open mind.com weblog


sekitar tahun 320, gairah teologis yang membara merasuki

gereja-gereja di Mesir, Siria, dan Asia kecil. Para pelaut dan pelancong melantunkan senandung masyhur yang menyata-

kan Tuhan yang sejati hanyalah sang Bapa, yang tidak dapat dijangkau dan unik, tetapi sang Putra tidaklah abadi dan bukannya tidak diciptakan, karena dia mendapat kehidupan dan wujud dari sang Bapa. Kita mendengar tentang penjaga tempat pemandian yang men- ceramahi para pengunjung bahwa sang Putra berasal dari ketiadaan; tentang seorang penukar uang yang, ketika ditanya tentang nilai tukar, malah memberi pengantar jawabannya dengan uraian panjang tentang perbedaan antara tatanan yang diciptakan dengan Tuhan yang tidak diciptakan; juga seorang tukang roti yang memberitahukan pelanggannya bahwa Bapa lebih agung daripada sang Putra. Mereka mendiskusikan persoalan pelik ini dengan semangat yang sama seperti orang-orang memperbincangkan sepakbola di masa sekarang.1

Kontroversi ini disulut oleh Arius, seorang pemuka gereja yang tampan dan karismatik dari Aleksandria, yang memiliki suara lembut, menawan, dan wajah yang sangat melankolis. Dia melemparkan sebuah tantangan yang oleh uskupnya, Aleksander, tidak mungkin diabaikan, tetapi akan lebih sulit lagi untuk dijawab: bagaimana mungkin Yesus Kristus menjadi Tuhan dalam cara yang sama dengan Tuhan Bapa? Arius tidak menyangkal ketuhanan Kristus; bahkan, dia

 

 

 

menyebut Yesus “Tuhan kuat” dan “Tuhan sepenuhnya,”2 tetapi berpendapa t bahw a meyakini dia itu ilahiah secara hakikinya merupakan suatu penghujatan: Yesus sendiri secara spesifik telah mengatakan bahwa Tuhan Bapa itu lebih agung daripada dirinya. Aleksander dan asistennya yang brilian, Athanasius, segera menyadari bahwa ini tidak lebih dari pernik-pernik teologis semata. Arius telah mengajukan persoalan vital menyangkut hakikat Tuhan. Sementara itu, Arius, seorang propagandis yang mahir, telah meramu gagasannya ke dalam bentuk yang populer, dan tak lama kemudian kaum awam pu n memperdebatka n isu tersebut dengan tak kalah hangatnya dibandingkan uskup-uskup mereka.

Kontroversi itu menjadi begitu memanas sehingga Kaisar Kons- tantin sendiri turun tangan dan mengimbau penyelenggaraan sebuah sinode di Nicaea, di kawasan Turki modern, Untuk membahas masalah ini. Pada masa sekarang, nama Arius menjadi kata lain untuk bid’ah, tetapi pada saat konflik itu merebak belum ada posisi ortodoks yang resmi dan sama sekali tak bisa dipastikan mengapa, atau bahkan apakah, Arius salah. Sebetulnya tak ada yang baru dalam klaimnya: Origen, orang yang dihormati oleh kedua pihak yang berseberangan, pernah mengajarkan doktrin yang mirip. Akan tetapi, iklim intelektual

di Aleksandria telah berubah sejak masa Origen dan orang-orang tidak lagi yakin bahwa Tuhan Plato dapat berhasil disandingkan dengan Tuhan Alkitab. Arius, Aleksander, dan Athanasius, misalnya, mempercayai sebuah doktrin yang pasti mengejutkan setiap orang yang penganut Platonis: mereka beranggapan bahwa Tuhan telah menciptakan alam dari ketiadaan (ex nihilo) dengan mendasarkan pendapat mereka pada kitab suci. Pada kenyataannya, Kitab Kejadian tidak memuat klaim semacam ini. Penulis tradisi Para Imam pernah menyiratkan bahwa Tuhan telah menciptakan alam dari kekacauan primordial, tetapi ajaran bahwa Tuhan menghadirkan seluruh alam dari sebuah kehampaan absolut sepenuhnya merupakan pendapat yang baru. Gagasan ini asing bagi pemikiran Yunani dan tak pernah diajarkan oleh para teolog semacam Clement dan Origen, yang berpegang pada skema emanasi Platonis. Namun pada abad keempat, orang Kristen mulai sependapat dengan kaum Gnostis bahwa dunia ini secara inheren rentan, tak sempurna, dan terpisah dari Tuhan oleh suatu jurang yang sangat lebar. Doktrin baru penciptaan ex nihilo ini menekanka n pandanga n tentang kosmo s yang pad a dasarnya lemah dan sepenuhnya bergantung kepada Tuhan untuk

 

 

 

mewujud dan hidup. Tuhan dan kemanusiaan tak lagi serumpun, sebagaimana dalam pemikiran Yunani. Tuhan menciptakan setiap satu wujud dari ketiadaan tak bertepi, dan kapan pun dia bisa menarik kembali tangannya yang memberi sokongan. Tak ada lagi mata rantai wujud yang secara abadi beremanasi dari Tuhan. Tak ada lagi perantara alam wujud-wujud spiritual yang mengalirkan kekuatan mana ilahi kepada dunia. Manusia tak dapat lagi mendaki mata rantai wujud menuju Tuhan dengan usaha mereka sendiri. Hanya Tuhan, yang telah menarik mereka dari ketiadaan pada awalnya dan menjaga mereka agar terus mewujud, yang bisa menjamin keselamatan abadi mereka.

Orang Kristen mengetahui bahwa Yesus Kristus telah menye- lamatkan mereka melalui kematian dan kebangkitannya; mereka telah diselamatkan dari kebinasaan dan pada suatu masa akan ikut dalam eksistensi Tuhan, yang Ada dan Hidup dengan sendirinya. Lewat suatu cara Kristus telah membuat mereka mampu menyeberangi jurang lebar yang memisahkan Tuhan dari manusia. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara dia melakukan hal itu? Pada sisi mana dari Jurang Lebar itu dia berada? Kini tak ada lagi Pleroma, tempat yang berisikan para perantara dan aeon-aeon. Apakah Kristus, sang Firman, tergolong ke dalam alam suci (yang kini merupakan wilayah Tuhan sendirian) atau tergolong ke dalam tatanan ciptaan yang rentan. Arius da n Athanasius meletakkanny a pad a sisi yang berseberangan : Athanasius pada alam suci sedangkan Arius memilih tatanan makhluk.

Arius bermaksud menekankan perbedaan esensial antara Tuhan yang unik dengan semua makhluk ciptaannya. Seperti tertulis dalam suratnya kepada Uskup Aleksander, Tuhan adalah “satu-satunya yang tidak memperanakkan, satu-satunya yang abadi, satu-satunya yang tak berawal, satu-satunya kebenaran, satu-satunya yang memiliki keabadian, satu-satunya yang bijak, satu-satunya yang baik, dan satu- satunya yang kuasa.”3 Arius menguasai isi kitab suci dengan baik dan dia mempersenjatai argumennya dengan teks-teks kitab suci untuk mendukung klaimnya bahwa Kristus sang Firman tak lain adalah makhluk seperti kita semua. Sebuah ayat kunci adalah deskripsi tentang Hikmat suci dalam Kitab Amsal, yang menyatakan secara eksplisit bahwa Tuhan telah menciptakan Hikmat sejak dahulu kala.4

Teks itu juga menyataka n bahw a Hikmat merupaka n saran a penciptaan, sebuah gagasan yang diulang lagi dalam prolog Injil Yohanes. Firman itu telah ada bersama Allah sejak semula:

 

 

 

Segala sesuatu dijadikan oleh Dia,

Dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi.5

 

Logos merupaka n instrumen yang digunaka n Tuha n untuk membuat segala ciptaan menjadi ada. Oleh karena itu, ia sepenuhnya berbeda dari wujud-wujud lain dan memiliki status sangat tinggi. Namun karena diciptakan oleh Tuhan, logos secara esensial berbeda dari Tuhan itu sendiri.

Yohanes mempertega s bahw a Yesus adalah logos; dia juga mengatakan bahwa logos itu adalah Allah.6 Sungguhpun demikian, menurut Arius, Yesus bukanlah tuhan dalam hakikatnya, tetapi diangkat Tuhan ke status ilahiah. Dia berbeda dengan kita semua karena Tuhan telah menciptakannya secara langsung sedangkan makhluk-makhluk lain diciptakan melalui dia. Tuhan telah mengetahui bahwa jika logos menjadi manusia, dia akan mematuhi Tuhan secara sempurna. Oleh karena itu, Tuhan telah, bisa dikatakan demikian, menganugerahkan kesucian kepada Yesus sejak semula. Akan tetapi, kesucian Yesus bukanlah alamiah baginya: itu hanyalah sebuah pemberian atau karunia. Lagi-lagi, Arius dapat menampilkan banyak teks yang tampaknya menopang pandangan ini. Kenyataan bahwa Yesus telah menyebut Allah sebagai “Bapa-”nya mengimplikasikan sebuah perbedaan; kebapakan pada dasarnya menyiratkan eksistensi yang lebih dahulu dan menunjukkan superioritas terhadap anak. Arius juga mengetengahkan ayat-ayat biblikal yang menekankan kerendahan hati dan kerentanan Kristus.

Arius tak bermaksud merendahkan Yesus, sebagaimana dituduh- kan oleh musuh-musuhnya. Dia mempunyai pandangan luhur tentang keutamaan dan kerelaan pengurbanan Yesus, yang diyakini menjadi jaminan keselamatan manusia. Tuhan Arius menyerupai Tuhan para filosof Yunani, yang jauh dan sangat transenden terhadap dunia; karena itu pula dia menganut konsep Yunani tentang penyelamatan. Kaum Stoa, misalnya, selalu mengajarkan bahwa adalah mungkin bagi manusia yang baik untuk menjadi kudus. Ini juga merupakan hal yang esensial dalam pandangan Platonis. Arius secara antusias percaya bahwa orang Kristen telah diselamatkan dan dijadikan suci, ikut memiliki hakikat ilahi. Ini hanya mungkin karena Yesus telah merintiskan sebuah jalan bagi manusia. Dia telah menjalani kehidupan seorang manusia sempurna; dia telah mematuhi Allah bahkan hingga kematian di kayu salib; seperti dikatakan oleh Paulus, adalah karena

 

 

 

kepatuhannya hingga mati maka Allah sangat meninggikannya dan mengaruniakan kepadanya gelar Tuhan (kyrios).7 Andaikata Yesus bukan seorang manusia, takkan ada harapan buat kita. Tak ada yang bisa kita teladani dari hidupnya jika dia memang adalah Tuhan secara hakiki. Justru dengan merenungkan kehidupan Kristus yang sarat dengan nilai-nilai kepatuhan seorang anak maka orang Kristen dapat menjadikan diri mereka pun ilahiah. Dengan meneladani Kristus, makhluk yang sempuma, mereka juga bisa menjadi “makhluk ciptaan Allah dengan kesempurnaan yang tak dapat diubah dan tak dapat berubah.”8

Namun, Athanasius memiliki pandangan yang kurang optimis terhadap kapasitas manusia di hadapan Tuhan. Dia memandang kemanusiaan secara inheren merupakan sesuatu yang rapuh: kita berasal dari ketiadaan dan akan kembali ke dalam ketiadaan jika kita berdosa. Oleh karena itu, ketika merenungkan makhluknya, Tuhan,

 

 

melihat bahwa seluruh alam ciptaan, jika dibiarkan berjalan dengan sendirinya, akan berubah dan bisa mengalami kehancuran. Untuk mencegah ini dan menjaga agar alam semesta tidak kembali menjadi tiada, dia ciptakan segala sesuatu dengan logos-nya sendiri yang abadi dan mengaruniakan wujud kepada ciptaan.9

 

 

Hanya dengan cara turut serta dalam Tuhan, melalui logos-nya., manusia bisa terhindar dari ketiadaan karena Tuhan sajalah yang merupakan Wujud sempurna. Jika logos pun merupakan makhluk biasa, dia tak akan mampu menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Logos dibuat menjadi daging untuk memberi hidup kepada kita. Dia telah turun ke alam manusia yang tidak abadi untuk memberi kita bagian dalam ketidakberubahan dan keabadian Tuhan. Namun, pembebasan ini mustahil adanya jika logos sendiri adalah makhluk rentan, yang juga dapat jatuh ke dalam ketiadaan. Hanya dia yang telah menciptakan dunialah yang mampu menyelamatkannya, dan itu berarti bahwa Kristus, logos yang mendaging, pastilah berhakikat sama dengan Tuhan Bapa. Sebagaimana dikatakan Athanasius, Firman dibuat menjadi manusia dengan tujuan agar kita bisa menjadi kudus.10

Ketika para uskup berkumpul di Nicaea pada 20 Mei 325, untuk mengatasi krisis ini, sedikit sekali yang mendukung pandangan Atha• nasius tentang Kristus. Kebanyakannya berpegang pada posisi mene- ngah antara Athanasius dan Arius. Meskipun demikian, Athanasius

 

 

 

berhasil mendesakkan teologinya kepada para delegasi dan, di bawah ancaman kaisar, hanya Arius dan dua orang sahabatnya yang berani menolak untuk menyetujui Kredo Athanasius. Dengan ini maka creatio ex nihilo pun menjadi doktrin resmi Kristen untuk pertama kalinya, menegaskan bahwa Kristus bukanlah sekadar makhluk atau aeon. Sang Pencipta dan Penebus itu adalah satu.

 

Kami beriman kepada Allah Yang Esa, Tuhan Bapa yang Mahakuasa,

pencipta segala sesuatu, yang dapat dilihat dan tak dapat dilihat, dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus,

Anak Allah,

satu-satunya anak Tuhan Bapa,

yang berasal dari substansi (ousid) Tuhan Bapa, Tuhan dari Tuhan,

cahaya dari cahaya,

Tuhan sejati dari Tuhan sejati, diperanakkan, tidak diciptakan

dari satu substansi (homoousion) dengan Tuhan Bapa, yang melaluinya segala sesuatu diciptakan,

segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi,

yang demi kita dan keselamatan kita, turun dan dijadikan manusia,

yang menderita, bangkit kembali pada hari ketiga, naik ke langit

dan akan datang untuk menjadi hakim bagi yang hidup dan yang mati dan kami beriman kepada Roh Kudus.11

 

Tercapainya kesepakatan itu menyenangkan hati Konstantin yang tidak memiliki pemahaman tentang isu-isu teologis. Tetapi, sebenarnya tidak ada sebuah kesepakatan pun di Nicaea. Setelah konsili itu, para uskup terus mengajar sebagaimana biasanya, dan krisis Arian pun terus berlanjut selama enam puluh tahun berikutnya. Arius dan pengikutnya terus melawan dan berhasil memperoleh dukungan kekaisaran. Athanasius diasingkan tak kurang dari lima kali. Sangat sulit untuk memegang kredonya. Khususnya, istilah homoousion

(secara harfiah berarti “dibuat dari baha n yang sama”) sangat kontroversial karena tidak berlandaskan kitab suci dan memiliki asosiasi materialistik. Dua uang logam, misalnya, bisa dikatakan homoousion karena keduanya dibuat dari substansi yang sama.

 

 

 

Lebih jauh lagi, kredo Athanasius menimbulkan banyak per- tanyaan penting. Dinyatakannya bahwa Yesus itu ilahiah, tetapi tidak dijelaskan bagaimana logos bisa berasal “dari bahan yang sama” dengan Tuhan Bapa tanpa menjadi Tuhan kedua. Pada tahun 339, Marcellus, Uskup Ankira—teman setia dan kolega Athanasius, yang bahkan pernah ikut ke pengasingan bersamanya suatu kali—berpen- dapat bahwa logos tidak mungkin merupakan sebuah wujud suci yang abadi. la hanyalah sebuah kualitas atau potensi yang inheren

di dalam Tuhan: secara apa adanya, rumusan Nicene dapat dituduh sebagai triteisme, kepercayaan bahwa ada tiga tuhan: Tuhan Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Sebagai pengganti homoousion yang kontro- versial, Marcellus mengusulkan istilah yang kompromistis, yaitu homoiousion, dari hakikat yang sama atau serupa. Perdebatan yang berliku-liku ini sering menjadi bahan olok-olok, terutama oleh Gibbon, yang merasa adalah tak masuk akal jika kesatuan Kristen mesti ter- ancam hanya oleh sebuah diftong. Akan tetapi, yang menarik adalah kegigihan yang terus dipertahankan oleh orang Kristen terhadap perasaan mereka bahwa keilahian Yesus merupakan hal yang esen- sial, meski sangat sulit untuk merumuskannya dalam terma-terma yang konseptual. Seperti Marcellus, banyak orang Kristen merasa terusik oleh ancaman terhadap kesatuan ilahi. Marcellus kelihatan- nya percaya bahwa logos hanyalah sebuah fase sementara: ia mun- cul dari Tuhan pada saat penciptaan, berinkarnasi dalam diri Yesus dan, ketika penebusan telah sempurna, ia akan kembali larut ke dalam alam suci. Dengan demikian, Tuhan Yang Esa tetap mencakup segalanya.

Akhirnya, Athanasius mampu meyakinkan Marcellus dan para pengikutnya bahwa mereka mesti menggalang kekuatan, karena mereka memiliki lebih banyak kesamaan dibanding dengan sekte Arius. Denga n demikian, siapa yang mengataka n bahw a logos berhakikat sama dengan Tuhan Bapa dan yang mengatakan bahwa

ia berhakikat mirip dengan Tuhan Bapa adalah “bersaudara, yang memaksudkan apa yang kita maksudkan dan hanya berselisih dalam soal terminologi.”12 Yang jadi prioritas seharusnya adalah menentang Arius, yang menyatakan bahwa sang Putra secara keseluruhan berbeda dari Tuhan dan secara mendasar memiliki hakikat yang berbeda. Bagi orang luar, tak pelak lagi bahwa argumen-argumen teologis semacam ini tampak hanya membuang-buang waktu saja: toh tak ada pihak yang mungkin memberi bukti secara definitif, dengan

 

 

cara apa pun, dan perselisihan itu sendiri justru terbukti telah memecah belah. Akan tetapi, bagi orang yang terlibat di dalamnya, ini bukanlah perdebata n yang kering, tetapi menyangkut esensi pengalaman Kristen. Arius, Athanasius, dan Marcellus yakin bahwa sesuatu yang baru telah menyusup ke dunia bersama Yesus, dan mereka berupaya untuk mengartikulasikan pengalaman ini ke dalam simbol-simbol konseptual untuk menjelaskannya kepada diri mereka sendiri dan kepada orang lain. Kata-kata itu sendiri hanya mungkin bersifat simbolik, sebab realitas yang ingin mereka tunjukkan memang tak terucapkan. Namun sayangnya, sebuah intoleransi dogmatik telah merayap ke dalam agama Kristen, yang akhirnya menetapkan peng- adopsian simbol-simbol yang “benar” atau ortodoks sebagai sesuatu yang penting dan wajib. Obsesi doktrinal ini, yang khas bagi Kristen, dapat dengan mudah menggiring kepada pencampuradukan simbol manusia dengan realitas ilahi. Kristen telah senantiasa merupakan sebuah keimanan yang bersifat paradoks: pengalaman keagamaan generasi awal Kristen yang kuat telah mengalahkan keberatan ideo- logis mereka terhadap skandal seorang Mesias yang disalib. Kini di Nicaea, Gereja telah memilih paradoks Inkarnasi, meskipun dengan ketidaksesuaiannya yang terang-terangan dengan monoteisme.

Dalam karyanya yang berjudul Life of Anthony, tentang seorang asketik padang pasir yang masyhur, Athanasius berusaha memper• lihatkan bagaimana doktrin barunya akan berpengaruh terhadap spiritualitas Kristen. Antonius, yang dikenal sebagai bapak monastisis- me, telah menjalani kehidupan yang penuh kesusahan di padang sahara Mesir. Dalam The Sayings of The Fathers, sebuah antologi anonim tentang ujar-ujar para pendeta padang pasir, dia ditampilkan sebagai manusia biasa yang rentan, terusik juga oleh rasa bosan, ikut menderita karena problem-problem kemanusiaan, dan memberikan nasihat langsung yang sederhana. Akan tetapi, dalam biografinya, Athanasius menghadirkan Antonius dengan cara yang sepenuhnya berbeda. Misalnya, dia berubah menjadi tokoh yang sangat keras me- nentang Arianisme; dia telah mulai mencicipi pengangkatannya ke status ilahiah di masa depan, karena berhasil meraih apatheia ilahi hingga tingkat yang cukup tinggi. Tatkala, misalnya, dia bangkit dari pusara tempat dia menghabiskan waktu selama dua puluh tahun untuk bertarung melawan setan-setan, Athanasius mengatakan bahwa tubuh Antonius tidak memperlihatkan tanda-tanda menua. Dia adalah seorang Kristen yang sempurna, yang ketenangannya telah membedakannya

 

 

dari manusia lain: “jiwanya tak terusik, dan dengan demikian penam- pilan luarnya tampak damai.”13 Dia telah dengan sempurna menela- dani Kristus: seperti logos yang telah mendaging, turun ke dunia fana dan memerangi kekuatan jahat, Antonius pun turun ke tempat- tempat hunian setan. Athanasius tak pernah menyebutkan kontemplasi, yang oleh kaum Platonis Kristen, seperti Clement atau Origen diang- gap sebagai sarana menuju ketuhanan dan pensucian. Makhluk yang tak abadi tidak lagi dipandang mungkin untuk naik ke hadirat Tuhan melalui kontemplasi dengan menggunakan kekuatan alamiah mereka sendiri. Alih-alih, orang Kristen harus meniru turunnya Firman yang mendaging ke dalam alam material yang fana.

Akan tetapi, orang-orang Kristen masih kebingungan: Jika hanya ada satu Tuhan, bagaimana bisa logos itu juga menjadi tuhan? Akhirnya tiga teolog terkemuka dari Kapadokia di Turki Timur muncul dengan sebuah solusi yang memuaskan bagi Gereja Ortodoks Timur. Mereka adalah Basil, Uskup Caesarea (kl. 329-79), adiknya Gregory, Uskup Nyssa (335-95), dan sahabatnya Gregory dari Nazianzus (329-91). Kapadokian, begitu mereka sering disebut, adalah orang-orang yang sangat spiritualis. Mereka sangat gandrung akan spekulasi dan filsafat, namun berkeyakinan bahwa hanya pengalaman keagamaanlah yang mampu memberikan kunci pemecahan atas persoalan-persoalan ketuhanan. Dengan latar belakang filsafat Yunani yang kuat, mereka semua sadar akan perbedaan penting antara kandungan kebenaran faktual dengan aspek-aspeknya yang lebih sukar dipahami. Kaum rasionalis Yunani terdahulu telah memberi perhatian kepada persoalan ini: Plato telah mempertentangkan filsafat (yang diungkapkan lewat istilah-istilah logika dan dengan demikian dapat dibuktikan) dengan ajaran-ajaran yang tak kalah pentingnya yang diwarisi melalui mitologi, yang mengelak dari pembuktian ilmiah. Kita telah menyaksikan bahwa Aristoteles telah membuat pembedaan serupa ketika menga- takan bahwa orang-orang mendatangi misteri agama-agama bukan untuk mempelajari (matbein) sesuatu, melainkan untuk mengalami

(pathein) sesuatu. Basil mengungkapkan pandangan yang sama dalam pengertian Kristiani ketika dia membedaka n antara dogma dan kerygma. Kedua ajaran Kristiani ini esensial bagi agama. Kerygma adalah pengajaran umum Gereja yang didasarkan pada kitab suci, tetapi dogma mewakili makna kebenaran biblikal yang lebih dalam, yang hanya dapat dipahami melalui pengalaman keagamaan dan diungkapkan dalam bentuk simbolik. Di samping pesan-pesan Injil

 

yang jelas, terdapat tradisi rahasia dan esoterik yang diwarisi “dalam sebuah misteri” dari para rasul; ini merupakan “pengajaran yang pribadi dan rahasia,”

 

yang telah diabadikan bapa-bapa suci kita dalam keheningan yang menjauhkan kecemasan dan keingintahuan… agar dengan keheningan ini karakter suci misteri itu tetap terjaga. Orang awam tidak diizinkan untuk berpegang pada hal-hal semacam ini: maknanya tidak boleh diungkap dengan cara menuliskannya.14

 

Di balik simbol-simbol liturgikal dan ajaran-ajaran Yesus yang jelas, terdapat dogma rahasia yang ditujukan bagi tingkat pemahaman iman yang lebih lanjut.

Pembedaan antara kebenaran esoterik dan eksoterik merupakan hal yang sangat penting dalam sejarah Tuhan. Ini tidak terbatas kepada Kristen Yunani, orang Yahudi dan Muslim juga mengembangkan tradisi esoterik. Gagasan tentang adanya doktrin “rahasia” tidak dimaksudkan untuk memilah-milah orang. Basil tidaklah berbicara tentang bentuk awal Freemansory. Dia sekadar mengetengahkan imbauan untuk memusatkan perhatian kepada fakta bahwa tidak semua kebenaran agama bisa diungkapkan dan didefinisikan dengan jelas dan logis. Beberapa ajaran agama memiliki resonansi batin yang hanya mungkin dipahami oleh setiap individu pada waktunya masing-masing ketika melakukan apa yang oleh Plato disebut theoria, kontemplasi. Karena semua agama diarahkan kepada realitas tak terucapkan yang melam- paui konsep dan kategori rasional, maka ucapan pun jadi membatasi dan membingungkan. Jika mereka tidak “melihat” kebenaran ini dengan mata batin, orang yang belum sangat berpengalaman bisa jadi akan memperoleh gagasan yang keliru. Oleh karena itu, di samping makna harfiahnya, kitab suci juga memiliki signifikansi spiritual yang tidak selalu mungkin diartikulasikan. Buddha juga telah menyatakan bahwa ada pertanyaan yang “tidak memadai” dan tidak layak buat dijawab, karena pertanyaan itu merujuk kepada realitas yang berada di luar jangkauan kata-kata. Anda hanya dapat menemu- kannya dengan menjalani teknik kontemplasi introspektif: dalam pengertian tertentu Anda harus menciptakannya bagi diri Anda sendiri. Upaya menggambarkannya dalam kata-kata akan tak kurang sulitnya dengan uraian verbal atas salah satu kuartet terakhir Beethoven. Se- bagaimana dikatakan Basil, realitas keagamaan yang licin ini hanya

 

 

mungkin didekati dengan isyarat liturgi yang simbolik atau, akan lebih baik, dengan diam.15

Kristen Barat akan menjadi sebuah agama sangat riuh berbicara dan memusatkan diri pada kerygma:. ini akan menjadi salah satu masalah terbesarnya dalam soal ketuhanan. Akan tetapi, dalam Gereja Ortodoks Yunani, semua teologi yang baik akan mengambil sikap diam atau apofatik. Sebagaimana yang dikatakan oleh Gregory dari Nyssa, setiap konsep tentang Tuhan hanyalah sebuah simulakrum, kemiripan yang menyesatkan, sebuah berhala: ia tak bisa mengung- kapkan Tuhan itu sendiri.16 Orang Kristen harus menjadi seperti Abraham, yang, dalam sejarah hidupnya versi Gregory, menyingkirkan semua gagasan tentang Tuhan dan berpegang teguh pada sebuah keimanan yang “murni dan tidak bercampur dengan konsep apa pun.”17 Dalam Life of Moses, Gregory menekankan bahwa “visi sejati dan pengetahuan tentang apa yang kita cari justru terdapat pada sikap tidak melihat, dalam kesadaran bahwa tujuan kita melampaui semua pengetahuan dan terpisah dari kita oleh kegelapan ketidak- tahuan.”18 Kita tak dapat “melihat” Tuhan secara intelektual, namun seandainya kita membiarkan diri kita terbungkus dalam kabut yang pernah turun di Gunung Sinai, kita akan merasakan kehadirannya. Basil menggunakan perbedaan yang telah dibuat oleh Philo antara esensi (ousia) dan aktivitas (energeiai) Tuhan di dunia: “Kita mengenal Tuhan kita hanya melalui perbuatannya (energeiai), tetapi kita tak berdaya untuk mendekati esensinya.”19 Inilah kata kunci dari semua teologi masa depan di Gereja Timur.

Kapadokian juga ingin sekali untuk mengembangkan ajaran tentang Roh Kudus, yang mereka rasakan tidak ditelaah secara sungguh-sungguh di Nicaea: “Dan kami beriman kepada Roh Kudus” kelihatannya hanya ditambahkan begitu saja kepada kredo Athanasius. Orang-orang kebingungan tentang Roh Kudus. Apakah ia bersinonim denga n Tuha n atau merupaka n sesuatu yang lebih? “Ada yang memahami [Roh itu] sebagai sebuah aktivitas,” ujar Gregory dari Nazianzus, “ada pula sebagai makhluk, sebagai Tuhan, dan sebagian lagi tak yakin harus menyebutnya apa.”20 Paulus berbicara tentang Roh Kudus sebagai upaya pembaruan, penciptaan, dan penyucian, tetapi aktivitas-aktivitas ini hanya mungkin dikerjakan oleh Tuhan. Oleh karena itu, akibatnya, Roh Kudus, yang kehadirannya di dalam diri kita dipandang sebagai penyelamat kita, pastilah ilahiah dan bukan sekadar makhluk ciptaan. Kapadokian menggunakan rumusan yang pernah dipakai Athanasius dalam perselisihannya dengan Arius: Tuhan memiliki satu esensi (ousia) yang tak dapat kita pahami— tetapi tiga bentuk ekspresi (hypostases) yang membuat dia diketahui. Alih-alih mengawali penjelasan mereka tentang Tuhan dengan

ousia-nya yang tak dapat dikenali, Kapadokian memulai dengan pengalaman manusia tentang hypostases Tuhan. Karena ousia Tuhan itu tak terpahamkan, maka kita hanya dapat mengenalnya melalui manifestasi-manifestasi yang telah diwahyukan kepada kita sebagai Bapa, Putra, dan Roh. Namun demikian, ini tidak berarti bahwa Kapadokian percaya kepada tiga wujud ilahi, sebagaimana dibayang- kan oleh para teolog Barat. Kata hypostasis membingungkan bagi kebanyakan orang yang tidak mengenal bahasa Yunani, karena kata itu memiliki banyak makna: sebagian sarjana Latin, seperti St. Jerome percaya bahwa kata hypostasis memiliki arti yang sama dengan ousia dan berpikir bahwa orang-orang Yunani mempercayai adanya tiga esensi ilahi. Namun, Kapadokian menegaskan ada satu perbedaan penting antara ousia dengan hypostasis yang harus betul-betul diingat. Ousia sebuah objek adalah yang menjadikan objek itu sebagaimana adanya; ousia biasanya diterapkan pada objek sebagaimana adanya

di dalam dirinya sendiri. Sedangkan hypostasis dipakai untuk meng- ungkapkan suatu objek dilihat dari luar. Kadangkala, Kapadokian suka menggunakan kata prosopon untuk menggantikan hypostasis. Prosopon pada dasarnya berarti “daya”, tetapi juga telah mendapatkan sejumlah arti sekunder sehingga ia juga dipakai untuk merujuk kepada ekspresi wajah seseorang yang mencerminkan keadaan pikirannya, juga untuk sebuah peran yang secara sadar diadopsinya atau karakter yang diniatkan untuk dijalaninya. Akibatnya, tidak berbeda dengan hypostasis, prosopon berarti ekspresi luar watak batin seorang individu sebagaimana tampak oleh orang lain. Jadi, ketika Kapadokian berkata bahwa Tuhan adalah satu ousia dalam tiga hypostasis, sesungguhnya yang mereka maksudkan adalah Tuhan dalam dirinya sendiri itu Satu: hanya ada satu kesadaran-diri ilahi. Akan tetapi, ketika dia membiarkan bagian dari dirinya diketahui oleh makhluknya, dia adalah tiga prosopoi.

Dengan demikian, hypostases Bapa, Putra, dan Roh tidak mesti disamakan dengan Tuhan itu sendiri, karena, seperti dijelaskan oleh Gregory dari Nyssa, “hakikat ilahi (ousia) tak dapat dinamai dan dibicarakan”; “Bapa”, “Putra”, dan “Roh” hanyalah “istilah-istilah yang kita pakai” untuk membicarakan energeiai yang melaluinya Tuhan menjadikan dirinya diketahui.21 Sungguhpun demikian, istilah-istilah ini memiliki nilai simbolik karena mereka menerjemahkan realitas yang tak terucap itu ke dalam citra-citra yang dapat kita mengerti. Manusia telah mengalami Tuhan sebagai yang transenden (Bapa, tersembunyi di dalam cahaya yang tak tertembus), dan sebagai yang kreatif (logos), dan sebagai yang imanen (Roh Kudus). Namun ketiga hypostases ini hanyalah kilasan parsial dan tak lengkap dari hakikat ilahi itu sendiri, yang berada jauh di atas penggambaran dan konsep- tualisasi seperti ini.22 Dengan demikian, Trinitas tidak boleh dilihat sebagai fakta harfiah, melainkan sebagai suatu paradigma yang berse-

suaian dengan fakta-fakta real yang tersembunyi dalam Tuhan.

Dalam suratnya To Alabius: That There Are Not Three Gods, Gregory dari Nyssa menguraikan garis besar doktrin pentingnya tentang ketakterpisahan atau koinherensi ketiga oknum ilahiah atau hypostases. Orang tak mesti mengira bahwa Tuhan membelah dirinya ke dalam tiga bagian; itu adalah gagasan yang berlebihan dan menghujat. Tuhan mengungkapkan dirinya secara penuh dan utuh dalam masing-masing dari ketiga manifestasi ini ketika dia ingin mewahyuka n dirinya kepad a dunia. Dengan demikian, Trinitas memberi kita petunjuk tentang pola “setiap perbuatan yang berasal dari Tuhan menuju ke tatanan makhluk”: seperti yang ditunjukkan oleh kitab suci, segalanya berawal dari Bapa, berproses melalui bantuan Putra, dan menjadi efektif di dunia karena adanya Roh yang imanen. Akan tetapi, Tuhan tetap hadir dalam setiap fase perbuatan. Dalam pengalaman kita sendiri, kita dapat melihat kesalingtergan- tungan antara ketiga hypostases: kita takkan pernah mengenal Bapa sekiranya tak ada wahyu kepada Putra, demikian pula kita takkan pernah mengenal Putra jika tak ada Roh yang membuat kita mengenal- nya. Roh mendampingi Firman suci Bapa, tak bedanya dengan napas

(dalam bahasa Yunani pneuma; bahasa Latin spiritus) mendampingi kata-kata yang diucapkan seorang manusia. Ketiga oknum ini tidak berada secara terpisah di alam suci. Kita dapat membandingkan me• reka dengan keberadaan berbagai bidang ilmu yang berbeda di dalam pikiran seseorang: filsafat boleh saja berbeda dari ilmu kedokteran, tetapi ia tidak mendiami sebuah kawasan kesadaran yang terpisah. Ilmu-ilmu yang berbeda saling melingkupi satu sama lain, mengisi seluruh pikiran namun tetap berbeda.23

Akan tetapi, pada akhirnya, Trinitas hanya bisa dipahami sebagai sebuah pengalaman mistik atau spiritual: ia harus dialami, bukan dipikirkan, karena Tuhan berada jauh di luar jangkauan konsep manusia. la bukanlah sebuah rumusan logis atau intelektual, melainkan sebuah paradigma imajinatif yang membungkam akal. Gregory dari Nazianzus membuat hal ini menjadi jelas ketika dia memaparkan bahwa kontemplasi tentang Tiga dalam Satu membangkitkan emosi yang hebat dan memukau yang membungkam pikiran dan kejernihan intelektual.

 

 

Begitu aku memikirkan tentang yang Satu, aku dicerahkan oleh kese- marakan yang Tiga; begitu aku membedakan yang Tiga maka aku segera dibawa kembali kepada yang Satu. Ketika aku memikirkan salah satu dari yang Tiga, aku memikirkannya sebagai keseluruhan, dan mataku penuh, dan bagian yang lebih besar dari apa yang kupikir- kan terluput dariku.24

 

 

Orang Kristen Ortodoks Yunani dan Rusia selalu menemukan bahwa kontemplasi tentang Trinitas merupakan sebuah pengalaman keagamaan yang penuh ilham. Akan tetapi, bagi kebanyakan kaum Kristen Barat, Trinitas justru membingungkan. Ini barangkali karena mereka hanya memperhatikan apa yang oleh Kapadokian disebut sebagai kualitas-kualitas kerygmatik, sementara bagi orang Yunani itu merupakan kebenaran dogmatik yang hanya bisa dicerap secara intuitif dan sebagai hasil pengalaman keagamaan. Secara logis, tentu saja, itu sama sekali tidak bermakna. Dalam sebuah khotbahnya, Gregory dari Nazianzus pernah menjelaskan bahwa ketidakmungkinan memahami dogma Trinitas membawa kita berhadapan dengan misteri ketuhanan yang mutlak; ini mengingatkan bahwa kita tak mesti berharap untuk memahaminya.23 Ini juga mencegah kita dari men- ciptakan pernyataan-pernyataan sembarangan mengenai Tuhan yang, ketika dia mengungkapkan diri, hanya bisa tertuangkan dalam cara- cara yang tak terucapkan. Basil juga memperingatkan kita untuk tidak membayangkan bahwa kita bisa mengetahui cara kerja Trinitas, katakanlah begitu; tak ada gunanya, misalnya, berusaha memecahkan teka-teki bagaimana ketiga hypostases Tuhan Tertinggi pada saat yang sama adalah identik dan berbeda. Ini berada di luar jangkauan kata-

kata, konsep, dan daya analisis manusia.26

Dengan demikian, Trinitas tidak boleh diinterpretasikan secara harfiah; ia bukanlah sebuah “teori” yang musykil tetapi hasil dari theoria, kontemplasi. Ketika orang Kristen di Barat menjadi gusar

 

oleh dogma ini pada abad kedelapan dan mencoba untuk mencam- pakkannya, mereka berupaya agar Tuhan dapat dipahami secara rasional bagi Zaman Akal. Ini adalah salah satu faktor pemicu timbul- nya teologi Kematian Tuhan pada abad kesembilan belas dan kedua puluh, seperti yang akan kita saksikan nanti. Salah satu alasan mengap a Kapadokian mengembangka n paradigma imajinatif ini adalah untuk mencegah agar Tuhan tidak dikonsepsikan lewat cara yang sama rasionalnya dengan filsafat Yunani, sebagaimana dipahami oleh pembid’a h semacam Arius. Teologi Arius itu agak terlalu gamblang dan logis. Trinitas mengingatkan orang-orang Kristen bahwa realitas yang kita sebut “Tuhan” tak dapat dipahami oleh akal manusia. Doktrin Inkarnasi, seperti diekspresikan di Nicaea, memang penting, namun dapat mengarah kepada keberhalaan yang simplistik. Orang mungki n mulai berpikir tentang Tuhan lewat cara yang terlalu manusiawi: bahkan mungkin pula membayangkan “dia” berpikir, berperilaku, dan berencana seperti kita. Dari sana, hanya tersisa sebuah langkah kecil menuju ke arah penisbahan semua bentuk pendapat yang penuh prasangka kepada Tuhan dan kemudian me- mutlakkannya. Trinitas merupakan upaya untuk mengoreksi kecen- derungan ini. Alih-alih memandangnya sebagai pemyataan faktual tentang Tuhan, Trinitas mungkin harus dilihat sebagai sebuah puisi atau tarian teologis antara apa yang dipercayai dan diterima oleh manusia fana tentang “Tuhan” dengan kesadaran bahwa setiap per- nyataan atau kerygma pasti bersifat sementara.

Perbedaan penggunaan kata “teori” di Yunani dan Barat dapat menjelaskan sesuatu. Bagi Kristen Timur, theoria selalu mengandung arti kontemplasi. Di Barat, “theory’ diartikan sebagai hipotesis rasional yang harus dibuktikan secara logis. Mengembangkan sebuah “teori” tentang Tuhan menyiratkan arti bahwa “dia” bisa dimuat di dalam sistem pemikiran manusia. Hanya ada tiga teolog Latin di Nicaea. Kebanyakan orang Kristen Barat belum mencapai tingkatan diskusi semacam ini dan, karena mereka tidak memahami beberapa termi- nologi Yunani, banyak yang merasa tidak puas dengan doktrin Trinitas. Mungkin istilah itu tidak dapat sepenuhnya diterjemahkan ke dalam idiom lain. Setiap budaya memang mesti menciptakan gagasannya sendiri tentang Tuhan. Jika Barat merasa asing dengan interpretasi Yunani tentang Trinitas, mereka harus menciptakan versi mereka sendiri.

 

Teolog Latin yang mendefinisikan Trinitas bagi Gereja Latin adalah Agustinus. Dia juga merupakan seorang Platonis yang fanatik, setia kepada pandangan Plotinus dan, karena itu, cenderung lebih simpatik kepada doktrin Yunani daripada kepada beberapa kolega Baratnya. Seperti yang dijelaskannya, kesalahpahaman sering diakibatkan oleh terminologi semata:

 

 

Demi menjelaskan hal-hal tak terucapkan sehingga kita mampu dengan cara tertentu mengungkapkan apa yang tidak bisa kita ungkapkan sepenuhnya dengan cara lain, kawan-kawan Yunani kita telah berbicara tentang satu esensi dan tiga substansi, tetapi kawan-kawan Latin bicara tentang satu esensi atau substansi dan tiga oknum (personae).27

 

 

Ketika orang Yunani mendekati Tuhan dengan cara memper- timbangkan ketiga hypostases, dan menolak untuk menganalisis esensinya yang satu, maka Agustinus dan orang-orang Kristen Barat sesudahnya justru memulai dengan keesaan ilahi dan kemudian berlanjut dengan mendiskusikan tiga manifestasinya. Orang Kristen Yunani menghormati Agustinus, memandangnya sebagai salah satu Patriark Gereja terkemuka, tetapi mereka tidak mempercayai teologi Trinitariannya, yang mereka rasa telah menjadikan Tuhan terlalu rasional dan antropomorfis. Pendekatan Agustinus tidaklah bersifat metafisik, seperti halnya orang-orang Yunani, tetapi psikologis dan bahkan sangat personal.

Agustinus bisa disebut sebagai pendiri spiritualitas Barat. Tak ada teolog lain, kecuali Paulus, yang lebih berpengaruh di Barat. Kita mengenalnya dengan lebih baik dibanding pemikir lain di akhir abad klasik, sebagian besar karena bukunya Confessions, sebuah paparan yang fasih dan hangat tentang usahanya menemukan Tuhan. Sejak awal, Agustinus telah mencari sebuah agama yang bercorak teistik. Dia memandang Tuhan sangat esensial bagi kemanusiaan:

“Engkau telah menciptakan kami untuk dirimu sendiri,” demikian dia berkata tentang Tuhan pada pembukaan Confessions, “dan jiwa- jiwa kami gelisah hingga bertemu denganmu!”28 Ketika mengajar retorika di Kartage, dia pindah menganut Manicheisme, sebuah bentuk Gnostisisme Mesopotamia, tetapi akhirnya dia meninggalkan paham itu karena teori kosmologinya yang tak memuaskan. Dia merasa doktrin Inkarnasi merupakan penyimpangan, pelecehan ide tentang Tuhan, tetapi ketika berada di Italia, Uskup Ambrose dari Milan

 

 

mampu meyakinkan dirinya bahwa Kristen bukannya tidak sejalan dengan Plato atau Plotinus. Meskipun demikian, Agustinus masih berkeberatan untuk mengambil langkah akhir dan menerima baptisme. Dia merasakan bahwa baginya Kristen mengakibatkan wajibnya kehidupan membujang dan dia enggan menempuh jalan seperti itu:

“Tuhan, berilah aku kesucian,” demikian dia pernah berdoa, “tetapi jangan dulu.”29

Konversinya yang terakhir merupakan sebuah peristiwa Sturm und Drang, penuh gejolak, ketercerabutan keras dari masa lalunya dan kelahiran kembali yang menyakitkan, seperti yang mencirikan pengalaman keagamaan Barat. Suatu hari, ketika tengah dudu k bersama sahabatnya Alypius di kebu n mereka di Milan, sebuah pertarungan berkecamuk di dalam pikiran:

 

Dari kedalaman introspeksi diri yang gelap telah bangkit tumpukan seluruh nestapaku dan menempatkannya “dalam penglihatan hatiku”.

la membangkitkan badai besar yang membawa banjir air mata. Untuk menumpahkan semuanya diiringi desah kesedihan, aku bangkit dari sisi Alypius (menyendiri tampak lebih pantas untuk meneteskan air mata) … lalu kusandarkan diri di bawah pohon ara dan membiarkan air mataku mengalir bebas. Sungai-sungai seakan menderas dari kedua mataku, sebuah pengurbanan yang mungkin dapat engkau terima, dan—meskipun bukan dalam kata-kata ini, tetapi setidaknya dalam pengertian ini—aku berulang-ulang berkata kepadamu, “Berapa lama, Tuhan, berapa lama lagi Engkau akan begitu murka?” (Mazmur 6:4).30

 

Tuhan tidak selalu datang dengan mudah kepada orang Barat. Konversi Agustinus tampak seperti sebuah reaksi psikologis, yang setelahnya si mualaf jatuh kelelahan di pangkuan Tuhan, semua hasrat telah sampai. Ketika Agustinus bersimpuh menangis di tanah, tiba-tiba dia mendengar suara anak kecil dari rumah terdekat menye- nandungka n bait “Tolle, lege: Bangkit dan bacalah, bangkit dan bacalah!” Menganggap ini sebagai sebuah nubuat, Agustinus berdiri dan bergegas kembali ke sahabatnya Alypius yang terkaget dan lama menanti, dan langsung mengambil Kitab Perjanjian Barunya. Dia membukanya pada sabda Paulus kepada orang Romawi: “Jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati, tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata perang dan jangan- lah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” Pertarungan

 

 

panjang itu telah usai: “Aku tak mengharap maupun perlu membaca lebih lanjut,” kenang Agustinus. “Segera, setelah kata-kata terakhir dari kalimat ini, seolah-olah cahaya pembasuh seluruh kecemasan membanjiri hatiku. Semua bayang-bayang keraguan menjadi sirna.”31

Tuhan bisa juga menjadi sumber kebahagiaan: tetapi, tak lama berselang sejak konversinya, suatu malam Agustinus mengalami ekstasi bersama ibunya, Monica, di Ostia di dekat Sungai Tiber. Kita akan mendiskusikan ini secara lebih terperinci pada Bab 7. Sebagai seorang Platonis, Agustinus menyadari bahwa Tuhan dapat ditemukan

di dalam pikiran, dan di dalam Buku X dari Confessions, dia men• diskusikan fakultas yang disebutnya Memoria, memori. Ini jauh lebih kompleks daripada daya ingat dan lebih dekat kepada apa yang oleh para psikolog disebut alam bawah sadar. Bagi Agustinus, memori mewakili keseluruhan pikiran, kesadaran, dan juga ketidaksadaran. Kompleksitas dan keragamannya memenuhi dirinya dengan keka- guman. Ini adalah “misteri yang mengilhami ketakjuban”, dunia imaji yang tak dapat dibayangkan, menghadirkan masa lalu dan tak terhitung dataran, relung, dan gua.32 Melalui dunia batin yang ramai inilah Agustinus turun untuk menemukan Tuhannya, yang secara paradoks berada di dalam dan di atas dirinya. Tak ada gunanya mencari bukti tuhan di dunia luar. Dia hanya bisa ditemukan di dalam alam pikiran yang real:

 

 

Terlambat aku mencintaimu, keindahan yang begitu lama namun begitu baru; terlambat aku mencintaimu. Dan lihat, engkau ada di dalam, aku berada di dunia luar dan mencarimu di sana, dan dalam keadaan tidak mencintaimu aku tenggelam dalam ciptaan indah yang telah engkau buat. Engkau bersamaku, dan aku tidak bersamamu. Segala yang indah telah menjauhkan aku darimu, padahal jika mereka tidak memiliki eksistensinya di dalam engkau, mereka takkan pernah ada sama sekali.33

 

 

Oleh karena itu, Tuhan bukanlah sebuah realitas objektif, melain- kan suatu kehadiran spiritual di kedalaman batin yang kompleks. Pandangan Agustinus ini tidak saja sama dengan Plato dan Plotinus, tetapi juga dengan para penganut Buddha, Hindu, dan Shaman dalam agama-agam a nonteistik. Sungguhpu n demikian, Tuha n dalam pandangannya bukanlah Tuhan yang impersonal, tetapi Tuhan yang sangat personal dari tradisi Yahudi-Kristen. Tuhan telah berkenan memaklumi kelemahan manusia dan pergi mencarinya:

 

 

 

Engkau memanggil, berteriak keras, dan memecah kesunyianku. Engkau bersinar dan gemerlap, kau sirnakan kebutaanku. Engkau semerbak, kuhirup dalam napasku hingga memenuhi rongga dadaku. Kucicipi engkau dan aku makin merasa lapar dan haus akan engkau. Engkau sentuh aku, dan aku terbakar api untuk meraih kedamaian yang adalah milikmu.34

 

Para teolog Yunani pada umumnya tidak membawa pengalaman mereka sendiri ke dalam tulisan teologis mereka, namun teologi Agustinus justru berangka t dari kisahnya sendiri yan g sangat individual.

Keterpesonaan Agustinus terhadap pikiran telah membawanya untuk mengembangkan Trinitarianisme psikologisnya sendiri dalam risalah De Trinitate, yang ditulisnya pada tahun-tahun pertama abad kelima. Karena Tuhan telah menciptakan kita di dalam citranya sendiri, maka kita harus mampu melihat trinitas di kedalaman pikiran kita. Alih-alih mengawalinya dengan abstraksi metafisik dan pembedaan verbal yang disenangi orang Yunani, Agustinus memulai eksplorasi ini dengan pengalaman yang sebagian besar kita pernah dapatkan. Ketika mendengar frasa-frasa, seperti “Tuhan adalah cahaya” atau

“Tuhan adalah kebenaran,” kita secara instingtif merasakan gejolak ketertarikan spiritual dan merasa bahwa “Tuhan” dapat memberi makna dan nilai bagi kehidupan kita. Namun, setelah pencerahan sekejap ini, kita kembali jatuh ke dalam bingkai pikiran kita yang biasa, saat kita terobsesi tentang “hal-hal yang biasa dan membumi.”35

Cobalah semampu kita, kita tak bisa meraih kembali momen kerinduan yang tak terucapkan itu. Proses pemikiran normal tak dapat mem- bantu; sebaliknya, kita harus mendengar “apa yang dimaksud oleh hati” dengan frasa-frasa semacam “Dia adalah kebenaran.”36 Akan tetapi, mungkinkah mencintai realitas yang tidak kita kenal? Agustinus menjawab dengan membuktikan bahwa karena di dalam pikiran kita sendiri terdapat trinitas yang mencerminkan Tuhan, seperti citra Platonis mana pun, kita rindu pada Arketipe kita—pola dasar yang dengannya kita dibentuk.

Jika kita mengawali dengan mempertimbangkan pikiran yang mencintai dirinya sendiri, kita tidak menemukan trinitas melainkan dualitas, yakni cinta dan pikiran. Namun hanya jika pikiran itu sadar tentang dirinya sendiri, melalui apa yang kita sebut kesadaran diri,

ia baru bisa mencintai dirinya sendiri. Mendahului Descartes, Agustinus

 

 

 

menyatakan bahwa pengetahuan tentang diri sendiri merupakan pijakan dasar dari semua kepastian yang lain. Bahkan pengalaman tentang keraguan pun membuat kita sadar akan diri sendiri.37

Di dalam jiwa ada tiga macam isi, yaitu: ingatan, pengertian, dan kehendak yang bersesuaian dengan pengetahuan, pengenalan diri, dan cinta. Seperti halnya tiga oknum ilahi, aktivitas-aktivitas mental ini secara esensial adalah satu karena mereka itu tidak membentuk tiga macam pikiran yang terpisah, tetapi masing-masing mengisi keseluruhan pikiran dan mencakup dua yang lain: “Saya ingat bahwa saya mempunyai ingatan, pengertian, dan kehendak; saya mengerti bahwa saya mengerti, berkehendak, dan mengingat. Saya meng- hendaki kehendak, ingatan, dan pengertian saya sendiri.”38 Seperti Trinitas Ilahi yang digambarkan oleh Kapadokian, ketiga unsur itu, dengan demikian, “membentuk satu hidup, satu pikiran, satu esensi.”39

Akan tetapi, pemahaman tentang cara kerja pikiran kita ini baru merupakan langkah pertama: trinitas yang kita temukan dalam diri kita bukanlah Tuhan itu sendiri, melainkan jejak dari Tuhan yang telah membuat kita. Baik Athanasius maupun Gregory dari Nyssa telah membuat perumpamaan bayangan cermin untuk menjelaskan kehadiran Tuhan di dalam jiwa manusia, dan untuk memahami ini dengan benar kita mesti mengingat kembali bahwa orang Yunani percaya bahwa bayangan cermin itu nyata, terbentuk ketika cahaya mata seorang pengamat berpadu dengan cahaya yang dipantulkan dari objek dan dicerminkan di atas permukaan kaca.40 Agustinus percaya bahwa trinitas dalam pikiran juga merupakan bayangan yang mencakup kehadiran Tuhan dan diarahkan kepadanya.41 Akan tetapi, bagaimana kita melampaui bayangan ini, yang terpantul seperti pada sebuah cermin gelap, kepada Tuhan sendiri? Besarnya jarak yang membentang antara Tuhan dan manusia tidak bisa ditempuh oleh usaha manusia saja. Hanya karena Tuhan telah mendatangi kita me- lalui manusia yang menubuhi Firman maka kita bisa memulihkan citra Tuhan di dalam diri kita, yang telah dirusak dan cacat oleh dosa. Kita membuka diri kepada aktivitas ilahi yang akan mentransfor- masi kita melalui tiga macam disiplin, yang oleh Agustinus disebut trinitas iman: retineo (memegang teguh kebenaran Inkarnasi dalam pikiran kita), contemplatio (melakukan kontemplasi atasnya), dan dilectio (menemukan kesenangan di dalamnya). Secara bertahap, dengan menumbuhkan rasa kehadiran Tuhan secara terus-menerus

di dalam pikiran kita melalui cara ini, Trinitas akan terungkap.42

 

Pengetahuan ini bukan sekadar perolehan informasi melalui otak, melainkan merupakan disiplin kreatif yang akan mengubah kita dari dalam dengan cara mengungkapkan dimensi ilahi di kedalaman diri kita sendiri.

Masa itu merupakan masa-masa gelap dan susah bagi Barat. Suku-suku barbar menyerbu masuk Eropa dan meruntuhkan ke- kaisaran Romawi: jatuhnya peradaban Barat tak pelak lagi berpe- ngaruh terhadap spiritualitas Kristen di sana. Ambrose, mentor besar Agustinus, mengajarkan iman yang pada dasarnya bersifat defensif: integritas (keterpaduan) menjadi prinsipnya yang paling penting. Gereja mesti berupaya agar doktrin-doktrinnya tetap utuh dan, seperti halnya tubuh perawan Maria, ia harus tetap tak tertembus oleh doktrin- doktrin sesat kaum barbar (banyak di antara mereka menganut Arianisme). Kesedihan mendalam juga terbaca dalam karya terakhir Agustinus: kejatuhan Roma mempengaruhi doktrinnya tentang Dosa Asal, yang akan menjadi sentral bagi cara orang Barat memandang dunia.

Agustinus percaya bahwa Tuhan telah menjatuhkan kutukan abadi bagi manusia, hanya karena satu dosa Adam. Dosa warisan ini diteruskan kepad a seluruh anak keturunannya melalui tindakan seksual, yang dicemari oleh apa yang disebut Agustinus sebagai

“berahi”. Berahi adalah hasrat irasional untuk mencari kesenangan pada makhluk semata, bukannya pada Tuhan; ini dirasakan paling kuat dalam tindakan seksual, ketika rasionalitas kita sepenuhnya ter- benam oleh gairah dan emosi, tatkala Tuhan terlupakan dan makhluk- makhluk saling cumbu tanpa malu terhadap satu sama lain. Citra tentang akal yang diseret oleh kekacauan sensasi dan gairah liar ini sangat mirip dengan Romawi—sumber rasionalitas, hukum, dan keter- aturan di Barat—yang dibawa kepada keruntuhan oleh suku-suku barbar. Akibatnya, doktrin keras Agustinus menorehkan gambaran menakutkan tentang Tuhan yang tak terluluhkan:

 

Terusir [dari surga] setelah membuat dosa, Adam pun membelenggu anak cucunya dengan hukuman kematian dan kutukan, dengan dosa yang telah dibuatnya sendiri, seperti dalam sebuah akar; maka setiap keturunan yang dilahirkan (melalui berahi jasadi, yang karena itulah hukuman atas ketidakpatuhan dijatuhkan kepadanya) darinya dan pasangannya—yang menjadi penyebab perbuatan dosanya dan pendamping keterkutukannya—akan memikul sepanjang masa beban Dosa Asal, yang dengan sendirinya akan terbawa melalui berlipat-lipat

 

kesalahan dan penyesalan hingga siksaan akhir dan tanpa akhir bersama malaikat-malaikat pembangkang … Demikianlah keadaannya; manusia yang terkutuk akan jatuh tersungkur, tidak, berguling-guling dalam dosa, melompat dari satu kebumkan ke keburukan lain; dan bergabung dengan kelompok malaikat yang telah berbuat dosa, membayar hukuman paling baik dari pengkhianatannya yang tak terpuji.43

 

Baik Yahudi maupun Kristen Ortodoks Yunani tidak memandang kejatuhan Adam dalam cara yang demikian suram; kaum Muslim pu n tidak mengadopsi teologi yang gelap ini tentang Dosa Asal. Doktrin yang khas Barat ini membentuk potret keras tentang Tuhan yang terlebih dahulu pernah dikemukakan oleh Tertullian.

Agustinus meninggalkan bagi kita warisan yang sulit. Sebuah agama yang mengajarkan kaum pria dan wanita untuk memandang kemanusiaan mereka sebagai sesuatu yang sangat lemah secara kronis, justru akan membuat mereka terasing dari diri sendiri. Keterasingan ini paling nyata terlihat dalam kebencian terhadap seksualitas umum- nya dan pada perendahan derajat kaum wanita khususnya. Meskipun Kristen yang pada awalnya bersikap cukup positif terhadap perem- puan, Barat telah mulai mengembangkan kecenderungan misoginistik sejak era Agustinus. Surat-surat Jerome penuh dengan penghinaan terhadap perempuan yang kadang-kadang terasa mengganggu. Ter• tullian telah mencela wanita sebagai iblis penggoda, sebuah bahaya abadi bagi umat manusia:

 

 

Apakah engkau tidak tahu bahwa masing-masing dirimu aclalah seorang Hawa? Kalimat Tuhan tentang jenis ini tetap aktual pada masa sekarang: rasa bersalah itu pun harus tetap ada. Kalian adalah gerbang setan; kalian adalah pelanggar pohon terlarang itu; kalian adalah pembang• kang pertama hukum tuhan; kalian adalah penggoda Adam, yang iblis pun tak cukup mampu untuk menaklukkannya. Kalian dengan sembrono telah menghancurkan manusia, citra Tuhan. Akibat pembang- kangan-mu, bahkan Putra Tuhan pun harus mati.44

 

 

Agustinus setuju: “Apa bedanya,” tulisnya kepada seorang rekan,

“apakah dia ada dalam wujud seorang istri atau ibu, dia tetap saja Hawa penggoda yang membuat kita mesti waspada terhadap setiap perempuan.”45 Sebenarnya, Agustinus sangat heran mengapa Tuhan mesti menciptakan jenis wanita: bukankah, “seandainya yang dibutuh- kan Adam adalah teman bercakap-cakap yang baik, akan lebih baik

 

 

jika yang dirancang adalah dua orang lelaki bersama-sama sebagai sahabat, bukan seorang lelaki dengan seorang perempuan.”46 Satu- satunya fungsi wanita adalah untuk melahirkan anak yang akan menularkan dosa asal kepada generasi berikutnya, seperti wabah penyakit.

Sebuah agama yang bersikap curiga terhadap separo ras manusia dan yang memandang setiap gerak refleks pikiran, hati, dan tubuh sebagai gejala berahi yang fatal hanya akan membuat kaum pria dan wanita merasa asing dengan kondisi mereka. Kristen Barat tidak pernah sepenuhnya sembuh dari misogini neurotik ini, sebagaimana masih terlihat dalam reaksi miring terhadap gagasan tentang kepende- taan wanita. Sementara kaum wanita Timur pun ikut memiliki beban inferioritas yang dipikul oleh semua wanita pada peradaban masa kini, saudara-saudara mereka di Barat menanggung stigma tambahan tentang seksualitas yang menjijikkan dan penuh dosa yang menyebab- kan mereka tersisihkan dalam kebencian dan ketakutan.

Ini adalah ironi ganda, sebab gagasan bahwa Tuhan telah men- daging dan ikut dalam kemanusiaan kita mestinya mendorong orang Kristen untuk menghargai jasad. Ada perdebatan lebih lanjut mengenai keyakinan yang sulit ini. Selama abad keempat dan kelima, “pem- bid’ah” semacam Apollinarius, Nestorius, dan Eutyches mengajukan pertanyaan yang sangat pelik. Bagaimana keilahian Kristus bisa berpadu dengan kemanusiaannya? Bunda Maria tentu bukanlah ibu Tuhan, tetapi ibu dari manusia Yesus? Bagaimana mungkin Tuhan merupakan bayi yang menangis tidak berdaya? Tidakkah lebih akurat untuk menyatakan bahwa dia ada bersama Kristus dalam kedekatan yang istimewa, seperti di dalam kuil? Meski dengan beberapa inkon- sistensi yang nyata, kaum ortodoks tetap bersikukuh dengan senjata mereka. Cyrill, Uskup Aleksandria, mengulangi keyakinan Athanasius: Tuhan benar-benar telah turun ke dunia kita yang cacat dan rusak, juga bahkan telah merasakan kematian dan kefanaan. Tampaknya mustahil untuk mendamaikan ini dengan keyakinan yang sama kukuhnya bahwa Tuhan benar-benar perkasa, tidak dapat menderita atau berubah. Tuhan Yunani yang jauh, yang dicirikan terutama oleh apatheia ilahi, kelihatan sangat berbeda dari Tuhan yang dianggap telah berinkarnasi di dalam Yesus Kristus. Kaum ortodoks merasa bahwa “para pembid’ah”, yang memandang gagasan tentang Tuhan yang menderita dan tak berdaya sebagai penghujatan, ingin menge- ringkan aspek misteri dan kedahsyatan dari yang ilahi. Paradoks

Inkarnasi tampaknya merupakan penangkal bagi Tuhan Helenik yang tidak melakukan apa-apa untuk membangkitkan kepuasan kita dan yang sepenuhnya dapat dinalar.

Pada tahun 529, Kaisar Justinian menutup sekolah filsafat kuno

di Atena, benteng terakhir paganisme intelektual. Guru besar ter- akhirnya adalah Proclus (412-485), murid Plotinus yang paling bersemangat. Filsafat pagan menyurut dan tampak dikalahkan oleh agama baru itu, Kristen. Akan tetapi, empat tahun kemudian muncul empat risalah mistik yang disebut-sebut ditulis oleh Denys dari Aeropagus, orang Atena pertama yang menjadi pengikut Paulus. Sebenarnya, risalah-risalah itu ditulis oleh seorang Kristen Yunani abad keenam yang ingin mempertahankan anonimitasnya. Namun, nama samaran itu memiliki kekuatan simbolik yang lebih penting daripada identitas pengarangnya sendiri: Denys-samaran ini berhasil membaptis pandangan-pandangan Neoplatonisme dan menyanding- kan Tuhan Yunani dengan Tuhan Semitik Alkitab.

Denys juga merupakan pewaris para patriark Kapadokia. Seperti halnya Basil, dia memandang serius pembedaan antara kerygma de• ngan dogma. Dalam salah satu suratnya, dia menegaskan bahwa ada dua tradisi teologis, keduanya berasal dari para nabi. Injil kerygmatik sudah jelas dan diketahui; injil dogmatik bersifat tertutup dan mistik. Namun, keduanya saling tergantung dan esensial bagi keyakinan Kristen. Yang satu merupakan “permulaan simbolik dan bersyarat”, yang lainnya “bersifat filosofis dan bisa dibuktikan—dan yang tak terucap terjalin dengan apa yang terucapkan.”47 Kerygma menarik perhatian karena kebenarannya yang nyata dan jelas, tetapi tradisi dogma yang diam atau tersembunyi merupakan misteri yang me- merlukan inisiasi: “la mempengaruhi dan memantapkan jiwa bersama Tuhan melalui inisiasi yang tidak mengajarkan apa-apa,”48 demikian Denys menegaskan dengan kata-kata yang mengingatkan orang kembali kepada Aristoteles. Ada kebenaran agama yang tidak dapat diungkapkan secara memadai oleh kata-kata, oleh wacana rasional atau logis. la hanya bisa diungkapkan secara simbolik, melalui bahasa dan isyarat-isyarat liturgi, atau melalui doktrin yang merupakan “tirai- tirai suci” yang menyembunyikan makna tak terlukiskan dari pengli- hatan, tetapi juga menyesuaikan Tuhan yang misterius dengan keter- batasan manusia dan mengungkapkan Realitas dalam istilah-istilah yang bisa dipahami secara imajinatif, jika tidak secara konseptual.49

 

 

 

 

 

Makna tersembunyi atau esoterik bukan ditujukan bagi kalangan elit saja, tetapi untuk semua umat Kristen. Denys tidak mengajukan sebuah disiplin musykil yang hanya cocok bagi para pendeta dan rahib saja. Liturgi, yang dilaksanakan semua yang mengimaninya, merupakan jalan utama menuju Tuhan dan mendominasi teologinya. Alasan mengapa kebenaran-kebenaran ini disembunyikan di belakang sebuah tabir pelindung bukanlah untuk menjauhkan manusia, melain- kan untuk menaikkan seluruh orang Kristen dari persepsi indriawi dan konsep-konsep ke taraf realitas Tuhan yang tak terungkapkan itu sendiri. Kerendahan hati yang telah mengilhami Kapadokian untuk mengklaim bahwa semua teologi pastilah mengandung kelemahan, bagi Denys justru menjadi sebuah cara pasti untuk naik menuju Tuhan.

Sebenarnya, Denys sama sekali tidak menyukai penggunaan istilah “Tuhan”—mungkin karena istilah itu telah memperoleh begitu banyak konotasi antropomorfis yang tak layak. Dia lebih suka meng- gunakan istilah theurgy dari Proclus, yang pada dasarnya bersifat liturgis: theurgy di dalam dunia pagan merupakan penyerapan mana ilahi melalui pengurbanan dan penyucian. Denys menerapkan ini kepada ucapan Tuhan yang, bila dipahami dengan baik, juga dapat melepaskan energeiai ilahi yang melekat pada simbol-simbol yang diwahyukan. Dia sependapat dengan Kapadokian bahwa semua kata dan konsep kita untuk Tuhan tidaklah memadai dan tidak boleh diambil sebagai deskripsi akurat tentang realitas yang sebenarnya berada di luar lingkup kita. Bahkan kata “Tuhan” itu sendiri keliru, sebab Tuhan berada “di atas Tuhan,” sebuah “misteri yang melampaui wujud.”50 Orang Kristen harus menyadari bahwa Tuhan bukanlah Wujud Tertinggi, yang berada pada puncak hierarki di atas wujud- wujud lain yang lebih rendah. Benda-benda dan manusia tidak berse- berangan dengan Tuhan sebagai realitas yang terpisah atau wujud alternatif, yang bisa menjadi objek pengetahuan. Tuhan bukanlah satu dari sekian hal yang ada dan sama sekali tidak sama dengan segala sesuatu yang ada dalam pengalaman kita. Sebenarnya, adalah lebih akurat untuk menyebut Tuhan sebagai “Tiada”: bahkan tidak mesti menyebutnya suatu Trinitas sebab dia “bukanlah kesatuan maupun trinitas dalam pengertian yang kita ketahui.”51 Dia berada di atas segala nama sebagaimana halnya dia berada di atas segala wujud.52 Sungguhpun demikian, kita dapat menggunakan ketidak- mampuan kita untuk berbicara tentang Tuhan sebagai metode untuk

 

 

mencapa i kemanunggala n dengannya , yang tidak kuran g dari

“deifikasi” (theosis) hakikat kita sendiri. Tuhan telah mewahyukan sebagian dari Namanya kepada kita di dalam kitab suci, seperti

“Bapa”, “Putra”, dan “Roh”, namun tujuan dari hal ini bukanlah untuk menanamkan informasi tentang dia, melainkan untuk mengantarkan manusia kepadanya dan membuat mereka mampu untuk ikut me- miliki sifatnya yang suci.

Pada setiap bab dalam risalahnya, The Divine Names, Denys mengawali dengan sebuah kebenaran kerygmatik yang diwahyukan oleh Tuhan: kebaikannya, kebijaksanaannya, perlindungannya, dan sebagainya. Denys kemudian melanjutkan dengan memperlihatkan bahwa meskipun Tuhan telah mewahyukan sesuatu tentang dirinya dalam sifat-sifat semacam itu, apa yang diwahyukan itu bukanlah dirinya sendiri. Jika kita benar-benar ingin memahami Tuhan, kita harus menyangkal sifat-sifat dan nama-nama itu. Jadi kita mesti mengatakan bahwa dia adalah “Tuhan” dan “bukan-Tuhan” sekaligus,

“baik” kemudian segera mengatakan bahwa dia “bukan-baik”. Kejutan paradoks ini, sebuah proses yang mencakup pengetahuan maupun ketidaktahuan, akan mengangkat kita dari dunia ide-ide yang fana menuju realitas yang tak dapat diungkapkan itu sendiri. Dengan demikian, kita memulai dengan mengatakan bahwa:

 

 

ada pemahaman, nalar, pengetahuan, sentuhan, persepsi, imajinasi, nama, dan banyak hal lainnya mengenai dia. Akan tetapi, dia tidak bisa dipahami dan tak ada yang dapat diucapkan mengenai dirinya, dia tidak bisa dinamai. Dia bukanlah salah satu dari apa yang ada.53

 

Oleh karena itu, membaca kitab suci bukanlah sebuah proses menemukan fakta-fakta tentang Tuhan, melainkan mesti menjadi sebuah disiplin paradoksikal yang menguba h kerygma menjadi dogma. Metode ini adalah sebuah theurgy, penyerapan kekuatan ilahi yang memampukan kita naik menuju Tuhan itu sendiri dan, seperti yang selalu diajarkan oleh kaum Platonis, menjadikan diri kita sendiri ilahiah. Ini merupakan metode yang membuat kita berhenti berpikir! “Kita mesti meninggalkan semua konsepsi kita tentang yang ilahi. Kita memberhentikan seluruh aktivitas pikiran kita.”54 Kita bahkan mesti meninggalkan pengingkaran kita terhadap sifat-sifat Tuhan. Baru kemudian kita akan mencapai kemanunggalan memabukkan dengan Tuhan.

 

 

 

Ketika Denys bercerita tentang kemabukan karena Tuhan, dia tidak merujuk pada keadaan pikiran tertentu atau bentuk kesadaran alternatif yang dicapai melalui latihan Yoga yang tak jelas. Keadaan ini dapat diraih setiap orang Kristen melalui metode doa atau theoria yang paradoksikal, yang akan membuat kita berhenti berbicara dan membawa kita ke dalam keheningan: “Ketika kita masuk ke dalam kegelapan yang berada di luar akal, kita bukan hanya akan kehilangan kata-kata, namun bahkan sama sekali bisu dan tidak mengetahui.”55

Seperti Gregory dari Nyssa, Denys menemukan banyak pelajaran dari kisah naiknya Musa ke Gunung Sinai. Ketika Musa telah mendaki gunung itu, dia tidak melihat Tuhan di puncaknya, tetapi dibawa ke tempat di mana Tuhan berada. Dia dikelilingi kabut tebal dan tak dapat melihat apa-apa: jadi segala yang bisa kita lihat atau pahami hanya merupakan simbol (kata yang digunakan pleh Denys adalah

“paradigma”) yang menyingkapkan kehadiran sebuah realitas yang melampaui semua pemikiran. Musa telah menembus ke dalam gelap- nya ketidaktahuan itu dan kemudian mencapai kemanunggalan dengan sesuatu yang melampaui semua pemahaman: kita akan meraih kemabuka n serupa yang akan “mengeluarkan kita dari diri kita sendiri” dan menyatukan kita dengan Tuhan.

Hal ini hanya mungkin karena Tuhan datang menemui kita, seperti yang terjadi di atas gunung itu. Di sini Denys berbeda dari Neoplatonisme, yang mempersepsikan Tuhan sebagai statis dan jauh, sama sekali tidak responsif terhadap upaya manusia. Tuhan para filosof Yunani tidak sadar akan para mistikus yang acap berusaha untuk mencapai kesatuan yang memabukkan dengannya, sedangkan Tuhan Alkitab peduli kepad a manusia. Tuhan juga mengalami

“ekstasi” yang membawanya keluar dari dirinya untuk tiba pada alam makhluk yang rentan:

 

Dan kita harus berani menegaskan (karena ini adalah kebenaran) bahwa Pencipta alam ini sendiri, dalam kerinduannya yang indah dan baik terhadap alam … dibawa keluar dirinya karena kepeduliannya kepada segala sesuatu yang wujud … dan dengan demikian keluar dari takhtanya yang transenden di atas segala sesuatu untuk berdiam di dalam hati segala sesuatu, melalui kekuatan ekstatik yang ada di atas wujud sambil tetap berada dalam dirinya sendiri.56

 

 

 

 

 

 

 

Emanasi telah menjadi pencurahan cinta yang hangat dan sukarela, bukan sebuah proses yang automatis. Negasi dan paradoks Denys bukanlah sesuatu yang kita lakukan, tetapi merupakan sesuatu yang teriadi pada diri kita.

Bagi Plotinus, ekstasi merupakan peristiwa keterpesonaan yang sangat jarang terjadi: dia hanya mengalaminya sebanyak dua atau tiga kali di sepanjang hidupnya. Denys melihat ekstasi sebagai keadaan konstan setiap orang Kristen. Ini merupakan pesan tersem- bunyi dan esoterik dari kitab suci dan liturgi, diungkap lewat isyarat terkecil. Maka ketika si pendeta meninggalkan altar pada awal misa untuk berjalan di tengah jamaah, memercikkan mereka dengan air suci sebelum kembali ke ruang altar, ini bukanlah sekadar purifikasi— meskipun memang demikian. Tindakan itu meniru ekstasi ilahi, se- perti Tuhan yang meninggalkan kesendiriannya dan menggabungkan diri dengan makhluk. Barangkali cara terbaik untuk memandang teologi Denys adalah dengan melihatnya sebagai tarian spiritual antara apa yang bisa kita tegaskan mengenai Tuhan dengan apresiasi bahwa apa pun yang bisa kita katakan tentang dia pastilah bersifat simbolik semata. Seperti dalam Yudaisme, Tuhan Denys memiliki dua aspek: yang satu menoleh kepada kita dan memanifestasikan dirinya di dunia sedangkan yang lain berada dalam dirinya sendiri dan tetap tidak bisa dipahami. Dia “tetap berada dalam dirinya” dalam misteri abadi, pada saat yang sama dia memenuhi langit dan bumi. Dia bukanlah wujud lain, yang ditambahkan pada dunia.

Metode Denys dianggap biasa dalam teologi Yunani. Akan tetapi,

di Barat, para teolog akan terus berbicara dan menjelaskan. Beberapa

di antara mereka membayangkan bahwa ketika mereka mengatakan

“Tuhan”, maka realitas ilahi sebenarnya bersatu dengan ide di dalam pikiran mereka. Sebagian lainnya menisbahkan pikiran dan gagasan mereka sendiri kepada Tuhan—mengatakan bahwa Tuhan menghen- daki ini, melarang itu, atau telah merencanakan yang lain—dalam cara yang mengandung bahaya keberhalaan. Akan tetapi, Tuhan Yunani Ortodoks tetap misterius, dan Trinitas akan terus mengingatkan orang Kristen Timur pada sifat kesementaraan doktrin-doktrin mereka. Akhirnya, orang Yunani memutuskan bahwa sebuah teologi autentik harus memenuhi dua kriteria Denys: mesti hening dan paradoks.

Orang Yunani dan Latin secara signifikan juga mengembangkan pandangan yang berbeda tentang keilahian Kristus. Konsep Yunani tentang inkarnasi dirumuskan oleh Maximus the Confessor (kl. 580-

 

 

 

662) yang dikenal sebagai bapak teologi Byzantium. Teologi ini kira-kira lebih dekat kepada cita-cita kaum Buddha dibandingkan kepada pandangan Barat. Maximus percaya bahwa manusia hanya dapat mencapai kesejatian diri jika mereka dapat bersatu dengan Tuhan, persis seperti yang diyakini oleh orang Buddha bahw a pencerahan merupakan tujuan kemanusiaan yang sejati. “Tuhan” dengan demikian bukanlah sebuah pilihan ekstra, sebuah realitas asing di luar diri yang ditambahkan pada kondisi kemanusiaan. Manusia mempunyai potensi untuk mencapai keilahian dan menjadi manusia yang utuh hanya jika hal ini tercapai. Logos menjadi manusia bukan demi memperbaiki dosa Adam; bahkan Inkarnasi akan tetap terjadi seandainya pun Adam tidak membuat dosa. Manusia diciptakan dalam kemiripan dengan logos dan akan mencapai potensi mereka yang sepenuhnya hanya jika kemiripan ini telah disempurnakan.

Di Gunung Tabor, kegemilangan kemanusiaan Yesus memper- lihatkan kepada kita kondisi manusia yang menuhan, kondisi yang dapat diraih oleh kita semua. Firman telah dijadikan daging agar

“seluruh manusia akan menjadi Tuhan, dituhankan melalui berkat Allah—manusia utuh, jiwa dan raga, secara alamiah dan Tuhan utuh, jiwa dan raga, karena berkat.”57 Seperti halnya pencerahan dan ke- Buddha-an tidak melibatkan campur tangan sebuah realitas adialami, melainkan merupakan peningkatan kekuatan-kekuatan yang alamiah bagi manusia, demikian pula Kristus yang menuhan memperlihatkan kepada kita keadaan yang dapat kita peroleh melalui berkat Allah. Orang Kristen memuliakan Yesus Manusia-Tuhan lewat cara yang kurang lebih sama dengan orang Buddha mengagungkan citra Gautama yang tercerahkan: dia menjadi contoh pertama kemanusiaan yang benar- benar penuh dan dimuliakan.

Kalau pandangan Yunani tentang Inkarnasi membawa Kristen menjadi lebih dekat kepada tradisi Timur, pandangan Barat tentang Yesus menempuh jalan yang lebih eksentrik. Teologi klasik dipapar- kan oleh Uskup Anselm dari Canterbury (1033-1109), dalam risalahnya Why God Became Man. Menurutnya, dosa merupakan kesalahan yang amat besar sehingga pertobatan menjadi penting agar rencana-rencana Tuhan terhadap manusia tidak terhalangi. Firman telah dijadikan daging untuk melakukan perbaikan atas nama kita. Keadilan Tuhan menuntut pelunasan utang oleh seseorang yang memiliki pribadi ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus: akibat besarnya pelanggaran itu maka hanya seoran g Anak Tuha n saja yang bisa member i

 

 

 

penyelamatan bagi kita. Akan tetapi, karena yang bertanggung jawab adalah seorang manusia, sang penebus juga harus menjpakan anggota ras manusia. Inilah skema legalistik dan rapi yang melukiskan pikiran Tuhan, memutuskan dan menimbang keadaan seakan-akan dia adalah manusia biasa. Skema ini juga memperkuat citra tentang Tuhan yang keras, yang hanya dapat dipuaskan melalui kematian diam-diam anaknya sendiri, yang ditawarkan sebagai sejenis pengurbana n manusia.

Doktrin Trinitas telah sering disalahpahami di dunia Barat. Orang- orang cenderung membayangkan adanya tiga figur suci atau sama sekali mengabaikan doktrin itu dan mengidentifikasikan “Allah” dengan Tuhan Bapa dan memandang Yesus sebagai pendamping ilahi— tidak lagi dalam peringkat yang setara. Umat Islam dan Yahudi menganggap doktrin itu membingungkan dan bahkan menghujat. Sungguhpun demikian, akan kita lihat nanti bahwa ternyata baik mistik Yudaisme maupu n Islam telah mengembangkan konsepsi keilahian yang teramat mirip. Gagasan tentang kenosis, ekstasi pengosongan diri, misalnya, akan menjadi krusial dalam Kabbalah maupu n sufisme. Dalam Trinitas, Bapa menyalurkan segala yang ada pada dirinya kepada Putra, menyerahkan segala sesuatu—bahkan kemungkinan untuk mengungkapkan diri dalam Firman yang lain. Begitu Firman telah diucapkan, Tuhan Bapa menjadi hening: tak ada yang bisa kita katakan tentang dia sebab satu-satunya Tuhan yang bisa kita ketahui hanyalah logos atau Putra. Karena itu, Bapa tidak memiliki identitas, tak ada “Aku” dalam pengertian biasa, dan membingungkan pengertian kita tentang kepribadian. Sumber asal Ada adalah Tiada yang telah diungkap tidak hanya oleh Denys, tetapi juga oleh Plotinus, Philo, dan bahkan Buddha. Karena Bapa biasanya ditampilkan sebagai pencarian Akhir dari Kristen, perjalanan Kristen menjadi gerakan maju yang tak bertujuan. Gagasan tentang suatu Tuhan yang personal atau personalisasi Yang Mutlak telah menjadi bagian penting dari umat manusia: orang Hindu dan Buddha telah memberikan konsesi kepada peribadatan bhakti yang bersifat personalistik. Namun, paradigma atau simbol Trinitas menyarankan bahwa personalisme mesti ditransendensikan dan bahwa tidaklah cukup untuk membayangkan Tuhan sebagai manusia yang diperluas, berperilaku dan bereaksi dengan cara yang sama seperti kita.

Doktrin Inkarnasi dapat dipandang sebagai usaha lain untuk menetralkan bahaya keberhalaan. Begitu “Tuhan” dilihat sebagai

 

 

 

realitas yang sama sekali lain “di luar sana”, dia dengan mudah akan menjadi sekadar berhala dan proyeksi, yang membuat manusia mengeksternalisasi dan menyembah praduga dan hasrat mereka sendiri. Tradisi-tradisi keagamaan yang lain telah berupaya mencegah hal ini dengan menekankan bahwa Yang Mutlak itu bagaimanapun terjalin dengan kondisi manusia, seperti dalam paradigma Brahman- Atman. Arius—kemudian Nestorius dan Eutyches—kesemuanya ingin membuat Yesus entah manusia atau ilahi, dan mereka berkeras sebagiannya karena kecenderungan untuk tetap memisahkan ke- manusiaan dan keilahian dalam tataran terpisah. Benar, jalan keluar yang mereka tempuh lebih bersifat rasional, namun dogma—sebagai lawan dari kerygma—tidak mesti terbatas pada apa-apa yang bisa diungkapkan sepenuhnya, seperti puisi atau musik. Doktrin Inkar- nasi—seperti yang secara serampangan dikemukakan oleh Athanasius dan Maximus—merupakan upaya mengartikulasikan pandanga n universal bahwa “Tuhan” dan manusia haruslah tak terpisah. Di Barat,

di mana Inkarnasi tidak diformulasikan dengan cara ini, terdapat kecenderungan untuk memandang Tuhan tetap bersifat eksternal terhadap manusia dan sebagai realitas alternatif bagi dunia yang kita kenal. Akibatnya, sangat mudah untuk menjadikan “Tuhan” ini sekadar sebagai sebuah proyeksi—yang belakangan malah sudah ditinggalkan. Namun dengan membuat Yesus sebagai satu-satunya avatar, kita

telah menyaksikan bahwa orang Kristen telah mengambil pandangan eksklusif tentang kebenaran agama: Yesus adalah Firman Tuhan yang Pertama dan Terakhir bagi umat manusia, membuat wahyu-wahyu masa depan tak diperlukan lagi. Akibatnya, sebagaimana juga orang Yahudi, mereka guncang ketika pada abad ketujuh di Arabia, muncul seorang nabi yang mengklaim telah menerima langsung wahyu dari Tuhan mereka dan membawa kitab suci baru bagi umatnya. Sungguh- pun demikian, versi baru monoteisme itu, yang akhirnya dikenal se• bagai “Islam”, menyebar dengan kecepatan yang sangat mengagum- kan ke seantero Timur Tengah dan Afrika Utara. Banyak dari pengikut barunya yang antusias di kawasan-kawasan ini dengan lega melepas Trinitarianisme Yunani, yang mengungkapkan misteri Tuhan dalam idiom yang asing bagi mereka, dan menganut pandangan yang lebih Semitik tentang realitas ilahi.[]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: