open mind.com weblog


Pada 742 SM, seorang anggota keluarga kerajaan Yehuda

mendapatkan penampakan Yahweh di Kuil yang dibangun

Raja Salomo di Yerusalem. Masa itu adalah saat-saat sulit bagi bangsa Israel. Raja Uzia mangkat pada tahun itu dan digantikan oleh putranya, Anas, yang memerintahkan warganya untuk me- nyembah dewa-dewa pagan selain Yahweh. Kerajaan Israel di sebelah utara berada dalam keadaan mendekati anarki: setelah kematian Raja Yerobeam II, telah lima orang raja menduduki takhta dalam selang antara 746 hingga 736 SM. Sementara itu, Tiglat-Pileser III, Raja Asyur, bernafsu betul untuk merebut wilayah Israel, yang ingin dia cakup ke dalam imperiumnya yang meluas. Pada 722, penggantinya, Raja Sargon II berhasil menaklukkan kerajaan utara dan mengusir penduduknya: sepuluh suku di utara Israel dipaksa berasimilasi dan lenyap dari sejarah, sedangkan Kerajaan Yehuda yang kecil sibuk mempertahankan diri.

Ketika Yesaya berdoa di Kuil tak lama setelah wafatnya Raja Uzia, dia barangkali juga tengah dilanda perasaan gundah; pada saat yang sama dia mungkin juga secara tidak nyaman menyadari ketidak- layakan upacara Kuil yang mewah. Meskipun Yesaya merupakan bagian dari kelas penguasa, dia memiliki pandangan demokratis dan populis serta sangat peka terhadap nasib kaum miskin. Tatkala semer- bak dupa menyebar di depan Bait Suci dan darah binatang kurban

membasahi tempat itu, Yesaya mungkin mencemaskan bahwa agama

Israel telah kehilangan integritas dan makna batinnya.

Tiba-tiba dia merasa melihat Yahweh tengah menduduki singga- sananya di langit tepat di atas Kuil, yang merupakan replika istana langitnya di bumi. Ujung jubah Yahweh memenuhi tempat suci itu dan dia dikawal dua serafim yang menutupi wajah dengan sayap- sayap mereka. Mereka berteriak satu sama lain: “Kudus, kudus, kudus- lah TUHAN semesta alam [Yahweh Sabaoth]. Seluruh bumi penuh kemuliaannya!”1 Ketika suara keduanya menggema, seluruh Kuil bergetar dan dipenuhi asap tebal, mengelilingi Yahweh dengan kabut tak tertembus, mirip awan dan asap yang menyembunyikannya dari pandangan Musa di Gunung Sinai. Ketika kita menggunakan kata

“kudus” pada masa sekarang, biasanya kita merujukkan artinya kepada suatu keadaan keunggulan moral. Namun, kata bahasa Ibrani kaddosh tidak ada kaitannya dengan moralitas semacam itu melainkan berarti

“keberbedaan”, sebuah keterpisahan radikal. Kemunculan Yahweh yang tiba-tiba di Gunung Sinai telah membentuk jurang pemisah yang sekonyong-konyong membentang antara manusia dan alam suci. Kini serafim itu berseru, “Yahweh itu berbeda! Berbeda! Ber- beda!” Yesaya telah mengalami perasaan numinous yan g pada waktu tertentu menghinggapi manusia dan memenuhi mereka dengan keka- guman serta kegentaran.

Dalam karya klasiknya, The Idea of the Holy, Rudolf Otto melukis- kan pengalaman tentang realitas transenden yang mencekam ini sebagai mysterium terribile et fascinans. Pengalaman itu terribile karena biasanya muncul sebagai kejutan dahsyat yang memutuskan kita dari kenormalan yang menyejukkan dan fascinans karena, aneh- nya, ia menyimpan pesona yang tak tertahankan. Tak ada yang ra- sional di dalam pengalaman luar biasa ini, yang oleh Otto diperban- dingkan dengan musik atau erotika: emosi yang ditimbulkannya tidak bisa secara memadai diungkapkan dalam kata-kata maupun konsep. Sesungguhnya, perasaan tentang sesuatu yang Sepenuhnya Berbeda ini bahkan tidak dapat dikatakan “ada” karena ia tidak memiliki tem• pat di dalam skema realitas kita yang normal.2 Konsep baru tentang Yahweh pada Zaman Kapak memang masih sebagai “dewa para tentara” (sabaoth), tetapi tidak lagi semata-mata menjadi dewa perang. Tidak pula sebagai tuhan kesukuan, yang dengan bergairah mencurah- kan seluruh kasihnya kepada Israel: kemuliaannya tidak lagi terbatas pada Tanah yang Dijanjikan, tetapi telah melingkupi seluruh bumi.

Yesaya bukanlah Buddha yang mengalami pencerahan pembawa ketenteraman dan kedamaian. Dia tidak menjadi guru umat manusia yang disempurnakan . Sebaliknya dia justru dipenuhi oleh teror kematian, dan menjerit:

 

Celakalah aku! aku binasa!

Sebab aku ini seorang yang najis bibir,

dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir,

namun aku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam

[Yahweh Sabaoth].3

 

Dicengkeram oleh kesucian transenden Yahweh, yang dia ingat hanyalah ketaklayakan dan ketaksucian ritualnya sendiri. Tidak seperti Buddha atau seorang Yogi, dia tidak mempersiapkan dirinya untuk menyongsong pengalaman ini melalui serangkaian latihan spiritual. Pengalaman itu terjadi padanya secara tiba-tiba dan dia sepenuhnya terkesima oleh pengaruhnya yang meluluhkan. Salah satu serafim terbang ke arahnya dengan membawa bara pijar dan membersihkan bibirnya sehingga dia bisa melafalkan firman Tuhan. Banyak nabi yang tidak bersedia untuk berbicara atas nama Tuhan atau tidak mampu melakukan hal itu. Ketika Tuhan berseru kepad a Musa, prototipe semua nabi, dari Semak Menyala dan memerintahkannya untuk menjadi utusannya bagi Firaun dan Bani Israel, Musa ber- keberatan karena dia “berat mulut dan berat lidah.”4 Tuhan mem- bebaskannya dari satu tugas itu dan mengizinkan saudaranya, Harun, untuk berbicara atas nama Musa. Corak yang lumrah dalam kisah- kisah tentang tugas kenabian ini menyimbolkan sulitnya melafalkan firman Tuhan. Para nabi tidak berhasrat untuk menyiarkan pesan Tuhan dan merasa enggan untuk menjalankan misi yang berat dan melelahkan ini. Dengan demikian, transformasi Tuhan Israel menjadi simbol kekuatan transenden takkan berupa proses yang tenang dan menyejukkan, melainkan sarat penderitaan dan perjuangan.

Orang Hindu takkan pernah menggambarkan Brahman sebagai raja agung karena Tuhan mereka ticlak bisa dideskripsikan dalam terma-terma kemanusiaan semacam itu. Kita harus berhati-hati untuk tidak menginterpretasikan kisah tentang pengalaman Yesaya melihat Yahweh secara sangat harfiah: itu pada hakikatnya merupakan upaya mendeskripsikan “sesuatu” yang tak terdeskripsikan. Yesaya secara instingtif bersandar kepada tradisi-tradisi mitologis bangsanya untuk

menghadirkan kepada pendengarnya beberapa gagasan mengenai apa yang telah terjadi pada dirinya. Mazmur acap mendeskripsikan Yahweh bertakhta di kuilnya sebagai raja, seperti halnya Baal, Marduk, dan Dagon,5 dewa-dewa bangsa tetangga mereka yang juga bertakhta sebagai raja di kuil-kuil mereka yang serupa. Namun, di bawah gambaran mitologis ini, suatu konsepsi tentang realitas tertinggi yang agak berbeda mulai muncul di Israel: pengalaman dengan Tuhan ini merupakan pertemuan dengan seseorang. Meskipun terdapat keber- bedaan yang mencolok, Yahweh bisa berbicara dan Yesaya juga bisa menjawab. Lagi-lagi, hal ini nyaris tidak dapat dikonsepsikan oleh para guru Upanishads, karena ide tentang berdialog atau bertemu dengan Brahman-Atman merupakan bentuk antropomorfis yang tidak layak.

Yahweh bertanya: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Dan, seperti pendahulunya Musa, Yesaya segera menjawab: “Ini aku! [hineni!], utuslah aku!” Tema pokok visi ini bukanlah untuk mencerahkan nabi, tetapi memberinya tugas praktis untuk dipikul. Pada dasarnya, nabi adalah manusia yang bertindak mewakili Tuhan, namun pengalaman transendensi ini tidak berakibat pada penanaman pengetahuan—sebagaimana dalam Buddhisme— tetapi pada perbuatan. Nabi tidak disifati oleh iluminasi mistikal, tetapi oleh ketaatan. Sebagaimana dapat diperkirakan, risalah tidak pernah merupakan hal yang mudah. Dengan paradoks tipikal Semitik, Yahweh berfirman kepada Yesaya bahwa manusia tidak akan rae- nerima risalahnya: dia tidak boleh kecewa jika mereka menolak firman Tuhan. “Pergilah dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan!”6

Tujuh ratus tahun kemudian, Yesus (Isa) akan mengutip kata- kata ini ketika orang menolak mendengarkan risalahnya yang tak kalah keras.7 Manusia memang tidak bisa menanggung terlalu banyak realitas. Orang Israel pada zaman Yesaya tengah berada di ambang peperangan dan kepunahan, tapi Yahweh tidak menyampaikan pesan yang menggembirakan hati mereka: kota-kota mereka akan dirusak, perkampungan diporakporandakan, dan rumah-rumah dikosongkan dari penghuninya. Yesaya sempat menyaksikan kehancuran kerajaan utara pada 722 SM dan deportasi sepuluh suku Israel utara. Pada

701, Sanherib menginvasi Kerajaan Yehuda bersama sekelompok besar tentara Asyur, mengepung empat puluh kota dan benteng-

bentengnya, menembus pertahanannya, mendeportasikan sekitar dua ribu orang, dan memenjarakan raja Yahudi di Yerusalem “bagaikan burung dalam sangkar.”8 Yesaya menjalankan tugas tanpa pamrih untuk memperingatkan umatnya akan petaka yang tak terhindarkan ini:

 

… sehingga hampir seluruh negeri menjadi kosong.

Dan jika di situ masih tinggal sepersepuluh dari mereka, mereka harus sekali lagi ditimpa kebinasaan, namun keadaannya akan seperti pohon beringin dan poho n jawi-jawi yang tunggulnya tinggal berdiri pada waktu ditebang.9

 

Tidaklah sulit bagi pengamat politik yang jeli untuk meramalkan malapetaka ini. Apa yang jelas-jelas orisinal dalam risalah Yesaya adalah analisisnya atas situasi itu. Tuhan Musa yang partisan tentu akan mendudukka n Asyur dalam posisi musuh; Tuhan Yesaya memandang Asyur sebagai alatnya. Bukan Sargon II dan Sanherib yang akan mengusir orang Israel ke pengasingan dan meluluh- lantakkan negeri. Akan tetapi, Yahwehlah yang “akan menyingkirkan manusia jauh-jauh.”10

Ini adalah sebuah tema yang terus muncul dalam risalah nabi- nabi Zaman Kapak. Tuhan Israel pada awalnya telah membedakan dirinya dari dewa-dewa pagan dengan cara menampakkan dirinya dalam peristiwa-peristiwa langsung yang konkret, bukan dalam mitologi dan liturgi. Kini, nabi-nabi baru mengajarkan bahwa bencana maupu n kemenangan politik menampakkan Tuhan yang menjadi penguasa dan pemilik sejarah. Semua bangsa berada dalam geng- gamannya. Asyur pada suatu saat akan tiba pada masa keruntuhannya hanya karena para rajanya tidak menyadari bahwa mereka cuma alat

di tangan suatu wujud yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.11

Karena Yahweh telah meramalkan kehancuran total Asyur, sayup- sayup terbit harapan tentang masa depan. Namun, tak ada seorang Israel pun yang berkeinginan mendengar berita bahwa bangsanya sendiri yang telah mengakibatkan kehancuran politik mereka sendiri melalui kebijakan-kebijakan picik dan perilaku eksploitatif. Tak seorang pun yang senang mendengar bahwa Yahweh telah men- dalangi keberhasilan serangan Asyur pada tahun 722 dan 701, dan dia pula yang memimpin pasukan Yosua, Gideon, dan Raja Daud. Apa yang dia kira telah dilakukannya terhadap Bangsa Pilihannya?

Tak ada pemenuhan harapan dalam penggambaran Yesaya tentang Yahweh. Alih-alih menawarkan penyembuh kepada manusia, Yahweh justru membuat manusia berhadapa n dengan realitas yang tidak diharapkan. Bukannya berlindung dalam penunaian kultus lama yang memproyeksikan manusia kembali ke zaman mitikal, nabi-nabi seperti Yesaya mencoba membuat bangsanya melihat langsung peristiwa- peristiwa historis aktual dan menerimanya sebagai dialog yang menggentarkan dengan Tuhan mereka.

Jika Tuhan Musa adalah sang Penakluk, Tuhan Yesaya sarat de• ngan kesedihan. Kenabian, sebagaimana diturunkan kepada kita, dimulai dengan ratapan yang sangat tidak menyenangkan bagi orang- orang yang terlibat perjanjian: lembu dan keledai mengenal siapa tuannya, “tetapi Israel tidak … umat-Ku tidak memahaminya.”12

Yahweh sungguh telah muak dengan hewan-hewan kurban di kuil, dibuat jemu oleh lemak dan darah sapi maupun kambing dengan bau busuk darah yang tercium dari tempat pembakaran. Dia tidak suka pesta-pesta mereka, upacara-upacara tahun baru, dan ziarah yang mereka lakukan.13 Tentu saja, ungkapan semacam ini akan sangat mengejutkan audiens Yesaya: di Timur Tengah, perayaan- perayaan kultus semacam ini merupakan esensi agama. Dewa-dewa pagan sangat bergantung kepada upacara-upacara itu untuk me- mulihkan energi mereka yang menipis; gengsi mereka sebagiannya tergantung pada kemegahan kuil-kuil mereka. Kini Yahweh secara aktual telah mengatakan bahwa hal-hal seperti itu sama sekali tak bermakna. Sebagaimana para guru dan filosof lain di dunia ber- peradaban (Oikumene), Yesaya merasa bahwa ibadah lahiriah tidaklah memadai. Orang Israel mesti menemukan makna batin agama mereka. Yahweh lebih menghendaki kasih sayang daripada pengurbanan:

 

 

Bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa,

Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.

Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat

dari depan mata-Ku.

Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; Usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam;

belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!14

Nabi-nabi telah mendapatkan kewajiban untuk mengasihi sesama, yang akan merupakan ciri khas semua agama besar yang tumbuh di Zaman Kapak. Semua ideologi baru yang berkembang di dunia ber- peradaba n selama period e ini menekanka n bahw a tolok uku r autentisitas terletak pada keberhasilan mengintegrasikan pengalaman keagamaan dengan kehidupan sehari-hari. Sudah tak memadai lagi untuk membatasi ibadah kepada Kuil dan alam mitos yang ekstra- temporal. Setelah beroleh pencerahan, seorang manusia harus segera kembali ke kesibukan dunia dan mempraktikkan kebaikan kepada semua makhluk.

Cita-cita sosial para nabi telah implisit dalam kultus terhadap Yahweh sejak di Sinai: kisah Pembebasan telah menekankan bahwa Tuhan berada di pihak yang lemah dan tertindas. Perbedaannya adalah bahwa kini orang-orang Israel sendiri yang berperan menjadi penindas. Pada masa visi kenabian Yesaya, dua orang nabi lainnya telah juga menyebarkan risalah yang sama di kerajaan utara yang tengah dilanda kekacauan. Pertama adalah Amos, yang bukan aris- tokrat seperti Yesaya melainkan hanya seorang peternak yang pada mulanya tinggal di Tekoa, sebuah tempat di kerajaan selatan. Sekitar tahun 752, Amos juga telah ditundukkan oleh sebuah perintah yang tiba-tiba mengharuskannya pergi ke kerajaan Israel di utara. Dia secara mendadak masuk ke kuil tua Betel dan memorakporandakan upacara di sana dengan ramalan tentang bencana. Amazia, pendeta Betel, mencoba mengusimya. Kita bisa mendengar bentakan penguasa arogan yang mencaci peternak tak dikenal itu. Dia menyangka Amos adalah salah seorang penubuat yang suka berkeliling secara berke- lompok untuk mencari nafkah dari meramal nasib orang. “Pelihat, pergilah,” Amazia berkata dengan nada menghina, “enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makananmu di sana! Tetapi jangan lagi ber- nubuat di Betel, sebab inilah tempat kudus raja, inilah bait suci kerajaan.” Tidak bergeming, Amos berdiri tegak dan menjawab dengan tegas bahwa dia tidak termasuk golongan penubuat tetapi mendapat mandat langsung dari Yahweh: “Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. Tetapi, TUHAN mengambil aku dari peker- jaan menggiring domba, dan TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel.”15 Jadi, orang-orang Betel tidak ingin mendengar pesan Yahweh? Baiklah, tetapi dia mempunyai ramalan lain buat mereka: istri-istri mereka akan bergelimang di

jalan-jalan dan anak-anak mereka akan ditebas pedang, dan mereka sendiri akan mati di pengasingan, jauh dari tanah Israel.

Kesendirian adalah esensi kenabian. Figur seperti Amos hidup sendirian; dia telah terputus dari ritme dan tugas-tugas masa lalu. Ini bukanlah sesuatu yang telah dipilihnya, melainkan sesuatu yang terjadi pada dirinya. Tampak seolah-olah dia telah dicerabut dari pola kesadaran yang normal dan tidak bisa lagi melakukan pengen- dalian diri yang biasa. Dia dipaksa menjalankan misi kenabian, entah dia menginginkannya atau tidak. Seperti diungkapkan Amos:

 

Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut?

TUHAN Allah telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?16

 

Amos belum terserap ke dalam nirvana peniadaan diri seperti Buddha; sebaliknya, Yahweh telah mengambil tempat egonya dan menggiringnya ke dunia lain. Amos adalah yang pertama di antara para nabi yang menekankan pentingnya keadilan sosial dan kasih sayang. Sebagaimana Buddha, dia sangat sadar akan pedihnya pen- deritaan manusia. Dalam ramalan Amos, Yahweh berbicara atas nama kaum tertindas, menyuarakan mereka yang tak mampu bersuara, dan mengurangi penderitaan orang-orang miskin. Pada baris pertama ramalannya, seperti yang sampai kepada kita, Yahweh berseru dengan keras dari Kuilnya di Yerusalem saat merenungkan kesengsaraan seluruh negeri di Timur Dekat, termasuk Yehuda dan Israel. Orang Israel sebenarnya sama jeleknya dengan goyim, orang non-Yahudi: mereka mungkin saja bisa bersikap acuh tak acuh terhadap kesulitan dan penderitaan kaum miskin, namun Yahweh tidak demikian. Dia memperhatikan setiap kecurangan, eksploitasi, dan tarikan napas tanpa kasih sayang: “TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: ‘Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuata n mereka.’”1 7 Apakah mereka benar-bena r telah kehilangan akal sehingga menanti Hari Tuhan, ketika Yahweh akan mengagungkan Israel dan menghinakan goyim! Mereka terperanjat:

“Apakah gunanya hari TUHAN itu bagimu? Hari itu kegelapan, bukan terang!”18 Mereka mengira sebagai Umat Pilihan Tuhan? Mereka telah salah memahami makna perjanjian, yang berarti tanggung jawab, bukan hak istimewa: “Dengarlah firman ini, yang diucapkan TUHAN tentang kamu, hai orang Israel!” teriak Amos, “tentang segenap kaum yang telah Kutuntun keluar dari tanah Mesir:

Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi,

sebab itu, Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.”19

 

Perjanjian itu mengandung arti bahwa semua orang Israel adalah pilihan Tuhan dan, karena itu, harus diperlakukan secara layak. Tuhan tidak sekadar campur tangan dalam sejarah untuk memenangkan Israel, melainkan untuk menegakkan keadilan sosial. Inilah jaminan Tuhan dalam sejarah dan, jika diperlukan, dia akan menggunakan tentara Asyur untuk menegakkan keadilan di buminya sendiri.

Tidak mengherankan, kebanyakan orang Israel menolak ajakan nabi untuk masuk ke dalam dialog dengan Yahweh. Mereka lebih suka agama kultus yang tak banyak syarat, entah di Kuil Yerusalem atau dalam kultus-kultus kesuburan Kanaan. Demikianlah keadaannya untuk seterusnya: agama kasih sayang hanya dianut oleh segelintir orang; kebanyakan penganut agama sudah puas dengan sekadar peribadatan yang bersifat lahiriah di sinagoga, gereja, kuil, dan masjid. Agama Kanaan kuno masih berkembang di Israel. Pada abad ke- sepuluh, Raja Yerobeam I mendirikan dua patung anak lembu di tempat kudus Dan dan Betel. Dua ratus tahun kemudian, orang Israel masih ikut dalam ritus-ritus kesuburan dan upacara seks suci

di sana, sebagaimana kita lihat dalam ramalan Hosea, yang sezaman dengan Amos.20 Sebagian orang Israel tampak berpendapat bahwa Yahweh mempunyai seorang istri, seperti halnya dewa-dewa lain: para arkeolog belakangan ini telah menemukan prasasti yang dituju- kan “Kepada Yahweh dan Asyeranya.” Hosea merasa amat terganggu oleh kenyataan bahwa orang Israel melanggar pasal-pasal perjanjian dengan menyembah tuhan-tuhan lain, seperti Baal. Sebagaimana semua nabi baru, Hosea menaruh perhatian terhadap makna batiniah agama. Dia membuat Yahweh berfirman: “Sebab aku menyukai kasih

[hesed], dan bukan kurban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah [daath Elohim], lebih daripada kurban-kurban bakaran.”21

Yang dimaksudkannya bukanlah pengetahuan teologis: kata daath berasal dari kata kerja dalam bahasa Ibrani yada (mengenal) yang memiliki konotasi seksual. Sebagaimana J menyatakan bahwa Adam

“mengenal” istrinya, Hawa.22 Dalam agama orang Kanaan kuno, Baal

mengawini bumi dan manusia merayakan ini dengan ritual orgi, tetapi Hosea bersikeras bahwa sejak adanya perjanjian itu, Yahweh telah menggantikan posisi Baal dan mengawini orang Israel. Mere• ka harus mengerti bahwa Yahwehlah, bukan Baal, yang membawa

kesuburan tanah.23Dia masih merayu Israel seperti seorang pencinta, bertekad untuk memikatnya dan memalingkannya dari Baal yang telah menggodanya:

 

Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, engkau akan memanggil Aku: Suamiku,

dan tak lagi memanggil Aku: Baalku!

Lalu Aku menjauhkan nama para Baal dari mulutmu, maka nama mereka tidak lagi disebut.24

 

Jika Amos menyerang kejahatan sosial, Hosea justru memikirkan hilangnya dimensi batin dalam agama orang Israel: “pengenalan” Tuhan dikaitkan dengan “hesed”, yang menyiratkan penyesuaian batin dan kelekatan dengan Yahweh yang mesti melebihi ketaatan lahiriah.

Hosea memberi kita wawasan mengejutkan tentang cara para nabi mengembangkan gambaran mereka tentang Tuhan. Pada awal kariernya, Yahweh tampaknya telah mengeluarkan sebuah perintah yang mengejutkan. Dia menyuruh Hosea untuk pergi dan mengawini seorang pelacur (esheth zeuunim), karena seluruh negeri telah

“bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN.”25 Akan tetapi,

tampaknya Tuhan tidak memerintahkan Hosea untuk menyusur jalan mencari seorang perempuan sundal: esheth zeuunim (secara harfiah, berarti “seorang istri pelacur”) bisa berarti seorang perempuan dengan temperamen yang siap bersetubuh dengan siapa saja atau seorang pelacur bakti dalam kultus kesuburan. Dengan keterlibatan Hosea dalam ritual-ritual kesuburan, maka istrinya, Gomer, tampaknya telah menjadi salah seorang tokoh suci dalam kultus Baal. Dengan demikian, perkawinannya merupakan simbol hubungan Yahweh dengan Israel yang tak beriman. Hosea dan Gomer mempunyai tiga anak, yang diberi nama simbolik dan penting. Anak tertua bernama Yizreel, mengambil nama peristiwa perang yang terkenal. Anak perempuan mereka diberi nama Lo-Ruhama (Yang tak Disayangi), dan adik lelakinya diberi nama Lo-Ami (Bukan Umat-Ku). Pada saat kelahiran anak ketiga ini, Yahweh telah membatalkan perjanjian dengan Israel:

“Kamu ini bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu.”26 Kita

akan menyaksikan bahwa nabi-nabi sering terilhami untuk mem- berikan contoh-contoh drama kehidupan guna menjelaskan keadaan sulit umat mereka, tetapi tampaknya perkawinan Hosea tidak secara

lengkap direncanakan sejak awal. Naskah itu menjelaskan bahwa Gomer belum menjadi esheth zeuunim kecuali setelah anak-anak mereka lahir. Hanya setelah berlalu banyak peristiwa baru menjadi jelas bagi Hosea bahwa perkawinannya merupakan inspirasi dari Tuhan. Kematian istrinya merupakan pengalaman menyakitkan yang menyadarkan Hosea tentang apa yang dirasakan Yahweh pada saat umatnya meninggalkan dirinya dan mencintai tuhan-tuhan lain seperti Baal. Pada mulanya Hosea tergoda untuk mencela Gomer dan tidak mau lagi ada hubunga n apa-apa denga n dia: memang, huku m menetapkan bahwa seorang pria harus menceraikan istrinya yang tak beriman. Tetapi Hosea masih mencintai Gomer, dan pada akhirnya dia mencarinya lalu menebusnya dari majikannya yang baru. Hosea mempunyai hasrat sendiri untuk memenangkan Gomer kembali sebagai simbol bahwa Yahweh mau memberi kesempatan kedua bagi Israel.

Ketika para nabi menisbahkan pengalaman dan perasaan ke- manusiaan mereka sendiri kepada Yahweh, dalam pengertian tertentu mereka berarti telah menciptakan sebuah ilah dalam citra mereka sendiri. Yesaya, anggota keluarga kerajaan, melihat Yahweh sebagai raja; Amos menisbahkan rasa empatinya terhadap kaum miskin kepada Yahweh; Hosea memandang Yahweh sebagai suami yang mencerai• kan, tetapi terus merindukan istrinya. Semua agama berawal dari antropomorfisme dalam kadar tertentu. Suatu ilah yang sangat jauh dari kemanusiaan, seperti dilukiskan oleh konsep Aristoteles tentang Penggerak yang Tidak Digerakkan, tidak dapat mengilhami pencarian spiritual. Selama proyeksi semacam ini tidak menjadi tujuan dalam dirinya sendiri, ia akan tetap berguna dan memberi manfaat. Harus dikatakan bahw a lukisan imajinatif tentang Tuhan dalam terma kemanusiaan seperti ini telah mengilhami keprihatinan sosial yang tidak terdapat di dalam Hinduisme. Ketiga agama teistik ini ikut rae- miliki ciri etika sosialis-egalitariannya Amos dan Yesaya. Orang Yahudi merupakan umat pertama dari dunia kuno yang menegakkan sebuah sistem kesejahteraan yang dikagumi oleh para tetangga pagan mereka.

Seperti semua nabi lain, Hosea dibayangi oleh horor penyembah- an berhala. Dia merenungkan kemarahan ilahi yang mungkin akan ditimpakan kepada suku-suku di sebelah utara karena mereka me- nyembah tuhan-tuhan yang mereka ciptakan sendiri:

Sekarang pun mereka terus berdosa,

dan membuat baginya patung tuangan dari perak

dan berhala-berhala sesuai dengan kecakapan mereka;

semuanya itu buatan tukang-tukang. Persembahkanlah kurban kepadanya! kata mereka, Baiklah manusia mencium anak-anak lembu!27

 

Ini deskripsi yang tidak adil dan reduktif tentang agama orang Kanaan. Orang Kanaan dan Babilonia tidak pernah meyakini bahwa patung-patung dewa mereka itu suci dengan sendirinya; mereka tidak pernah membungkuk untuk menyembah sebuah patung tout court. Patung itu adalah sebuah simbol ketuhanan. Seperti halnya mitos-mitos mereka tentang peristiwa-peristiwa primordial yang tak bisa dibayangkan , patung-patun g itu sebenarnya dibuat untu k mengarahkan perhatian penyembah melampaui diri mereka sendiri. Patung Marduk di Kuil Esagila dan tugu batu Asyera di Kanaan tidak pernah dipandang identik dengan tuhan-tuhan, namun sekadar fokus yang membantu orang memusatkan perhatian kepada unsur transen- den dalam kehidupan manusia. Sungguhpun demikian, para nabi sering mencela tuhan-tuhan tetangga pagan mereka dengan penghi- naan yang sangat buruk. Tuhan-tuhan buatan ini, dalam pandangan mereka, tidak lebih dari sekadar emas dan perak; mereka ditempa oleh seorang pandai besi dalam waktu beberapa jam; mereka punya mata tetapi tidak bisa melihat, telinga yang tidak bisa mendengar; mereka tidak dapat melangkah dan malah harus diangkat oleh penyembah mereka; mereka kasar dan bodoh, lebih rendah daripada manusia, tidak lebih baik dari orang-orangan untuk menakut-nakuti burung di kebun mentimun. Dibandingkan dengan Yahweh, elohim Israel, mereka adalah elilim, Tiada. Kaum goyim yang menyembah mereka adalah orang-orang bodoh dan Yahweh membenci mereka.28

Pada masa sekarang, kita begitu akrab dengan intoleransi yang sayangnya telah menjadi karakteristik monoteisme sehingga kita tidak memandang permusuhan terhadap tuhan-tuhan lain seperti ini sebagai sikap keagamaan yang baru. Paganisme pada dasarnya merupakan sebuah keyakinan yang toleran: kultus-kultus lama tidak merasa teran- cam oleh kedatangan tuhan baru, selalu ada ruang bagi tuhan-tuhan lain di dalam kuil untuk berjejer bersama sesembahan tradisional. Bahkan ketika ideologi baru Zaman Kapak menggantikan penyembah- an tuhan-tuhan lama, tidak terdapat penolakan yang kasar terhadap

dewa-dewa kuno. Kita telah melihat bahwa di dalam Hinduisme dan Buddhisme, orang dianjurkan untuk melampaui dewa-dewa daripada mencaci mereka. Namun, nabi-nabi Israel tidak mampu mengambil sikap lunak terhadap dewa-dewa yang mereka pandang sebagai saingan Yahweh. Dalam kitab suci Yahudi, dosa “pemberhalaan”, penyembahan tuhan-tuhan “palsu”, dianggap menjijikkan. Ini adalah reaksi yang, mungkin, mirip dengan kebencian yang dirasakan seba- gian Bapa Gereja terhadap seksualitas. Dengan demikian, itu bukan reaksi yang rasional dan penuh pertimbangan, melainkan ungkapan kecemasan mendalam dan ketakutan. Apakah nabi-nabi ini mem- punyai kekhawatiran terpendam tentang perilaku keagamaan mereka sendiri? Apakah mereka, barangkali, secara tak nyaman menyadari bahw a konsepsi mereka sendiri tentang Yahweh serupa dengan berhala kaum pagan, karena mereka menciptakan tuhan dalam citra mereka sendiri?

Perbandingan dengan sikap orang Kristen terhadap seksualitas dapat menerangkan hal yang lain. Dalam soal ini, kebanyakan orang Israel secara implisit percaya kepada eksistensi tuhan-tuhan pagan. Adalah benar bahwa lambat laun Yahweh mengambil alih fungsi Elohim orang Kanaan dalam beberapa hal: Hosea, misalnya, mencoba berargumentasi bahwa Yahweh merupakan dewa kesuburan yang lebih baik daripada Baal. Namun, jelas sulit bagi Yahweh yang telah terlanjur dikonsepsikan dalam citra maskulin untuk mengambil alih fungsi dewi semacam Asyera, Isytar, dan Anat, yang masih memiliki banyak penganut di kalangan orang Israel, terutama yang perempuan. Walaupun kaum monoteis akan bersikeras bahwa Tuhan mereka melampaui batasan gender, dia tetap pada dasarnya lelaki, meski kita akan saksikan ada beberapa kalangan yang mencoba mem- perbaiki ketidakseimbangan ini. Hal ini sebagian karena akarnya sebagai dewa perang kesukuan. Namun demikian, perselisihan soal ini merefleksikan karakter yang kurang positif dari Zaman Kapak, yang secara umum memandang rendah status perempuan.

Tampaknya di dalam masyarakat yang lebih primitif, perempuan terkadang memiliki status lebih tinggi daripada laki-laki. Prestise dewi-dewi besar dalam agama tradisional merefleksikan penghor- matan terhadap kaum perempuan. Akan tetapi, tumbuhnya perkotaan membuat kualitas-kualitas maskulin, seperti kekuatan fisik dan per- tahanan diri lebih dihargai daripada karakteristik feminin. Sejak saat itu, kaum perempuan mulai terpinggirkan dan menjadi warga kelas

dua dalam peradaban baru Oikumene. Posisi mereka sangat jelek di Yunani, misalnya—sebuah fakta yang hams diingat oleh Barat bila mereka mencela perilaku paternalistik orang Timur. Cita-cita demo- kratis tidak menjangkau kaum perempuan di Athena, yang hidup dalam keterkucilan dan dihinakan sebagai makhluk inferior. Masyara- kat Israel juga menjadi lebih bernada maskulin. Pada masa-masa awal, kaum perempuan memiliki kekuatan dan dapat menempatkan diri mereka sejajar dengan suami mereka. Beberapa di antaranya, seperti Deborah, telah memimpin pasukan di medan perang. Orang Israel selalu mengagungkan pahlawan-pahlawan perempuan mereka, seperti Judith dan Ester, tetapi setelah Yahweh berhasil mengalahkan dewa-dewi Kanaan dan Timur Tengah kemudian menjadi satu-satunya Tuhan, agamanya dikelola hampir secara keseluruhan oleh kaum pria. Kultus dewi-dewi menyurut, dan ini merupakan gejala perubahan kultural yang mencirikan dunia peradaban baru.

Kita akan melihat bahwa kemenangan Yahweh diraih dengan susah payah. Kemenangan itu melibatkan penderitaan, kekerasan, dan konfrontasi, serta memperlihatkan bahwa agama bam dengan Tuhan Yang Esa tidak datang dengan mudah kepada orang Israel seperti Buddhisme atau Hinduisme datang kepada masyarakat Anak Benua India. Yahweh tampaknya tidak mampu mentransendensikan tuhan-tuhan yang lebih tua dalam cara yang damai dan alamiah. Dia hams melawan habis semuanya. Karena itu, dalam Mazmur 82 kita menyaksikan dia membuat ketentuan tentang kepemimpinan Majelis Suci yang telah memainkan peran penting di dalam mitos orang Babilonia maupun Kanaan:

 

Yahweh mengambil posisi dalam Majelis El

untuk membuat keputusan di kalangan para allah.29

“Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik?

Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang yang sengsara dan orang yang kekurangan! Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!”

Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa, dalam kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala dasar bumi.

Aku sendiri telah berfirman: “Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi [El Elyon] kamu sekalian. Namun, seperti manusia kalian akan mati dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas.”

Ketika dia berdiri untuk menghadang Majelis yang telah dipimpin oleh El sejak zaman yang tak lagi bisa diingat, Yahweh menuduh tuhan-tuhan lain gagal memenuhi tantangan sosial pada masanya. Dia menampilkan etos kasih sayang modern para nabi, tetapi kolega- kolega sucinya tidak berbuat apa-apa untuk menegakkan keadilan dan persamaan selama bertahun-tahun. Pada masa-masa kuno , Yahweh telah dipersiapkan untuk menerima mereka sebagai Elohim, anak-anak El Elyon (“Yang Mahatinggi”),30 namun kini dewa-dewa itu telah membuktikan bahwa mereka telah usang. Mereka akan layu seperti manusia yang tidak abadi. Penulis Mazmur tidak saja menggambarkan Yahweh mengutuk sesamanya, melainkan dalam melakukan itu dia juga telah mengambil alih hak prerogratif tradisional

El, yang, tampaknya, masih memiliki karisma di Israel.

Meskipun ada penekanan yang begitu keras yang terdapat dalam Alkitab, sebenarnya tak ada yang keliru dalam penyembahan berhala, per se. ia baru menjadi sesuatu yang bisa ditolak atau dianggap naif ketika citra tentang Tuhan yang dikonstruksikan secara amat hati- hati, dibaurkan dengan realitas tak terucap yang kepadanya ia me- rujuk. Kita akan menyaksikan bahwa dalam sejarah Tuhan yang kemu- dian, sebagian orang Yahudi, Kristen, dan Muslim menggunakan gambaran lama tentang realitas mutlak ini dan tiba pada sebuah konsepsi yang lebih dekat dengan visi Hindu atau Buddha. Namun, yang lainnya tidak pernah berhasil untuk menempuh langkah ini, tetapi berasumsi bahwa konsepsi mereka tentang Tuhan identik dengan misteri yang sangat luar biasa.

Bahaya religiusitas “keberhalaan” menjadi jelas sekitar tahun 622

SM selama masa pemerintahan Raja Yosia dari Yehuda. Dia ingin mengubah kebijakan sinkretik pendahulunya, Raja Manasye (687-

42) dan Raja Amon (642-40) yang telah menganjurkan rakyatnya untuk menyembah dewa-dewa Kanaan selain Yahweh. Manasye telah menempatkan sebuah berhala untuk Asyera di Kuil, yang di dalamnya telah banyak dijalankan kultus kesuburan. Karena banyak orang Israel setia kepada Asyera dan sebagian ada yang menganggapnya sebagai istri Yahweh, hanya penganut Yahwis yang sangat ketat yang me- mandang ini sebagai penyimpangan. Namun, karena bertekad untuk meningkatkan pemujaan terhadap Yahweh, Yosia memutuskan untuk mengadakan perbaikan besar-besaran di Kuil. Sementara para pekerja sedang sibuk membongkar bagian-bagian bangunan Kuil, Imam Besar Hilkia dikabarkan telah menemukan sebuah naskah kuno yang diduga

merupakan tulisan tentang pidato perpisahan Musa kepada anak- anak Israel. Dia memberikan naskah itu kepada sekretaris Yosia, Safan, yang membacanya dengan suara keras di hadapan raja. Ketika mendengar hal itu, raja muda tersebut menyobek bajunya karena ketakutan: tak heran jika Yahweh telah begitu murka kepada para pendahulunya! Mereka semua telah gagal total untuk mematuhi perintah-perintah yang disampaikannya melalui Musa.31

Hampir bisa dipastikan bahwa “Kitab Hukum” yang ditemukan oleh Hilkia itu adalah inti dari naskah yang kini kita kenal sebagai Kitab Ulangan. Ada berbagai teori tentang “penemuan”-nya yang tepat waktu oleh kelompok pembaru. Beberapa di antaranya bahkan menduga bahwa naskah itu ditulis secara rahasia oleh Hilkia dan Safan sendiri dengan bantuan nabi perempuan Hulda, yang segera dimintakan pendapatnya oleh Yosia. Kita tak pernah mengetahui persisnya, tetapi naskah itu sungguh merefleksikan kekerasan pen- dirian yang sama sekali baru di Israel, yang juga merefleksikan per- spektif abad ketujuh. Dalam pidato perpisahannya, Musa diperlihatkan meletakkan sentralitas baru terhadap perjanjian dan gagasan tentang keterpilihan Israel. Yahweh telah memilih umatnya di antara semua bangsa lain, bukan karena kelebihan yang mereka miliki tetapi semata- mata atas dasar cintanya yang besar. Sebagai balasannya, dia menuntut kesetiaan penuh dan penolakan tegas terhadap semua tuhan lain. Inti Kitab Ulangan mencakup deklarasi yang kemudian menjadi kesak- sian iman orang-orang Yahudi:

 

 

Dengarkan [shema], hai orang Israel! TUHAN adalah Allah kita, TUHAN itu esa [ebad]! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan.32

 

Pilihan Tuhan telah menempatkan Israel berbeda dari goyim,

sehingga, sang pengarang membuat Musa bersabda, agar ketika tiba

di Tanah yang Dijanjikan mereka tidak berurusan dengan para pen- duduk asli. “Jangan mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah mengasihani mereka.”33 Tidak boleh ada perkawinan antar- mereka dan interaksi sosial. Di atas segalanya, mereka harus menyapu bersih agama Kanaan: “mezbah-mezbah mereka haruslah kamu roboh- kan, tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mere•

ka kamu hancurkan dan patung-patung mereka kamu bakar habis,

perintah Musa kepada orang-orang Israel, “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. “34

Ketika menyebut kembali Shema pada masa sekarang, orang Yahudi memberinya interpretasi monoteistik: Yahweh Allah kami yang Satu dan unik. Tradisi Deuteronomis belum lagi mencapai perspektif ini. “Yahweh ehad” tidak berarti Allah itu Esa, melainkan bahwa Yahweh adalah satu-satunya allah yang diizinkan untuk di- sembah. Tuhan-tuhan lain masih merupakan sebuah ancaman: pemuja- an mereka sangat atraktif dan bisa memalingkan orang Israel dari Yahweh, Tuhan yang pencemburu. Jika mereka mematuhi hukum- hukum Yahweh, dia akan memberkati mereka dan menganugerahkan kesejahteraan, tetapi jika mereka berkhianat, akibatnya akan sangat merusak:

 

TUHAN akan menyerakkan engkau ke antara segala bangsa dari ujung bumi ke ujung bumi; di sanalah engkau akan beribadah kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, yakni kepada kayu dan batu …. Hidupmu akan terkatung-katung …. Pada waktu pagi engkau akan berkata: Ah, kalau malam sekarang! Dan pada waktu malam engkau akan berkata: Ah kalau pagi sekarang! Karena kejut memenuhi hatimu, dan karena apa yang dilihat matamu.35

 

Ketika Raja Yosia dan rakyatnya mendengar ini di akhir abad ketujuh, mereka sedang menghadapi sebuah ancaman politik baru. Mereka telah berhasil menahan serangan tentara Asyur dan dengan demikian telah terhindar dari nasib seperti sepuluh suku utara, yang harus memikul hukuman yang digambarkan oleh Musa. Akan tetapi, pada 606 SM, Raja Nabupolasar dari Babilonia akan menghancurkan Asyur dan mulai membangun kerajaannya sendiri.

Dalam iklim yang sangat tidak aman ini, kebijakan Kitab Ulangan memberi pengaru h besar. Bukannya mematuhi perintah-perintah Yahweh, dua raja terakhir Israel secara sengaja justru mencumbui bencana. Yosia segera memulai sebuah pembaruan, bertindak dengan semangat yang patut diteladani. Semua gambaran, berhala, dan simbol-simbol kesuburan dicampakkan keluar Kuil dan dibakar. Yosia juga meruntuhkan patung besar Asyera dan menghancurkan kamar- kamar pelacur Kuil, yang menenun pakaian untuk Asyera di sana. Semua tempat suci kun o di negeri itu, yang telah menjadi pusat

paganisme, dihancurkan. Sejak saat itu para rahib hanya diizinkan melakukan upacara kurban untuk Yahweh di Kuil Yerusalem yang telah disucikan. Para penulis tawarikh, yang merekam pembaruan Yosia sekitar 300 tahun kemudian, memberikan deskripsi yang lugas:

 

Mezbah-mezbah para Baal dirobohkan di hadapannya [Yosia]; ia meng- hancurkan pedupaan-pedupaan yang ada di atasnya; ia meremukkan dan menghancurluluhkan tiang-tiang suci berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan, dan menghamburkannya ke atas kuburan orang-orang yang mempersembahkan kurban kepada berhala- berhala itu. Tulang-tulang para imam dibakarnya di atas mezbah-mezbah mereka. Demikianlah ia mentahrirkan Yehuda dan Yerusalem. Juga di kota-kota Manasye, Efraim dan Simeon, sampai di kota-kota Naftali, yang di mana-mana telah menjadi reruntuhan, ia merobohkan segala mezbah dan tiang berhala, meremukkan segala patung pahatan serta menghancurkan semua pedupaan di seluruh tanah Israel.*

 

Ini jauh dari kekhidmatan penerimaan Buddha atas dewa-dewa yang dia rasa tidak diinginkannya lagi. Penghancuran habis-habisan ini tumbuh dari kebencian yang berakar dari rasa cemas dan takut yang terpendam.

Para pembaru telah menulis ulang sejarah Israel. Kitab-kitab seja- rah Yosua, Hakim-hakim, Samuel, dan Raja-raja direvisi sesuai dengan ideologi baru dan, kemudian, para editor Pentateukh menambahkan bagian-bagian yang memberi tafsiran Deuteronomis atas mitos Pem- bebasan kepada narasi J dan E yang lebih tua. Yahweh kini adalah perancang perang suci pemusnahan di Kanaan. Orang Israel diberi tahu bahwa pribumi Kanaan tidak akan berdiam di negeri mereka,37 sebuah kebijakan yang oleh Yosua diimplementasikan melalui cara yang betul-betul tidak suci:

 

Pada waktu itu Yosua datang dan melenyapkan orang Enak dari pegunungan, dari Hebron, Debir, dan Anab, dari seluruh pengunungan Yehuda dan dari seluruh pegunungan Israel. Mereka dan kota-kota mereka ditumpas oleh Yosua. Tidak ada lagi orang Enak ditinggalkan hidup di negeri orang Israel; hanya di Gaza, di Gat, dan di Asdod masih ada yang tertinggal.38

 

Sebenarnya kita tidak tahu apa-apa tentang penaklukan Kanaan oleh Yosua dan Hakim-hakim, meski tak diragukan bahwa banyak darah yang telah ditumpahkan. Akan tetapi, sekarang pertumpahan

darah itu telah diberi alasan religius. Bahaya dari teologi keterpilihan semacam itu, yang tidak dibenarkan dalam perspektif transenden seorang Yesaya, diperlihatkan dengan jelas dalam peperangan suci yang telah mencoreng sejarah monoteisme. Alih-alih menjadikan Tuhan sebagai simbol untuk menantang prasangka kita dan memaksa kita untuk berkontemplasi tentang kekurangan din sendiri, teologi itu bisa digunakan untuk menguatkan kebencian egoistik kita dan membuatnya menjadi absolut. Teologi ini menggambarkan Tuhan berperilaku persis seperti kita, seakan-akan dia hanyalah seorang manusia lain. Tuhan semacam itu tampaknya akan lebih menarik dan populer daripada Tuhannya Amos dan Yesaya, yang menuntut kritik diri yang keras.

Orang Yahudi acap dikritik atas kepercayaan bahwa mereka adalah Umat Pilihan, namun para pengkritik melakukan kesalahan yang sama melalui penyangkalan yang menghasut kebencian ter- hadap penyembahan berhala di masa biblikal. Ketiga agama mono- teistik telah mengembangkan teologi keterpilihan yang mirip pada periode-periode berbeda dalam sejarah mereka, kadang dengan akibat yang lebih parah daripada yang dibayangkan dalam kitab Yosua. Orang Kristen Barat khususnya agak terlalu yakin bahwa mereka adalah umat pilihan Tuhan. Selama abad kesebelas dan kedua belas, Pasukan Salib mencari alasan untuk membenarkan perang suci mereka melawan Yahudi dan Muslim dengan menyebut diri sebagai Umat Pilihan baru, yang mengambil alih tugas yang telah gagal dijalankan oleh Yahudi. Teologi keterpilihan kaum Calvinis telah banyak berperan dalam mendorong orang Amerika untuk mem- percayai bahwa mereka sebangsa dengan Tuhan. Seperti dalam Ke- rajaan Yehudanya Yosia, kepercayaan semacam itu cenderung tumbuh pada masa kerawanan politik ketika orang-orang dihantui ketakutan akan kehancuran mereka sendiri. Mungkin karena alasan ini, keper• cayaan itu tampak mendapatkan nyawa baru dalam berbagai bentuk fundamentalisme yang lazim di kalangan Yahudi, Kristen, dan Muslim pada saat tulisan ini dibuat. Tuhan yang personal seperti Yahweh dapat dimanipulasi untuk menegaskan dirinya yang terkepung dengan cara ini, sedangkan tuhan yang impersonal seperti Brahman tidak dapat melakukan hal itu.

Kita mesti mencatat bahwa tidak semua orang Israel memegang Deuteronomisme pada masa-masa yang menggiring ke penghancuran Yerusalem oleh Nebukadnezar pada 587 SM dan pengusiran orang

Tuhan yang Satu

Yahudi ke Babilonia. Pada tahun 604, ketika Nebukadnezar naik

takhta, Nabi Yeremia membangkitkan perspektif ikonoklastik Yesaya yang membalik sama sekali doktrin Umat Pilihan yang angkuh: Tuhan menggunakan orang Babilonia sebagai alatnya untuk menghukum Israel, dan kini giliran Israellah untuk “menjadi kengerian, menjadi sasaran suitan dan menjadi ketandusan untuk selama-lamanya.”39

Mereka akan berada di pengasingan selama tujuh puluh tahun. Ketika Raja Yoyakim mendengar ramalan ini, dia merampas gulungan naskah itu dari tangan penulisnya, merobeknya, dan melemparkannya ke dalam api. Takut nyawanya terancam, Yeremia terpaksa lari ber- sembunyi.

Karier Yeremia memperlihatkan berat penderitaan dan usaha yang diperlukan untuk membentuk citra Tuhan yang lebih menantang ini. Dia tidak suka menjadi nabi dan merasa sangat berat hati jika diharuskan menghukum orang-orang yang dia cintai.40Dia bukanlah seorang yang bertemperamen bengis, melainkan berhati lunak. Ketika panggilan datang kepadanya, dia berteriak memprotes: “Ah, Tuhan Yahweh! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda!” Lalu Yahweh “mengulurkan tangan” dan menyentuh bibir Yeremia, dan meletakkan firmannya di mulut Yeremia. Pesan yang mesti diartikulasikan Yeremia masih kabur dan kontradiktif:

“untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan merun- tuhkan, untuk membangun dan menanam.”41 Ini menuntut ketegangan antara ekstrem-ekstrem yang tak terdamaikan. Yeremia mengalami Tuhan sebagai derita yang mengguncang persendiannya, mematah- kan hatinya, dan membuatnya sempoyongan bagaikan orang mabuk.42

Para nabi mengalami mysterium terribile etfascinans sebagai pemak- saan dan rayuan sekaligus:

 

 

Engkau membujuk aku, ya TUHAN,

dan aku telah membiarkan diriku dibujuk ….

Tetapi apabila aku berpikir: “Aku tidak mau mengingat Dia

dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya”, Maka dalam hatiku ada sesuatu yang

seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku;

aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.43

 

 

Tuhan mendorong Yeremia ke dua arah yang berlawanan: di sa-

tu pihak, dia merasakan daya tarik yang sangat besar ke arah Yahweh

yang memiliki seluruh kemanisan sebuah rayuan, tetapi di saat lain dia dibua t gera m oleh kekuata n yang membawany a k e arah bertentangan dengan kehendaknya sendiri.

Sejak era Amos, nabi merupakan seorang yang berdiri sendiri. Tidak seperti wilayah-wilayah lain dalam dunia berperadaban pada masa itu, Timur Tengah tidak mengadopsi ideologi kesatuan agama secara umum.44 Tuhan para nabi memaksa orang-orang Israel untuk memisahkan diri dari kesadaran mitis Timur Tengah dan mengambil arah berbeda dari arus utama. Dalam penderitaan Yeremia, kita dapat melihat seperti apa kepiluan dan keterasingan yang diakibatkannya. Israel adalah kawasan kecil penganut Yahwisme di tengah-tengah dunia pagan, dan Yahweh pun ditolak oleh kebanyakan orang Israel sendiri. Bahkan penulis tradisi Deuteronomis yang citranya tentang Tuhan lebih bersahabat, memandang pertemuan dengan Yahweh sebagai konfrontasi yang kasar: dia membuat Musa menjelaskan kepa- da orang-orang Israel, yang dikagetkan oleh kemungkinan pertemuan tanpa perantara dengan Yahweh, bahwa Tuhan akan mengutus kepada

mereka seorang nabi pada setiap generasi untuk memikul bagian terberat dari tugas ilahiah.

Belum ada satu pun yang bisa diperbandingkan dengan Atman, kedekatan ilahi yang prinsipil, dalam kultus Yahweh. Yahweh dialami sebagai sebuah realitas luar yang jauh. Dia perlu memanusiawi me- lalui suatu cara agar keterasingannya berkurang. Situasi politik pada masa itu sedang memburuk. Orang-orang Babilonia menginvasi Yehuda lalu mengusir raja dan kelompok pertama orang Israel ke pengasingan; akhirnya Yerusalem pun terkepung. Ketika keadaan semakin parah, Yeremia melanjutkan tradisi penisbahan emosi manusia kepada Yahweh: dia membuat Tuhan meratapi ketunawismaan, pen• deritaan, dan kesedihannya sendiri; Yahweh merasa sama nestapa, susah, dan terbuangnya dengan umatnya; sebagaimana mereka, dia juga tampak bingung, teralienasi, dan lumpuh. Kemarahan yang dirasa Yeremia membakar hatinya bukanlah perasaannya sendiri, melainkan berasal dari kegusaran Yahweh.45 Ketika para nabi berpikir tentang

“manusia”, mereka dengan sendirinya juga berpikir tentang “Tuhan”, yang kehadirannya di dunia tampak terkait erat dengan umatnya. Bahkan, Tuhan bergantung kepada manusia ketika dia ingin bertindak

di dunia—sebuah gagasan yang kemudian menjadi sangat penting dalam konsepsi Yahudi tentang Tuhan. Banyak isyarat yang me- nunjukkan bahwa manusia bisa merasakan aktivitas Tuhan dalam

emosi dan pengalaman mereka sendiri, bahwa Tuhan merupakan bagian dari kondisi kemanusiaan.

Selama musuh menanti di gerbang, Yeremia membentak umatnya atas nama Tuhan (meski, di hadapan Tuhan, dia memohon atas nama mereka). Begitu Yerusalem telah dikuasai oleh Babilonia pada tahun

587 SM, ramalan Yahweh menjadi lebih menenangkan: dia berjanji untuk menyelamatkan umatnya dan memulangkan mereka, karena kini mereka telah menarik pelajaran dan menjadi insaf. Yeremia diizinkan oleh penguasa Babilonia untuk tetap tinggal di Yehuda, dan untuk mengungkapkan keyakinannya tentang masa depan, dia membeli beberapa rumah: “sebab beginilah firman TUHAN semesta alam [Yahweh Sabaoth], Allah Israel: Rumah, ladang, dan kebun anggur akan dibeli pula di negeri ini!”46 Tidak mengherankan jika banyak orang menyalahkan Yahweh atas bencana itu. Dalam suatu kunjungan ke Mesir, Yeremia bertemu sekelompok Yahudi yang akan pergi ke wilayah Delta dan menyatakan bahwa mereka sama sekali tak punya waktu lagi buat Yahweh. Kaum perempuan mereka mengatakan bahwa keadaan selalu baik ketika mereka menyeleng- garakan ritus tradisional untuk memuja Isytar, Dewi Langit. Namun, segera setelah mereka berhenti melakukan itu karena kehadiran nabi semacam Yeremia, maka bencana, kekalahan, dan kepahitan cepat datang mengiringi. Tragedi itu tampak semakin dalam di mata Yeremia.47 Setelah kejatuhan Yerusalem dan kehancuran kuil, dia mulai menyadari bahw a jebakan eksternal agama semacam itu hanyalah simbol dari keadaan internal dan subjektif. Di masa depan, perjanjian dengan Israel akan sangat berbeda: “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati me• reka.”48

Mereka yang telah pergi ke pengasingan tidak dipaksa untuk berasimilasi, seperti yang pernah dialami oleh sepuluh suku utara pada 722. Mereka hidup dalam dua komunitas: satu di Babilonia sendiri dan yang lainnya di tepi kanal bernama Kebar yang memanjang dari Efrat, tidak jauh dari Nippur maupun Ur, dalam wilayah yang mereka namakan Tel Aviv (Bukit Musim Semi). Di antara kelompok pertama para pengungsi yang dideportasi pada tahun 597 terdapat seorang imam bernama Yehezkiel. Kira-kira selama lima tahun dia tinggal sendirian di rumahnya dan tak berbicara kepada satu jiwa pun. Kemudian dia mengalami perjumpaan mengejutkan dengan Yahweh, yang benar-benar membuat dia pingsan. Adalah penting

untuk menjelaskan pertemuan pertamanya dengan Yahweh itu secara terperinci karena—beberapa abad kemudian—ini menjadi sangat signifikan bagi mistisisme Yahudi, seperti yang akan kita tinjau pada Bab 7. Yehezkiel melihat segumpal awan besar dengan api yang berkilat-kilat. Angin kencang bertiup dari arah utara. Di tengah- tengah kabut badai ini, dia seakan-akan melihat—clia dengan sangat hati-hati menekankan ketidakpastian gambaran itu—kencana raksasa yang ditarik empat ekor makhluk yang kuat. Makhluk-makhluk itu mirip dengan pahatan karibu yang ada di gerbang istana Babilon, tetapi Yehezkiel menjelaskannya dengan gambaran yang hampir mustahil divisualisasikan: masing-masing makhluk itu mempunyai empat kepala dengan wajah manusia, singa, lembu, dan rajawali. Masing-masing roda berputar ke arah yang bertentangan dengan roda-roda lainnya. Penggambaran ini sepertinya dimaksudkan untuk menekankan asingnya penampakan yang sedang berusaha diartikulasi- kannya. Kepakan sayap makhluk itu memekakkan telinga; suaranya

“seperti suara air terjun yang menderu, seperti suara yang Mahakuasa

[Shaddai], seperti keributan laskar yang besar.” Di atas kencana itu ada sesuatu yang “mirip” sebuah takhta, dan, di atasnya “ada yang kelihatan seperti rupa manusia”: ia bersinar seperti tembaga, api memancar dari anggota tubuhnya. Ia juga menyerupai “kemuliaan

[kavodl TUHAN.”49 Segera saat itu juga Yehezkiel bersujud dan men-

dengar suara yang ditujukan kepada dirinya.

Suara itu memanggil Yehezkiel dengan sebutan “anak manusia”, seolah-olah untuk menekankan jarak yang kini ada antara manusia dan alam ilahi. Di samping itu, pertemuan dengan Yahweh diiringi dengan rencana tindakan yang bersifat praktis. Yehezkiel harus menyampaikan firman Tuhan kepada putra-putra Israel yang mem- bangkang. Kualitas non-manusia dari pesan suci disampaikan dalam gambaran yang keras: sebuah tangan terulur ke arah nabi, memegang sebuah gulungan kitab yang ditulisi timbal balik dan berisikan nyanyian ratapan, keluh kesah, dan rintihan. Yehezkiel diperintahkan untuk memakan gulungan kitab itu, mencerna firman Tuhan dan menjadi- kannya bagian dari dirinya sendiri. Seperti biasanya, mysterium itu fascinans sekaligus terribile. gulungan kitab itu ternyata berasa semanis madu. Akhirnya, Yehezkiel berkata, “Roh itu mengangkat dan memba- wa aku, dan aku pergi dengan hati panas dan dengan perasaan pa- hit, karena kekuasaan TUHAN memaksa aku dengan sangat. “,0 Dia tiba di Tel Aviv dan duduk “tertegun” seminggu penuh.

Pengalaman aneh Yehezkiel menekankan betapa telah menjadi asing dan tak dikenalnya alam suci itu bagi manusia. Dia sendiri dipaksa untuk menjadi tanda bagi keasingan ini. Yahweh sering memerintahkanny a untuk menyelenggarakan pera n aneh , yang membuatnya berlainan dari manusia normal. Peran-peran itu juga dirancang untuk menunjukkan keadaan buruk Israel selama krisis ini dan, pada tataran yang lebih dalam, memperlihatkan bahwa Israel sendiri menjadi asing bagi dunia pagan. Kemudian, ketika istrinya wafat, Yehezkiel dilarang meratap; dia harus berbaring menghadap ke satu sisi selama 390 hari dan ke sisi lainnya selama 40 hari; ke• mudian dia diharuskan mengemasi barangnya dan berjalan di seputar Tel Aviv bagaikan seorang pengungsi, tanpa kota tujuan yang pasti. Yahweh menimpakan kepada dirinya derita kecemasan yang berat sehingga dia terbelenggu rasa gelisah dan keinginan berpindah- pindah tanpa henti. Pada kesempatan lain, dia terpaksa makan kotoran manusia sebagai simbol kelaparan yang harus diderita penduduk negerinya selama pengepungan Yerusalem. Yehezkiel telah menjadi ikon keterputusan radikal yang terdapat dalam kultus Yahweh: tak ada sesuatu yang bisa diterima begitu saja, dan respons-respons yang normal pun disangkal.

Visi pagan, di sisi lain, justru merayakan ketersambungan yang dirasakan hadir antara dewa-dewa dan alam semesta. Yehezkiel tak menemukan sesuatu yang menenangkan di dalam agama kuno, yang biasa disebutnya “keji”. Dalam salah satu pengalaman penampakan ilahinya, dia dibimbing mengelilingi Kuil Yerusalem. Dia terkejut menyaksikan bahwa, meskipun tengah berada di ambang kehancuran, ternyata orang-orang Yehuda masih tetap menyembah dewa-dewa pagan di kuil Yahweh. Kuil itu sendiri telah berubah menjadi tempat menyeramkan; dinding-dinding ruangannya penuh gambar-gambar binatang melata dan binatang-binatang lain yang menjijikkan; tetua kaum Israel melakukan ritus “keji” dalam cahaya remang-remang, hampir seperti tengah melakukan hubungan seks gelap: “Kaulihatkah, hai anak manusia, apa yang dilakukan oleh tua-tua kaum Israel di da• lam kegelapan, masing-masing di dalam kamar tempat ukiran-ukiran mereka?”51 Di ruangan lain, ada perempuan-perempuan yang mena- ngisi penderitaan Dewa Tamus. Yang lainnya menyembah matahari, dengan memunggungi kuil Yahweh. Akhirnya, nabi menyaksikan kereta perang aneh yang pernah dilihatnya dalam penampakan per- tama, terbang membawa “kemuliaan” Yahweh bersamanya. Namun,

Yahweh bukan merupakan Tuhan yang jauh sama sekali. Pada hari- hari terakhir menjelang kehancuran Yerusalem, Yehezkiel menggam- barkan Yahweh menyampaikan peringatan keras kepada orang-orang Israel, tetapi tak berhasil menarik perhatian atau memaksa mereka mengakui ketuhanan Yahweh. Israel hanya dapat menyalahkan diri- nya sendiri atas bencana yang sontak melanda mereka. Meski sering tampak asing, Yahweh mendorong orang Israel seperti Yehezkiel untuk melihat bahwa gelombang sejarah tidaklah acak dan arbitrer, tetapi memiliki logika dan keadilan yang lebih mendalam. Dia men- coba menemukan makna di dunia politik internasional yang kejam. Tatkala mereka duduk di tepi sungai-sungai Babilonia, beberapa

di antara orang yang berada di pengasingan dengan pasti merasa bahwa mereka tidak mampu mengamalkan agama mereka di luar kawasan Tanah yang Dijanjikan. Dewa-dewa pagan bersifat teritorial, dan bagi sebagiannya tampak tak mungkin menyenandungkan lagu- lagu Yahweh di negeri asing: mereka membayangkan kemungkinan menangkap dan memecahkan anak-anak Babilonia pada bukit batu.52

Akan tetapi, ada seorang nabi baru mendakwahkan perdamaian. Kita tidak mengetahui apa-apa tentang dirinya, dan ini menjadi penting karena nubuat dan mazmurnya tidak memiliki simbol sebagai per- juangan personal, sebagaimana yang dipikul oleh para pendahulunya. Karena risalahnya kemudian disatukan dengan nubuat Yesaya, maka dia selalu disebut sebagai Yesaya Kedua. Di pengasingan, sebagian orang Yahudi akan menyembah dewa-dewa Babilonia kuno, tetapi yang lainnya didorong masuk ke dalam kesadaran keagamaan baru. Kuil Yahweh telah menjadi puing; tempat pemujaan kuno di Betel dan Hebron telah dihancurkan. Di Babilonia mereka tidak bisa ikut dalam liturgi yang telah menjadi inti kehidupan keagamaan mereka

di negeri asal. Hanya Yahwehlah yang mereka miliki. Yesaya Kedua mengembangkan ini selangkah lebih jauh lagi dan mendeklarasikan bahwa Yahweh adalah satu-satunya Tuhan. Dalam penulisan ulangnya atas sejarah Israel, mitos Pembebasan diberi kemasan imajiner yang kembali mengingatkan kita pada kemenangan Marduk atas Tiamat,

si dewa laut:

 

 

TUHAN akan mengeringkan teluk Mesir dengan napas-Nya yang menghanguskan, serta mengacungkan tangan-Nya terhadap Sungai Efrat dan memukulnya pecah menjadi tujuh batang air, sehingga orang dapat melaluinya dengan berkasut.

Maka akan ada jalan raya bagi sisa-sisa umat-Nya … seperti yang telah ada untuk Israel dahulu, pada waktu mereka keluar dari tanah Mesir.’3

 

Yesaya Pertama menjadikan sejarah sebagai peringatan ilahi; setelah bencana itu, dalam kata-kata penghiburnya, Yesaya Kedua membuat sejarah menjadi tumpuan harapan baru bagi masa depan. Jika Yahweh telah pernah menyelamatkan Israel di masa lalu, pasti dia akan mampu melakukannya lagi. Dialah penentu jalan sejarah; dalam pandangannya, semua goyim tak lebih dari setetes air di dalam bejana. Dia adalah satu-satunya Tuhan yang dapat dipercaya. Yesaya Kedua membayangkan dewa-dewa Babilonia kuno diangkut di atas binatang dan digelindingkan ke arah matahari terbenam.54 Zaman mereka telah berakhir: “Bukankah Aku TUHAN?” dia bertanya ber- ulang-ulang, “tidak ada Allah lain selain daripada-Ku!”55

 

Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah TUHAN,

dan tidak ada juruselamat selain daripada-Ku.56

 

Yesaya Kedua tidak membuang-buang waktu untuk mencela dewa-dewa goyim, yang, setelah peristiwa bencana, bisa saja dipan- dang sebagai pemenang. Dia dengan tenang mengasumsikan adalah Yahweh—bukan Marduk atau Baal—yang telah melakukan tindakan mitis hebat yang mengakibatkan terciptanya dunia. Untuk pertama kalinya, orang Israel menjadi sangat tertarik pada peran Yahweh dalam penciptaan, mungkin karena pembaruan hubungan dengan mitos-mitos kosmologis Babilonia. Tentu saja mereka tidak sedang mengupayakan sebuah penjelasan ilmiah tentang asal usul fisikal alam semesta, tetapi untuk menemukan kenyamanan di tengah dunia yang kini penuh kesusahan. Jika Yahweh telah menaklukkan monster ke- kacauan di masa primordial, tentu merupakan hal yang mudah baginya untuk menyelamatkan orang-orang Israel yang terusir. Melihat kemi- ripan antara mitos Pembebasan dengan kisah pagan tentang keme- nangan atas kekacaubalauan di masa awal waktu, Yesaya Kedua mengajak umatnya untuk dengan yakin menanti pertunjukan baru ke- kuatan ilahi di masa depan. Di sini, misalnya, dia merujuk pada keme- nangan Baal atas Lotan, monster laut dalam mitologi penciptaan Kanaan, yang juga disebut Rahab, Buaya (tannin) dan Samudra Raya (tehom):

Terjagalah, terjagalah! Kenakanlah kekuatan, hai tangan TUHAN! Terjagalah seperti pada zaman purbakala,

pada zaman keturunan yang dahulu kala, Bukankah Engkau yang meremukkan Rahab, yang menikam naga (tannin) sampai mati? Bukankah Engkau yang mengeringkan laut,

air samudra raya (tehom) yang hebat?

yang membuat laut yang dalam menjadi jalan,

supaya orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang?57

 

Yahweh pada akhirnya telah menumbangkan musuh-musuhnya dalam imajinasi religius orang-orang Israel; di pengasingan, pesona paganisme menyurut dan agama Yudaisme telah lahir. Pada suatu masa tatkala kultus Yahweh diperkirakan secara rasional akan sirna, dia menjadi alat yang memampukan manusia menemukan harapan

di tengah keadaan yang serbamusykil.

Oleh karena itu, Yahweh telah menjadi satu-satunya Tuhan. Tak ada upaya untuk meneguhkan klaimnya secara filosofis. Sebagaimana biasa, teologi baru menjadi sukses bukan karena ia dapat dibuktikan secara rasional, tetapi karena keefektifannya mencegah keputusasaan dan mengilhami harapan. Dalam keadaan tercerabut dan terbuang, kaum Yahudi tidak lagi merasakan keterputusan dalam kultus Yahweh sebagai sesuatu yang asing dan mengganggu. Dia bicara begitu hebat tentang keadaan mereka.

Namun demikian, tak ada yang hebat dalam gambaran Yesaya Kedua tentang Tuhan. Dia tetap berada di luar jangkauan pikiran manusia:

 

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku,

demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi,

demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dan rancanganmu.58

 

 

Realitas Tuhan berada di luar jangkauan kata-kata atau konsep. Yahweh juga tidak selalu melakukan apa yang diharapkan umatnya. Dalam suatu ayat yang sangat berani, yang memiliki arti khusus pada masa sekarang, nabi meramalkan suatu masa ketika Mesir dan Asyur juga akan menjadi negeri Yahweh, selain Israel. Yahweh akan

berkata: “Diberkatilah Mesir, umat-Ku, dan Asyur, buatan tangan-Ku, dan Israel milik pusaka-Ku.”59 Dia telah menjadi simbol realitas tran- senden yang menjadikan tafsiran sempit tentang konsep bangsa pilihan tampak picik dan tak pantas.

Ketika Cyrus, Raja Persia, menaklukkan imperium Babilonia pada

539 SM, para nabi tampak seolah-olah telah dibebaskan. Cyrus tidak memaksakan dewa-dewa Persia kepada rakyatnya yang baru, dia bahkan menyembah di Kuil Marduk ketika memasuki Babilonia dengan kemenangan. Dia juga mengembalikan patung-patung dewa milik bangsa yang dikalahkan Babilonia ke tanah air mereka. Kini ketika dunia telah terbiasa dengan kerajaan besar internasional, Cyrus mungkin tidak perlu lagi menggunakan metode deportasi yang lama. Akan lebih mudah jika dia membiarkan rakyatnya menyembah dewa- dewa mereka sendiri di wilayah mereka masing-masing. Di seluruh imperiumnya, dia mendorong pemulihan kuil-kuil kuno, berulang- ulang mengklaim bahwa dewa-dewa mereka yang telah menugaskan itu kepadanya. Dia merupakan teladan sikap toleran dan keluasan visi dalam sebagian dari agama pagan. Pada tahun 538, Cyrus menge- luarkan ketetapan yang mengizinkan orang Yahudi untuk pulang ke Yehuda dan membangun kembali kuil mereka sendiri. Akan tetapi, kebanyakan mereka memilih untuk menetap: sejak saat itu hanya sekelompok kecil yang tinggal di Tanah yang Dijanjikan. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa 42.360 orang Yahudi meninggalkan Babilonia dan Tel Aviv untuk pulang ke tanah air, tempat mereka memaksakan Yudaisme Baru kepada saudara-saudara mereka yang masih tertinggal dalam keterasingan.

Kita dapat menyaksikan apa akibat yang ditimbulkan oleh hal ini dalam tulisan-tulisan tradisi Para Imam (P) yang dibuat setelah pengasingan dan dimasukkan ke dalam Pentateukh. Ini memberikan tafsiran tersendiri tentang kejadian-kejadian yang diuraikan oleh J dan E, dan menambahkan dua kitab baru, Imamat dan Bilangan. Seperti yang dapat kita duga, P memiliki pandangan yang canggih dan tinggi tentang Yahweh. Dia tidak percaya, misalnya, bahwa se- seorang bisa secara aktual melihatTuhan dalam cara yang dikemuka- kan oleh J. P memiliki banyak kesamaan dengan perspektif Yehezkiel, dia percaya bahwa ada perbedaan antara persepsi manusia tentang Tuhan dan realitasnya sendiri. Dalam kisah P tentang Musa di Sinai, Musa memohon diberi kesempatan melihat Yahweh, yang menjawab:

“Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang

yang memandang Aku dapat hidup.”6oSebaliknya, Musa justru harus melindungi dirinya dari dampak ilahi di balik batu, tempat dia bisa menangkap kilasan Yahweh ketika dia turun, dalam semacam jejak- jejak. P memperkenalkan sebuah gagasan yang kemudian akan men- jadi sangat penting dalam sejarah konsepsi manusia tentang Tuhan. Manusia hanya dapat melihat cahaya yang tersisa ketika kehadiran ilahi telah berlangsung, yang disebutnya sebagai “kemuliaan (kavod) Yahweh”, manifestasi kehadirannya, yang tidak boleh disamakan dengan realitas Tuhan itu sendiri.61 Ketika Musa turun dari gunung, wajahnya merefleksikan “kemuliaan” ini dan bersinar dengan terang yang sangat menyilaukan sehingga orang-orang Israel tidak bisa melihat mukanya.62

“Kemuliaan” Yahweh adalah simbol kehadirannya di bumi dan, dengan begitu, menekankan perbedaan antara gambaran terbatas tentang Tuhan yang diciptakan oleh manusia dan kesucian Tuhan sendiri. Dengan demikian, ini merupakan penyeimbang terhadap watak keberhalaan agama Israel. Tatkala P melihat kembali kisah klasik tentang Pembebasan, dia tidak membayangkan bahwa Yahweh sendiri betul-betul telah menemani orang Israel selama masa-masa sulit mereka: ini akan menjadi antropomorfisme yang janggal. Sebalik- nya, dia memperlihatkan “kemuliaan” Yahweh memenuhi kemah tempat dia bertemu dengan Musa. Sama halnya, hanya “kemuliaan Yahweh” yang ada di dalam Kuil.63

Kontribusi P dalam Pentateukh yang paling terkenal, tentu saja, adalah kisah tentang penciptaan dalam bab pertama Kitab Kejadian, yang mengambil sumber dari Enuma Elish. P mulai dengan air dalam samudra raya (tehom, penyimpangan dari “Tiamat”), yang darinya Yahweh menciptakan langit dan bumi. Namun, tak ada perang antardewa, atau pertarungan dengan Yam, Lotan, atau Rahab. Hanya Yahweh yang bertanggung jawab mewujudkan segala sesuatunya. Tak ada emanasi realitas yang terjadi secara bertingkat-tingkat; bahkan Yahweh mencapai ketertiban melalui tindakan berkehendak tanpa susah payah. Secara alamiah, P tidak mengonsepsikan dunia sebagai sesuatu yang sakral, yang tersusun dari unsur-unsur yang sama dengan Yahweh. Memang, ajaran tentang “keterpisahan” cukup krusial dalam teologi P: Yahweh membuat kosmos tempat yang teratur dengan memisahkan malam dari siang, air dari tanah kering, dan cahaya dari kegelapan. Pada setiap tahap, Yahweh memberkati dan menyucikan penciptaan dan menyebutnya sebagai “kebaikan”. Tidak seperti dalam

kisah Babilonia, penciptaan manusia merupakan puncak kreasi, bukan sekadar kebetulan. Manusia mungkin tidak ikut memiliki watak ilahiah, tetapi mereka diciptakan dalam citra Tuhan: mereka memikul tugas- tugas kreatifnya. Seperti dalam Enuma Elish, enam hari penciptaan diiringi oleh jeda sabbatical pada hari ketujuh: dalam kisah Babilonia, ini merupakan hari pada saat Majelis Agung mengadakan pertemuan untuk “memperbaiki ketentuan” dan menganugerahkan gelar kepada Marduk. Dalam tradisi P, hari Sabtu merupakan kontras simbolik dengan kekacauan primordial yang terjadi pada Hari Pertama. Nada dan pengulangan didaktiknya menyarankan bahwa kisah penciptaan

P juga dirancang untuk resital liturgi, seperti Enuma Elish, untuk memuji kreasi Yahweh dan memahkotainya dengan gelar pencipta dan penguasa Israel.64

Secara alamiah, Kuil baru merupakan pusat Yudaisme P. Di Timur Dekat, kuil dipandang sebagai replika kosmos. Pembangunan kuil menjadi tindakan imitatio dei, memampukan manusia untuk ber- partisipasi dalam kreativitas para dewa itu sendiri. Selama masa pengasingan, banyak orang Yahudi menemukan ketenangan dalam kisah-kisah kuno tentang Tabut Perjanjian, tempat suci yang dapat dibawa-bawa di mana Tuhan telah “mendirikan kemahnya” (shakari) bersama umatnya dan ikut merasakan ketunawismaan mereka. Ketika menggambarkan tempat suci itu, Kemah Pertemuan di pengasingan,

P menggunakan mitologi kuno. Rancangan arsitekturnya tidak orisinal, melainkan salinan dari model suci: Musa diberi perintah yang sangat panjang dan terperinci oleh Yahweh di Gunung Sinai: “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tenga h mereka. Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikian kamu harus membuatnya.”6 5 Penjelasan panjang tentang pembangunan tempat suci ini tentu tidak dimaksud- kan untuk diartikan secara harfiah; tak seorang pun membayangkan bahwa orang Israel kuno telah benar-benar membangun sebuah kuil megah yang terbuat dari “emas, perak, tembaga, kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, linen halus, bulu kambing, kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba, kayu penaga …” dan seterusnya.66 Interpolasi panjang lebar ini tak pelak mengingatkan pada kisah P tentang penciptaan. Pada setiap tahapan pembangunan, Musa “menyaksikan semua pekerjaan”, dan “memberkati” umat, seperti yang dilakukan Yahweh selama enam hari penciptaan. Tempat

kudus itu dibangun pada hari pertama bulan pertama tahun itu; Bezazeel, arsitek kuil, mendapat inspirasi dari ruh Tuhan (ruacb elohirri) yang juga memikirkan penciptaan dunia; dan kedua kisah menekankan pentingnya istirahat di hari Sabtu.67 Pembangunan kuil juga merupakan simbol keharmonian primordial yang telah ada sebelum manusia merusak dunia.

Dalam Kitab Ulangan, hari Sabtu dirancang untuk memberi setiap orang, termasuk para budak, satu hari libur dan untuk mengingatkan orang-orang Israel tentang peristiwa Pembebasan.68 P telah memberi- kan arti penting baru bagi hari Sabtu: menjadi tindakan meneladani Tuhan dan mengenang kembali penciptaan dunia. Ketika mereka menjalani istirahat hari Sabtu, orang Yahudi berpartisipasi dalam sebu- ah ritual yang pada awalnya dilakukan oleh Tuhan sendiri: ini merupa• kan upaya simbolik untuk menjalani kehidupan suci. Dalam paganisme kuno, setiap perbuatan manusia meniru perbuatan para dewa, namun kultus Yahweh telah membukakan jurang pemisah yang dalam antara

alam ilahi dan manusia. Kini orang Yahudi diminta untuk lebih men- dekati Yahweh dengan menaati Taurat Musa. Kitab Ulangan telah mendaftar sejumlah hukum wajib, yang mencakup Sepuluh Perintah Tuhan. Selama dan segera setelah pengasingan, hukum ini diuraikan menjadi undang-undang rumit yang terdiri atas 613 perintah (mitzvoi) dalam Pentateukh. Petunjuk-petunjuk terperinci ini tampak melemah- kan semangat bagi orang luar dan telah ditampilkan secara yang sangat negatif dalam polemik Perjanjian Baru. Orang Yahudi tidak merasakan itu sebagai beban yang berat, seperti yang cenderung dibayangkan orang Kristen, melainkan sebagai cara simbolik untuk hidup dalam kehadiran Tuhan. Dalam Kitab Ulangan, hukum-huku m tentang makanan merupakan simbol status khusus orang Israel.69 P juga me- mandangnya sebagai upaya ritualisasi untuk ikut memiliki kesucian Tuhan, menyembuhkan derita keterpisahan antara manusia dengan yang ilahi. Watak manusia bisa disucikan ketika orang Israel me• neladani tindakan-tindakan kreatif Tuhan dengan memisahkan susu dari daging, yang bersih dari yang kotor, dan hari Sabtu dari hari-hari lain dalam seminggu.

Karya tradisi P dimasukkan ke dalam Pentateukh bersama tulisan- tulisan dari J, E, dan D. Ini merupakan pengingat bahwa setiap agama besar terdiri atas sejumlah visi dan spiritualitas yang inde- penden. Sebagian Yahudi selalu merasa lebih tertarik kepada Tuhan Deuteronomis, yang telah memilih Israel untuk dipisahkan secara

agresif dari goyim; sebagian lainnya memperluas ini menjadi mitos- mitos Ratu Adil yang menanti datangnya Hari Yahweh di akhir zaman, ketika dia akan mengangkat derajat orang Israel dan menghinakan bangsa-bangsa lain. Kisah-kisah mitologis ini cenderung melihat Tuhan sebagai wujud yang sangat jauh. Telah disepakati bahwa setelah pengasingan, era kenabian sudah berakhir. Tak perlu lagi ada kontak langsung dengan Tuhan: hal itu hanya dicapai dalam visi-visi simbolik yang dinisbahkan kepada figur-figur besar di masa yang silam, seperti Enok dan Daniel.

Salah seorang pahlawan masa silam itu, dihormati di Babilonia sebagai teladan kesabaran dalam penderitaan, adalah Ayub. Setelah pengasingan, salah seorang yang berhasil melewatinya menggunakan legenda tua ini untuk mengajukan pertanyaan mendasar tentang hakikat Tuhan dan tanggung jawabnya terhadap penderitaan manusia. Dalam kisah tua ini, Ayub diuji oleh Tuhan; karena dia telah memikul penderitaan yang berat itu dengan sabar, Tuhan memberkatinya dengan memulihkan kembali kekayaannya di masa lalu. Dalam versi baru kisah Ayub, penulisnya konon memecah legenda tua itu menjadi dua dan menggambarkan Ayub gusar kepada sikap Tuhan. Bersama tiga pendampingnya, Ayub dengan berani mempertanyakan ketetapan Tuhan dan terlibat dalam perdebatan intelektual yang keras. Untuk pertama kalinya dalam sejarah agama Yahudi, imajinasi keagamaan beralih kepada spekulasi yang bersifat lebih abstrak. Para nabi telah mengklaim bahwa Tuhan membiarkan orang Israel menderita lantaran dosa-dosa mereka sendiri; penulis kisah Ayub menunjukkan bahwa sebagian orang Israel tidak lagi puas dengan jawaban-jawaban tra- disional. Ayub menyerang dan mengungkapkan kelemahan intelektual pandangan ini. Namun, tiba-tiba Tuhan menyela spekulasinya yang kasar. Dia memperlihatkan diri kepada Ayub dalam suatu penampakan, mengutarakan keluarbiasaan dunia yang telah diciptakannya: bagai- mana mungkin seorang makhluk kecil yang lemah, seperti Ayub berani menentang Tuhan yang transenden? Ayub menyerah, tetapi seorang pembaca modern, yang mencari jawaban lebih koheren dan filosofis tentang problem penderitaan, tidak akan puas dengan solusi semacam ini. Penyusun kisah Ayub memang tidak mengingkari hak untuk bertanya, tetapi menyarankan bahwa akal semata tidak memada i untu k membaha s persoala n yang tak teruraikan ini. Spekulasi intelektual mesti memberi jalan bagi wahyu langsung dari Tuhan seperti yang telah diterima oleh para nabi.

Orang Yahudi memang belum berfilsafat, tetapi selama abad keempat mereka berada di bawah pengaruh rasionalisme Yunani. Pada tahun 332 SM, Alexander dan Makedonia menaklukkan Darius III dari Persia dan orang Yunani mulai menjajah Asia dan Afrika. Mereka mendirikan negara-kota di Tirus, Sidon, Gaza, Philadelphia

(Amman), dan Tripoli, bahkan Sekhem. Orang Yahudi di Palestina dan yang menyebar (diaspora) dikepung oleh budaya Helenis yang oleh sebagian dianggap mengganggu, tetapi sebagian lainnya me- nyenangi teater, filsafat, olahraga, dan puisi Yunani. Mereka mem- pelajari bahasa Yunani, berolahraga di gymnasium, dan menggunakan nama Yunani. Sebagian bekerja sebagai tentara bayaran dalam tentara Yunani. Mereka bahkan menerjemahkan kitab suci mereka ke dalam bahasa Yunani dan menghasilkan versi yang dikenal sebagai Septua- ginta. Dengan demikian, sebagian orang Yunani mulai mengenal Tuhan Israel dan memutuskan untuk menyembah Yahweh (atau Iao, demikian mereka menyebutnya) di samping Zeus dan Dionisus. Sebagian tertarik kepada sinagoga atau tempat-tempat pertemuan yang telah diubah oleh orang-orang Yahudi diaspora menjadi kuil tempat peribadatan. Di sana mereka membaca kitab suci, berdoa, dan mendengarkan khotbah-khotbah. Sinagoga tidak sama dengan apa pu n yang ada di seluruh dunia keagamaan kuno. Karena tidak ada ritual atau pengurbanan, sinagoga menjadi lebih mirip dengan sekolah filsafat, dan mereka berbondong-bondong menuju sinagoga ketika seorang penceramah Yahudi terkenal tiba di kota, sebagaimana mereka akan antre untuk mendengarkan para filosof mereka sendiri. Sebagian orang Yunani bahkan menunaikan bagian-bagian tertentu dari Kitab Taurat dan bergabung dengan orang Yahudi dalam sekte- sekte sinkretis. Selama abad keempat SM, ditemukan satu-dua kejadian orang Yahudi dan Yunani menggabungkan Yahweh dengan salah satu dewa-dewa Yunani.

Akan tetapi, kebanyakan orang Yahudi tetap menyendiri dan ketegangan tumbuh antara orang Yahudi dan Yunani di kota-kota Timur Tengah yang telah terhelenisasi. Di dunia kuno, agama bukan- lah persoalan pribadi. Dewa-dewa sangat penting bagi perkotaan, dan diyakini bahwa dewa-dewa akan mencabut perlindungannya jika pemujaan terhadap mereka diabaikan. Orang Yahudi, yang meng- klaim bahwa dewa-dewa ini tidak ada, disebut “ateis” dan musuh masyarakat. Pada abad kedua SM, permusuhan meningkat: Di Palestina bahkan timbul pemberontakan ketika Antiokhia Epiphanes, Gubernur

Seleukia, berupay a melakuka n Helenisasi atas Yerusalem da n memperkenalkan kultus Zeus di kuil. Orang Yahudi mulai menerbit- kan literatur merek a sendiri, yang menjelaskan bahw a hikmat bukanlah kecerdasan Yunani, tetapi ketakutan kepada Yahweh. Literatur hikmat menjadi genre yang mantap di Timur Tengah; ber• upaya untuk mendalami makna hidup, bukan dengan refleksi filosofis, melainkan dengan mencari cara terbaik untuk menjalani hidup. Literatur ini sering bersifat pragmatis. Penyusun Kitab Amsal, yang menulis pada abad ketiga SM, melangkah lebih jauh dan menyarankan bahwa Hikmat merupakan rencana yang telah dibuat Tuhan saat dia menciptakan dunia dan, dengan demikian, merupakan ciptaannya yang pertama. Gagasan ini menjadi sangat penting bagi generasi awal Kris- ten, sebagaimana akan kita lihat pada Bab 4. Pengarang mempersoni- fikasikan Hikmat sehingga ia seolah menjadi sosok tersendiri:

 

TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala.

sudah pada zaman purbakala aku dibentuk,

pada mula pertama, sebelum bumi ada ….

Aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya,

dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya;

aku bermain-main di atas muka bumi-Nya,

dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.70

 

Namun Hikmat bukanlah suatu wujud suci, tetapi secara spesifik dikatakan telah diciptakan Tuhan. Dia mirip dengan “kemuliaan” Tuhan, yang dijelaskan oleh para penulis tradisi P, mewakili rencana Tuhan bahw a manusia dapat meraih pandangan sekilas tentang penciptaan dan persoalan-persoalan manusia: penulis menampilkan Hikmat (Hokhmah) berseru nyaring di jalan-jalan, mengimbau umat agar takut kepada Yahweh. Pada abad kedua SM, Yesus bin Sirakh, seorang Yahudi Yerusalem yang saleh, melukiskan potret yang serupa tentang hikmat. Dia membuatnya berdiri di hadapan Majelis Suci dan menyenandungkan puja-pujinya sendiri: dia keluar dari mulut Yang Mahatinggi sebagai Firman suci yang dengannya Tuhan men• ciptakan dunia; dia hadir dalam setiap ciptaan tetapi mengambil tempat berdiam yang menetap di tengah-tengah orang Israel.71

Sebagaimana “kemuliaan” Yahweh, figur hikmat merupakan simbol aktivitas Tuhan di dunia. Orang Yahudi menumbuhkan gagasan

yang begitu agung tentang Yahweh sehingga sulit membayangkan dia campur tangan langsung dalam persoalan manusia. Seperti P, mereka lebih suka membedakan Tuhan yang bisa kita ketahui dan alami dari reaiitas suci itu sendiri. Tatkala kita membaca tentang Hikmat suci yang meninggalkan Tuhan untuk menyusuri dunia mencari manusia, sulit untuk tidak teringat pada dewi-dewi pagan semacam Isytar, Anat, dan Isis yang turun dari alam suci dengan membawa misi penyelamatan. Dalam Hikmat Salomo, seorang Yahudi Aleksandria, tempat berdiamnya komunitas penting Yahudi, meng- ingatkan kaum Yahudi untuk menahan diri dari godaan budaya Helenis yang ada di sekeliling mereka dan tetap setia pada tradisi mereka sendiri: bahwa rasa takut akan Yahweh, bukan filsafat Yunani, yang merupakan hikmat sejati. Menulis dalam bahasa Yunani, dia juga mempersonifikasi Hikmat (sophia) dan berpandangan bahwa hal itu tidak dapat dipisahkan dari Tuhan Yahudi:

 

 

Hikmat [sophia] adalah napas kekuasaan Allah, Pancaran murni kemuliaan Yang Mahakuasa; maka tak ada noda yang dapat mengotorinya, Dia adalah pantulan cahaya abadi

cermin kekuasaan Tuhan yang tiada bercela, bayangan kebaikannya.72

 

 

Kalimat ini juga menjadi sangat penting bagi kaum Kristiani ketika mereka mulai mendiskusikan status Yesus. Namun, penulis Yahudi secara sederhana memandang sophia sebagai sebuah aspek dari Tuhan yang tak dapat diketahui, yang menyesuaikan dirinya dengan pemahama n manusia. Dia adalah Tuhan-sebagaimana-dia-telah- mewahyukan-diri-kepada-manusia: persepsi manusia tentang Tuhan, secara misterius berbeda dari reaiitas Tuhan yang sepenuhnya, yang selalu luput dari jangkauan pemahaman kita.,

Penyusun Hikmat Salomo benar adanya saat merasakan ke- tegangan antara pemikiran Yunani dengan agama Yahudi. Kita telah melihat bahwa ada suatu perbedaan krusial dan mungkin tak ter- damaikan antara Tuhan Aristoteles, yang sama sekali tidak sadar akan dunia yang telah diciptakannya, dengan Tuhan Alkitab, yang secara hangat terlibat dalam urusan-urusan manusia. Tuhan Yunani bisa ditemukan oleh akal manusia, sedangkan Tuhan Alkitab hanya menampakkan diri melalui wahyu. Suatu jurang memisahkan Tuhan

Yahudi clari dunia, namun orang Yunani percaya bahwa karunia akal membuat manusia serumpun dengan Tuhan; mereka, oleh karena itu, bisa mencapainya dengan usaha mereka sendiri. Walaupun demikian, setiap kali kaum monoteis jatuh cinta kepada filsafat Yunani, maka tak pelak lagi mereka ingin mencoba mengadaptasikan konsepsi Tuhan Yunani dengan konsepsi mereka sendiri. Ini akan menjadi salah satu tema pokok cerita kita. Salah satu orang pertama yang berupaya melakukan ini adalah filosof kenamaan Yahudi, Philo dari Aleksandria (30-45 M). Philo adalah seorang Platonis dan memiliki reputasi gemilang sebagai filosof rasional pad a zamannya. Dia menulis dalam bahasa Yunani yang baik dan tampaknya tidak bisa berbahasa Ibrani meskipun dia juga seorang Yahudi yang beriman dan menaati mitzvot. Dia tak melihat adanya perbedaa n antara Tuhannya dengan Tuhan Yunani. Akan tetapi, mesti dikatakan bahwa Tuhan Philo tampak sangat berbeda dari Yahweh. Karena suatu hal, Philo tampaknya kurang senang dengan kitab-kitab sejarah Alkitab, yang coba dia ubah menjadi kiasan-kiasan yang rumit: Aristoteles, dapat diingat kembali, memahami sejarah secara tidak filosofis. Tu• hannya tidak memiliki sifat-sifat manusia: dalam konsepsi Aristoteles, adalah tidak tepat, misalnya, menyatakan bahwa Tuhan “marah”. Yang dapat kita ketahui tentang Tuhan adalah fakta tentang eksistensi- nya saja. Meskipun demikian, sebagai praktisi Yahudi, Philo sungguh- sungguh percaya bahwa Tuhan telah menampakkan dirinya kepada para nabi. Bagaimana hal ini menjadi mungkin?

Philo memecahkan persoalan itu dengan membuat pembedaan penting antara esensi Tuhan (Ousia), yang sepenuhnya tidak dapat dipahami, dan aktivitas Tuhan di dunia yang disebutnya “kekuasaan”

(dynamies) atau energi (energeiai). Pada dasarnya, itu mirip dengan solusi P dan para penulis Hikmat. Kita tidak pernah bisa mengetahui Tuhan sebagaimana dia dalam dirinya sendiri. Philo menulis bahwa Musa berkata: “Pemahaman tentang aku adalah sesuatu yang manusia, ya, bahkan seluruh langit dan bumi, tidak mampu menampungnya.”73

Untuk mengadaptasikan dirinya kepada kemampuan akal kita yang terbatas, Tuhan berkomunikasi melalui “kekuasaannya”, yang tampak• nya sama denga n bentuk-bentu k suci Plato (tetapi Philo tidak selamanya konsisten tentang ini). Bentuk-bentuk suci ini merupakan realitas tertinggi yang dapat dijangkau oleh pikiran manusia. Philo menganggapnya memancar dari Tuhan, seperti Plato dan Aristoteles memandan g bahwa kosmos memancar secara abadi dari Sebab

Pertama. Dua di antara kekuasaan ini penting secara khusus. Philo menyebutnya kuasa Kerajaan, yang mengungkapkan Tuhan dalam keteraturan alam, dan kuasa Kreatif, yang dengannya Tuhan meng• ungkapkan diri dalam berkat yang dilimpahkannya kepada manusia. Masing-masing kuasa ini tidak bisa dicampuradukkan dengan esensi ilahi (ousid), yang tetap terbungkus dalam misteri yang tak tertembus. Kuasa itu memampukan kita menangkap kilasan realitas yang berada

di atas segala sesuatu yang bisa kita pahami. Terkadang Philo berbicara tentang wujud esensial Tuhan (ousia) didampingi oleh kuasa Kerajaan dan Kreatif dalam sebentuk trinitas. Ketika menginterpretasikan kisah kunjungan Yahweh dan dua malaikat kepada Abraham di Mamre, misalnya, dia mengatakan bahwa peristiwa itu merupakan penampilan kiasan ousia Tuhan—Dia Sebagaimana Adanya—bersama dua ke• kuasaan senior.74

J akan dibuat tercengang oleh hal ini dan, memang, orang Yahudi selalu memandan g konsepsi Philo tentang Tuhan sebagai tidak autentik. Akan tetapi, orang Kristen mengangga p Philo sangat membantu, dan orang Yunani, seperti akan kita saksikan, menerima pembedaan antara “esensi” Tuhan yang tak dapat diketahui dengan

“energi” yang membuatnya dapat kita kenali. Mereka juga akan dipengaruhi oleh teorinya tentang Logos ilahi. Seperti halnya para penulis Hikmat, Philo membayangkan bahwa Tuhan telah membentuk sebuah rancangan dasar (logos) penciptaan, yang bersesuaian dengan alam bentuk-bentuk Plato. Sekali lagi, Philo tidak selalu konsisten. Kadangkala dia menyatakan bahwa Logos adalah salah satu dari kuasa itu; pada saat lain dia tampaknya berpendapat bahwa Logos lebih tinggi, yakni sebagai ide tertinggi tentang Tuhan yang bisa dicapai oleh manusia. Namun demikian, ketika kita berkontemplasi tentang Logos, kita tidak membentuk pengetahuan positif tentang Tuhan: kita tiba di luar jangkauan akal diskursif menuju pemahaman intuitif yang “lebih tinggi daripada suatu cara berpikir, lebih berharga daripada sesuatu yang sekadar merupakan pikiran.”75 Itu adalah aktivitas yang mirip dengan kontemplasi Plato (theoria). Philo ber- sikeras bahwa kita tak akan pernah mencapai Tuhan sebagaimana dia dalam dirinya: kebenaran tertinggi yang dapat kita jangkau adalah pengakuan tak terelakkan bahwa Tuhan benar-benar mentransendensi pikiran manusia.

Ini tidak segamblang kedengarannya. Philo menggambarkan sebuah pengembaraan penuh kasih dan menyenangkan menuju yang

tak diketahui, yang memberinya pembebasan dan energi kreatif. Seperti Plato, dia memandan g jiwa seperti dalam pengasingan, terperangkap dalam dunia mated yang bersifat fisik. la harus kembali kepada Tuhan, rumahnya yang sejati, meninggalkan kesenangan, dunia indriawi, dan bahkan bahasa, karena semua itu mengikat kita dengan dunia yang tidak sempurna. Akhirnya, jiwa akan mencapai kebahagiaan yang membawanya mengatasi kesuraman keterbatasan ego menuju realitas yang lebih luas dan utuh. Kita telah menyaksikan bahwa konsepsi tentang Tuhan sering merupakan pemikiran imaji- natif. Para nabi telah merefleksikan pengalaman mereka dan merasa bahwa hal itu berasal dad suatu wujud yang mereka sebut Tuhan. Philo memperlihatkan bahwa kontemplasi religius memiliki banyak kesamaan denga n bentuk-bentuk kreativitas lain. Ada saat-saat, katanya, ketika dia sulit meneruskan penulisan bukunya dan tidak membuat kemajuan apa pun, tapi terkadang dia merasa terkuasai oleh tuhan:

 

Aku … tiba-tiba menjadi penuh, ide-ide turun bagaikan salju, sedemikian sehingga di bawah pengaruh kuasa ilahi, aku dipenuhi kegaduhan Corybantic [ritus dan prosesi dalam pemujaan Dewi Cybele—dewi alam masyarakat kuno Asia Minor—yang sangat liar secara emosional,— ed.] dan menjadi tak sadar akan apa pun, tempat, orang, waktu saat ini, diri sendiri, apa yang diucapkan, dan apa yang dituliskan. Karena aku memperoleh ekspresi, gagasan, kebahagiaan hidup, pandangan tajam, kejelasan yang luar biasa atas objek-objek seperti yang mungkin terjadi lewat penglihatan mata yang sangat jernih.76

 

Segera setelah itu, tidak mungkin lagi bagi orang-orang Yahudi untuk mencapai sebuah sintesis dengan dunia Yunani. Pada tahun kematian Philo terjadi pembunuhan sistematik atas komunitas Yahudi

di Aleksandria dan merebaknya ketakutan akan kebangkitan Yahudi. Ketika Romawi menegakkan imperium mereka di Afrika Utara dan Timur Tengah pada abad kesatu SM, mereka menenggelamkan diri dalam kebudayaa n Yunani, menggabungka n dewa-dew a nene k moyang mereka dengan dewa-dewa Yunani dan mengadopsi filsafat Yunani dengan sangat antusias. Namun, mereka tidak mewarisi sikap permusuhan Yunani terhadap orang Yahudi. Sebaliknya, mereka tak jarang lebih membela orang Yahudi daripada orang Yunani, meman• dang mereka sebagai sekutu penuh di kota-kota Yunani yang masih menyimpan sisa-sisa permusuhan terhadap Romawi. Orang Yahudi

diberi kebebasan beragama sepenuhnya: agama mereka dikenal sebagai agama besar di zaman antik dan dihormati. Hubungan antara Yahudi dan Romawi biasanya selalu baik, sekalipun di Palestina, yang sering sulit menerima pemerintahan asing. Pada abad kesatu M, Yudaisme berada dalam posisi yang sangat kuat dalam kerajaan Romawi. Sepersepuluh dari seluruh wilayah kerajaan diisi komunitas Yahudi: di Aleksandria, empat puluh persen penduduk adalah orang Yahudi. Orang-orang di kerajaan Romawi tengah mencari alternatif agama baru. Gagasan monoteistik sedang merebak, dewa-dewa lokal tak lama kemudian hanya dianggap sebagai perwujudan dari keilahan yang lebih luas. Orang Romawi tertarik pada karakter moral Yudaisme yang tinggi. Mereka yang keberatan untuk disunat dan mengikuti Taurat sering dijadikan anggota kehormatan sinagoga-sinagoga dan disebut sebagai “orang yang takut kepada Allah”. Jumlah mereka terus meningkat: bahkan diperkirakan bahwa salah seorang kaisar Flavian mungkin telah beralih ke Yudaisme, sementara Konstantin nantinya beralih ke Kristen. Namun di Palestina, sebuah kelompok politik ekstrem dengan keras menentang pemerintahan Romawi. Pada 66 M, mereka merancang sebuah pemberontakan melawan Romawi dan, di luar dugaan, berhasil menghambat gerak maju pasukan Romawi selama empat tahun. Para penguasa cemas pemberontakan itu akan meluas kepada kaum Yahudi diaspora lainnya dan terpaksa menumpasnya tanpa ampun. Pada 70 M, tentara kaisar baru Vespasian akhirnya menguasai Yerusalem, meratakan Kuil dengan tanah, dan menjadikannya kota Romawi bernama Aelia Capitolana. Sekali lagi orang Yahudi terusir ke pengasingan.

Keruntuhan kuil, yang telah menjadi sumber inspirasi Yudaisme baru, merupakan duka yang dalam. Akan tetapi, jika melihat ke belakang, tampaknya orang Yahudi Palestina, yang sering lebih kon- servatif daripada Yahudi diaspora yang sudah terhelenisasi, telah mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi bencana ini. Berbagai sekte telah tumbuh di Tanah Suci ini yang dengan berbagai cara berbeda memisahkan diri mereka dari Kuil Yerusalem. Sekte Essenia dan sekte Qumran percaya bahwa Kuil telah menjadi kotor dan korup; mereka menarik diri dan hidup dalam komunitas terpisah, seperti komunitas bergaya monastik di sisi Laut Mati. Mereka percaya bahwa mereka sedang membangun sebuah kuil baru, yang bukan dibuat dengan tangan. Kuil mereka adalah Kuil Ruh; bukannya dengan memberikan hewan kurban seperti yang lama, mereka menyucikan

diri dan mencari pengampunan dosa dengan upacara baptis dan perjamuan umum. Tuhan hadir di tengah persaudaraan yang saling mengasihi, bukan di dalam kuil batu.

Yang paling progresif di antara semua umat Yahudi Palestina adalah kaum Farisi yang merasa solusi aliran Essenia terlalu elitis. Dalam Perjanjian Baru, kaum Farisi digambarkan sebagai orang-orang munafik. Ini disebabkan oleh distorsi polemik pada abad pertama. Kaum Farisi sebenarnya merupakan orang-orang Yahudi yang sangat spiritual. Mereka percaya bahwa seluruh Israel telah diimbau untuk menjadi bangsa suci para rahib. Tuhan dapat hadir di rumah yang paling sederhana sebagaimana kehadirannya di Kuil. Akibatnya, mereka hidup bagaikan kasta rahib resmi, menjalankan hukum-hukum kesucian khusus yang mereka terapkan hanya pada kuil yang ada di rumah mereka. Mereka bersikeras untuk makan dalam keadaan suci secara ritual karena mereka yakin bahwa meja setiap orang Yahudi bagaikan mezbah Tuhan di Kuil. Mereka menanamkan rasa tentang kehadiran Tuhan dalam setiap perincian kecil kehidupan sehari- hari. Orang Yahudi kini dapat langsung mendekati Tuhan tanpa perantaraan kasta rahib dan tanpa ritual yang rumit. Mereka dapat beroleh ampunan dosa dengan cara berbuat baik kepada tetangga mereka; sedekah merupakan mitzvah terpenting di dalam Taurat; ketika dua atau tiga orang Yahudi belajar Taurat bersama-sama, Tuhan hadir di tengah-tengah mereka. Selama beberapa tahun di awal abad itu, muncul dua aliran yang saling bertentangan: satunya dipimpin oleh Shammai yang Tua, yang lebih ketat, yang lain dipimpin oleh Rabi Hillel yang Tua, yang merupakan kelompok Farisi paling po- puler saat itu. Ada sebuah cerita bahwa suatu hari seorang pagan mendatangi Hillel dan berkata kepadanya bahwa dia pasti akan menganut Yudaisme jika rabi itu mampu membaca semua isi Taurat sambil berdiri di atas sebelah kaki. Hillel menjawab: “Jangan me- lakukan kepada orang lain suatu perbuatan yang engkau sendiri tidak ingin dilakukan kepada dirimu. Itulah keseluruhan Taurat: pergi

dan pelajarilah.”77

 

Pada tahun 70 yang penuh krisis itu, Farisi berkembang menjadi Yudaisme Palestina yang paling penting dan disegani; mereka telah membuktikan kepada umat bahwa mereka tidak membutuhkan Kuil untuk menyembah Tuhan, sebagaimana diperlihatkan oleh kisah masyhur berikut ini:

Ketika Rabi Yohannan ben Zakkei tiba dari Yerusalem, Rabi Yoshua mendatanginya dan diceritakan bahwa Kuil telah dihancurkan.

“Celakalah kita!” seru Rabi Yoshua, “tempat penebusan dosa-dosa orang

Israel telah dirobohkan!”

“Anakku,” jawab Rabi Yohannan, “janganlah berduka. Kita memiliki tempat penebusan lain yang sama ampuhnya. Apakah itu? Itulah perbuatan baik, karena telah dikatakan: Yang Aku kehendaki adalah kasih sayang, bukan pengurbanan.’”78

 

Konon setelah kejatuhan Yerusalem, Rabi Yohannan diselundup- kan di dalam peti jenazah agar bisa keluar dari kota yang tengah berkobar. Dia telah menentang pemberontakan Yahudi dan ber- pendapa t bahwa orang-orang Yahudi akan lebih baik jika tidak memiliki negara . Oran g Romawi mengizinkanny a mendirika n komunitas Farisi yang mandiri di Jabna, sebelah barat Yerusalem. Beberapa komunitas yang serupa dibangun di Palestina dan Babilonia. Mereka saling terkait erat. Komunitas ini menghasilkan para sarjana yang disebut sebagai tannaim, termasuk tokoh rabi semacam Rabi Yohannan sendiri, Rabi Akiva yang ahli mistik, dan Rabi Ishmael. Mereka mengompilasi mishnah, kodifikasi hukum lisan yang meng- aktualisasikan kembali hukum-hukum Musa. Selanjutnya, sekelompok sarjana baru yang dikenal sebagai amoraim, memulai penafsiran atas Mishnah dan menghasilkan risalah-risalah yang secara kolektif dikenal dengan nama Talmud. Bahkan ada dua Talmud yang telah dikompilasi, yakni Talmud Yerusalem, yang diselesaikan pada akhir abad keempat, dan Talmud Babilonia, yang dianggap lebih autoritatif dan baru selesai pada akhir abad kelima. Proses tersebut terus berlanjut dan setiap generasi sarjana mulai mengomentari Talmud dan tafsiran para pendahulu mereka. Perenungan hukum ini tidak sekering yang cenderung dibayangkan oleh orang luar. Ini merupakan meditasi tanpa akhir tentang Firman Tuhan, Bait Suci baru; setiap lapisan tafsir itu mewakili dinding-dinding dan takhta Kuil baru, mengabadikan kehadiran Tuhan di tengah-tengah umatnya.

Yahweh telah senantiasa menjadi Tuhan yang transenden, yang membimbing manusia dari atas dan tak terjangkau. Para rabi membuat dia hadir sangat dekat di dalam diri manusia dan dalam perincian terkecil kehidupan sehari-hari. Setelah kehilangan Kuil dan menjalani lagi pengalaman di pengasingan, orang Yahudi membutuhkan Tuhan

di tengah-tengah mereka. Para rabi tidak mengonstruksikan doktrin formal tentang Tuhan. Sebaliknya, mereka mengalaminya sebagai

kehadiran yang nyata. Spiritualitas mereka telah dideskripsikan se- bagai keadaan “mistisisme yang normal.”79 Dalam ayat-ayat Talmud yang paling awal, Tuhan dialami dalam fenomena fisik yang misterius. Para rabi berbicara mengenai Roh Kudus, yang telah berpikir tentang penciptaan dan pembangunan tempat suci, membuat kehadirannya dapat dirasakan dalam embusan angin atau kobaran api. Yang lain mendengarnya dalam dentangan lonceng atau suara ketukan yang keras. Suatu hari, contohnya, ketika Rabi Yohannan duduk berdiskusi tentang pengalaman Yehezkiel melihat kereta perang, sebuah nyala api turun dari langit dan malaikat-malaikat berdiri di dekatnya: sebuah suara dari langit mengonfirmasikan bahwa Rabi itu mempunyai suatu misi khusus dari Tuhan.80

Begitu kuatnya perasaan mereka tentang kehadiran sehingga tak ada doktrin formal dan objektif yang sesuai. Para rabi sering menyatakan bahwa di Gunung Sinai, setiap orang Israel yang berdiri

di kaki bukit telah mengalami Tuhan dalam cara yang berbeda. Tuhan telah, sebagaimana mestinya, menyesuaikan dirinya kepada setiap orang “sesuai dengan derajat pemahaman mereka.”81 Seperti dinyatakan oleh seorang rabi: “Tuhan tidak datang kepada manusia dengan penuh paksaan, tetapi selaras dengan kekuatan pemahaman seorang manusia terhadapnya.”8 2 Pandangan rabinik yang sangat penting ini bermaksud bahwa Tuhan tidak dapat dijelaskan dalam suatu formula yang sama bagi semua orang; dia secara esensial merupaka n pengalama n subjektif. Masing-masing individu akan mengalami realitas “Tuhan” dalam cara berbeda demi memenuhi kebutuhan temperamental khas individu itu. Setiap nabi telah meng• alami Tuhan secara berbeda, demikian kata rabi itu, karena ke- pribadiannya berpengaruh terhadap konsepsinya tentang yang ilahi. Akan kita saksikan bahw a monoteis lain juga mengembangka n gagasan yang sangat mirip. Hingga saat ini, ide-ide teologis tentang Tuhan merupakan persoalan pribadi menurut pandangan Yudaisme dan tidak dipaksakan oleh siapa pun.

Setiap doktrin resmi akan membatasi misteri Tuhan yang esensial. Para rabi menunjukkan bahwa Tuhan sama sekali tidak bisa dipahami. Bahkan Musa juga tidak mampu menembus misteri Tuhan: setelah melalui pencarian yang panjang, Raja Daud mengakui bahwa adalah sia-sia untuk mencoba memahami Tuhan karena dia terlalu agung bagi pikiran manusia.83 Orang Yahudi bahkan dilarang mengucapkan namanya. Ini untuk mengingatkan bahwa apa pu n usaha untuk

mengungkapkan Tuhan pasti tidak akan memadai: nama suci itu ditulis YHWH dan tidak dilafalkan dalam setiap pembacaan kitab suci. Kita bisa mengagumi perbuatan Tuhan di alam semesta, tetapi, sebagaimana dikatakan oleh Rabi Huna, ini hanya memberi kita gambaran yang sangat kecil tentang keseluruhan realitas: “Manusia tidak dapat mengerti makna petir, topan, badai, tatanan alam, hakikat dirinya sendiri; lantas bagaimana dia bisa membual mampu memahami Raja dari segala Raja?”84 Keseluruhan gagasan tentang Tuhan adalah untuk memotivasi lahirnya rasa tentang misteri dan ketakjuban hidup, bukan untuk meraih solusi yang sejati. Para rabi bahkan memper- ingatkan orang-orang Israel untuk tidak terlalu sering memuji Tuhan dalam doa mereka, karena ucapan mereka cenderung menjadi tidak sempurna.8 5

Bagaimana wujud transenden dan tak terpahami ini terkait dengan dunia? Para rabi mengekspresikan perasaan mereka tentang ini dalam sebuah paradoks: “Tuhan adalah tempat dunia, namun dunia bukanlah tempat Tuhan.”85 Tuhan meliputi dan mencakup dunia, tetapi dia tidak hidup di dalamnya sebagaimana halnya makhluk. Dalam gam• baran favorit mereka lainnya, dikatakan bahwa Tuhan mengisi dunia seperti jiwa memenuhi tubuh: dia menghidupi tetapi melampauinya. Mereka juga berkata bahwa Tuhan seperti penunggang kuda: ketika berada di atas kuda, penunggang bergantung pada binatang itu, tetapi dia lebih unggul daripada kuda dan memegang kontrol lewat tali kekang. Semua ini hanyalah gambaran dan, tak pelak, memang tidak sepadan. Semua ini hanyalah ungkapa n imajinatif tentang

“sesuatu” yang agung dan tak terdefinisikan yang di dalamnya kita hidup dan bergerak dan mewujud. Ketika mereka berbicara tentang kehadiran Tuhan di bumi, mereka secara hati-hati—seperti halnya para penulis Alkitab—membedakan antara jejak-jejak kehadiran Tuhan yang dia izinkan untuk kita lihat dengan misteri ilahi yang lebih agung dan tidak bisa dijangkau. Mereka menyamakan gambaran “ke- muliaan” (kavod) YHWH dengan Roh Kudus, yang terus-menerus mengingatkan bahwa Tuhan yang kita alami tidak bersesuaian dengan esensi Realitas Suci itu sendiri.

Salah satu sinonim kata Tuhan yang mereka sukai adalah Shekinah, yang berasal dari bahasa Ibrani shakan, tinggal bersama atau me- negakkan kemah. Kini, tatkala Kuil telah runtuh, citra Tuhan yang telah menemani orang Israel dalam pengembaraan mereka memberi petunjuk tentang Tuhan yang bisa dijangkau. Beberapa di antara

mereka berkata bahwa Shekinah, yang selalu berada bersama umatnya

di bumi, tetap bersemayam di Bukit Kuil, walaupun Kuil itu telah dihancurkan. Rabi yang lain berpendapat bahwa penghancuran Kuil telah membebaskan Shekinah dari Yerusalem dan memampukannya mengisi seluruh dunia.87 Seperti halnya “kemuliaan” tuhan atau Roh Kudus, Shekinah tidak dikonsepsikan sebagai wujud ilahi yang terpisah, tetapi sebagai kehadiran Tuhan di bumi. Para rabi melihat kembali sejarah umat mereka dan mendapatkan bahwa dia telah selalu menemani mereka:

 

Datang dan lihatlah betapa dicintainya Israel di hadapan Tuhan, sebab ke mana pun mereka pergi Shekinah mengiringi mereka, seperti difirmankan: “Bukankah aku telah secara jelas menyingkapkan diriku kepada rumah orangtuamu ketika mereka berada di Mesir?” Di Babilonia, Shekinah bersama mereka, seperti difirmankan: “Demi engkau, aku [dfjkirim ke Babilonia.” Dan ketika di masa depan Israel diselamatkan, Shekinah akan menyertai mereka saat itu, sebagaimana difirmankan: “Tuhanmu akan mengubah ketertawananmu.” Artinya, Tuhan akan kembali bersamamu.88

 

Hubungan antara Israel dengan Tuhannya begitu kuat sehingga tatkala dia menyelamatkan mereka di masa silam, orang Israel biasa mengatakan kepada Tuhan: “Engkau telah menyelamatkan dirimu sendiri.”89 Dalam cara mereka yang khas Yahudi, para rabi mengem- bangkan rasa tentang Tuhan sebagai sesuatu yang diidentik dengan diri, yang oleh orang Hindu disebut Atman.

Gambaran tentang Shekinah telah membantu orang-orang yang terusir untuk menumbuhkan rasa kehadiran Tuhan di mana pun mereka berada. Para rabi berbicara tentang Shekinah yang berpindah dari satu sinagoga diaspora ke sinagoga lain; yang lain menyatakan Shekinah berdiri di depan pintu sinagoga, memberkati setiap langkah yang diambil oleh seorang Yahudi dalam perjalanannya menuju majelis ilmu. Shekinah juga berdiri di depan pintu sinagoga ketika orang Yahudi membacakan Shema bersama-sama di sana.90 Seperti halnya orang Kristen awal, orang Israel dianjurkan oleh rabi-rabi mereka untuk melihat diri mereka sebagai komunitas tunggal dengan “satu jiwa dan satu badan.”91 Komunitas adalah Kuil baru, yang meng- abadikan imanensi Tuhan: maka ketika mereka memasuki sinagoga dan membacakan Shema dalam keterpaduan sempurna “dengan taat, dengan satu suara, satu pikiran, dan satu nada,” Tuhan hadir di

tengah-tengah mereka. Akan tetapi, dia tidak menyukai ketiadaan harmoni di dalam komunitas dan kembali ke langit tempat para malaikat menyenandungkan puja-puji “dalam satu suara dan satu melodi.”92Persatuan yang lebih tinggi antara Tuhan dan Israel hanya mungkin terjadi ketika persatuan yang lebih rendah antarsesama Israel telah sempurna: para rabi tak henti-hentinya mengatakan kepada orang Israel bahwa ketika sekelompok orang Yahudi mempelajari Taurat bersama-sama, Shekinah akan bersemayam di tengah-tengah mereka.9 3

Di pengasingan, orang Yahudi merasakan kekerasan dunia di sekeliling mereka; rasa tentang kehadiran ini membantu mereka untuk mengimajinasikan bahwa mereka dikelilingi oleh berkah Tuhan. Ketika mereka mengikat jimat (tfillin) ke tangan dan kepala mereka, mengenakan jumbai ritual (tzitzii), dan memakukan mezuzah yang berisi kata-kata Shema di atas pintu mereka, sebagaimana digambar- kan dalam Kitab Ulangan, mereka tidak boleh mencoba menjelaskan praktik-praktik yang ganjil dan tak jelas ini. Usaha semacam itu akan mengurangi kandungan maknanya. Alih-alih, mereka harus mem- biarkan pelaksanaan mitzvot ini mendorong mereka masuk ke dalam kesadaran tentang limpahan kasih Ilahi: “Israel dicintai! Alkitab melingkupinya dengan mitzvot: tfillin di kepala dan tangan, mezuzah

di pintu, dan tzitzit di pakaian mereka.”94 Tanda-tanda ini bagaikan

mutiara yang dihadiahkan seorang raja kepada istrinya untuk me- nambah kecantikan sang istri di hadapannya. Ini tidaklah mudah. Talmud memperlihatkan bahwa sebagian orang mempertanyakan apakah Tuhan telah membuat banyak perbedaan di dalam dunia yang gelap ini.95 Spiritualitas para rabi menjadi normatif dalam Yudaisme, bukan hanya di kalangan mereka yang telah meninggalkan Yerusalem tetapi juga di kalangan orang Yahudi yang hidup di diaspora. Ini bukan karena ia didasarkan pada suatu pandangan teoretis: banyak praktik Taurat yang tidak memiliki alur logika. Agama para rabi itu diterima karena sifatnya yang praktis. Visi para rabi telah mencegah umat jatuh ke dalam keputusasaan.

Namun, jenis spiritualitas ini hanya ditujukan kepada kaum pria saja sebab kaum perempuan tidak dibutuhkan—dan karena itu tidak diizinkan—untuk menjadi rabi, mempelajari Taurat, atau berdoa di sinagoga. Agama Tuhan menjadi bersifat patriarkal seperti ke- banyakan ideologi lain pada zaman itu. Peran kaum perempuan terbatas hanya untuk menjaga kesucian ritual rumah mereka. Orang

Yahudi telah semenjak lama menyucikan penciptaan dengan cara memilah bagian-bagiannya yang beragam, dan dalam semangat ini kaum perempuan diturunkan ke suatu kawasan terpisah dari laki- laki, sebagaimana mereka memisahkan susu dari daging di dapur mereka. Secara praktis, ini berarti bahwa kaum perempuan dipandang inferior. Meskipun para rabi mengajarkan bahwa kaum perempuan diberkati Tuhan, tetapi kaum pria diperintahkan untuk bersyukur kepada Tuhan dalam doa pagi karena Tuhan tidak menciptakan mereka sebagai orang yang non-Yahudi, budak, atau perempuan. Walaupun demikian, perkawinan dipandang sebagai sebuah tugas sakral dan kehidupan keluarga dianggap sebagai sesuatu yang luhur. Para rabi menekankan kesuciannya melalui pengesahan yang sering disalahpahami. Jika hubungan seks dilarang selama menstruasi, ini bukan disebabkan oleh anggapan bahwa kaum perempuan itu kotor atau menjijikkan. Masa pantangan itu dirancang untuk mencegah kesewenangan kaum pria terhadap istrinya: “Karena seorang pria jadi sangat mengenal istrinya, dan kemudian ditolak olehnya, Taurat menyatakan bahwa kaum perempuan harus menjalani niddah [tidak melayani hubungan seks] selama tujuh hari [setelah menstruasi] agar dia menjadi dicintai oleh suaminya [setelah itu] seperti pada hari pernikahan.”96 Sebelum pergi ke sinagoga pada suatu hari perayaan, seorang pria diwajibkan melakukan mandi ritual, bukan karena dia kotor, melainkan demi menjadikan dirinya lebih suci dalam menjalan- kan pelayanan ilahi. Dalam semangat ini pula seorang perempuan diwajibkan mandi ritual setelah periode menstruasi, untuk memper- siapkan dirinya bagi kesucian tugas mendatang: hubunga n seks dengan suaminya. Gagasan bahwa seks mungkin merupakan sesuatu yang suci tidak dikenal di dalam Kristen, yang acap melihat seks dan Tuhan sebagai dua hal yang saling tidak bersesuaian. Benar bahwa orang Yahudi pada masa berikutnya sering memberikan inter- pretasi negatif terhadap ajaran-ajaran para rabi, tetapi rabi-rabi itu sendiri tidak mendakwahkan spiritualitas yang murung, asketik, dan menyangkal kehidupan.

Sebaliknya, mereka mengajarkan bahwa orang Yahudi berkewa- jiban untuk memelihara kehidupan agar tetap baik dan menyenang- kan. Mereka sering menggambarkan Roh Kudus “meninggalkan” atau “mengabaikan” karakter biblikal, seperti Yakub, Daifd, atau Ester ketika mereka sedang sakit atau bersedih.9 7 Kadangkala mereka seakan-akan mendengar para nabi itu mengutip Mazmur 22 ketika

mereka merasa Roh meninggalkan mereka: “Allahku, Allahku, menga-

pa Engkau meninggalkan aku?” Ini membangkitkan pertanyaan me- narik tentang seruan misterius Yesus dari tiang salib yang mengutip kata-kata ini. Para rabi mengajarkan bahwa Tuhan tidak bermaksud membuat kaum laki-laki atau perempuan menderita. Tubuh mesti dimuliakan dan dirawat, karena ia dibentuk dalam citra Tuhan: adalah berdosa menghindarkan kesenangan-kesenangan semacam anggur dan seks, sebab Tuhan telah menganugerahkan semua itu untuk kebahagiaan manusia. Tuhan tak dapat dijumpai dalam penderitaan dan asketisme. Ketika para rabi menyeru umatnya untuk mengamal- kan cara-cara praktis “memiliki” Roh Kudus, mereka sebenarnya dalam pengertian tertentu diminta untuk menciptakan citra mereka sendiri tentang Tuhan. Para rabi mengajarkan bahwa tidaklah mudah untuk menentukan tapal batas di mana perbuatan Tuhan berawal dan perbuatan manusia berakhir. Para nabi selalu berupaya agar Tuhan bisa dilihat di bumi dengan cara menisbahkan wawasan mereka sendiri kepadanya. Kini para rabi tampak terlibat dalam tugas yang bersifat manusiawi sekaligus bersifat ketuhanan. Tatkala mereka me- nyusun undang-undang baru, maka undang-undang itu akan merupa- kan perpadua n antara unsur ketuhanan dan unsur kemanusiaan. Dengan meningkatnya jumlah Taurat di dunia, para rabi memperluas kehadiran Tuhan di dunia dan menjadikannya lebih efektif. Mereka sendiri menjadi dihormati sebagai inkarnasi Taurat; mereka dianggap lebih “menyerupai Tuhan” dibandingkan dengan manusia lain karena penguasaan mereka atas Taurat.98

Rasa tentang kedekatan Tuhan seperti ini membantu orang Yahudi untuk melihat kemanusiaan sebagai sesuatu yang sakral. Rabi Akiva mengajarkan bahwa mitzvah “cintailah tetanggamu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri” merupakan “prinsip agung Taurat.”99

Menyakiti sesama manusia merupakan pengingkaran terhadap Tuhan itu sendiri, yang telah menciptakan manusia dalam citranya. Ini setara dengan ateisme: upaya untuk mengingkari eksistensi Tuhan. Dengan demikian, pembunuhan merupakan dosa paling besar karena melang- gar norma-norma yang disucikan: “Kitab Suci mengajarkan kita bahwa apa pu n yang menumpahka n darah manusia dipandang sebagai penghapusan citra Tuhan.”100

Sebaliknya, mengabdi bagi kepentingan manusia lain termasuk ke dalam perbuatan meniru sifat Tuhan (imitatio dei): tindakan itu mewujudkan kembali kasih sayang dan rahmat Tuhan. Karena semua

diciptakan dalam citra Tuhan, maka semuanya memiliki derajat yang sama: bahkan Imam Tertinggi sekalipun harus dihukum jika dia meluka i sesama manusia , karen a perbuata n itu sama denga n penyangkalan eksistensi Tuhan.101 Tuhan telah menciptakan adam, seorang manusia, untuk mengajarkan kepada kita bahwa siapa pun yang menghancurkan kehidupan seorang manusia akan dihukum seakan-akan dia telah membunuh seluruh umat manusia; sama halnya, siapa yang menyelamatkan kehidupan seseorang akan diberi pahala yang sama dengan menghidupkan semua umat manusia.102 Ini bukan sekadar sentimen yang lemah, tetapi merupakan prinsip hukum yang mendasar: artinya, tak seorang pun yang boleh dikurbankan demi kepentingan kelompok. Menghinakan seseorang, bahkan seorang goyim atau budak, adalah perbuatan yang sangat ofensif, karena hal itu setara dengan pembunuhan, penyangkalan akan citra Tuhan yang suci.103 Hak untuk bebas kemudian menjadi sangat krusial: sulit menemukan satu alasan pun untuk menjatuhkan hukuman penjara

di dalam semua literatur rabinik, karena hanya Tuhanlah yang berhak merampas kemerdekaan seorang manusia. Menyebarkan aib sese• orang dianggap sama dengan menyangkal eksistensi Tuhan.104 Orang Yahudi tidak mengandaikan Tuhan sebagai Big Brother yang terus mengamati gerak-gerik manusia dari suatu tempat; sebaliknya mereka menanamkan sebuah kesadaran bahwa Tuhan berada dalam diri setiap manusia sehingga hubungan dengan manusia lain menjadi pertemuan yang sarat dengan nilai-nilai kesucian.

Hewan-hewan tidak mengalami kesulitan untuk hidup dalam tabiat mereka, tetapi manusia merasakan sulitnya menjadi manusia yang utuh. Tuhan Israel kadang tampak seakan-akan telah mendorong terjadinya kekejaman yang paling tidak suci dan tidak manusiawi. Namun selama berabad-abad, Yahweh telah menjadi sebuah gagasan yang mungkin dapat membantu orang-orang menanamkan rasa kasih sayang dan saling menghormati terhadap sesama manusia, yang telah menjadi ciri agama-agama Zaman Kapak. Cita-cita para rabi sangat dekat dengan agama besar kedua, yang memang berakar dalam tradisi yang sama.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: