersebut jelas bahwa sejak mulanya manusia memang adalah spesies dengan tingkat kecerdasan yg paling tinggi sehingga memiliki kemampuan untuk menguasai spesies2 lain di bumi. Dan jika kita menelaah lebih dalam lagi, maka Alkitab secara tegas mengisahkan bahwa mulanya Adam dan Hawa hidup bergaul dengan Tuhan dan selalu berada di dalam pemeliharaan Tuhan. Jadi makhluk cerdas ini telah memiliki spiritualitas yang terikat pada Tuhan sebagai Pribadi Tertinggi, Pencipta mereka. Adam dan Hawa diharuskan berfungsi sebagai suatu kesatuan yang saling mendukung. Hawa diciptakan sebagai pendamping yang sepadan bagi Adam dan keduanya bersatu menjadi satu daging.

 

 

Inilah ayat kuno yang menjadi “tema” yang paling relevan hingga hari ini. Ketika manusia mempertanyakan eksistensi dan otoritas Tuhan. Ketika manusia mulai memakai daya nalar dan intelektualnya untuk menentukan apa yang baik dan buruk menurut manusia.

 

 

Kejadian 2:16-17: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

 

Mari cermati poin2 spiritualitas yg diusung kaum ateis:

 

Memilih kebaikan tanpa penyertaan Tuhan

#Menjadi seorang ateis bukan berarti mengingkari eksistensi yang absolut, melainkan lebih kepada mengingkari aspek transendensinya, spiritualitasnya, dan sifat-sifat yang dimilikinya, yakni mengingkari bahwa yang absolut adalah Tuhan.”

#Pengalaman inderawi menjadi sumber pengetahuan bagi manusia dan cara mendapatkannya lewat observasi dan pemanfaatan seluruh indera manusia.

#memisahkan konsep spiritualitas lepas dari lembaga agama dan entitas Tuhan

#kita tetap bisa memiliki cinta, perilaku etis dan bahkan pengalaman abadi  TANPA eksistensi Tuhan.

 

Menuntut Bukti Empiris Eksistensi Tuhan

#Dalam kamus kaum liberal, segala sesuatu harus diuji validitasnya

 

Memilih kebaikan tanpa penyertaan Tuhan

Mari melihat benang merah antara poin2 di atas dengan kisah Adam dan Hawa:

Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. …” (Kejadian 3:6).

 

Mari fokuskan perhatian kita pada TAMPILAN INDERAWI buah Pohon Pengetahuan Baik atau Buruk tersebut.

Yang dilakukan Hawa pada bagian ini adalah poin : Pengalaman inderawi menjadi sumber pengetahuan bagi manusia dan cara mendapatkannya lewat observasi dan pemanfaatan seluruh indera manusia. Dan kesimpulan Hawa, secara inderawi, TIDAK ADA YANG BURUK pada buah tersebut…observasi dan pemanfaatan seluruh inderanya menyatakan

  • buah pohon itu baik untuk dimakan
  • dan sedap kelihatannya
  • menarik hati karena memberi pengertian.

Apa yang terjadi pada Hawa adalah dia sedang memilih kebaikan tanpa penyertaan Tuhan. Dia mengandalkan NALAR, PEMIKIRAN dan PERTIMBANGANNYA. Dia mendasarkan semua itu kepada pengalaman dan observasi inderawi dan daya intelektualnya (fungsi, kapasitas, tindakan berpikir, berkehendak, berimajinasi).DGN KATA LAIN HAWA SEDANG MENELAAH “KEBAIKAN” berdasarkan pemahaman pribadi tanpa penyertaan Tuhan (karena Tuhan sudah melarang buah itu untuk dimakan)

 

ULAR DAN TELAAH

Adapun ular (NACHAS) ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. ular (NACHAS) itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Kejadian 3:1

 

Kata NACHAS  adalah kata benda yang berasal dari akar kata NACHAS (yang adalah kata kerja) yang artinya MENELAAH.

 

Dalam perikop tersebut, Tuhan tersingkir dalam PENELAAHAN HAWA mengenai yang baik dan yang buruk. karena Hawa sudah menolak Tuhan sebagai yg absolut..Hawa lebih memilih NACHAS..mengutamakan hasil telaahnya.

 

 

Segala sesuatu harus diuji validitasnya

 

…….Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya ….” (Kejadian 3:6).

 

Setelah selesai dengan kesimpulan atas observasinya, maka Hawa melakukan sebuah langkah lanjut yaitu PEMBUKTIAN!

 

…………………sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

 

Hawa melakukan sebuah tindakan sebagai manifestasi atas segala pengalaman intelektualnya. Yaitu memakan buah tersebut. Tuhan telah memperingatkan Adam untuk tdk memakan buah tersebut, asumsi kita Adam meneruskan larangan tersebut kepada Hawa… MAKA…jika Hawa “dengan tegas” mengambil keputusan utk tetap makan buah itu, maka ada beberapa kemungkinan yg telah dia simpulkan, diantaranya adalah: Hawa berkesimpulan  bahwa larangan yang Tuhan sampaikan kepada Hawa melalui perantaraan Adam sangat tidak masuk akal dan tidak logis..serta sangat bertentangan dengan hasil telaah Hawa tentang tampilan inderawi buah tersebut.

 

Hasil observasi Hawa semakin diperkuat dengan “BUKTI EMPIRIS” yaitu  bahwa HAWA TIDAK “MATI”  ketika dia memakan buah tersebut.

 

..dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.(Kej 3:6)

 

merasa bahwa penalarannya mendapati bukti empiris “yg valid” maka Hawa mulai melanjutkan langkah berikutnya yaitu menyebarkan hasil penelaahan-nya yg “telah terbukti benar” tersebut kepada Adam. Pada tahap ini dia mulai betul2 meyakini segala hasil penelaahannya sebagai sebuah kebenaran yang pantas dibagikan kepada orang lain. Dia menawarkan gagasannya tentang kebenaran, tentang apa yang baik menurut Hawa kepada Adam…. dan ternyata setali tiga uang dengan Hawa, Adam pun menerimanya sebagai sebuah kebenaran yg valid… dalam hal ini juga karena dia telah melihat “solid evidence” sebuah bukti yg kuat yaitu bahwa Hawa masih tetap “hidup”.

 

Dari perikop ini, nampak bahwa Adam lebih tertarik pada penalaran inderawi istrinya…dan dia lebih percaya kepada “bukti empiris” yang dilihatnya bahwa istrinya itu tidak “mati”. Adam pun lebih mengutamakan pengalaman inderawinya dibandingkan otoritas Tuhan yang absolut.

 

Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang ;lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

(Kej 3:7)

 

 

Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil.(Kej 3:23)

 

…TERNYATA….kejadian itu berakhir dengan tragis…. perpecahan dan perseteruan terjadi antar semua tokoh yg terlibat dlm kisah itu..mereka saling menyalahkan. Eksistensi Tuhan membuat kedua manusia yg mengutamakan NACHAS = ULAR = PENELAAH itu seperti telanjang.. malu … mempermalukan diri mereka sendiri… bukti “valid” yg mereka pegang ternyata semu dan sesat … mereka pada akhirnya tetap mati! Mereka sesat dalam pemahaman karena menyingkirkan peranan Tuhan dalam hidup mereka.  Setelah Tuhan menunjukkan eksistensiNya, mereka menjadi sadar bahwa “hidup dan mati” , “baik dan buruk” dalam pemahaman mereka ternyata salah dan sesat.

 

Menurut Alkitab, mengutamakan pengalaman inderawi bahkan meski ditunjang bukti empiris yang kuat dalam pencarian hakikat “kebenaran atau kebaikan”  dapat menjadi pengalaman spiritual berbahaya yang juga menyesatkan manusia.

 

Keinginan Hawa semula adalah menjadi “orang yang lebih baik”, menjadi seperti Allah, pribadi yang lebih bijaksana. Dia menjadi seperti wanita yang ditulis dalam kitab Amsal sebagai seorang pencari kebijaksanaan. Mencari kebijaksanaan adalah sesuatu hal yang baik, namun yang hal yang lebih baik adalah mengenal Tuhan.

 

Memilih kebaikan dengan mengandalkan intelektual semata tanpa penyertaan Tuhan dapat membawa orang kepada kekeliruan yang menyesatkan.. sebab ada hal2 yang jauh melebihi apa yang dapat kita telaah secara inderawi. Sesuatu yang jauh diluar jangkauan definisi kita tentang makna “baik” itu sendiri.Namun Tuhan menuntut untuk ditemukan dan seharusnya menjadi relasi terbesar dari spiritualitas kita. Agama tidak sebatas retorika tentang jati diri dan pemikiran. Agama adalah terkait masalah yang jauh melebihi daya nalar dan intelektual kita.

 

Spiritualitas tanpa Tuhan adalah pemisahan antara spiritualitas dan dan kebertuhanan.

Spiritualitas tanpa Tuhan adalah spiritualitas tanpa penyertaan Tuhan.

Padahal   keduanya tak bisa dipisahkan.

 

Semua memang tentang diri kita , agama juga adalah tentang diri kita, It’s just About Ourself and for our self , namun realitas Tuhan jauh melampaui pandangan spiritual kita. Kita memang memerlukan komune dan cinta. Memang  kita bisa memiliki cinta, perilaku etis dan bahkan pengalaman abadi, namun kesemua itu bagi kita umat Katolik, TIDAK DAPAT DILAKUKAN TANPA PENYERTAAN TUHAN .

 

Manusia. Dengan keterbukaannya kepada kebenaran dan keindahan, dengan pengertiannya akan kebaikan moral, dengan kebebasannya dan dengan suara hati nuraninya, dengan kerinduannya akan ketidakterbatasan dan akan kebahagiaan, manusia bertanya-tanya tentang adanya Allah. Dalam semuanya itu ia menemukan tanda-tanda adanya jiwa rohani padanya. “Karena benih keabadian yang ia bawa dalam dirinya tidak dapat dijelaskan hanya dengan asal dalam materi saja” (GS 18,1), maka jiwanya hanya dapat mempunyai Tuhan sebagai sumber.

Comments on: "MENGGUGAT SPIRITUALITAS TANPA TUHAN" (4)

  1. pak paulus miki sucahyo, senang sekali membaca tulisan anda, spiritualitas tanpa Tuhan, bisakah di ibaratkan seperti layang-layang tanpa benang..? kalau bisa, bolehkah benangnya diganti dg senar..? toh fungsinya sama sama sebagai pusat pengendali/patokan/panutan!.. dalam kasus nyata, kalau orang kristen dan katolik menganggap Yesus itu Tuhan dan Allah, salahkah kalau saya tidak demikian, tapi menganggapNya sebagai Imam besar yg di tunjuk oleh Allah sebagaimana dikatakan misalnya dalam ibrani 5:6..? salam

    • saudaraku behonest…. semuanya memang tergantung pd apa yg kita imani, saya menulis berdasarkan apa yg saya imani dan apa yg Gereja Katolik ajarkan..

      bahwa Yesus dipahami “hanya” sbg Imam besar tdklah sesuai dgn ajaran Gereja Katolik.. apakah itu salah? dari sisi iman katolik hal tsb pasti dikategorikan sbg kesalahan.. perihal ayat dlm Ibr tersebut Gereja Katolik memandangnya sbg sebuah satu kesatuan dgn keseluruhan dogma tentang Tritunggal… so memang tergantung dari sisi mana kita menilainya. Salam.

  2. tulisan bapak menginspirasi saya untuk meneliti tentang spiritualitas kristen masa kini
    tafsiran bapak terhadap kejadian juga sangat logis dan dapat saya mengerti
    saya juga sangat setuju dengan bapak, jika spiritualitas tidak dapat dipisahkan dengan Tuhan, sebab menurut pemahaman saya hingga saat ini, spirit itu berasal dari Tuhan. mungkin saya memahaminya dari kacamata Injil Yohanes.
    melalui tulisan bapak ini saya menjadi lebih yakin bahwa tugas utama orang KRisten adalah mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh..
    tentu itu tidak mudah, seseorang akan mengalami proses yang panjang, bagi mereka yang sudah berjalan panjang, dan bagi saya yang muda, masih tetap berjalan, belum mengalami keletihan dalam perjalanan itu
    Tetapi saya tetap optimis, bahwa dengan terus setia dalam hidup Sang Firman, saya akan diberi kekuatan untuk menempuh perjalanan ini..
    doakan saya ya pak…

    Salam kenal Yulia..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: