open mind.com weblog


1. Tradisi Suci adalah salah satu pilar kebenaran.

Kita tahu, rasul Paulus mengatakan “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2Tes 2:15). Dan Katekismus Gereja Katolik menjelaskan:

KGK, 76: Sesuai dengan kehendak Allah terjadilah pengalihan Injil atas dua cara:
– secara lisan “oleh para Rasul, yang dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan meneruskan entah apa yang mereka terima dari mulut, pergaulan, dan karya Kristus sendiri, entah apa yang atas dorongan Roh Kudus telah mereka pelajari”;
– secara tertulis “oleh para Rasul dan tokoh-tokoh rasuli, yang atas ilham Roh Kudus itu juga membukukan amanat keselamatan” (DV 7).

Dengan demikian, Alkitab sendiri mengatakan bahwa kita harus melihat warisan iman, bukan hanya secara tertulis (Kitab Suci), namun juga Tradisi Suci atau Tradisi yang hidup dari generasi ke generasi. Hubungan antara keduanya dikatakan sebagai berikut “Tradisi Suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan terpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama” (DV 9). Kedua-duanya menghadirkan dan mendaya-gunakan misteri Kristus di dalam Gereja, yang menjanjikan akan tinggal bersama orang-orang-Nya “sampai akhir zaman” (Mat 28:20).” (KGK, 80)

2. Tulisan dari Bapa Gereja adalah salah satu elemen dalam Tradisi.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana kita mengerti Tradisi? Mungkin teks dari Yves Congar dapat membantu kita. Dia menuliskan “In the first place Tradition is something unwritten, the living transmission of a doctrine, not only by word, but also by attitudes, mode of action, and which includes written documents, documents fo the Magisterium, liturgy, patristic writings, catechisms, etc., a whole collection of things form the evidence or monuments of Tradition.”[1] atau “Pertama-tama, Tradisi adalah sesuatu yang tidak tertulis, pelimpahan yang berkesinambungan dari sebuah doktrin, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan sikap, pola tingkah laku, dan yang mencakup dokumen tertulis, dokumen Magisterium, liturgi, tulisan-tulisan patristik, katekismus, dll , seluruh koleksi hal-hal bentuk bukti atau karya besar dari Tradisi.” Dengan demikian, kita melihat peran dari tulisan-tulisan dari para Bapa Gereja (patristik), yang membentuk Tradisi.

3. Tulisan-tulisan para Bapa Gereja menjadi sumber yang dapat dipercaya

Kita dapat memakai prinsip “sesuatu yang semakin dekat ke sumber akan semakin mendapatkan efek yang lebih besar.” Sesuatu yang lebih dekat pada sumber panas akan mendapatkan efek yang lebih besar sesuai dengan sumbernya, dalam hal ini panas. Ini berarti kesaksian orang-orang yang lebih dekat ke sumber (baik waktu dan lokasi) dapat lebih dipercaya dibandingkan dengan kesaksian oleh orang yang terpisah jarak dan waktu. Contoh sederhana, kalau kita ingin mendengar cerita kakek buyut kita, maka kita akan lebih percaya cerita atau tulisan dari kakek kita – yang mengalami kehidupan kakek buyut kita -, daripada kesaksian saudara misan kita.

Jadi, kalau misalkan seseorang ahli Alkitab mengatakan bahwa Injil Yohanes tidak ditulis oleh Yohanes karena berdasarkan analisanya, yang mengatakan bahwa tidak mungkin seseorang yang tidak berpendidikan dapat menuliskan suatu buku yang mengandung filsafat yang begitu tinggi, maka salah satu cara untuk membuktikannya adalah:

a. Dengan apa yang tertulis di dalam Alkitab: bahwa Dia adalah murid yang dikasihi oleh Yesus (lih. Yoh 21:20) dan dia adalah satu dari duabelas murid, di mana dia hadir ketika Yesus yang telah bangkit menampakkan diri di danau Tiberias (lih. Yoh 21:1). Dia juga salah satu dari tiga orang (Petrus, Yohanes dan Yakobus) yang senantiasa dekat dengan Yesus, yang melihat Yesus dipermuliakan (lih. Mt 17:1-2) dan yang melihat sengsara Yesus yang dimulai di taman Getsemani (lih. Mt 14:33). Dari gaya penulisan, maka tidak mungkin Petrus yang menuliskan Injil Yohanes, karena terlihat gaya bahasa yang berbeda dengan surat rasul Petrus. Sedangkan Yakobus juga tidak mungkin menuliskan Injil Yohanes, karena Injil Yohanes ditulis menjelang tahun 100 dan rasul Yakobus diberitakan telah meninggal sekitar tahun 40 (lih Kis 12:2). Dan kita tahu juga dari Yoh 19:35 “Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya.” Dan akhirnya kita percaya bahwa Injil Yohanes ditulis oleh Yohanes, karena dia mengatakan “Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar.” (Yoh 21:24). Namun, tidak semua orang dapat menerima argumentasi ini. Dalam kondisi seperti ini, maka kesaksian dari para Bapa Gereja menjadi penting.

b. Dengan tulisan dari Bapa Gereja.

Menurut kesaksian St. Irenaeus (180 AD), yang menjadi murid dari St. Polycarpus, yang adalah murid Rasul Yohanes, dan murid St. Ignatius Martir yang adalah murid langsung dari Rasul Petrus dan Rasul Yohanes. Dengan demikian, kesaksian St. Irenaeus menjadi sangat penting tentang para penulis Injil. Dalam bukunya yang terkenal Against the Heresies, Buku III, bab 1,1 ia menggarisbawahi asal usul apostolik dari kitab Injil,

“Kita telah mengetahui bukan dari siapapun tentang rencana keselamatan kita kecuali dari mereka yang melaluinya Injil telah diturunkan kepada kita, yang pada suatu saat mereka ajarkan di hadapan publik, dan yang kemudian, sesuai dengan kehendak Tuhan, diturunkan kepada kita di dalam Kitab Suci, untuk menjadi dasar dan tonggak dari iman kita…. Sebab setelah Tuhan kita bangkit dari mati [para rasul] diberikan kuasa dari atas, ketika Roh Kudus turun [atas mereka] dan dipenuhi oleh semua karunia-Nya, dan mempunyai pengetahuan yang sempurna: mereka berangkat menuju ujung-ujung bumi, mengajarkan kabar gembira yang diberikan oleh Tuhan kepada kita…. Matius... menuliskan Injil untuk diterbitkan di antara orang Yahudi di dalam bahasa mereka, sementara Petrus dan Paulus berkhotbah dan mendirikan Gereja di Roma…. Markus, murid dan penerjemah Petrus, juga memmeneruskan kepada kita secara tertulis, apa yang biasanya dikhotbahkan oleh Petrus. Dan Lukas, rekan sekerja Paulus, juga menyusun Injil yang biasanya dikhotbahkan Paulus. Selanjutnya, Yohanes, murid Tuhan Yesus ….juga menyusun Injil ketika tinggal di Efesus, Asia Minor.”

Hal serupa dituliskan juga oleh Origen (185-254) tentang asal usul Injil, dalam In Matthew. I apud Eusebius, His eccl 6.25.3-6:

“[Injil] yang pertama dituliskan oleh Matius, yang adalah seorang publikan tetapi kemudian menjadi rasul Yesus Kristus, yang menerbitkannya untuk umat Yahudi, dituliskan dalam bahasa Ibrani. [Injil] kedua oleh Markus, yang disusun di bawah bimbingan St. Petrus, yang telah mengangkatnya sebagai anak… (1 Pet 5:17). Dan ketiga, menurut Lukas, yang menyusunnya untuk umat non-Yahudi, Injil yang dibawakan oleh Rasul Paulus; dan setelah semuanya itu, [Injil] menurut Yohanes.

Eusebius dalam bukunya Ecclesiastical History (6, 14,5-7) merujuk kepada kesaksian dari St. Clement of Alexandria, yang menuliskan bahwa Yohanes menuliskan Injil [Yohanes] setelah penulis Injil yang lain menuliskan Injil-Injil lain [Matius, Markus, Lukas].

Dari beberapa kesaksian Bapa Gereja ini, maka sangat terlihat bahwa iman kita bukan berdasarkan suatu khayalan, namun berdasarkan suatu fakta yang terjadi dalam sejarah kekristenan. Tulisan-tulisan tersebut dapat memberikan bukti otentik, yang mendukung apa yang telah dituliskan di dalam Alkitab.

4. Tulisan para Bapa Gereja bukanlah ajaran yang tidak mungkin salah, namun begitu penting.

Kita melihat bahwa para Bapa Gereja membentuk sejarah kekristenan. Mereka yang mempertahankan iman Katolik dan melawan ajaran-ajaran yang sesat. Mereka berjuang bukan hanya dengan kata-kata, namun mereka juga menyediakan hidup mereka demi kemuliaan Kristus. Mereka adalah orang-orang pilihan Alah yang dikaruniai rahmat iman yang begitu besar, intelektual yang begitu tinggi, namun mempunyai kerendahan hati. Namun, tidak semua hal yang ditulis oleh mereka adalah tidak mungkin salah. Di sisi lain, adalah suatu kenyataan bahwa mereka memberikan sumbangan tulisan-tulisan yang begitu penting sehingga Gereja Katolik melalui Magisterium Gereja yang dilindungi oleh Roh Kudus, dapat menyatakan suatu ajaran yang tidak mungkin salah dalam hal moral dan iman. Kalau kita melihat dokumen Gereja, maka kita akan melihat begitu banyak kutipan yang diambil dari tulisan para Bapa Gereja. Salah satu ciri dari tulisan para kudus adalah kerendahan hati mereka untuk menyerahkan semua tulisan mereka dalam keputusan Magisterium Gereja. Jadi, pada waktu kita membaca tulisan dari Bapa Gereja, kita juga harus melihat apa yang dikatakan oleh Magisterium Gereja tentang topik tersebut, terutama untuk isu-isu yang cukup kompleks. Dari sini, kita melihat kaitan yang erat antara Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Ketiganya adalah seumpama pilar yang kokoh yang menyangga kehidupan Gereja, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh dokrin-dokrin yang bertentangan dengan kebenaran.


CATATAN KAKI:

  1. Yves, Congar, The Meaning of Tradition, First Edition, First Printing., The Twentieth Century Encyclopedia of Catholicism (Hawthorn Books, 1964), p.10 []

http://katolisitas.org/2010/04/29/apakah-gunanya-tulisan-dari-para-bapa-gereja/#footnote_0_4913

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: