open mind.com weblog


Pada saat yang sama ketika Philo menguraikan Yudaismenya

yang bercorak Platonis di Aleksandria, sementara Hillel dan Shammai sedang beradu argumen di Yerusalem, seorang penyembu h iman karismatik memulai kariernya sendiri di utara Palestina. Sangat sedikit pengetahuan kita tentang Yesus. Uraian panjang lebar pertama tentang riwayat hidupnya adalah Injil Markus yang baru ditulis sekitar tahun 70 M, hampir empat puluh tahun setelah kematiannya. Pada saat itu, fakta-fakta historis telah terselubung oleh unsur-unsur mitos yang mengekspresikan makna yang telah diperoleh Yesus dari pengikutnya. Makna inilah yang sebenarnya disampaikan oleh Injil Markus ketimbang gambaran gamblang yang dapat diandalkan. Orang Kristen generasi pertama memandang Yesus sebagai seorang Musa baru, seorang Yosua baru, dan sebagai pendiri Israel baru. Seperti Buddha, Yesus tampaknya menyatukan beberapa aspirasi terdalam orang sezamannya dan memberi substansi bagi mimpi-mimpi yang telah membayangi kaum Yahudi selama berabad- abad. Dalam masa hidupnya, banyak orang Yahudi Palestina yang percaya bahwa dia adalah sang Mesias: dia masuk ke Yerusalem dan dielu-elukan sebagai anak Daud, tetapi, hanya berselang be• berapa hari kemudian, dia dihukum mati melalui hukum penyaliban

Romawi yang mengerikan.

Akan tetapi, meski dalam skandal ini seorang Mesias mati seperti pelaku kriminal biasa, para muridnya tidak merasa bahwa keimanan mereka terhadapnya adalah sesuatu yang keliru. Ada kabar angin menyatakan bahwa dia telah bangkit dari kematian. Sebagian lagi mengatakan bahwa makamnya ditemukan kosong tiga hari setelah peristiwa penyalibannya; yang lain mengaku telah melihatnya, dan dalam suatu kesempatan lima ratus orang menyatakan telah melihatnya secara serempak. Para muridnya percaya bahwa dia akan segera kembali untu k mentahbiskan Kerajaan Tuhan, dan—karena ke- percayaan semacam itu tidak dianggap menyimpang—sekte mereka diterima sebagai sekte Yahudi yang autentik, bahkan dalam pandangan tokoh sekaliber Rabi Gamaliel, cucu Hillel dan salah seorang tannaim yang paling disegani. Para pengikutnya beribadah di Kuil setiap hari dengan tata cara peribadatan Yahudi. Namun, akhirnya Israel Baru yang diilhami oleh kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, akan menjadi sebuah kepercayaan non-Yahudi yang mengembangkan konsepsinya sendiri yang khas tentang Tuhan.

Pada saat kematian Yesus sekitar tahun 30 M, orang Yahudi merupakan monoteis yang bersemangat sehingga tak seorang pun berharap sang Mesias merupakan figur suci: dia hanyalah manusia biasa, meski istimewa. Sebagian rabi menduga bahwa nama dan identitasnya telah diketahui Tuhan sejak zaman azali. Karenanya, dalam pemahaman semacam itu, sang Mesias bisa dikatakan telah

“bersama Tuhan” sejak sebelum awal waktu melalui cara simbolik yang serupa denga n figur Hikmat suci dalam Kitab Amsal dan Pengkhotbah. Orang Yahudi berharap sang Mesias, Yang Diurapi, adalah keturunan Raja Daud yang, sebagai raja dan pemimpin spiritual, telah mendirikan kerajaan Yahudi merdeka pertama di Yerusalem. Mazmur kadangkala menyebut Daud atau Mesias “anak Tuhan”, tetapi itu hanya merupakan cara untuk mengungkapkan kedekatannya dengan Yahweh. Tak seorang pun sejak kepulangan dari Babilonia dapat membayangkan bahwa Yahweh benar-benar memiliki seorang putra, seperti dewa-dewa kaum goyim yang menjijikkan.

Injil Markus, sebagai yang paling pertama yang biasanya di- pandan g paling dapat diandalkan, menampilkan Yesus sebagai manusia biasa, memiliki keluarga yang terdiri dari saudara lelaki maupu n perempuan . Tak ada malaikat yang mengumumkan ke- lahirannya atau bersenandun g di buaiannya. Masa kanak-kanak maupun remajanya tidak ditandai sebagai sesuatu yang luar biasa

sama sekali. Ketika dia mulai mengajar, para penduduk di kotanya, Nazareth, terkagum bahwa anak seorang tukang kayu setempat ternyata bisa menjadi begitu berbakat. Markus memulai narasinya sejak awal karier Yesus. Tampaknya Yesus pada awalnya merupakan murid Yohane s Pembaptis , seoran g asketik pengembar a yan g kemungkina n bermazha b Essenia: Yohanes memandan g pihak penguasa Yerusalem telah menjadi sangat korup dan menyampaikan sebuah khotbah yang tajam mencelanya. Khalayak ramai diimbaunya untu k bertobat dan menerima ritus pemurnia n Essenia melalui pembaptisan di Sungai Yordan. Lukas menyatakan bahwa Yesus dan Yohanes sebenarnya saling berhubungan. Yesus telah menempuh perjalanan jauh dari Nazareth ke Yudea untuk dibaptis oleh Yohanes. Sebagaimana yang diceritakan Markus kepada kita: “Pada saat la keluar dari air, la melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga:

‘Engkaulah Anak-Ku yang Ku-kasihi, kepada-Mulah Aku berkenan’.”1

Yohanes Pembaptis langung mengenali Yesus sebagai Mesias (Al- Masih). Apa yang kemudian kita dengar adalah bahwa Yesus mulai mengajar ke segala kota dan desa di Galilea seraya memaklumatkan:

“Kerajaan Allah sudah dekat!”2

Telah banyak spekulasi tentang karakter sejati misi Yesus. Sangat sedikit dari kata-kata aktualnya yang sempat terekam dalam Injil, dan banyak di antara bahan-bahan itu telah dipengaruhi oleh per- kembangan selanjutnya yang terjadi di gereja-gereja yang didirikan oleh Paulus setelah kematian Yesus. Akan tetapi, terdapat petunjuk yang mengarah kepada karakter Yahudi yang esensial dalam ka- riernya. Telah dikemukakan bahwa penyembuh iman merupakan figur religius yang lazim di Galilea: seperti Yesus, mereka dari kaum papa, yang berkhotbah, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir ruh jahat. Seperti Yesus lagi, orang-orang suci Galilea ini sering memiliki sejumlah besar murid wanita. Yang lain berpendapat bahwa Yesus barangkali adalah seorang Farisi dari aliran yang sama dengan Hillel—seperti halnya Paulus, yang telah memaklumatkan diri sebagai pengikut Farisi sebelum beralih ke Kristen dan konon pernah ikut dalam kelompok Rabi Gamaliel.3 Tentu saja ajaran Yesus sesuai dengan garis-garis besar ajaran Farisi, karena dia juga percaya bahwa derma dan kasih sayang merupakan mitzvot terpenting. Seperti kaum Farisi, dia taat kepada Taurat dan dikabarkan telah mengajarkan ketaatan yang lebih keras dibandingkan tokoh-tokoh lainnya yang sezaman.4

Dia juga mengajarkan suatu versi Hukum Emas Hillel, ketika mengata- kan bahwa keseluruhan hukum Taurat dapat diringkas menjadi satu ungkapan: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang per- buat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”5

Dalam Injil Matius, Yesus ditampilkan mengeluarkan kecaman sangat keras terhadap “ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi”, menyebut mereka sebagai kaum munafik.6 Selain bahwa ini merupa- kan distorsi fakta yang penuh tuduhan dan pelanggaran mencolok terhadap kasih sayang yang semestinya menjadi karakter dari misinya, kecaman pahit terhadap kaum Farisi ini hampir pasti tidak autentik. Lukas, misalnya, memberikan komentar yang cukup positif tentang kaum Farisi, baik di dalam Injil maupun Kisah Para Nabinya, dan Paulus tidak mungkin akan menyingkapkan latar belakang Farisinya jika mereka betul-betul merupakan musuh besar Yesus yang telah menggiringnya ke tiang salib. Nada anti-Semitik Injil Matius raen- cerminkan ketegangan antara orang-orang Yahudi dan Kristen selama tahun 80-an. Injil sering menunjukkan Yesus berdebat dengan kaum Farisi, tetapi perdebatan itu mungkin saja bersifat bersahabat atau mungkin juga memperlihatkan perselisihan pendapatnya dengan aliran Sammai yang lebih ketat.

Setelah kematiannya, para pengikutnya berkeyakinan bahwa Yesus adalah kudus. Ini tidak terjadi secara langsung; sebagaimana akan kita saksikan, doktrin bahwa Yesus adalah tuhan yang berwujud manusia baru terbentuk pada abad keempat. Perkembangan keper- cayaan Kristen tentang Inkarnasi merupakan proses yang kompleks dan berkembang secara perlahan. Yesus sendiri tak pernah mengaku sebagai tuhan. Pada hari pembaptisannya, oleh suara dari langit dia dipanggil dengan sebutan Anak Tuhan, namun ini mungkin hanya sebuah konfirmasi bahwa dia adalah Mesias yang dicintai. Tak ada yang luar biasa tentang maklumat dari atas semacam itu: para rabi juga sering mengalami apa yang mereka sebut bat qol (secara harfiah berarti “Anak Perempuan Sang Suara”), sebentuk inspirasi untuk menggantikan wahyu kenabian yang lebih langsung.7 Rabi Yohannan be n Zakkai telah mendenga r bat qol semacam itu yang meng- konfirmasi misi baginya pada suatu kesempatan ketika Roh Kudus menjelma di hadapannya dan di hadapan murid-muridnya dalam bentu k nyala api. Yesus sendiri biasa menyebu t dirinya “Anak Manusia”. Ada banyak kontroversi menyangkut masalah gelar ini, tetapi sepertinya frasa aslinya dalam bahasa Aram (bar nasha) sekadar

menekanka n kondisi manusia yang lemah dan tidak abadi. Jika demikian, kelihatan sekali bahwa Yesus dengan caranya sendiri telah menekankan bahwa dia adalah manusia lemah yang suatu waktu pasti akan menderita dan mati.

Injil mengatakan kepada kita bahwa Tuhan telah memberi Yesus beberapa “kekuatan” ilahiah (dunamis) yang, bagaimanapun, akan memampukan dia, meskipun hanya seorang manusia biasa, untuk menjalanka n tugas-tugas yan g seperti-Tuhan : menyembuhka n penyakit dan mengampuni dosa. Oleh karena itu, ketika orang- orang menyaksikan perbuatan Yesus, tindakan itu tampak memiliki citra yang hidup mengenai Tuhan. Pada suatu kesempatan, tiga orang muridnya mengklaim telah melihat hal ini lebih jelas daripada biasanya. Kisah itu terabadikan dalam ketiga Injil sinoptik dan menjadi penting bagi generasi Kristen berikutnya. Diceritakan bahwa Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung tinggi, yang secara tradisional dikenal sebagai Gunung Tabor di Galilea. Kemudian di sana Yesus “berubah rupa” di hadapan mereka:

“Wajahnya bercahaya seperti matahari dan pakaiannya menjadi putih bersinar.”8 Musa dan Elia, masing-masing mewakili Taurat dan para nabi, tiba-tiba muncul di sisinya dan ketiga orang itu berbincang- bincang bersama. Petrus sangat terkesima dan berteriak keras, entah apa yang diucapkannya, bahwa mereka harus mendirikan tiga kemah untuk mengabadikan penampakan ini. Segumpalan awan, seperti yang pernah turun di Gunung Sinai, menyelimuti puncak gunung itu da n sebua h gema bat qol memaklumatkan : “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”9Berabad- abad kemudian, ketika orang Kristen Yunani merenungkan makna peristiwa ini, mereka memutuskan bahwa “kuasa” Allah telah bersinar melalui kemanusiaan Yesus yang telah berubah bentuk.

Mereka juga mencatat bahwa Yesus tidak pernah mengklaim bahwa “kuasa-kuasa” (dynameis) ini hanya diberikan kepadanya saja. Berulang-ulang Yesus menjanjikan kepada murid-muridnya bahwa jika mereka memiliki “iman”, mereka pun bisa menikmati “kuasa- kuasa” ini. Tentu saja yang dimaksudkannya dengan iman bukan berarti menganut suatu teologi yang benar, tetapi penumbuhan sikap batin yang tunduk dan terbuka terhadap Tuhan. Jika murid-muridnya membiarkan diri mereka terbuka kepada Tuhan tanpa pamrih, mereka pasti akan mampu melakukan apa saja yang bisa dia lakukan. Seperti para rabi, Yesus tidak percaya bahwa Ruh hanya untuk segolongan

elit istimewa, tetapi tersedia bagi semua orang yang memiliki maksud baik: sebagian ayat bahkan menyatakan bahwa, lagi-lagi seperti pendapat sebagian rabi, Yesus percaya bahwa seorang goyim pun bisa menerima kehadiran Ruh. Jika murid-muridnya memiliki “iman”, mereka akan mampu untuk melakukan hal-hal yang besar. Mereka bukan hanya akan mampu menghapus dosa dan mengusir setan, tetapi juga mampu memindahkan sebuah gunung ke laut.10 Mereka akan menemukan bahwa kehidupan mereka yang lemah dan tidak abadi telah diubah oleh “kuasa-kuasa” Tuhan yang hadir dan aktif di dunia Kerajaan Mesias.

Setelah kematiannya, murid-murid itu tak mampu memupu s keyakinan mereka bahwa dengan cara tertentu Yesus telah meng- hadirkan sebuah citra tentang Tuhan. Sejak awal sekali, mereka telah mulai berdoa kepadanya. Paulus percaya bahwa kuasa Tuhan harus diupayakan agar bisa dijangkau oleh kaum goyim dan memberitakan Injil ke kawasan yang kini dikenal sebagai Turki, Makedonia, dan Yunani. Dia yakin bahwa orang non-Yahudi bisa menjadi anggota Israel Baru walaupun mereka tidak menjalankan Hukum Musa secara utuh. Hal ini ditentang oleh kelompok murid awal, yang menghendaki untuk tetap menjadi sekte Yahudi yang lebih eksklusif. Mereka kemudian memutuskan hubungan dengan Paulus setelah sebuah perselisihan keras. Akan tetapi, kebanyakan pengikut Paulus adalah Yahudi diaspora atau Orang-orang yang Takut kepada Allah, sehingga Israel Baru tetap sangat berbau Yahudi. Paulus tidak pernah menyebut Yesus sebagai “Tuhan”. Dia menyebutnya “Anak Tuhan” dalam pengertian Yahudinya: dia sungguh-sungguh tidak percaya bahwa Yesus merupakan inkarnasi dari Tuhan itu sendiri. Menurut Paulus, Yesus hanya memiliki “kuasa” dan “Ruh” Tuhan, yang mewujudkan aktivitas Tuhan di bumi dan sama sekali tidak bisa disamakan dengan esensi ilahi yang tak terjangkau.

Namun demikian, di dunia non-Yahudi, Kristen Baru tidak mem- punyai kepekaan tentang perbedaan yang halus ini, sehingga pria yang telah menekankan kemanusiaannya yang lemah dan tidak abadi itu akhirnya dipercayai sebagai Tuhan. Doktrin Inkarnasi Tuhan dalam diri Yesus telah selalu dicela orang Yahudi, dan, belakangan, orang Muslim pun memandangnya sebagai penghujatan. Ini merupakan sebuah doktrin yang sulit dan berbahaya; orang Kristen sering meng- interpretasikannya secara serampangan. Akan tetapi, jenis ketaatan atas dasar Inkarnasi ini merupakan tema yang cukup konstan dalam

sejarah agama: akan kita saksikan bahwa orang Yahudi dan Muslim pun mengembangkan beberapa bentuk teologi mereka sendiri yang hampir mirip.

Kita dapat melihat dorongan keagamaan di balik penuhana n Yesus yang mengejutkan ini dengan meninjau secara singkat beberapa perkembangan di India pada waktu yang kira-kira sama. Dalam Buddhisme maupun Hinduisme terdapat arus pasang penyembahan terhadap wujud-wujud yang diagungkan, seperti Buddha sendiri atau dewa-dewa Hindu yang menjelma dalam bentuk manusia. Bentuk ketaatan personal ini, dikenal sebagai bhakti, mengekspresikan apa yang tampaknya merupakan kerinduan abadi manusia terhadap agama yang humanis. Meski merupakan sesuatu yang baru, namun, di dalam kedua keyakinan itu, hal ini terpadu dengan agama tanpa mengubah prioritas-prioritas yang esensial.

Setelah Buddha wafat pada akhir abad keenam SM, secara alamiah orang-orang ingin untuk tetap mengenangnya, namun mereka merasa bahwa sebuah patung tidaklah layak, sebab di nirvana, Buddha tak lagi “ada” dalam pengertian biasa. Akan tetapi, kecintaan personal terhadap Buddha terus berkembang dan kebutuhan untuk merenungi kemanusiaannya yang telah tercerahkan menjadi begitu kuat sehingga pada awal abad kesatu SM, patung Buddha pertama muncul di Gadhara, yang terletak di sebelah barat daya India, dan Mathura di Sungai Jumna. Kekuatan dan ilham dari pencitraan semacam ini membuat patung-patung itu memiliki arti penting yang besar dalam spiritualitas Buddha, meskipun penyembahan terhadap suatu wujud

di luar diri seperti ini merupakan hal yang sangat berbeda dari disiplin batiniah yang diajarkan Gautama. Semua agama berubah dan berkembang. Jika tidak demikian, agama itu akan menjadi usang. Mayoritas orang Buddha merasakan bahwa bhakti itu sungguh- sungguh bernilai dan mengingatkan mereka kembali akan beberapa kebenaran esensial yang mulai terlupakan. Ketika Buddha pertama kali mencapai pencerahan, dapat diingat lagi bahwa dia pernah

dibujuk untuk menyimpan itu sebagai pengalaman pribadi. Akan

tetapi, rasa ibanya melihat penderitaan manusia telah mendorongnya melewatkan masa empat puluh tahun berikutnya untuk mengajarkan Jalan itu. Namun pada abad kesatu SM, rahib-rahib Buddha yang mengucilkan diri dalam biara-biara mereka dan berusaha mencapai nirvana mereka sendiri tampaknya telah melupakan pandangan seperti ini. Kehidupan biara juga merupakan kehidupan ideal yang

berat sehingga banyak yang merasa tak mampu menjalaninya. Sela- ma abad kesatu M, muncul jenis pahlawan baru kaum Buddhis: bodhisattva, yang meneladani Buddha dan meninggalkan nirvana- nya sendiri, berkurban demi kepentingan orang banyak. Dia siap menjalani kelahiran kembali agar dapat menyelamatkan orang-orang yang menderita. Sebagaimana dijelaskan dalam Prajna-paramitha Sutras (Khotbah-khotbah tentang Penyempurnaan Kebijaksanaan), bodhisattva,

 

tidak ingin mencapai nirvana mereka sendiri. Sebaliknya, mereka telah menjelajahi dunia wujud yang sarat derita, dan, walaupun sangat ingin memperoleh pencerahan tertinggi, mereka tidak takut akan siklus kelahiran-kematian. Mereka telah berangkat demi kepentingan dunia, demi kemudahan dunia, karena rasa iba pada dunia. Mereka telah bertekad: “Kami akan menjadi tempat berlindung bagi dunia, tempat dunia beristirahat, pembebasan akhir dunia, pulau-pulau dunia, cahaya dunia, pembimbing menuju keselamatan dunia.”11

 

Selanjutnya, bodhisattva mendapatkan sumber kebaikan yang tak terbatas, yang dapat membimbing orang-orang yang kurang beruntung secara spiritual. Seseorang yang berdoa kepada bodhisattva akan dilahirkan kembali di dalam salah satu surga menurut kosmologi kaum Buddhis, yang kondisinya membuat pencapaian pencerahan menjadi lebih mudah.

Naskah-naskah itu menekankan bahwa gagasan ini tidak dapat diinterpretasikan secara harfiah. Tak ada kaitannya sama sekali dengan logika atau peristiwa-peristiwa di dunia ini, melainkan semata- mata simbol dari kebenaran yang lebih sukar untuk dipahami. Pada awal abad kedua M, Nagarjana, filosof yang mendirikan Mazhab Kehampaan, menggunakan paradoks dan sebuah metode dialektika untuk membuktikan kekuranglayakan bahasa konseptual biasa. Kebenaran tertinggi, menurutnya, hanya mungkin ditangkap secara intuitif melalui latihan meditasi mental. Bahkan ajaran Buddha merupa- kan ide-ide konvensiona l buatan-manusia yang tidak memiliki kesepadana n dengan realitas yang ingin disampaikannya. Kaum Buddhis yang mengadopsi filsafat ini mengembangkan suatu ke- percayaan bahwa segala yang kita alarm ini adalah ilusi: di Barat, mereka disebut sebagai kaum idealis. Yang Mutlak, yaitu hakikat batiniah dari segala sesuatu, adalah kehampaan, kekosongan, yang tidak memiliki eksistensi dalam pengertian biasa. Sangat alamiah

untuk menyamakan kehampaan ini dengan nirvana. Ketika seorang Buddha semacam Gautama telah mencapai nirvana, maka dengan cara yang tak dapat diucapkan dia telah menjadi nirvana dan identik dengan Yang Mutlak. Dengan demikian, setiap orang yang berusaha mendapatka n nirvana berarti juga mencari keidentikan dengan Buddha.

Tidaklah sulit untuk melihat bhakti (pengabdian) kepada Buddha dan bodhisattva ini mirip dengan kesetiaan orang Kristen kepada Yesus. Keyakinan ini jadi bisa dijangkau oleh lebih banyak orang, sebagaimana keinginan Paulus untuk membuat Yudaisme terbuka bagi goyim. Pada saat yang sama terjadi kebangkitan bhakti dalam Hinduisme yang berporos pada figur Syiwa dan Wishnu, dua dewa Weda yang terpenting. Lagi-lagi, pengabdian populer terbukti lebih kuat daripada kekakuan filosofis Upanishad. Orang Hindu selanjutnya mengembangka n sejenis Trinitas: Brahman, Syiwa, dan Wishnu menjadi tiga simbol atau aspek dari satu realitas yang tak terucapkan.

Terkadang lebih mudah untuk merenungkan misteri Tuhan dalam simbol Syiwa, dewa paradoksikal kebaikan dan kejahatan, kesuburan dan kezuhudan, yang merupakan Pencipta dan Perusak sekaligus. Dalam legenda populer, Syiwa juga seorang Yogi besar, sehingga dia juga mengilhami penyembahny a untu k melampaui konse p personal tentang kesucian melalui meditasi. Wishnu biasanya tampil lebih ramah dan ringan. Dia suka memperlihatkan dirinya kepada manusia dalam berbagai bentuk inkarnasi atau avatar. Salah satu personae-nya yang terkenal adalah karakter Krishna, yang dilahirkan dalam sebuah keluarga bangsawan, tetapi tumbuh sebagai seorang penggembala. Legenda populer menyukai kisah kasihnya dengan para perempuan penggembala, yang menggambarkan Tuhan sebagai Pencinta Jiwa. Namun, ketika Wishnu muncul kepada Pangeran Arjuna sebagai Krishna dalam Bhagawad-Gita, pengalaman itu mengejutkan:

 

Kulihat dewa-dewa

di dalam tubuh-Mu, wahai Tuhan

dan sekelompok makhluk yang beraneka: Brahma, pencipta semesta,

di atas singgasananya

semua peramal dan ular-ular langit.12

 

Segalanya dengan cara tertentu hadir di dalam tubuh Krishna:

dia tak berawal atau berakhir, dia memenuhi ruang, dan mencakup

semua dewa yang mungkin ada: “Dewa badai yang riuh, dewa- dewa matahari, dewa-dewa terang, dan dewa-dewa ritual.”13 Dia juga adalah “jiwa manusia yang tak pernah lelah”, “esensi kemanusia- an.”14 Segalanya berlari menuju Krishna, seperti sungai mengalir ke laut atau seperti serangga terbang menuju cahaya terang. Ketika menatap pemandangan mengagumkan ini, Arjuna hanya bisa gemetar, menggigil, hampir kehilangan seluruh kesadarannya.

Perkembangan bhakti menjawab kebutuhan terdalam manusia akan sejenis hubungan pribadi dengan yang mahatinggi. Setelah menetapkan Brahman sebagai yang sungguh-sungguh transenden, muncul bahaya bahwa dia akan menjadi jauh dan, sebagaimana de• wa langit zaman kuno, memudar dari kesadaran manusia. Evolusi bodhisattva dalam Buddhisme dan avatar-nya Wishnu tampaknya mewakili tahap lain dalam perkembangan agama ketika orang-orang berpandangan bahwa Yang Mutlak itu pasti tak jauh berbeda dari manusia. Akan tetapi, doktrin dan mitos simbolik ini menyangkal bahw a Yang Mutlak dapa t diekspresika n hany a melalui satu penampakan: sebab ada banyak Buddha dan bodhisattva, bahkan Wishnu memiliki bermacam-macam avatar. Mitos-mitos ini juga mengungkapka n sebuah keidealan bagi manusia: manusia yang tercerahka n atau dimuliakan, sebagaimana yang dimaksudka n baginya.

Pada abad kesatu M, dalam Yudaisme terdapat rasa haus yang sama akan kedekatan dengan yang ilahi. Manusia Yesus tampaknya telah memenuhi kebutuhan itu. Paulus, penulis Kristen paling awal yang menciptakan agama yang kini kita kenal sebagai Kristen, percaya bahwa Yesus telah menggantikan Taurat sebagai wahyu pokok Tuhan tentang dirinya kepada dunia.15 Tidaklah mudah untuk mengetahui secara persis apa yang dia maksudkan dengan hal ini. Surat-surat Paulus lebih merupakan jawaban kontekstual terhadap persoalan- persoalan tertentu daripada uraian koheren atas sebuah teologi yang utuh. Dia tentunya percaya bahwa Yesus adalah seorang Mesias: kata “Kristus” adalah terjemahan dari bahasa Ibrani Massiach, Yang Diurapi. Paulus juga berbicara tentang manusia Yesus seakan-akan dia lebih dari seorang manusia biasa, meskipun, sebagai orang Yahudi, Paulus tidak percaya bahwa Yesus adalah inkarnasi Tuhan. Dia selalu memakai kata “di dalam Kristus” untuk menjelaskan pengalamannya tentang Yesus: orang Kristen hidup “di dalam Kristus”; mereka dibaptis ke dalam kematiannya; gereja membentuk tubuhnya.16 Ini bukanlah

kebenaran yang ingin dijabarkan Paulus secara logis. Seperti banyak orang Yahudi lainnya, dia kurang menghargai rasionalisme Yunani, yang digambarkannya sebagai “kekonyolan” semata.17 Adalah suatu pengalaman subjektif dan mistik yang membuatnya mengilustrasikan Yesus sebagai semacam atmosfer yang di dalamnya “kita hidup, bergerak, dan berwujud.”18 Yesus telah menjadi sumber pengalaman keagamaan Paulus. Dengan demikian, dia berbicara tentang Yesus dalam cara yang mungkin dipakai oleh orang sezamannya untuk membicarakan Tuhan.

Tatkala Paulus menjelaskan tentang iman yang telah diilhamkan kepadanya, dia mengatakan bahwa Yesus telah menderita dan wafat

“demi dosa-dosa kita.”19 Ini memperlihatkan bahwa sejak awal sekali,

pengikut-pengikut Yesus yang dikejutkan oleh skandal kematiannya telah menjelaskan peristiwa itu dengan mengatakan bahwa bagai- manapun itu adalah demi kepentingan kita. Dalam Bab 9, akan kita saksikan bahwa pada abad ketujuh orang Yahudi lain akan menemukan penafsiran yang serupa tentang kematian yang tidak biasa dari seorang Mesias yang lain. Orang Kristen awal merasakan bahwa Yesus, melalui cara yang misterius, masih hidup dan bahwa “kuasa- kuasa” yang dimilikinya kini masuk ke dalam diri mereka, seperti yang telah dijanjikannya. Kita mengetahui dari surat-surat Paulus bahwa generasi awal Kristen itu memiliki semua bentuk pengalaman tak lazim yang mungkin merupakan indikasi bangkitnya sejenis kemanusiaan baru: ada yang menjadi penyembuh iman, ada yang berbicara dalam bahasa-bahasa langit, yang lainnya menyampaikan apa yang mereka yakini sebagai nubuat yang diinspirasikan oleh Tuhan . Pelayanan gereja merupaka n kegiatan yang hiruk da n karismatik, sangat berbeda dari nyanyian sore yang merdu dalam gereja sekarang. Tampaknya kematian Yesus memang telah benar- benar bergun a dalam beberap a hal: ia melahirkan suatu “jenis kehidupan baru” dan “kreasi baru”—tema yang sering diulang dalam surat-surat Paulus.20

Akan tetapi, tak ada teori yang terperinci tentang peristiwa penyaliban sebagai pertobatan atas “dosa asal” Adam: akan kita saksikan bahwa teologi ini baru muncul pada abad keempat dan hanya memiliki kedudukan penting di Barat. Paulus dan para penulis Perjanjian Baru lainnya tidak perna h mengupayaka n sebua h penjelasan yang akurat dan definitif tentang penyelamatan yang telah mereka alami. Pernyataan tentang pengurbanan Kristus melalui

kematiannya mirip dengan cita-cita bodhisattva yang berkembang pada masa yang sama di India. Sebagaimana halnya bodhisattva, Kristus telah dijadikan perantara antara manusia dengan Yang Mutlak. Perbedaannya adalah bahwa Kristus merupakan satu-satunya peran• tara dan keselamatan yang didatangkannya bukanlah sebuah aspirasi yang tak dapat diwujudkan di masa depan seperti dalam bodhisattva, tetapi merupakan suatu fait accompli. Paulus menyatakan bahwa pengurbanan Yesus adalah hal yang unik. Meskipun dia percaya bahwa penderitaan yang dipikulnya atas nama orang lain adalah bermanfaat, Paulus cukup jelas menyatakan bahwa penderitaan dan kematian Yesus berada dalam tataran yang berbeda.21 Ada potensi bahaya di sini. Buddha yang tak terhitung banyaknya dan avatar- avatar paradoksikal yang sukar dipahami, semuanya tetap tunduk pada realitas tertinggi yang tidak dapat diekspresikan secara memadai dalam bentuk apa pun. Akan tetapi, Inkarnasi tunggal dalam Kristen— yang menyiratkan bahwa seluruh realitas Tuhan yang tidak ada habisnya itu telah bermanifestasi hanya dalam diri seorang manusia— bisa membawa pada bentuk pemberhalaan yang mentah.

Yesus telah mengajarkan bahwa “kuasa-kuasa” Tuhan tidak cuma untuk dirinya. Paulus mengembangkan wawasan ini dengan mengata- kan bahwa Yesus merupakan contoh pertama dari bentuk kemanusia- an baru. Tidak saja dia telah berhasil mengerjakan segala hal yang telah gagal diraih oleh Israel lama, tetapi dia pun telah menjadi addm baru, kemanusiaan baru yang di dalamnya seluruh manusia, termasuk goyim, ikut berpartisipasi.22 Lagi-lagi, ini bukanlah sesuatu yang berbed a dari kepercayaan kaum Buddhis bahwa, seluruh Buddha telah menjadi satu dengan Yang Mutlak, cita-cita manusia adalah terlibat dalam ke-Buddha-an.

Dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi, Paulus mengutip apa yang secara umum dianggap sebagai himne Kristen paling awal yang mengangkat beberapa persoalan penting. Dia berkata kepada para pengikutnya bahwa mereka harus memiliki sikap pengurbanan diri yang sama dengan Yesus:

 

Yang walaupun dalam rupa Allah

Tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba

dan menjadi sama dengan manusia.

Dan dalam keadaan sebagai manusia,

la telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai, bahkan sampai mati di kayu salib.

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia

dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,

supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan [kyrios],”

bagi kemuliaan Allah, Bapa!23

 

Himne ini tampaknya mencerminkan sebuah kepercayaan di kalangan generasi pertama Kristen bahwa Yesus telah mengalami sejenis eksistensi awal “bersama Allah” sebelum menjadi seorang manusia dalam tindakan “pengosongan diri” (kenosis) yang dengan- nya, seperti seorang bodhisattva, dia memutuskan untuk ikut memikul penderitaan manusia. Paulus terlalu Yahudi untuk dapat menerima ide tentang eksistensi Kristus sebagai wujud suci kedua di samping YHWH sejak zaman azali. Himne itu memperlihatkan bahwa setelah pengagungannya, dia tetaplah berbeda dengan, dan lebih rendah daripada, Allah yang telah membangkitkannya dan menganugerahkan gelar kyrios kepadanya. Dia tidak dapat mengadakan hal itu untuk dirinya sendiri, tetapi gelar itu pun diberikan hanya demi “kemuliaan Allah Bapa.”

Sekitar empat puluh tahun kemudian, penulis Injil Yohanes

(ditulis sekitar tahun 100) membuat pernyataan yang mirip. Dalam prolognya, dia menguraikan Firman (logos) yang telah ada “pada mulanya bersama-sama dengan Allah” dan menjadi agen penciptaan:

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”24 Si penulis tidak menggunakan kata Yunani logos dengan cara yang sama seperti Philo: dia tampaknya merasa lebih cocok dengan Yudaisme Palestina daripada Yudaisme yang telah terpengaruh budaya Helenis Yunani. Dalam terjemahan bahasa Aram atas kitab suci Yahudi yang dikenal sebagai targums, yang sedang disusun pada waktu itu, istilah Memra

(Firman) dipergunakan untuk menyebut aktivitas Tuhan di dunia. Istilah ini mempunyai fungsi yang sama dengan istilah-istilah teknis lainnya, seperti “kemuliaan”, “Roh Kudus”, dan “Shekinah” yang me- nekankan perbedaan antara kehadiran Tuhan di dunia dengan realitas Tuhan sendiri yang tak dapat dimengerti. Seperti halnya Hikmat ilahi, “Firman” menyimbolkan rencana awal Tuhan dalam penciptaan.

Ketika Paulus dan Yohanes berbicara tentang Yesus seakan-akan dia memiliki sejenis kehidupa n praeksistensi, mereka tidak sedang menyarankan bahwa dia adalah “oknum” suci kedua dalam pe – ngertian Trinitarian yang berkembang belakangan. Mereka mengin- dikasikan bahwa Yesus telah melampaui mode eksistensi temporal dan individual. Karena “kuasa” dan “hikmat” yang dia hadirkan merupakan aktivitas-aktivitas yang berasal dari Tuhan, maka dalam cara tertentu dia telah mengungkapkan “apa yang telah ada sejak semula.”25

Gagasan ini dapat dipahami dalam konteks Yahudi yang ketat, meskipun generasi Kristen berikutnya yang berlatar belakang Yunani akan menafsirkannya secara berbeda. Dalam Kisah Para Rasul, yang ditulis pada 100 M, kita dapat melihat bahwa generasi awal Kristen masih memiliki konsep tentang Tuhan yang sepenuhnya bersifat Yahudi. Dalam perayaan Pantekosta, ketika ratusan orang Yahudi berkumpu l di Yerusalem dari berbagai penjuru diaspora untuk merayakan pewahyuan Taurat di Gunung Sinai, Roh Kudus turun kepada sahabat-sahabat Yesus. Mereka mendengar “dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras … dan tampaklah oleh mereka lidah-lidah seperti nyala api.”26 Roh Kudus telah mewujudkan dirinya kepada generasi Kristen Yahudi pertama ini sebagaimana yang telah dilakukannya kepad a orang-orang sezaman mereka, kelompo k tannaim. Segera para murid itu bergegas keluar dan mulai berbicara kepada kerumunan orang Yahudi, Orang-orang yang Takut kepada Allah dari “Mesopotamia, Yudea, dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene.”27 Mereka keheranan, setiap orang mendengar para pengikut itu berkata-kata dalam bahasa mereka masing-masing. Ketika Petrus bangkit untuk berkhotbah di hadapan keramaian itu, dia menyebut fenomena ini sebagai titik terjauh bagi Yudaisme. Para rasul telah meramalkan suatu hari ketika Tuhan akan mencurahkan Ruhnya ke atas semua manusia sehingga kaum wanita dan para budak sekalipun akan memiliki penglihatan dan mendapat mimpi.28

Hari ini Kerajaan Mesias ditahbiskan, tatkala Allah akan tinggal di bumi bersama umatnya. Petrus tidak mengatakan bahwa Yesus dari Nazareth adalah Tuhan. Dia adalah “seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu.” Setelah kematiannya

yang tragis, Allah membangkitkannya untuk hidup kembali dan mengangkatnya ke derajat yang tinggi “oleh tangan kanan Allah.” Para nabi dan penyusun Mazmur telah meramalkan kejadian-kejadian ini; sehingga “seluruh kaum Israel” harus tahu dengan pasti bahwa Yesus adalah Mesias yang telah lama dinanti itu.29 Khotbah ini tampaknya merupakan pesan (kerygma) Kristen yang paling awal. Pada akhir abad keempat, Kristen menguat persis di wilayah- wilayah yang telah disebutkan di atas oleh para penulis Kisah: ia berakar di kalangan sinagoga Yahudi di diaspora dan telah menarik perhatian sejumlah besar Orang yang Takut kepada Allah atau para pengikut baru. Yudaisme yang telah direformasi oleh Paulus tampak menjawab banyak dilema mereka. Mereka juga “berbicara dalam banyak bahasa,” tidak memiliki satu suara dan posisi yang koheren.

Banyak orang Yahudi diaspora beralih memandang Kuil di Yerusalem

—yang memang telah banyak digenangi darah hewan—sebagai institusi primitif dan barbarik. Kisah Para Rasul mengabadikan sudut pandang ini dalam cerita tentang Stefanus, seorang Yahudi Helenistik yang beralih menganut sekte Yesus dan dilempari batu sampai mati oleh Sanhedrin, mahkamah agama Yahudi, karena menghujat. Da• lam pidato terakhirnya yang berapi-api, Stefanus mengatakan bahwa Kuil merupakan penghinaan terhadap hakikat Allah: “Yang Maha- tinggi tidak diam di dalam apa yang dibuat oleh tangan manusia.”30

Sebagian Yahudi diaspora mengadopsi Yudaisme Talmudik yang dikembangkan oleh para rabi setelah kehancuran Kuil; yang lain menemukan bahwa Kristen menjawab beberapa pertanyaan mereka tentang status Taurat dan universalitas Yudaisme. Ajaran ini, tentu saja, menarik secara khusus bagi Orang-orang yang Takut kepada Allah, yang menjadi anggota penuh Israel Baru tanpa beban 613 mitzvot.

Selama abad pertama, orang Kristen terus berpikir tentang Tuhan dan berdoa kepadanya seperti orang-orang Yahudi; mereka berbicara seperti para rabi dan gereja-gereja mereka mirip dengan sinagoga. Pada tahun 80-an terjadi perselisihan tajam dengan orang Yahudi ketika orang Kristen secara formal dikeluarkan dari sinagoga karena mereka menolak untuk menaati Taurat. Kita telah menyaksikan bahwa Yudaisme telah menarik banyak penganut pada dekade awal abad pertama, tetapi setelah tahun 70, ketika orang Yahudi bersengketa dengan kekaisaran Romawi, posisi mereka mengalami kemunduran. Kepindaha n Orang-orang yang Takut kepad a Allah ke Kristen

membuat orang Yahudi menaruh curiga kepada para penganut agama baru, dan mereka tak lagi berminat untuk pindah agama. Kaum pagan yang dahulu pernah tertarik pada Yudaisme kini beralih ke Kristen, tetapi kebanyakan mereka adalah budak dan anggota kelas masyarakat yang lebih rendah. Baru pada akhir abad kedua, kaum pagan yang berpendidikan tinggi menjadi penganut Kristen dan mampu menjelaskan agama baru itu kepada dunia pagan yang masih menaruh kecurigaan.

Di kekaisaran Romawi, Kristen pertama sekali dianggap sebagai cabang dari Yudaisme, tetapi tatkala orang Kristen memperjelas diri bahwa mereka bukan lagi anggota sinagoga, mereka dipandang dengan kebencian sebagai religio kaum fanatik yang telah melakukan dosa besar karena meninggalkan kepercayaan leluhur. Etos Romawi sangatlah konservatif: mereka memberikan penghargaa n tinggi kepada autoritas pemimpin keluarga dan adat-istiadat nenek moyang. Yang dianggap sebagai “kemajuan” adalah langkah kembali ke zaman keemasan yang telah lampau dan bukan menyiapkan masa depan yang cerah. Keterputusan dari masa lalu tidak dianggap sebagai tindakan yang berpotensi kreatif, seperti dalam masyarakat kita sekarang ini, yang telah memungkinkan perubahan. Pembaruan dipandang berbahaya dan subversif. Orang Romawi sangat curiga terhadap gerakan massa yang akan mencampakkan batas-batas tradisi dan waspada untuk melindungi warga negara dari “pemalsuan” agama. Akan tetapi, dalam kekaisaran itu telah muncul sejumput kegelisahan dan kecemasan. Pengalaman hidup dalam sebuah imperium inter- nasional yang besar telah membuat dewa-dewa yang lama tampak kecil dan tidak memadai; orang-orang menjadi sadar akan kebudayaan yang asing dan mengganggu. Mereka mencari solusi spiritual baru. Kultus-kultus Timur masuk ke kawasan Eropa: dewa-dewa seperti Isis dan Semele disembah di samping dewa-dewa tradisional Roma, yang menjadi pengawal negeri. Selama abad pertama M, agama- agama misteri baru menawarkan jalan keselamatan mereka dan apa yang disebut-sebut sebagai pengetahuan mendalam tentang dunia yang akan datang.

Akan tetapi, tak satu pun dari antusiasme agama-agama baru ini yang mengancam tatanan lama. Dewa-dewa Timur tidak menuntut pemutusan radikal dari agama lama dan penolakan terhadap ritus- ritus yang sudah dikenal, tetapi, seperti orang suci baru, ia mem• berikan pandangan yang segar dan pemahaman tentang dunia yang

lebih luas. Anda bisa saja bergabung dengan berbagai kultus misteri sebanyak yang Anda inginkan: selama mereka tidak berupaya meng- hancurkan dewa-dewa lama dan tetap bersikap rendah hati, agama- agama misteri itu akan ditoleransi dan diserap ke dalam tatanan yang sudah mantap.

Tak seorang pu n mengharapkan agama akan menjadi sebuah tantangan atau memberikan jawaban tentang makna kehidupan. Orang beralih kepada filsafat untuk mencari pencerahan semacam itu. Di kekaisaran Romawi kuno, orang menyembah dewa-dewa untuk me- mohon pertolongan selama masa krisis, untuk menjaga agar perlin- dungan ilahi tetap dicurahkan atas negeri itu, dan untuk memperoleh rasa ketersambungan dengan masa lalu. Agama lebih merupakan persoalan kultus dan ritual daripada gagasan-gagasan. Agama didasar- kan pada perasaan, bukan ideologi atau teori yang dipilih secara sadar. Ini bukanlah sikap yang asing bagi masyarakat masa sekarang: banyak orang yang menghadiri layanan keagamaan dalam masyarakat kita saat ini tidak tertarik pada teologi, tidak menginginkan sesuatu yang terlalu eksotik dan tidak menyukai ide tentang perubahan. Me• reka menemukan bahwa ritual-ritual yang telah mapan memberi mereka rasa keterkaitan dengan tradisi dan mempersembahkan rasa aman. Mereka tidak mengharapkan gagasan-gagasan brilian dalam khotbah dan malah merasa terganggu oleh perubahan dalam liturgi. Dengan cara yang sama, banyak kaum pagan di zaman kuno senang menyembah dewa-dewa leluhur, sebagaimana yang telah dilakukan oleh generasi-generasi sebelum mereka. Ritual-ritual lama memberi mereka rasa beridentitas, merayakan tradisi-tradisi lokal, dan tampak- nya menjadi jaminan bahwa segala sesuatu akan tetap sebagaimana adanya.

Peradaban tampaknya merupakan pencapaian yang rentan dan tidak boleh terancam oleh pengabaian sembrono terhadap dewa- dewa pelindung, yang akan menjamin keberlangsungan peradaban itu. Mereka akan merasa terancam jika suatu kultus baru muncul untuk mengalahkan kepercayaan nenek moyang mereka. Oleh karena itu, Kristen tidak mempunyai posisi yang menguntungkan di kedua dunia itu. la tidak mempunyai masa silam Yudaisme yang dihormati dan juga tidak mempunyai ritual paganisme yang menarik, yang dapat dilihat dan diapresiasi setiap orang. Kristen juga berpotensi mengancam, sebab orang Kristen mengajarkan bahwa Tuhan mereka adalah satu-satunya Tuhan dan bahwa seluruh dewa-dewa lain

hanyalah khayalan belaka. Kristen tampak merupakan gerakan yang tidak rasional dan eksentrik bagi penulis biografi Romawi, Gaius Suetonius (70-160), sebuah superstitio nova et prava, yang “buruk” justru karena “baru.”31

Kaum pagan yang berpendidikan menoleh ke filsafat, bukan agama, untuk mendapatkan pencerahan. Orang-orang yang mereka dianggap suci dan tercerahkan adalah para filosof kuno semacam Plato, Pythagoras, dan Epictetus. Mereka bahkan menganggap para filosof itu sebagai “anak-anak Dewa”: Plato, misalnya, diyakini sebagai anak Apollo. Para filosof bersikap hormat terhadap agama, tetapi memandangnya berbeda secara esensial dari apa yang mereka kerja- kan. Mereka bukanlah para akademisi yang kering di menara gading, melainkan orang-orang yang mempunyai misi, bertekad untuk me- nyelamatkan jiwa orang-orang sezamannya dengan menarik mereka menjadi pengikut mazhab-mazhab mereka. Baik Sokrates maupun Plato bersikap sangat “religius” tentang filsafat mereka, merasakan bahw a kajian ilmiah dan metafisis itu telah mengilhami mereka dengan suatu penglihatan tentang keagungan alam. Oleh karena itu, pada abad pertama M, orang-orang yang cerdas dan berwawasan beralih kepada mereka untuk mendapatkan penjelasan tentang makna hidup, ideologi yang penuh ilham, dan motivasi etis. Kristen tampak seperti sebuah kredo yang barbarik. Tuhan Kristen tampak sebagai ilah yang pemarah dan primitif, yang tak hentinya ikut campur secara tak rasional dalam urusan-urusan manusia: dia tak memiliki kesamaan apa pu n dengan Tuhan para filosof yang jauh dan tak berubah, seperti Tuhan dalam konsepsi Aristoteles. Akan tetapi, mengatakan bahwa orang-orang sekaliber Plato atau Aleksander Agung adalah anak-anak dewa, tidak sama dengan mengatakan hal yang setara bagi seorang Yahudi yang tewas mengenaskan di sebuah sudut ke- kaisaran Romawi.

Platonisme adalah salah satu aliran filsafat paling populer di akhir zaman kuno. Platonis baru dari abad pertama dan kedua tidak tertarik pada Plato yang pemikir etika dan politik, tetapi kepada Plato yang mistikus. Ajarannya membantu si filosof untuk menyadari kesejatian dirinya, dengan cara membebaskan jiwa dari penjara ragawi dan membuatnya mampu untuk naik ke alam suci. Mistisisme Plato adalah suatu sistem yang tinggi, menggunakan kosmologi sebagai citra tentang kesinambungan dan keharmonisan. Yang Esa berada dalam kontemplasi jernih tentang dirinya sendiri melampaui pengaruh

waktu dan perubahan di ujung mata rantai wujud. Semua yang ada berasal dari Yang Esa sebagai konsekuensi pasti dari wujudnya yang murni: bentuk-bentuk abadi telah memancar dari Yang Esa dan pada gilirannya menggerakkan matahari, bintang dan bulan, dalam bidang lintasan mereka masing-masing. Akhirnya dewa-dewa, yang kini dipandang sebagai malaikat-malaikat bagi Yang Esa, memancarkan pengaruh suci ke dalam dunia sublunar manusia. Kaum Platonis tidak memerlukan kisah barbar tentang seorang dewa yang tiba-tiba memutuskan untuk menciptakan dunia atau yang mengabaikan hierarki yang ada untuk berkomunikasi langsung dengan sekelompok kecil manusia. Dia tidak membutuhkan penyelamatan hebat melalui seorang Mesias yang disalib. Karena dia serumpun dengan Tuhan yang telah memberi hidup kepada segala sesuatu, seorang filosof bisa naik ke alam suci melalui usahanya sendiri dalam cara yang rasional dan tertata.

Bagaimana orang Kristen bisa menjelaskan agama mereka kepada dunia pagan? Kristen tampaknya berada di tengah-tengah, tidak dipandang sebagai sebuah agama, dalam pengertian Romawi dan bukan pula sebuah filsafat. Terlebih lagi, orang Kristen akan meng- alami kesulitan untuk menyebutkan “kepercayaan-kepercayaan” mereka dan mungkin belum menyadari sistem pemikiran berbeda yang tengah berevolusi saat itu. Dalam hal ini, mereka mirip dengan tetangga-tetangga pagan mereka. Agama mereka tidak mempunyai

“teologi” yang koheren, tetapi secara lebih tepat dapat dijelaskan sebagai sebuah sikap berkomitmen yang dibangun dengan sungguh- sungguh. Ketika mereka mengucapkan “kredo” mereka, mereka tidak memaksudkannya sebagai seperangkat proposisi. Kata credere misal- nya, kelihatannya diturunkan dari cor dare, memberi hati. Ketika mereka mengucapkan “credo!” (atau pisteno dalam bahasa Yunani), ini lebih mengimplikasikan posisi emosional daripada intelektual. Demikianlah, Theodore, Uskup Mopsuestia di Sisilia dari tahun 392 hingga 428, menjelaskan kepada para pengikutnya:

 

Ketika Anda berkata: “Aku mengikat diriku sendiri” (pisteno) di hadapan Tuhan, Anda menunjukkan bahwa dengan tabah Anda akan tetap bersamanya, bahwa Anda tidak akan memisahkan diri darinya dan bahwa Anda akan memandangnya lebih tinggi daripada segala sesuatu yang ada dan akan hidup bersamanya serta berperilaku dalam cara yang sesuai dengan perintahnya.32

 

Orang Kristen generasi selanjutnya tidak perlu memberi pen- jelasan yang lebih teoretis tentang iman mereka dan akan mengem- bangkan kecintaan pada perdebatan teologi yang unik dalam sejarah agama dunia. Telah kita saksikan, misalnya, bahwa tidak ada ortodoksi resmi dalam Yudaisme, dan ide-ide tentang Tuhan pada dasarnya merupakan persoalan pribadi. Orang Kristen awal juga mengambil sikap yang sama.

Namun demikian, selama abad kedua beberapa penganut baru Kristen dari kalangan pagan mencoba mendekati tetangga-tetangga mereka yang tidak percaya untuk memperlihatkan bahwa agama mereka bukanlah penyimpangan destruktif dari tradisi. Salah seorang dari apologis ini adalah Justin dari Kaisarea (100-165), yang me- ninggal sebagai martir demi imannya. Dalam pencariannya yang tak kenal lelah akan makna, kita dapat merasakan kegelisahan spiritual pada periode itu. Justin bukanlah seorang pemikir besar ataupun brilian. Sebelum beralih ke Kristen, dia telah mengikuti ajaran Stoa, seorang filosof peripatetik dan Pythagorean, tetapi gagal memahami apa yang ada di dalam sistem mereka. Dia tidak memiliki temperamen dan kecerdasan untuk filsafat, tetapi tampaknya membutuhkan lebih dari sekadar penyembahan kultus dan ritual. Dia menemukan peme- cahannya dalam Kristen. Dalam dua apologiae (kl. 150 dan 155) yang ditulisnya, dia menyatakan bahwa Kristen sebenarnya mengikuti Plato, yang juga berpandangan bahwa hanya ada satu Tuhan. Para filosof Yunani maupun para nabi Yahudi telah meramalkan kedatangan Yesus—sebuah argumen yang akan sangat berkesan bagi para pagan

di zamannya, karena saat itu terdapat antusiasme baru terhadap ramalan-ramalan. Dia juga mengatakan bahwa Yesus merupakan inkarnasi logos atau akal ilahi, yang telah dilihat Stoa dalam keteraturan semesta; logos itu aktif dalam dunia sepanjang sejarah, mengilhami orang Yahudi maupun Yunani. Akan tetapi, dia tidak menjelaskan implikasi dari sebuah ide yang agak baru: bagaimana mungkin seorang manusia menjadi inkarnasi dari logos? Apakah logos itu sama dengan figur-figur biblikal lain, seperti Firman atau Hikmat? Apa hubungannya dengan Tuhan Yang Esa?

Orang Kristen lain mengembangkan teolog yang lebih radikal, bukan semata karena kesenangan akan spekulasi, melainkan untuk mengobati kegelisahan yang besar. Secara khusus, gnostikoi, Orang- orang yang Tahu, beralih dari filsafat ke mitologi untuk menjelaskan rasa keterpisahan mereka yang akut dari alam ilahi. Mitos-mitos itu

menjawab ketidaktahuan mereka tentang Tuhan dan yang suci, yang secara jelas mereka rasakan sebagai sumber penderitaan dan rasa malu. Basilides, yang mengajar di Aleksandria antara 130 dan 160, bersama rekan sezamannya, Valentinus, yang meninggalkan Mesir untuk mengajar di Roma, telah mendapat sejumlah besar pengikut dan memperlihatkan bahwa banyak di antara orang yang beralih menganut Kristen mengalami rasa kehilangan, tersisih, dan secara radikal terbuang.

Semua kaum Gnostik memulai dengan realitas yang sama sekali tak terpahamkan yang mereka sebut Tuhan Tertinggi, karena ia merupakan sumber dari wujud lebih rendah yang kita sebut “Tuhan”. Sama sekali tidak ada yang dapat kita katakan tentangnya, karena dia sepenuhnya berada di luar jangkauan pikiran kita yang terbatas. Sebagaimana dijelaskan Valentinus, Tuhan Tertinggi itu,

 

Sempurna dan ada sejak semula … berdiam di ketinggian yang tak terlihat dan tak ternamakan: inilah praawal dan pendahulu dan kedalaman. Ia tidak dapat tercakup dan tak terlihat, abadi dan tak dilahirkan, Tenang dan benar-benar Sendiri selama masa yang tak terhingga. Bersama Dia adalah pikiran, yang juga disebut Berkah dan Hening.33

 

Manusia telah senantiasa berspekulasi tentang Yang Mutlak ini, namun tak satu pun dari penjelasan mereka yang memadai. Adalah mustahil untuk menggambarkan Tuhan Tertinggi ini, yang tidak “baik” atau “jahat” dan bahkan tidak bisa dikatakan “ada”. Basilides meng- ajarkan bahwa pada mulanya tidak ada Tuhan tetapi hanya ada Tuhan Tertinggi, yang, dapat dikatakan secara ketat, adalah Tiada karena ia tidak bereksistensi dalam pengertian apa pun yang bisa kita pahami.34

Akan tetapi, Ketiadaan ini ingin membuat dirinya dikenali dan tidak puas untuk tetap sendirian dalam Kedalaman dan Keheningan. Terjadilah revolusi batin di kedalaman wujudnya yang tak terperi, menghasilkan serangkaian pancaran yang serupa dengan apa yang diuraikan dalam mitologi pagan kuno. Yang pertama dari pancaran itu adalah “Tuhan”, yang kita kenal dan menjadi tujuan doa kita. Walaupun demikian, “Tuhan” ini pun tak dapat kita jangkau dan memerlukan penjelasan lebih lanjut. Akibatnya, pancaran-pancaran baru muncul dari Tuhan secara berpasangan, masing-masing meng- ekspresikan satu dari sifat-sifat ketuhanannya. “Tuhan” melampaui gender tetapi, seperti dalam Enuma Elish, masing-masing pasangan

itu terdiri atas lelaki dan perempuan—sebuah skema yang berusaha menetralkan nada maskulin dalam monoteisme yang lebih konven- sional. Setiap pasangan hasil emanasi semakin lama semakin melemah dan menipis karena letaknya semakin jauh dari Sumber ilahi mereka. Akhirnya, ketika tiga puluh macam pancaran (atau aeon) itu telah lahir, proses pun berhenti dan alam suci, Pleroma, telah sempurna. Kaum Gnostik tidak mengajukan suatu kosmologi yang betul-betul luar biasa, karena semua orang percaya bahwa kosmos memang dipenuhi oleh aeon-aeon, kekuatan jahat dan kekuatan spiritual seperti itu. Paulus telah menyebutnya Takhta, Dominasi, Kedaulatan, dan Kekuatan, sementara para filosof percaya bahwa kekuatan gaib ini adalah dewa-dewa kuno dan menjadikan mereka perantara antara manusia dengan Yang Esa.

Ada suatu bencana yang oleh kaum Gnostik dijelaskan melalui berbagai cara berbeda. Sebagian di antara mereka berkata bahwa Sophia (Hikmat), pancaran terakhir, jatuh dari surga karena dia mengilhami pengetahuan terlarang tentang Tuhan Tertinggi yang tak dapat dijangkau. Disebabkan kepongahannya, dia jatuh dari Pleroma, kesedihan dan kepiluannya membentu k dunia materi. Terasing dan tersasar, Sophia berkelana ke seluruh kosmos, rindu untuk kembali ke Sumber sucinya. Percampuran gagasan-gagasan Timur dan paga n ini mengekspresikan keyakinan poko k kaum Gnostik bahwa dunia kita dalam pengertian tertentu merupakan bentuk lain dari langit, lahir dari ketidaktahuan dan ketercerabutan. Kaum Gnostik lain mengajarkan bahwa “Tuhan” tidak menciptakan dunia materi, karena dia tidak ada hubungan apa pun dengan materi yang rendah. Dunia materi merupakan hasil karya aeon-aeon, yang mereka sebut sebagai demiourgos atau Pencipta. Dia cemburu kepada

“Tuhan” dan ingin menjadi pusat Pleroma. Akibatnya, dia jatuh dan menciptakan dunia untuk menantang saingannya. Dalam penjelasan Valentinus, dia “menciptakan langit tanpa pengetahuan; dia mem• bentuk manusia dalam ketidaktahuan tentang manusia; dia meng- hadirkan bumi tanpa memahami bumi.”35 Akan tetapi, logos, jenis aeon yang lain, datang untuk menyelamatkan dan turun ke bumi, mengambil bentuk fisik sebagai Yesus untuk mengajarkan kepada manusia cara kembali kepada Tuhan. Jenis Kristen seperti ini pada akhirnya ditindas, tetapi akan kita lihat bahwa beberapa abad kemu- dian orang Yahudi, Kristen, dan Muslim akan kembali kepada mitologi semacam ini, dengan alasan bahwa mitologi itu mengungkapkan

pengalaman keagamaan mereka tentang “Tuhan” secara lebih akurat dibanding teologi ortodoks.

Mitos-mitos ini tak pernah dimaksudkan sebagai uraian harfiah tentang penciptaan dan penyelamatan; mereka merupakan ungkapan simbolik bagi sebuah kebenaran batin. “Tuhan” dan Pleroma bukanlah realitas-realitas eksternal yang ada “di luar sana”, melainkan dapat ditemukan di dalam diri:

 

Tinggalkan pencarian akan Tuhan dan ciptaan dan hal-hal lain yang serupa. Carilah dia dengan menjadikan dirimu sendiri sebagai titik awalnya. Cermati siapa yang berada di dalam dirimu yang menyebut segala sesuatu sebagai miliknya dan mengatakan, Tuhanku, pikiranku, akalku, jiwaku, tubuhku. Cermati sumber-sumber kesedihan, keba- hagiaan, cinta, benci. Perhatikan bagaimana itu terjadi sehingga mem- buatmu melihat tanpa berkehendak, mencintai tanpa berkehendak. Jika engkau secara saksama meneliti persoalan-persoalan ini, engkau akan menemukan dia di dalam dirimu sendiri.36

 

Pleroma mewakili sebuah peta jiwa. Cahaya ilahi tetap akan di• temukan bahkan di dalam dunia yang gelap ini, jika seorang Gnostik dapat mengetahui ke mana dia harus mencari: selama Kejatuhan Primal—pada Sophia ataupun Demiurge—sebagian dari kilasan ilahi ikut jatuh dari Pleroma dan terperangkap di dalam mated. Kaum Gnostik bisa menemukan kilasan ilahi di dalam jiwanya sendiri, bisa menjadi sadar akan kehadiran unsur ilahiah di dalam dirinya yang akan membantunya menemukan jalan untuk kembali.

Kaum Gnostik menunjukkan bahw a banyak di antara para pengikut baru Kristen tidak puas dengan gagasan tradisional tentang Tuhan yang telah mereka warisi dari Yudaisme. Mereka tidak meng- alami dunia sebagai sesuatu yang “baik”, sebagai karya dari ilah yang penyayang. Dualisme dan dislokasi yang serupa melahirkan doktrin Marcion (100-165), yang mendirikan gereja saingannya sendiri

di Roma dan menarik banyak pengikut. Yesus telah mengatakan bahwa sebuah pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik:37 bagaimana mungkin dunia telah diciptakan oleh Tuhan yang baik jika dunia ini nyatanya penuh kejahatan dan penderitaan? Marcion juga dikagetkan oleh kitab suci Yahudi yang tampaknya menggambar- kan Tuhan yang keras dan kejam yang telah menghancurkan semua penduduk karena kecintaannya akan keadilan. Dia berkesimpulan bahwa Tuhan Yahudi inilah, yang “suka perang, tidak teguh dalam

sikapnya dan bertentangan dengan perkataannya sendiri,”38 yang telah menciptakan dunia. Akan tetapi, Yesus telah berfirman bahwa ada Tuhan lain, yang tak pernah disebutkan dalam kitab suci Yahudi. Tuhan kedua ini “tenang, lembut, dan sungguh-sungguh baik dan unggul.”39 Dia sama sekali berbeda dari Pencipta dunia yang kejam dan “penghukum”. Oleh karena itu, kita mesti berpaling dari dunia yang, karena bukan merupakan karyanya, tidak bisa memberitahukan kita apa pun tentang ilah yang penyayang dan mesti pula menolak Perjanjian “Lama”, lalu memusatkan perhatian hanya kepada kitab- kitab Perjanjian Baru yang telah mengabadikan ruh Yesus. Popularitas ajaran-ajaran Marcion menunjukkan bahwa dia telah menyuarakan kecemasan orang banyak. Sekilas tampaknya dia akan mendirikan sebuah gereja terpisah. Dia telah meletakkan tangannya pada sesuatu yang penting dalam pengalaman orang Kristen; generasi-generasi Kristen telah merasakan kesulitan untuk berhubungan secara positif dengan dunia materi, dan masih ada sejumlah besar yang tidak tahu bagaimana menyikapi Tuhan Ibrani.

Akan tetapi, seorang teolog Afrika Utara, Tertullian (160-220), mengemukakan bahwa Tuhan yang “baik” menurut konsepsi Marcion lebih mirip dengan Tuhan filsafat Yunani daripada Tuhan Alkitab. Tuhan yang tenang ini, yang tak ada kaitannya dengan dunia yang cacat ini, lebih dekat dengan konsep Penggerak yang Tak Digerakkan dari Aristoteles daripada Tuhan Yahudi dari Yesus Kristus. Memang, banyak orang di dunia Yunani-Romawi berpandangan bahwa Tuhan biblikal adalah tuhan yang keras dan banyak kekeliruan, yang tidak layak untuk disembah. Sekitar tahun 178, filosof Celsus yang pagan menudu h orang Kristen telah mengadopsi pandangan yang picik dan terbatas tentang Tuhan. Dia merasa heran bahwa orang Kristen bahkan mengklaim pewahyuan khusus bagi mereka: Tuhan tersedia bagi semua umat manusia, tetapi orang Kristen bersatu dalam sebuah kelompok kecil sembari menegaskan: “Tuhan bahkan telah men- campakkan seluruh bumi dan langit untuk memberi perhatian hanya kepada kami.”40 Ketika orang Kristen diburu oleh penguasa Romawi, mereka dituduh “ateis” karena konsepsi mereka tentang ketuhanan benar-benar bertentangan dengan etos Romawi. Karena tidak bisa memenuhi hak-hak para dewa tradisional, orang-orang merasa takut bahw a kaum Kristiani akan membahayaka n negara dan meng- hancurkan tatanan yang rentan. Kristen dipandang sebagai sebuah kredo barbar yang mengabaikan capaian-capaian peradaban.

Akan tetapi, pada akhir abad kedua, beberapa orang pagan yang betul-betul mempelajarinya mulai beralih ke agama Kristen dan mampu mengadaptasikan Tuhan Semitik Alkitab dengan ideal Yunani- Romawi. Salah seoran g di antara mereka adalah Clement dari Aleksandria (kl. 150-215), yang mungkin sekali telah mempelajari filsafat di Atena sebelum kepindahan agamanya. Clement tidak ragu- ragu bahwa Yahweh dan Tuhan filsafat Yunani adalah satu dan sama: dia menjuluki Plato sebagai Musa Atena. Sungguhpun demikian, baik Yesus maupu n Paulus pasti akan dibuat kaget oleh teologinya. Sebagaimana Tuhan Plato dan Aristoteles, Tuhan Clement dicirikan oleh apatheia-nya: dia sama sekali kebal, tidak mampu menderita atau berubah. Orang Kristen dapat berpartisipasi diri dalam kehidupan yang suci ini dengan cara meniru ketenangan dan kesentosaan Tuhan sendiri. Clement menyusun aturan kehidupan yang sangat mirip denga n aturan perilaku terperinci yang disusun oleh para rabi, terkecuali bahwa ia lebih banyak memiliki kesamaan dengan cita- cita kaum Stoa. Seorang Kristen wajib meniru ketenangan Tuhan di dalam setiap bagian terkecil kehidupannya: dia mesti duduk dengan benar, berbicara perlahan, menahan diri dari kekerasan dan tertawa terbahak-bahak, bahkan harus bersendawa dengan halus. Melalui latihan ketenangan ini, seorang Kristen akan menjadi sadar akan Ketenangan luas di dalam diri, yang merupakan citra Tuhan yang terpahat dalam wujud mereka sendiri. Tak ada jurang pemisah antara Tuhan dan manusia. Begitu orang Kristen berhasil menyesuaikan diri dengan cita-cita ilahi, niscaya mereka akan menemukan bahwa mereka memiliki seorang Sahabat Ilahi “yang tinggal bersama di rumah kita, duduk bersama, dan ikut dalam seluruh upaya moral hidup kita.”41

Namun, Clement juga percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, “Tuhan

Mahahidup yang menderita dan disembah.”4 2 Dialah yang telah

“mencuci kaki mereka, membungkus dengan handuk,” dialah “Tuhan yang tidak sombong dan Penguasa Semesta.”43 Jika orang Kristen meneladani Kristus, mereka juga akan menjadi seperti tuhan: suci, tak bisa rusak, dan tak berubah. Sesungguhnya, Kristus adalah logos suci yang telah menjadi manusia “agar kalian bisa belajar dari seorang manusia bagaimana cara menjadi Tuhan.”44 Di Barat, Irenaeus, Uskup Lyons (130-200), telah mengajarkan doktrin yang serupa. Yesus adalah inkarnasi logos, akal ilahi. Ketika menjadi manusia, dia telah me- nyucikan setiap derajat perkembangan manusia dan menjadi model

bagi orang Kristen. Mereka harus meniru dia dengan cara yang kurang lebih sama seperti seorang aktor diyakini menjadi satu dengan karakter yang dia perankan, dan dengan demikian, memenuhi potensi ke- manusiaan mereka.45 Clement maupun Irenaeus mengadaptasi Tuhan Yahudi ke dalam gagasan yang khas bagi zaman dan budaya mereka. Meskipun konsepsi itu tak banyak kesamaannya dengan Tuhan para nabi, yang terutama dicirikan oleh rasa iba dan kepeduliannya, doktrin aphatheia Clement akan menjadi fundamental bagi konsepsi Kristen tentang Tuhan. Di dalam dunia Yunani, orang-orang rindu untuk bangkit dari kekacauan emosi dan perubahan, rindu untuk meraih keheningan supramanusiawi. Cita-cita ini tetap ada, meski dengan segala paradoks yang melekat dalam dirinya.

Teologi Clement menyisakan beberapa pertanyaan krusial yang tak terjawab. Bagaimana mungkin seorang manusia biasa bisa menjadi Logos atau akal ilahi? Apa sebenarnya makna ucapan bahwa Yesus itu suci? Apakah Logos sama dengan “Anak Tuhan,” dan apa makna gelar Yahudi ini di dunia Helenik? Bagaimana mungkin Tuhan yang kebal bisa menderita di dalam Yesus? Bagaimana mungkin orang Kristen bisa percaya bahwa Yesus adalah wujud ilahi sementara, pada saat yang sama, mereka menyatakan bahwa hanya ada satu Tuhan? Orang Kristen jadi semakin sadar akan persoalan ini selama abad ketiga. Pada tahun-tahun pertama abad itu di Roma, seorang Sabellius, figur yang agak samar-samar, mengatakan bahwa istilah- istilah biblikal, seperti “Bapa”, “Anak” dan “Ruh” dapat dibandingkan topeng {personae) yang dipakai oleh aktor-aktor untuk memainkan suatu peran dramatik dan untuk membuat suara mereka dapat didengar oleh hadirin. Tuhan Yang Esa dengan demikian telah menggunakan personae yang berbeda ketika berurusan dengan dunia. Sabellius berhasil menarik sejumlah pengikut, tetapi kebanyakan orang Kristen keberatan atas teorinya: teori itu menyarankan bahwa Tuhan yang apofatik itu ternyata dalam pengertian tertentu telah menderita ketika memainkan peranan Anak, gagasan yang mereka rasa agak sulit untuk dapat diterima. Sungguhpun demikian, ketika Paulus dari Samosata, Uskup Antiokhia dari tahun 260 hingga 272, telah menyata• kan bahwa sebenarnya Yesus adalah seorang manusia biasa, yang di dalam dirinya Firman dan Hikmat Tuhan bersemayam sebagaimana dalam sebuah kuil. Pandangan ini juga dianggap tidak ortodoks. Teologi Paulus dikutuk dalam sebuah sinode di Antiokhia pada tahun

264, meskipun dia berhasil mempertahankan keuskupannya atas

sokongan dari Ratu Zenobea di Palmira. Sungguh menjadi sangat rumit untuk menemukan cara mengakomodasi keyakinan Kristen bahwa Yesus itu tuhan dengan kepercayaan yang sama kuatnya bahwa Tuhan itu Satu.

Ketika Clement meninggalkan Aleksandria pada tahun 202 untuk menjadi pendeta di bawah keuskupan Yerusalem, kedudukannya di sekolah kateketik diambil alih oleh murid mudanya yang brilian, Origen, yang pada saat itu berusia dua puluh tahun. Sebagai seorang pemuda, Origen telah memiliki keyakinan kuat bahwa mati sebagai martir merupakan jalan menuju surga. Ayahnya, Leonides, mati di arena empat tahun silam dan Origen berusaha untuk mengikuti jejaknya. Akan tetapi, ibunya menyelamatkannya dengan menyem- bunyikan pakaiannya. Origen pada awalnya berkeyakinan bahwa hidup sebagai seorang Kristen berarti harus berpaling dari dunia, te• tapi kemudian dia meninggalkan pandangan ini dan mengembangkan sebentuk Platonisme Kristen. Alih-alih melihat ada jurang lebar antara Tuhan dan dunia, yang hanya mungkin dijembatani oleh dislokasi radikal melalui pengurbanan nyawa, Origen mengembangkan sebuah teologi yang menekankan kontinuitas antara Tuhan dengan dunia. Teologinya merupakan spiritualitas yang terang, bercahaya, optimis, dan gembira. Selangkah demi selangkah, seorang Kristen dapat mendaki mata rantai itu hingga dia mencapai Tuhan, unsur alamiah dan kampung halamannya.

Sebagai seorang Platonis, Origen yakin akan keserumpuna n Tuhan dan jiwa: pengetahuan tentang yang ilahi adalah alamiah bagi manusia. Pengetahuan itu dapat “diingat kembali” dan dibangkitkan melalui latihan-latihan khusus. Untuk menyesuaikan pandangan filsafat Platoniknya denga n kitab suci Semitik, Origen mengembangkan sebuah metode simbolik untuk membaca Alkitab. Dengan demikian, kelahiran Kristus dari rahim perawan Maria pada dasarnya tidak untuk dipahami sebagai suatu kejadian harfiah, melainkan harus dilihat sebagai kelahiran Hikmat ilahi di dalam jiwa. Dia juga mengambil beberapa gagasan kaum Gnostik. Pada mulanya, semua wujud di dalam dunia spiritual berkontemplasi tentang Tuhan yang telah mengungkapkan sendiri di dalam Logos, Firman, dan Hikmat suci. Akan tetapi, mereka menjadi bosan dengan aktivitas kontemplasi sempurna ini dan jatuh ke dalam dunia materi yang segera meme- rangkap mereka. Akan tetapi, tidak semuanya gagal. Jiwa berhasil mencapa i Tuha n melalui perjalanan panjang yan g aka n terus

berlangsung setelah kematian. Lambat laun jiwa akan meninggalkan tubuh dan naik menjadi ruh murni. Melalui kontemplasi (theoria), jiwa akan mendapat pengetahuan (gnosis) mengenai Tuhan, yang akan mentransformasinya hingga, seperti yang diajarkan Plato, ia akan menjadi suci. Tuhan sangatlah misterius dan tak ada ucapan atau konsep kita sebagai manusia yang mampu mengungkapkannya, tetapi jiwa mempunyai kapasitas untuk mengenai Tuhan karena ia ikut memiliki watak keilahiannya. Kontemplasi tentang Logos me- rupakan sesuatu yang alamiah bagi kita, sebab semua makhluk spiritual (logikoi) pada dasarnya setara satu sama lain. Ketika semua telah gagal, hanya jiwa manusia Yesus Kristus yang tetap bisa bertahan

di alam suci seraya berkontemplasi tentang Firman Tuhan, dan jiwa kita sendiri setara dengan jiwanya. Kepercayaan pada kesucian ma• nusia Yesus hanya merupaka n sebuah fase; ia akan membantu perjalanan kita, tetapi pada akhirnya akan lepas ketika kita telah bertemu muka langsung dengan Tuhan.

Pada abad kesembilan, Gereja mencela beberapa gagasan Origen sebagai bid’ah. Baik Origen maupun Clement tidak percaya bahwa Tuhan telah menciptakan alam dari ketiadaan (ex nihilo), yang dalam perkembangan selanjutnya akan menjadi doktrin Kristen ortodoks. Pandangan Origen tentang keilahian Yesus dan penyelamatan umat manusia jelas tidak sejalan dengan ajaran resmi Kristen: dia tidak percaya bahwa kita telah “diselamatkan” oleh kematian Kristus, tetapi meyakini bahwa kita dapat naik menuju Tuhan atas usaha kita sendiri. Persoalannya adalah, tatkala Origen dan Clement menulis dan meng- ajarkan Platonisme Kristen mereka, belum ada doktrin resmi. Tak seorang pun betul-betul mengetahui apakah Tuhan telah mencipta• kan alam atau apakah seorang manusia bisa menjadi tuhan. Peristiwa- peristiwa yang bergejolak pada abad keempat dan kelima membawa pada sebuah definisi tentang kepercayaan ortodoks hanya setelah melewati suatu pertarungan yang mengenaskan.

Mungkin Origen paling dikenal karena tindakannya mengebiri diri sendiri. Di dalam Injil, Yesus mengatakan bahwa beberapa orang telah mengebiri diri mereka sendiri demi Kerajaan Langit, dan Origen menelan firman itu mentah-mentah. Pengebirian adalah perilaku yang umum di akhir zaman kuno; Origen tidak langsung menyerang diri- nya dengan sebilah pisau, keputusannya pun tidak diilhami oleh sejenis kebencian neurotik terhadap seksualitas sebagaimana yang telah menjadi karakter sebagian teolog Barat semacam Santo Jerome

(342-420). Sarjana Inggris Peter Brown memperkirakan bahwa tindakan itu diambil sebagai upaya untuk mendemonstrasikan doktrinnya mengenai ketidakpastian kondisi manusia, yang pasti akan ditinggal- kan oleh jiwa. Rupanya faktor-faktor yang tak dapat diubah seperti gender akan ditinggalkan dalam proses panjang penyucian diri, karena

di sisi Tuhan tak akan ada lelaki atau perempuan. Pada zaman ketika filosof ditandai oleh jenggotnya yang panjang (simbol kebijaksanaan), pipi Origen yang halus dan nada suaranya yang tinggi merupakan pemandangan yang mengherankan.

Plotinus (205-270) telah belajar di Aleksandria di bawah bimbingan guru senior Origen, Ammonius Saccus, dan kemudian bergabung dengan tentara Romawi. Dia berharap akan dikirim ke India, tempat yang sangat ingin dipelajarinya. Sayangnya ekspedisi itu gagal dan Plotinus pindah ke Antiokia. Belakangan dia mendirikan sebuah sekolah filsafat yang prestisius di Roma. Kita tidak begitu mengenal- nya karena dia adalah seorang laki-laki yang sangat pendiam dan tidak pernah bercerita tentang dirinya sendiri, bahkan juga tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya sendiri. Seperti Celsus, Plo• tinus memandang Kristen sebagai sebuah kredo yang sama sekali tidak bisa diterima, namun demikian dia berpengaru h terhadap generasi-generasi monoteis masa depan dalam ketiga agama Allah. Oleh karena itulah, dirasakan penting untuk mengetengahkan uraian terperinci mengenai pandangannya tentang Tuhan. Plotinus digambar- kan sebagai garis batas yang penting: dia telah menyerap aliran- aliran pemikiran utama dari 800 tahun pemikiran spekulatif Yunani dan mentransmisikannya dalam sebuah bentuk yang mempengaruhi tokoh-tokoh terkemuka pada abad kita, seperti T.S. Eliot dan Henri Bergson. Berpijak pada gagasan-gagasan Plato, Plotinus mengem- bangkan suatu sistem yang dirancang untuk mencapai pemahaman tentang diri. Dia sama sekali tidak tertarik untuk menemukan pen- jelasan ilmiah atas alam semesta atau berupaya menjelaskan asal usul fisik kehidupan; bukannya mencari penjelasan objektif dari dunia luar, Plotinus justru mengajak murid-muridnya untuk surut ke dalam diri mereka sendiri dan memulai eksplorasi mereka dari kedalaman jiwa.

Manusia sadar bahwa ada sesuatu yang tak beres dengan kondisi mereka; mereka merasakan kejanggalan dengan diri sendiri dan orang lain, tak terhubungkan dengan hakikat batin mereka dan kehilangan arah. Konflik dan hilangnya kesederhanaan tampak telah menjadi

ciri eksistensi kita. Meskipun demikian kita tak henti-hentinya ber- upaya untuk memadukan fenomena yang beragam itu dan mereduk- sinya menjadi semacam keutuhan yang tertata. Ketika secara sepintas kita melihat seseorang, kita tidak hanya melihat sebuah kaki, tangan, dan kepala, tetapi secara automatis kita mengorganisasikan unsur- unsur ini menjadi sesosok manusia utuh. Dorongan ke arah keutuhan ini bersifat fundamental bagi cara bekerja akal kita dan diyakini Plotinus pasti juga mencerminkan esensi sesuatu secara umum. Untuk menemukan kebenaran mendasar realitas, jiwa mesti menata ulang dirinya, menjalani periode penyucian (katharsis) dan tenggelam dalam kontemplasi (theoria), seperti yang disarankan Plato. Jiwa perlu melihat melampaui kosmos, melampaui dunia indriawi, dan bahkan melampaui keterbatasan akal untuk menyelami inti realitas. Namun demikian, ini bukanlah pendakian ke puncak realitas yang berada di luar diri kita, melainkan turun menyelam ke dalam lubuk hati. Pendek kata, sebuah pendakian ke dalam batin.

Realitas tertinggi merupakan sebuah kesatuan primal yang oleh Plotinus disebut sebagai Yang Esa. Segala sesuatu meminjam eksistensi mereka dari realitas potensial ini. Karena Yang Esa merupakan kese- derhanaan itu sendiri, tak ada yang bisa diceritakan mengenainya: tak ada padanya suatu kualitas yang berbeda dari esensinya, yang dapat memungkinkan deskripsi dalam cara biasa. Dia ada begitu saja. Akibatnya, Yang Esa itu tidak bernama: “Jika kita berpikir positif tentang Yang Esa,” jelas Plotinus, “kebenaran akan lebih banyak terdapat dalam Hening.”46 Kita bahkan tak bisa mengatakan bahwa dia ada, karena sebagai Wujud itu sendiri, dia “bukanlah sesuatu tetapi berbeda dari segala sesuatu.”47 Sesungguhnya, Plotinus menjelas- kan, dia “adalah Segala Sesuatu dan Bukan Sesuatu; dia bukanlah salah satu dari apa yang ada, namun demikian dia adalah semuanya.”48

Kita akan menyaksikan bahwa persepsi ini akan menjadi sebuah tema yang konstan dalam sejarah Tuhan.

Akan tetapi, Hening bukanlah keseluruhan kebenaran, kata Plotinus, sebab kita mampu untuk tiba pada pengetahuan tertentu tentang yang ilahi. Adalah mustahil jika Yang Esa itu tetap terbungkus dalam rahasia yang tak bisa ditembus. Yang Esa mesti telah melampaui dirinya sendiri, melampaui Kesederhanaannya dengan tujuan men- jadikan dirinya bisa dipahami oleh wujud-wujud tak sempurna seperti kita. Transendensi ilahi ini bisa digambarkan apa yang disebut

“ekstasi”, karena merupakan peristiwa “keluar dari diri sendiri” dalam

kebaikan murni: “Tak mencari apa-apa, tak mempunyai apa-apa, tak kehilangan apa-apa. Yang Esa itu sempurna dan, secara metaforis, telah melimpah, dan kelimpahannya telah menghasilkan yang baru.”49

Tak ada sesuatu yang bersifat personal di dalam semua ini; Plotinus memandang Yang Esa berada di atas semua kategori manusia, ter- masuk kategori personalitas. Plotinus kembali ke mitos emanasi kuno untuk menjelaskan pemancaran semua yang wujud dari Sumber yang sangat sederhana ini, menggunakan sejumlah analogi untuk meng- gambarkan prosesnya: seperti pancaran sinar matahari atau panas yang memancar dari sebuah nyala api dan semakin Anda mendekat ke inti api itu, semakin panas terasa. Salah satu kiasan yang paling disukai oleh Plotinus adalah perbandingan antara Yang Esa dengan titik pusat sebuah lingkaran, yang mengandung kemungkinan muncul- nya seluruh lingkaran lain yang berasal darinya. Ini mirip pula dengan efek gelombang yang ditimbulkan oleh jatuhnya sebuah batu ke dalam kolam. Berbeda dengan pemancaran yang dijelaskan dalam mitos seperti Enuma Elish, di mana masing-masing pasangan dewa yang berevolusi dari pasangan lain menjadi lebih sempurna dan efektif, yang terdapat dalam skema Plotinus justru kebalikannya. Se- bagaimana dalam mitos-mitos Gnostik, semakin jauh suatu wujud dari Yang Esa, semakin lemahlah ia.

Plotinus memandang dua emanasi pertama yang memancar dari Yang Esa sebagai sesuatu yang ilahiah, sebab keduanya membuat kita mampu mengetahui dan terlibat dalam kehidupan Tuhan. Bersama dengan Yang Esa, keduanya membentuk sebuah Segitiga ilahiah yang dalam cara tertentu mirip dengan Trinitas dalam Kristen. Pikiran

(nous), emanasi pertama, dalam skema Plotinus bersesuaian dengan alam ide Plato: pikiran bisa membuat kesederhanaan Yang Esa menjadi terpahami, tetapi pengetahuan di sini bersifat intuitif dan langsung.

Ia tidak dengan susah payah diperoleh melalui penelitian dan proses penalaran, tetapi diserap melalui cara yang sama seperti ketika indra kita menyerap objek-objek yang dipersepsikan. Jiwa (psyche), yang beremanasi dari Pikiran dalam cara yang sama seperti emanasi Pikiran dari Yang Esa, merupakan sesuatu yang sedikit lebih jauh dari kesempurnaan, dan di tingkat ini, pengetahuan hanya dapat diperoleh secara diskursif sehingga ia tidak memiliki simplisitas dan koherensi absolut. Jiwa bersesuaian dengan realitas yang biasa kita alami: seluruh sisa eksistensi fisik dan spiritual memancar dari Jiwa, yang memberikan kepada dunia kita semua kesatuan dan koherensi yang

dimilikinya. Lagi-lagi, mesti ditekankan bahwa Plotinus tidak mem- bayangkan tiga serangkai Yang Esa, Pikiran, dan Jiwa ini sebagai suatu tuhan “di luar sana”. Keilahian melingkupi seluruh eksistensi. Tuhan adalah semua di dalam semua, dan wujud-wujud yang lebih rendah hanya ada selama mereka menjadi bagian dalam wujud absolut Yang Esa.50

Aliran emanasi ke arah luar diserap oleh gerakan kembali kepada Yang Esa. Sebagaimana kita tahu dari cara kerja pikiran kita sendiri dan dari ketidakpuasan kita terhadap konflik dan kemajemukan, semua wujud merindukan kesatuan; mereka rindu untuk kembali kepada Yang Esa. Lagi, ini bukanlah pendakian menuju suatu realitas yang ada di luar diri, melainkan jalan menurun menuju kedalaman pikiran kita. Jiwa mesti mengingat kembali simplisitas yang telah dilupakannya dan kembali kepada kesejatian dirinya. Karena semua jiwa dihidupkan oleh Realitas yang sama, kemanusiaan mungkin dapat diperbandingkan dengan sekelompok padua n suara yang berdiri mengelilingi seorang konduktor. Jika ada seseorang yang melantur, maka akan timbul ketidakpaduan dan ketidakselarasan. Namun, jika semua memperhatikan konduktor dan berkonsentrasi kepadanya, keseluruhan komunitas akan diuntungkan sebab “mereka akan menyanyi sebagaimana mestinya, dan sungguh-sungguh berada bersamanya.”51

Yang Esa sangat impersonal; tidak bergender dan sama sekali tidak menyadari kita. Demikian pula, Pikiran (nous) secara gramatikal adalah maskulin dan Jiwa (psyche) adalah feminin. Ini menunjukkan suatu keinginan dari Plotinus sendiri untuk mempertahankan visi kuno pagan tentang keseimbangan dan harmoni seksual. Tidak seperti Tuhan biblikal, Yang Esa tidak datang untuk menemui kita dan mem- bimbing kita pulang. Dia tidak merindukan kita, atau mencintai kita, atau mengungkapkan dirinya kepada kita. Dia tidak memiliki penge- tahuan tentang sesuatu di luar dirinya.52 Namun demikian, jiwa manusia kadang tergetar dalam pengenalan memabukkan tentang Yang Esa. Filsafat Plotinus bukan merupakan sebuah proses berlogika, melain• kan sebuah pencarian spiritual:

 

Kita di sini, demi tujuan kita, mesti mengesampingkan segala sesuatu yang lain dan menyediakan diri untuk Ini saja, menjadi Ini saja, meninggalkan semua beban; kita mesti bersegera keluar dari sini, tak sabar akan ikatan duniawi kita, untuk merangkul Tuhan dengan

segenap keberadaan kita sehingga tak ada bagian kita yang tidak tergantung kepada Tuhan. Di sana kita bisa melihat Tuhan dan diri kita sendiri terungkap: diri kita dalam kemegahan, dipenuhi cahaya Akal, atau tepatnya, cahaya itu sendiri, murni, mengapung, terbang, menjadi—pada kenyataannya, adalah—tuhan.53

 

Tuhan ini bukanlah suatu objek asing, melainkan diri kita yang terbaik. la timbul “bukan dengan cara mengetahui, bukan pula dengan Pemikiran yang menemukan wujud-wujud Akal [di dalam Pikiran atau nous], tetapi melalui suatu kehadiran (parousid) yang melampaui semua pengetahuan.”54

Kristen menemukan dirinya berada dalam sebuah dunia yang didominasi ide-ide Platonis. Semenjak itu, ketika para pemikir Kristen mencoba menjelaskan pengalaman religius mereka sendiri, secara alamiah mereka beralih kepada visi Neoplatonis dari Plotinus dan pengikut-pengikut pagannya di kemudian hari. Gagasan tentang pencerahan yang impersonal, di luar kategori-kategori manusia, dan alamiah bagi kemanusiaan juga dekat dengan cita-cita Hindu dan kaum Buddha di India, tempat yang begitu ingin dipelajari Plotinus. Denga n demikian, meski ada beberap a perbedaa n yang lebih superfisial, terdapat kemiripan nyata antara monoteisme dan visi- visi lain tentang realitas. Tampaknya ketika manusia berkontemplasi tentang yang mutlak, mereka tiba pada gagasan dan pengalaman yang sangat mirip. Rasa kehadiran, mabuk, dan gentar dalam kehadiran sebuah realitas—yang disebut nirvana, Yang Esa, Brahman, atau Tuhan—sepertinya merupakan keadaan pikiran dan persepsi yang alamiah dan tak henti-hentinya dicari manusia.

Sebagian orang Kristen memutuskan untuk menjalin hubungan persahabatan dengan dunia Yunani. Yang lainnya tidak menginginkan hubungan apa pun dengan mereka. Selama masa merebaknya penyik- saan terhadap Kristen di kekaisaran Romawi pada tahun 170-an, seorang nabi bafu bernama Montanus muncul di Phyrgia di wilayah Turki modern, yang mengaku sebagai avatar ilahi: “Akulah Tuhan yang Mahakuasa, yang turun kepada seorang manusia,” begitu pernah diucapkannya; “Aku adalah Bapa, putra, dan Perantara.” Sahabat- sahabatnya Priscilla dan Maximilla juga membuat klaim serupa.55

Montanisme merupakan kredo apokaliptik keras yang melukiskan gambaran menakutkan tentang Tuhan. Para pengikutnya bukan hanya diwajibkan berpaling dari dunia dan harus menjalani kehidupan

membujang, merek a juga diajarkan bahw a mati sebagai martir merupakan satu-satunya jalan menuju Tuhan. Kematian mereka yang mengenaskan demi iman akan mempercepat kedatangan Kristus: para martir adalah prajurit-prajurit Tuhan yang terlibat dalam pertem- puran melawan kejahatan. Kredo yang mengerikan ini menarik hati ekstremisme laten dalam semangat Kristen: Montanisme menjalar seperti kobaran api di Phyrgia, Thrace, Siria, dan Gaul. Aliran ini menjadi kuat secara khusus di Afrika Utara, yang penduduknya pernah menyemba h dewa-dew a yang menuntut pengurbana n manusia. Pemujaan mereka terhadap Baal, yang mencakup pengurbanan anak sulung, baru ditumpas oleh Kaisar pada abad kedua. Segera bid’ah itu pun menarik bagi pribadi sekaliber Tertullian, teolog terkemuka Gereja Latin. Di Timur, Clement dan Origen mengajarkan cara yang damai dan bahagia untuk kembali kepada Tuhan, tetapi di Gereja Barat ada Tuhan yang lebih menakutkan yang menuntut kematian tragis sebagai syarat kesetiaan. Pada tahapan ini, Kristen merupakan agama yang berjuang untuk tumbuh di Eropa Barat dan Afrika Utara, dan sejak awal telah terdapat kecenderungan ke arah ekstremisme dan kekerasan.

Akan tetapi, Kristen di Timur sedang membuat langkah besar, dan menjadi salah satu agama terpenting di kekaisaran Romawi pada tahun 235. Orang-orang Kristen kini berbicara tentang sebuah Gereja Agung dengan satu aturan keimanan yang jauh dari sikap ekstrem dan eksentrik. Para teolog ortodoks ini telah meninggalkan visi-visi pesimistik kaum Gnostik, Marcionis, dan Montanisme, dan mengambil jalan tengah. Kristen menjadi kredo perkotaan yang menghindari kompleksitas kultus-kultus misteri dan aksetisme yang tidak fleksibel.

la mulai memikat orang-orang berkecerdasan tinggi yang mampu mengembangkan keimanan dalam garis yang bisa dipahami oleh dunia Yunani-Romawi. Agama baru itu juga memikat kaum wanita: kitab sucinya mengajarkan bahwa di dalam Kristus tak ada istilah lelaki atau perempuan dan mengajarkan agar kaum pria menghargai istri-istri mereka sebagaimana Kristus menghargai gerejanya. Kristen memiliki semua keuntungan yang dahulu pernah membuat Yudaisme menjadi sebua h keimana n yang menarik, dikurangi keharusa n bersunat dan Hukum yang terasa asing. Orang-orang pagan terkesan oleh sistem kesejahteraan yang dikembangkan gereja-gereja dan sikap kasih sayang yang diamalkan orang Kristen satu sama lain. Dalam perjuangan panjangnya untuk selamat dari penyiksaan dari luar dan

perselisihan dari dalam, Gereja juga telah mengembangkan organisasi yang efisien, yang membuatnya nyaris seperti mikrokosmos ke- kaisaran itu sendiri: multirasial, meluas, internasional, ekumenikal, dan dijalankan oleh birokrasi yang efisien.

Begitu ia menjadi sebuah kekuatan bagi stabilitas dan memikat Kaisar Konstantin, yang menjadi penganut Kristen setelah pertempuran di Jembatan Milvian pada tahun 312, Kristen dilegalisasi pada tahun berikutnya. Orang Kristen kini bisa memiliki rumah, bebas beribadah, dan memberi sumbangsih yang nyata bagi kehidupan masyarakat. Meskipun paganisme masih berkembang selama dua abad berikutnya, Kristen menjadi agama resmi kerajaan dan mulai menarik minat pengikut-pengikut baru yang datang bergabung ke Gereja demi memperoleh kesejahteraan material. Tak lama kemudian Gereja— yang mengawali kehidupan sebagai sebuah sekte terlarang yang memohon toleransi—juga menuntut kesesuaian dengan hukum dan kredonya sendiri. Alasan kemenangan Kristen tidak jelas; tetapi pasti ia tidak akan berhasil tanpa dukungan kekaisaran Romawi, meskipun ini juga tak pelak menimbulkan persoalan sendiri. Pada puncaknya merupakan agama yang selalu dirundung malang, Kristen tak pernah benar-benar tiba pada suatu masa keemasan. Salah satu persoalan utama yang mesti dipecahkannya adalah doktrin tentang Tuhan: tak lama setelah Konstantin membawa kedamaian kepada Gereja, bahaya baru pun muncul dari dalam yang memecah Kristen menjadi kubu- kubu yang saling bermusuhan.[]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: