open mind.com weblog


Pada bag 3, aku sudah mengajak anda melihat  korelasi antara teori evolusi dengan kisah penciptaan pada hari 1 dan 2… sekarang mari kita lanjutkan pada hari-hari berikutnya….

“Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada suatu tempat, sehingga kelihatan yang kering…”  HARI KE-3 (kej 1:9)

Sebelum itu, mari kita pahami pengertian Bumi: Bumi adalah planet tempat tinggal seluruh makhluk hidup beserta isinya. Sebagai tempat tinggal makhluk hidup, bumi tersusun atas beberapa lapisan bumi, bahan-bahan material pembentuk bumi, dan seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Bentuk permukaan bumi berbeda-beda, mulai dari daratan, lautan, pegunungan, perbukitan, danau, lembah, dan sebagainya. Bumi sebagai salah satu planet yang termasuk dalam sistem tata surya di alam semesta ini tidak diam seperti apa yang kita perkirakan selama ini, melainkan bumi melakukan perputaran pada porosnya (rotasi) dan bergerak mengelilingi matahari (revolusi) sebagai pusat sistem tata surya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya siang malam dan pasang surut air laut. Oleh karena itu, proses terbentuknya bumi tidak terlepas dari proses terbentuknya tata surya kita.

Banyak teori tentang pembentukan bumi, diantaranya:

1.

Theory Big bang Teori ini yang paling terkenal. Hawking mendukung teori ini.  Berdasarkan Theory Big Bang, proses terbentuknya bumi berawal dari puluhan milyar tahun yang lalu. Pada awalnya terdapat gumpalan kabut raksasa yang berputar pada porosnya. Putaran yang dilakukannya tersebut memungkinkan bagian-bagian kecil dan ringan terlempar ke luar dan bagian besar berkumpul di pusat, membentuk cakram raksasa. Suatu saat, gumpalan kabut raksasa itu meledak dengan dahsyat di luar angkasa yang kemudian membentuk galaksi dan nebula-nebula. Selama jangka waktu lebih kurang 4,6 milyar tahun, nebula-nebula tersebut membeku dan membentuk suatu galaksi yang disebut dengan nama Galaksi Bima Sakti, kemudian membentuk sistem tata surya. Sementara itu, bagian ringan yang terlempar ke luar tadi mengalami kondensasi sehingga membentuk gumpalan-gumpalan yang mendingin dan memadat. Kemudian, gumpalan-gumpalan itu membentuk planet-planet, termasuk planet bumi.

Dalam perkembangannya, planet bumi terus mengalami proses secara bertahap hingga terbentuk seperti sekarang ini.

Ada tiga tahap dalam proses pembentukan bumi, yaitu:

1. Awalnya, bumi masih merupakan planet homogen dan belum mengalami perlapisan atau perbedaan unsur.

2. Pembentukan perlapisan struktur bumi yang diawali dengan terjadinya diferensiasi. Material besi yang berat jenisnya lebih besar akan tenggelam, sedangkan yang berat jenisnya lebih ringan akan bergerak ke permukaan.

3. Bumi terbagi menjadi lima lapisan, yaitu inti dalam, inti luar, mantel dalam, mantel luar, dan kerak bumi.

Perubahan di bumi disebabkan oleh perubahan iklim dan cuaca.

2. Teori Kabut Kant-Laplace Sejak jaman sebelum Masehi, para ahli telah banyak berfikir dan melakukan analisis terhadap gejala-gejala alam. Mulai abad ke 18 para ahli telah memikirkan proses terjadinya Bumi. Ingatkah kamu tentang teori kabut (nebula) yang dikemukakan oleh Immanuel Kant (1755) dan Piere de Laplace (1796)? Mereka terkenal dengan Teori Kabut Kant-Laplace. Dalam teori ini dikemukakan bahwa di jagat raya terdapat gas yang kemudian berkumpul menjadi kabut (nebula). Gaya tarik-menarik antar gas ini membentuk kumpulan kabut yang sangat besar dan berputar semakin cepat. Dalam proses perputaran yang sangat cepat ini, materi kabut bagian khatulistiwa terlempar memisah dan memadat (karena pendinginan). Bagian yang terlempar inilah yang kemudian menjadi planet-planet dalam tata surya.

3. Teori Planetesimal Seabad sesudah teori kabut tersebut, muncul teori Planetesimal yang dikemukakan oleh Chamberlin dan Moulton. Teori ini mengungkapkan bahwa pada mulanya telah terdapat matahari asal. Pada suatu ketika, matahari asal ini didekati oleh sebuah bintang besar, yang menyebabkan terjadinya penarikan pada bagian matahari. Akibat tenaga penarikan matahari asal tadi, terjadilah ledakan-ledakan yang hebat. Gas yang meledak ini keluar dari atmosfer matahari, kemudian mengembun dan membeku sebagai benda-benda yang padat, dan disebut planetesimal. Planetesimal ini dalam perkembangannya menjadi planet-planet, dan salah satunya adalah planet Bumi kita.

Pada dasarnya, proses-proses teoritis terjadinya planet-planet dan bumi, dimulai daribenda berbentuk gas yang bersuhu sangat panas. Kemudian karena proses waktu dan perputaran (pusingan) cepat, maka terjadi pendinginan yang menyebabkan pemadatan (pada bagian luar). Adapaun tubuh Bumi bagian dalam masih bersuhu tinggi.

4. Teori Pasang Surut Gas Teori ini dikemukakan leh jeans dan Jeffreys, yakni bahwa sebuah bintang besar mendekati matahari dalam jarak pendek, sehingga menyebabkan terjadinya pasang surut pada tubuh matahari, saat matahari itu masih berada dalam keadaan gas. Terjadinya pasang surut air laut yang kita kenal di Bumi, ukuranya sangat kecil. Penyebabnya adalah kecilnya massa bulan dan jauhnya jarak bulan ke Bumi (60 kali radius orbit Bumi). Tetapi, jika sebuah bintang yang bermassa hampir sama besar dengan matahari mendekati matahari, maka akan terbentuk semacam gunung-gunung gelombang raksasa pada tubuh matahari, yang disebabkan oleh gaya tarik bintang tadi. Gunung-guung tersebut akan mencapai tinggi yang luar biasa dan membentuk semacam lidah pijar yang besar sekali, menjulur dari massa matahari tadi dan merentang kea rah bintang besar itu.

Dalam lidah yang panas ini terjadi perapatan gas-gas dan akhirnya kolom-kolom ini akan pecah, lalu berpisah menjadi benda-benda tersendiri, yaitu planet-planet. Bintang besar yang menyebabkan penarikan pada bagian-bagian tubuh matahari tadi, melanjutkan perjalanan di jagat raya, sehingga lambat laun akan hilang pengaruhnya terhadap-planet yang berbentuk tadi. Planet-planet itu akan berputar mengelilingi matahari dan mengalami proses pendinginan. Proses pendinginan ini berjalan dengan lambat pada planet-planet besar, seperti Yupiter dan Saturnus, sedangkan pada planet-planet kecil seperti Bumi kita, pendinginan berjalan relatif lebih cepat.

Sementara pendinginan berlangsung, planet-planet itu masih mengelilingi matahari pada orbit berbentuk elips, sehingga besar kemungkinan pada suatu ketika meraka akan mendekati matahari dalam jarak yang pendek. Akibat kekuatan penarikan matahari, maka akan terjadi pasang surut pada tubuh-tubuh planet yang baru lahir itu. Matahari akan menarik kolom-kolom materi dari planet-planet, sehingga lahirlah bulan-bulan (satelit-satelit) yang berputar mengelilingi planet-planet. peranan yang dipegang matahari dalam membentuk bulan-bulan ini pada prinsipnya sama dengan peranan bintang besar dalam membentuk planet-planet, seperti telah dibicarakan di atas.

5. Teori Bintang Kembar Teori ini dikemukakan oleh seorang ahli Astronomi R.A Lyttleton. Menurut teori ini, galaksi berasal dari kombinasi bintang kembar. Salah satu bintang meledak sehingga banyak material yang terlempar. Karena bintang yang tidak meledak mempunyai gaya gravitasi yang masih kuat, maka sebaran pecahan ledakan bintang tersebut mengelilingi bintang yang tidak meledak. Bintang yang tidak meledak itu adalah matahari, sedangkan pecahan bintang yang lain adalah planet-planet yang mengelilinginya

Kesimpulan

Ada dua kesimpulan yang dapat diambil dari penjelasan mengenai proses terbentuknya bumi, yaitu:

1. Bumi berasal dari suatu gumpalan kabut raksasa yang meledak dahsyat, kemudian membentuk galaksi dan nebula. Setelah itu, nebula membeku membentuk galaksi Bima Sakti, lalu sistem tata surya.Bumi terbentuk dari bagian kecil ringan yang terlempar ke luar saat gumpalan kabut raksasa meledak yang mendingin dan memadat sehingga terbentuklah bumi.

2. Tiga tahap proses pembentukan bumi, yaitu mulai dari awal bumi terbentuk, diferensiasi sampai bumi mulai terbagi ke dalam beberapa zona atau lapisan, yaitu inti dalam, inti luar, mantel dalam, mantel luar, dan kerak bumi.

Karena aku menyoroti Hawking, maka teori big-bang yg kita pakai, sebab teori ini relatif paling besar “peluang kebenarannya”.

Banyak orang mempertentangkan antara kisah penciptaan dalam hal urutan terbentuknya darat dan lautan… seakan-akan menjadi sgt penting mana yang lebih dulu ada.. darat atau laut?.…ini adalah sebuah kekonyolan!

Jika kita setiap pihak mau rendah hati, sesungguhnya hal ini sama sekali tidak perlu dipertentangkan… sebab pada prinsipnya teori dalam sains perihal pembentukan planet adalah serupa yaitu : dimulai dari benda berbentuk gas , bisa jadi berupa emulsi partikel2 mikro dari “debu bintang” yang bersuhu sangat panas. Kemudian karena proses waktu dan perputaran (pusingan) cepat, maka terjadi pendinginan yang menyebabkan pemadatan (pada bagian luar). Adapun komponen2 emulsi tersebut tentunya bisa ditelusuri dari sejarah geologis dan dari semua “sisa material” yang msh eksis hingga detik ini…seperti sdh pernah disinggung di bagian sebelumnya komponen penyusun bumi sgt beragam mulai gas bermassa ringan hingga molekul2 dgn massa jenis yang lebih berat. Putaran yang dilakukan “cikal bakal bumi” tersebut memungkinkan bagian-bagian dgn massa jenis kecil dan ringan terlempar ke luar dan bagian dgn massa jenis yg berat/besar berkumpul di pusat. Bagian2 yg teringan (sebagian besar Helium dan hidrogen) terlepas karena gravitasi tdk sanggup menangkapnya…. dan tahukah anda dari sekian ribu komponen penyusun bumi bagian terbesar pd permukaan bumi adalah air. Air memiliki massa jenis yg relatif paling ringan dibanding komponen dominan lain semisal silika!!! Jadi proses pemadatan yg disertai efek pemisahan berdasar massa jenis akibat sentrifugasi terjadi dalam kurun waktu yg bersamaan…samudera dan daratan bisa dikatakan secara bersama2 terbentuk TETAPI daratan disini berarti sebuah lapisan yang memadat yang letaknya dibawah air bukanlah sebuah daratan yg terbebas dari air… mengapa? sebab massa jenis air lebih rendah shg dia berada pada lapis lebih atas! ini yg salah dimengerti laut terbentuk lebih dulu! Hampir semua pakar sepakat bahwa pada mulanya, Bumi setelah terbentuk dan memadat, diselimuti air, setelah itu barulah muncul daratan tunggal, yang kemudian terpecah menjadi beberapa benua.

Di sini Alkitab menunjukkan bahwa ada keterkaitan yg kuat antara hari ke-2 dan ke-3, dimana dikisahkan pemisahan air dari air, sebab pada fase tersebut seluruh permukaan bumi memang masih diselimuti air, dan barulah setelah itu terjadi proses lanjutan “pembentukan daratan”

Pembentukan daratan tidak bisa diartikan bahwa “daratan” itu blm ada, sebab lapisan padat itu telah ada di dasar air. Pada fase ini terjadi sebuah proses geologis dimana terjadi “naik-turunnya” lapisan bumi sehingga muncul “daratan yg kering”. meski MEMANG ALKITAB TIDAK MENJELASKAN BAGAIMANA proses kerak bumi berubah membentuk suatu cekungan tempat berkumpulnya air, sementara di lokasi lain mencembung membentuk daratan yang kering! DISITULAH PERAN PENJELASAN SAINS SEJARAH GEOLOGI DIBUTUHKAN.

Mari kita ambil penjelasan dgn teori lempeng tektonik.

Apa itu Lempeng Tektonik?

Permukaan bumi yang semula cair dan mendidih akhirnya mendingin sampai cukup untuk membentuk sebuah kerak, yang membungkus gas dan batuan cair di bawahnya. Permukaan planet ini terus-menerus direncah oleh ledakan gunung, melontarkan gumpalan-gumpalan lava. Secara perlahan, satu kerak yang lebih tebal pun terbentuk, seluruhnya terbuat dari batuan volkanik. Pada waktu itu, terbentuklah benua kecil yang pertama dari lautan batuan cair (magma) dan kerak dasar lautpun mulai terbentuk juga. Gas-gas dan uap dari ledakan volkanik mulai menipiskan atmosfer, menyebabkan terjadinya badai petir yang dahsyat. Karena suhu tinggi adalah raja diraja, masa-masa ini adalah masa bagi bencana-bencana besar, ledakan-ledakan, dengan kerak benua yang terbentuk kemudian dihancurkan kembali, lalu terbentuk kembali dalam keadaan setengah cair, pembentukan kristal dan tumburan-tumburan, pada skala yang jauh lebih besar daripada yang pernah terlihat oleh umat manusia. Benua-benua mikro pertama bergerak jauh lebih cepat dan bertumburan jauh lebih sering daripada saat ini. Terjadi proses regenerasi dan daur ulang yang sangat cepat dari kerak-kerak benua ini. Pembentukan kerak benua adalah salah satu kejadian mendasar dari sejarah planet ini. Tidak seperti dasar laut, kerak benua tidak dihancurkan melalui pelongsoran mantel bumi, melainkan semakin bertambah volume totalnya dari waktu ke waktu. Terjadinya benua-benua, dengan demikian, adalah sebuah kejadian yang ireversibel (tidak dapat dibalik prosesnya).

Bumi terbentuk dari sejumlah lapisan material. Lapisan utama adalah inti bumi (terbagi atas inti dalam dan inti luar), mantel bumi yang tebal, dan kerak bumi yang tipis di atasnya. Tiap lapisan memiliki komposisi kimia dan ciri-ciri fisiknya sendiri. Sejalan dengan mendinginnya bumi sekitar 4 milyar tahun lalu, material yang lebih berat tenggelam ke pusat bumi, sementara unsur yang lebih ringan tinggal di dekat permukaan. Inti dalam bumi adalah sebuah massa padat, yang dipadatkan oleh tekanan mahadahsyat. Kerak bumi membentuk lapisan tipis di atas mantel yang setengah cair, seperti kulit luar yang membungkus sebuah apel. Dari kerak bumi yang dingin, 50 m ke bawah, suhunya adalah sekitar 800oC. Semakin dalam, pada kedalaman sekitar 2.000 km, suhu meningkat menjadi di atas 2.200oC. Pada suhu ini batuan berperilaku lebih sebagai cairan.

Kerak bumi ini menyokong lautan dan massa-daratan dan, bersamanya, segala bentuk kehidupan. Sekitar 7/10 dari kerak bumi diliputi air, yang merupakan ciri mendasar planet ini.



Permukaan kerak bumi sangat tidak rata, mengandung pegunungan yang sangat tinggi di atas massa-daratannya, dan jurang-jurang di dasar lautnya. Satu contoh adalah Mid-Atlantic Ridge, yang membentuk batas antara keempat lempeng bumi. Kerak bumi terbentuk dari sepuluh lempeng besar yang saling bercocokan seperti jigsaw puzzle. Namun, sepanjang tepi lempeng ini terdapat banyak jurang dasar laut [fault], di mana aktivitas volkanik dan gempa bumi terkonsentrasi. Benua-benua dipatok ke atas lempeng-lempeng ini dan bergerak sejalan dengan pergerakan lempeng bumi.

Di tepian lempeng-lempeng ini, gunung berapi bawah laut menyemburkan batuan cair dari perut bumi, menciptakan lapisan dasar laut yang baru. Lapisan dasar laut ini menyebar dari pegunungan dasar laut seperti sebuah sabuk konveyer atau ban berjalan, bergerak sambil mengusung lempeng benua di atasnya. Gunung berapi adalah sumber transformasi dari enerji maha besar yang ada di bumi menjadi enerji panas. Terdapat kira-kira 430 gunung berapi aktif saat ini. Paradoksnya, ledakan volkanik melepaskan enerji yang menyebabkan batuan yang ada di kerak bumi mencair. Kerak bumi (litosfer) terus-menerus diubah dan diperbaharui. Lapisan kerak yang baru terus-menerus dibentuk oleh intrusi dan ekstrusi magma di pegunungan-pegunungan dasar laut melalui pencairan sebagian mantel bumi (asthenosfer). Penciptaan kerak baru pada fault dasar laut ini mendorong lapisan yang lama untuk terpecah dan, bersamanya, demikian pula lempeng-lempeng benua. Litosfer yang baru ini menyebar dari pegunungan dasar laut sejalan dengan dituangkannya material baru ke atasnya, dan akhirnya justru ekspansi dari lapisan dasar laut ini yang mendorong tenggelamnya litosfer semakin jauh ke arah inti bumi.

Proses ini menjelaskan pergerakan benua-benua. Pergolakan yang terus-menerus terjadi di bawah bumi pada gilirannya menghasilkan panas yang luar biasa, yang bertumpuk dan menghasilkan aktivitas volkanik yang baru. Wilayah-wilayah ini ditandai oleh lengkung pulau dan pegunungan dan gunung-gunung berapi, gempa bumi dan jurang-jurang dasar laut. Ini menjaga keseimbangan antara yang baru dan yang lama, satu kesatuan dialektik atas hal-hal yang saling bertentangan. Sejalan dengan saling bertumburannya lempeng-lempeng itu sendiri, mereka menghasilkan gempa bumi.

Aktivitas yang berlangsung terus-menerus di bawah permukaan bumi ini mengatur banyak gejala yang mempengaruhi perkembangan planet ini. Massa-daratan, lautan dan atmosfir bukan hanya terpengaruh oleh sinar matahari, tapi juga oleh gravitasi dan medan magnit yang melingkupi bumi.

Di bawah Samudera Atlantik terdapatlah satu rantai pegunungan berapi dasar laut di mana magma baru terus diciptakan setiap saat. Sebagai hasilnya, kerak dasar laut terus diperbesar dan kini mendorong pemisahan benua Amerika Selatan dan Afrika, dan juga Amerika Utara dan Eropa. Namun, jika beberapa wilayah membesar, yang lain pasti mengecil. Sejalan dengan didorongnya benua Amerika oleh kekuatan maha dahsyat untuk semakin menjauh dari lempeng Samudera Atlantik, lempeng samudera itu juga sedang dipaksa untuk tenggelam di bawah benua Amerika, di mana ia mencair, bergerak dalam aliran magma, dan akhirnya akan muncul kembali – jutaan tahun kemudian – dalam bentuk pegunungan dasar laut yang baru.

Proses ini tidaklah lurus dan linear, melainkan terjadi melalui kontradiksi dan lompatan-lompatan yang dimensinya sangat dahsyat. Ada masa-masa di mana kekuatan-kekuatan di bawah lapisan kerak bumi menemui perlawanan yang demikian besar sehingga mereka terpaksa berbalik, dan mencari arah baru. Maka, untuk masa yang sangat lama, sebuah samudera seperti Pasifik dapat diperbesar. Namun, ketika keseimbangan kekuatan berubah, seluruh proses ini akan jatuh ke arah kebalikannya. Sebuah samudra mahaluas dapat tergerus di antara dua benua. Proses semacam ini telah terjadi berkali-kali dalam 4,6 milyar tahun sejarah planet ini. Sekitar 200 juta tahun lalu, terdapatlah sebuah samudera – Iethys – antara Eurasia dan Afrika. Kini puing-puing dari samudera itu menjadi bagian dari Laut Tengah. Sisanya telah ditelan bumi dan telah lenyap di bawah Pegunungan Karpatia dan Himalaya, dihancurkan oleh tumburan antara India dan Arabia dengan Asia.

Di pihak lain, ketika sebuah pegunungan bawah laut tertutup (yakni, ditelan oleh lempeng benua) maka litosfer yang baru akan muncul di tempat yang lain. Biasanya, litosfer pecah pada titiknya yang terlemah. Kekuatan yang kedahsyatannya tak terbayangkan terakumulasi selama jutaan tahun, sampai akhirnya perubahan kuantitatif menghasilkan satu bencana besar. Cangkang luar bumi diremukkan dan litosfer yang baru menyeruak ke atas, membuka jalan bagi kelahiran samudera yang baru. Pada masa ini, kita dapat melihat proses ini terjadi di lembah volkanik Afat, di Afrika Timur, di mana benua itu sedang terbelah dan samudera yang baru akan muncul di sana sekitar 50 juta tahun lagi. Sesungguhnya, Laut Merah adalah satu tahap perkembangan awal dari satu samudera yang kelak akan memisahkan Saudi Arabia dari Afrika.

Pemahaman bahwa bumi tidaklah statis melainkan dinamis memberi satu denyut baru bagi geologi, menempatkannya pada dasar yang benar-benar ilmiah.

Kesuksesan dari teori lempeng tektonik adalah bahwa ia secara dialektik menggabungkan semua gejala alam, menggulingkan pandangan konservatif dari ortodoksi ilmiah yang didasarkan pada logika formal.

Ide dasarnya adalah bahwa segala sesuatu di bumi berada dalam pergerakan yang terus-menerus, dan ini terjadi melalui kontradiksi yang eksplosif. Samudera dan benua, pegunungan dan jurang-lembang, sungai, danau dan garis pantai selalu berada dalam proses perubahan, di mana masa-masa “tenang” dan “stabil” disela dengan penuh gejolak oleh revolusi-revolusi yang berskala mahadahsyat. Atmosfir, kondisi iklim, magnetisme, bahkan lokasi kutub magnet planet ini terus berada dalam fluktuasi. Perkembangan dari tiap proses individu itu dipengaruhi dan ditentukan, sampai tahap tertentu, oleh kesalingterhubungannya dengan proses-proses lainnya.

Gempa Bumi dan Asal-Muasal Pegunungan

Kelihatannya mustahil bahwa benua-benua bergerak. Mata kita mengatakan bahwa ini tidak benar. Kecepatan rata-rata dari pergerakan ini adalah sekitar 1-2 cm per tahun. Dengan demikian, untuk keperluan sehari-hari pergerakan ini dapat diabaikan. Namun, setelah masa jutaan tahun, perubahan-perubahan yang kecil ini menghasilkan perubahan yang paling dramatik yang dapat dibayangkan orang.

Di puncak Himalaya (sekitar 8.000 m di atas permukaan laut) terdapatlah batuan yang mengandung fosil-fosil dari organisme laut. Hal ini berarti batuan itu mulanya berasal dari sebuah samudera prasejarah, samudera Iethys, yang didorong naik selama 200 juta tahun untuk menghasilkan pegunungan tertinggi di dunia. Bahkan proses ini tidaklah terjadi secara seragam, melainkan melibatkan kontradiksi-kontradiksi, dengan gejolak pasang yang dahsyat, kemajuan dan kemunduran, melalui ribuan gempa bumi, perusakan yang dahsyat, perhentian dalam kontinuitas, deformasi dan lipatan-lipatan. Sangat jelas bahwa pergerakan lempeng disebabkan oleh kekuatan raksasa di dalam bumi. Seluruh wajah planet ini, penampakan dan identitasnya ditentukan oleh kekuatan ini.

Umat manusia hanya memiliki pengalaman langsung berurusan dengan sepotong kecil saja dari kekuatan ini melalui gempa bumi dan letusan volkanik. Salah satu ciri dasar dari permukaan bumi adalah pegunungan.

Bagaimana pegunungan ini dapat terbentuk?

Ambillah setumpuk kertas dan tekanlah ke tembok. Tumpukan itu akan melengkung dan rusak di bawah tekanan, dan akan “bergerak” ke atas, menghasilkan satu bentuk lengkung. Kini bayangkan proses yang sama ketika sebuah samudera ditekan di antara dua benua. Samudera itu ditekan untuk meluncur masuk ke bawah salah satu benua, tapi batuan di titik itu akan terdeformasi dan melipat, menghasilkan sebuah gunung. Setelah samudera itu lenyap seluruhnya, kedua benua itu akan bertumburan, dan kerak bumi di tempat tumburan itu akan dipertebal secara vertikal sejalan dengan tertekannya massa-benua. Perlawanan terhadap desakan ini menghasilkan lipatan tekstur yang besar dan merobek jurang-jurang, dan dorongan ke atas ini melahirkan rantai pegunungan. Tumburan antara lempeng Eurasia dan Afrika (setidaknya sebagian di antaranya), menghasilkan rantai-rantai pegunungan yang panjang, di mulai dari pegunungan Pyrenees di Barat, melewati pegunungan Alpen (tumburan antara Italia dan Eropa), pegunungan Balkan, Hellenik, Tauridik, Kaukasus (tumburan antara Arabia dan Asia) dan akhirnya pegunungan Himalaya (tumburan antara India dan Asia). dengan cara yang sama, pegunungan Apeninnes dan Rocky di Amerika terbentuk di atas wilayah di mana lempeng samudera Pasifik tenggelam di bawah lempeng benua Amerika.

Tidaklah mengherankan bahwa wilayah-wilayah ini juga dicirikan oleh aktivitas gempa yang intensif. Zona-zona gempa aktif  di dunia ini adalah persis batas antara bebagai lempeng tektonik. Secara khusus, zona-zona di mana gunung-gunung sedang terbentuk merupakan wilayah di mana kekuatan-kekuatan raksasa telah terakumulasi sepanjang waktu yang lama. Ketika benua-benua bertumburan, kita melihat akumulasi kekuatan yang beraksi pada bebatuan yang berbeda, pada tempat yang berbeda-beda dan cara yang berbeda-beda pula. Batuan yang terdiri dari material yang paling keras bertahan terhadap deformasi. Tapi, pada titik kritis, kuantitas diubah menjadi kualitas, dan bahkan batuan yang terkeras sekalipun akan pecah atau melunak. Lompatan kualitatif ini ternyatakan dalam gempa-gempa bumi, yang sekalipun penampakannya sangat sangar, sesungguhnya hanyalah sekeping kecil dari pergerakan kerak bumi. Pembentukan rantai pegunungan memerlukan ribuan gempa bumi, yang mengarah pada pelipatan-pelipatan yang ekstensif, deformasi dan pergerakan batuan ke atas.

Di sini kita melihat proses evolusi yang dialektik melalui lompatan-lompatan dan kontradiksi-kontradiksi. Batuan yang dipadatkan merupakan penghalang awal, yang memberikan perlawanan terhadap tekanan kekuatan-kekuatan di bawah bumi. Namun, ketika perlawanan ini dipatahkan, mereka justru berbalik menjadi lawannya, menjadi saluran bagi pelepasan kekuatan-kekuatan ini. Kekuatan-kekuatan yang bekerja di bawah permukaan bumi ini bertanggung jawab untuk penciptaan rantai pegunungan dan lembah-lembah dasar laut. Tapi di permukaan terdapat kekuatan-kekuatan lain yang bekerja ke arah yang berlawanan.

Pegunungan tidaklah terus-menerus bertambah tinggi, karena mereka tunduk pada kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan. Di permukaan kita mendapati cuaca, erosi dan perpindahan materi dari pegunungan dan benua-benua kembali ke dasar samudera. Batuan padat dikikis oleh kekuatan angin, hujan, salju dan es, yang melemahkan cangkang terluar dari batuan itu. Setelah satu masa tertentu, terjadilah satu lompatan kualitatif yang lebih jauh. Bebatuan secara perlahan kehilangan konsistensinya, butiran-butiran halus mulai terkikis dari permukaannya. Efek dari angin dan air, terutama sungai-sungai, memindahkan jutaan butiran ini dari ketinggian ke lembah-lembah, danau, tapi terutama samudera, di mana partikel-partikel batuan ini dikumpulkan lagi di dasar laut. Di sana mereka terkubur kembali, sejalan dengan semakin tertumpuknya material di atasnya, dan satu operasipun muncul, operasi yang berlawanan – bebatuan itu mulai terbentuk kembali. Sebagai hasilnya, batuan baru terbentuk, yang akan mengikuti pergerakan lempeng dasar laut sampai akhirnya mereka akan sekali lagi terkubur di bawah benua-benua; di mana mereka akan dicairkan, kemungkinan muncul kembali di puncak gunung, di satu lain tempat di permukaan bumi.

APAPUN MEKANISMENYA MAKA ALKITAB DAN ILMU PENGETAHUAN SEPAKAT BAHWA “NAIKNYA DARATAN” ADALAH TAHAP PENTING DALAM PEMBENTUKAN PERMUKAAN BUMI.

“Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda. tumbuh2an yang berbiji, segala jenis pohon buah2an yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh2an di bumi…”  HARI KE-3 (kej 1:11)

Harap diingat : aku menggunakan logika “mereka” sendiri untuk menjelaskan ini…….

Pertama yang harus kita mengerti di sini, alkitab mengisahkan bentuk kehidupan “tumbuh2an”…. di tanah bukan hanya daratan…. dasar samudera dan lautan adalah “tanah” jadi tidak menutup kemungkinan bahwa tumbuh2an air pun “dicipta” pada fase ini

sebab ada kata supaya ada tumbuh2an “di bumi “ BUKAN  “di daratan“. MESKI ALKITAB MEMANG TIDAK MENJELASKAN BAGAIMANA ITU TERJADI.

Karenanya kita tidak perlu beranggapan bahwa pada fase ini segala “tumbuh2an”muncul secara serta-merta dan tiba2 dgn segala jenis yg kita kenal saat ini…bisa saja semua proses diawali dgn pembentukan organisme mikroskopik……

Membedah fase ini kita harus kembali memahami bahwa pada fase ini “terang” dalam bentuk difusi telah mencapai permukaan bumi tetapi sumber cahayanya yaitu “benda2 penerang” belum nampak jelas sebab intensitasnya tidak cukup kuat untuk menembus atmosfer purba.

Hewan dapat hidup di tempat gelap, tapi mereka membutuhkan udara untuk bernafas, baik udara bebas maupun yang terlarut di dalam air. Tumbuhan tidak membutuhkan oksigen – bahkan mereka menghasilkan oksigen di siang hari – tapi mereka tidak dapat hidup dan bertumbuh lama di tempat gelap. Yang mana, kalau demikian, yang muncul terlebih dahulu? Atau apakah ada bentuk kehidupan lain yang mendahului mereka?

Telaah yang teliti atas sejarah kehidupan, anatomi internal sel dan metabolisme baik dari tumbuhan maupun hewan menunjukkkan bahwa mereka berkembang dari spesialisasi yang berbeda dari beberapa zoo-fit. Zoo-fit pastilah mirip dengan beberapa bakteri yang ada saat ini yang dapat sekaligus menjalankan fungsi tumbuhan dan hewan, dan bekerja baik sebagai agen oksidasi maupun fotosintetik (Bernal, op. cit., p. 26.)

WOW! akan lebih mudah membedahnya!!!!

Bentuk-bentuk Kehidupan Awal

Fakta bahwa kromosom dari semua organisme hidup, dari bakteri sampai  manusia, sangatlah mirip dalam komposisinya sangatlah mengejutkan. Semua gen dibuat dari jenis zat yang sama secara kimia – nukleoprotein. Hal ini juga berlaku untuk virus, mahluk hidup paling sederhana yang diketahui, yang berada pada ambang kehidupan dan ketidakhidupan. Komposisi kimia dari nukleoprotein mengijinkan satu entitas molekular untuk mereproduksi diri sendiri, satu ciri dasar kehidupan, baik pada gen maupun pada virus. Garis batas antara materi hidup dan tidak hidup, antara tumbuhan dan hewan, antara reptil dan mamalia, tidaklah ditarik demikian tegas seperti yang mungkin dikira orang. Virus, misalnya, membentuk satu kelas yang tidak dapat disebut hidup, kalau memakai pemahaman kita tentang hidup itu, tapi mereka jelas memiliki beberapa ciri pokok kehidupan.

Interval yang relatif singkat antara pembentukan planet dan pendinginan permukaan keraknya bermakna bahwa kemunculan kehidupan terjadi pada waktu yang sangat singkat pula. Fosil mikro yang berasal dari 3,4 milyar tahun lalu, seperti diharapkan, adalah sel-sel prokariotik – sel yang tidak mengandung inti sel (metanogen, bakteri, dan ganggang biru-hijau). Mereka dianggap sebagai bentuk kehidupan yang paling sederhana di bumi, sekalipun pada waktu inipun telah terdapat keragaman. Yang berarti bahwa antara 3,5 dan 3,8 milyar tahun lalu nenek-moyang semua mahluk muncul, bersama dengan bentuk-bentuk kehidupan lain yang kini telah punah.Kalaupun ada, jumlah molekul oksigen di atmosfir masih teramat sedikit pada masa ini. Organisme yang ada saat itu tidak membutuhkan oksigen – sesungguhnya oksigen justru akan membunuh mereka. Mereka tumbuh dengan mengoksidasi hidrogen dan mereduksi karbon dioksida menjadi metana. Telah diajukan kemungkinan bahwa organisme-organisme ini mirip dengan sel-sel eosit yang kini menghuni kolam-kolam lava panas di puncak gunung-gunung berapi.  Mereka mendapat enerji bukan dari oksigen melainkan dari pengubahan sulfur menjadi hidrogen sulfida.

Karena kurangnya bukti-bukti dalam bentuk fosil, perlulah kita memeriksa organisasi dari sel modern untuk dapat mencari asal-usul mereka. Agar bentuk kehidupan yang paling sederhana dapat bereproduksi, satu aparatus genetik yang mengandung asam nukleat haruslah hadir. Jika sel adalah unit dasar kehidupan, kita dapat hampir-hampir memastikan bahwa organisme asalnya mengandung asam nukleat atau polimer yang mirip dengannya. Bakteri, misalnya, tersusun dari satu sel tunggal dan sangat boleh jadi merupakan prototipe dari semua sel hidup.

Fotosintesis dan Reproduksi Seksual

Seperti yang dapat dilihat dari apa yang telah terjadi, evolusi dari sebuah sel adalah satu tahap yang terhitung maju dari evolusi organik. Sejalan dengan semakin habisnya komponen yang terkandung dalam sup biotik, menjadi semakin perlu untuk mengembangkan satu material organik yang larut dalam air dari atmosfir. Dari fermentasi [peragian], bentuk metabolisme yang lebih sederhana tapi kurang efisien, langkah berikutnya adalah fotosintesis. Molekul klorofil yang khusus telah dikembangkan. Molekul ini memungkinkan organisme hidup untuk menangkap enerji surya untuk keperluan sistesis molekul organik. Para pelaku fotosintesis yang pertama melemparkan dirinya jauh-jauh dari kompetisi untuk memperebutkan molekul berenerji tinggi yang jumlahnya semakin berkurang itu, dan menetapkan diri mereka sebagai produser-produser primer. Sekali proses fotosintesis tercapai, masa depan bagi kehidupan terjamin sudah. Segera setelah ia muncul dan menghasilkan cukup oksigen, pernafasanpun dimungkinkan. Sejalan dengan hukum seleksi alam, sekali fotosintesis dimulai, ia meninggalkan bekasnya pada semua mahluk hidup yang muncul sesudahnya, dan ia terbukti demikian sukses sehingga ia kemudian sanggup menghapuskan keberadaan semua bentuk kehidupan yang mendahuluinya.

Perkembangan ini merupakan satu lompatan kualitatif. Evolusi yang terjadi berikutnya menuju bentuk-bentuk yang lebih kompleks adalah sebuah proses berkepanjangan yang akhirnya akan melahirkan satu cabang kehidupan yang baru, sel yang berinti. Pada puncak pohon evolusi eukariotik, beberapa cabang muncul secara bersamaan, seperti tumbuhan, hewan dan jamur. Menurut ahli biologi molekuler Amerika, Mitchell Sogin, jumlah oksigen mempengaruhi kecepatan evolusi. Komposisi dari batuan purba menunjukkan bahwa oksigen di atmosfir bertambah dalam tahapan-tahapan yang saling dapat dibedakan, yang dipisahkan oleh masa-masa stabilitas yang berlangsung untuk waktu yang lama. Beberapa ahli biologi percaya bahwa ledakan kehidupan boleh jadi dipicu oleh oksigen ketika jumlahnya mencapai tingkatan tertentu.

Sel berinti – eukariota – telah dengan sempurna beradaptasi terhadap oksigen dan menunjukkan variasi yang kecil saja di antara mereka. Kemunculan dari bentuk kehidupan baru yang revolusioner ini mengijinkan reproduksi seksual yang maju, yang pada gilirannya, mempercepat laju evolusi. Sementara prokariota terdiri dari hanya dua kelompok organisme, bakteria dan ganggang biru-hijau (yang terakhir disebut ini menghasilkan oksigen melalui fotosintesis), eukariota terdiri dari segala tumbuhan hijau, semua hewan dan jamur. Reproduksi seksual merupakan satu lompatan kualitatif besar ke depan. Hal ini menuntut dibungkusnya semua material genetik di dalam inti sel. Reproduksi seksual juga memungkinkan percampuran gen antara dua sel, peluang variasinya menjadi jauh lebih besar. Dalam reproduksi, kromosom dari sel-sel eukariotik bergabung untuk menghasilkan sel-sel baru. Seleksi alam berfungsi untuk memelihara variasi genetik yang menguntungkan di dalam pool genetik.

Salah satu aspek kunci kehidupan adalah reproduksi. Semua hewan dan tumbuhan memiliki struktur dasar yang sama. Reproduksi dan pelanjutan ciri-ciri induk (hereditas) terjadi melalui persatuan sel-sel seksual, telur dan sperma. Material genetik DNA yang merupakan saluran bagi peralihan ciri-ciri bentuk kehidupan dari satu generasi ke generasi yang berikutnya terkandung di dalam inti dari setiap sel. Struktur sel yang terbentuk dari sitoplasma juga mengandung sejumlah miniatur organ yang disebut organela. Struktur internal dari organela adalah identik dengan berbagai tipe bakteria, yang kelihatannya merupakan bukti bahwa komposisi dari sel hewan dan tumbuhan adalah hasil dari penggabungan organ-organ yang tadinya independen ini, yang memiliki DNA-nya sendiri, untuk membuat satu badan kooperatif yang lebih besar. Di tahun 1970-an mikrotubula ditemukan. Ini adalah batang-batang protein yang mengisi setiap sel dalam tubuh seperti sebuah kerangka internal. “Kerangka” internal ini memberi bentuk pada sel dan nampaknya memainkan peran dalam perputaran protein dan produk-produk plasma. Kemajuan dari eukariotik atau sel berinti merupakan satu revolusi biologis yang terjadi sekitar 1.500 juta tahun yang lalu.

Dari pembelahan dan penyatuan aseksual muncullah reproduksi seksual. Kemajuan semacam itu berguna untuk mencampur material hereditas dari dua individu, sehingga keturunannya akan berbeda dari induknya. Ini menyediakan satu variasi di mana seleksi alam dapat bekerja. Dalam tiap sel hewan dan tumbuhan DNA diatur dalam pasangan-pasangan kromosom dalam inti sel. Kromosom-kromosom ini membawa gen-gen yang menentukan ciri-ciri sebuah individu. Keturunan yang baru, sambil mengkombinasikan ciri-ciri dari kedua induknya, sangatlah berbeda dari keduanya. Nampaknya asal-muasal reproduksi seksual berhubungan dengan tata kerja organisme primitif yang saling menelan satu dengan lainnya. Material genetik dari dua individu disatukan menghasilkan satu organisme dengan dua set kromosom. Organisme yang sudah berukuran lebih besar ini lalu terbelah menjadi dua bagian dengan jumlah kromosom yang tepat. Kromosom tunggal dan berpasangan sama-sama hadir, tapi sejalan dengan berlalunya waktu kondisi yang berpasangan menjadi cara mengada yang normal bagi tumbuhan dan hewan. Ini merupakan basis bagi evolusi organisme multiselular.



JELASLAH….BAHWA SECARA KRONOLOGIS TUMBUH2AN (FOTOSINTESIS) YG LEBIH DULU “TERBENTUK” BARU KEMUDIAN HEWAN(PERNAFASAN) DAN REPRODUKSI ASEKSUAL MENDAHULUI SEKSUAL !!!!

Pada sekitar 700-680 juta tahun lalu, metazoa pertama muncul. Ia adalah organisme multiselular yang kompleks, yang membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya. Selama masa-masa itu jumlah oksigen dalam atmosfir bertambah dengan konstan, dan mencapai tingkatan seperti saat ini pada 140 juta tahun yang lalu. Proses yang bekerja dalam evolusi memiliki ciri yang sangat dialektik, di mana masa-masa perubahan kuantitatif yang bertahap disela oleh ledakan-ledakan mendadak. Masa-masa seperti itu terjadi sekitar 570 juta tahun lalu.

Hal ini sekaligus membantu kita “membedah” kisah “terbentuknya” hewan dan manusia di “hari-hari” berikutnya.

(bersambung..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: