open mind.com weblog


Kalau Paulus mengatakan dan mengakui, dalam konteks dunia Yunani-Romawi kuno, ada banyak allah dan ada banyak tuhan (1 Korintus 8:5-6), dia tentu sedang merujuk bukan hanya kepada dewa-dewa tradisional Yunani (Zeus/Jupiter sebagai Dewa tertinggi, lalu menyusul dewa-dewi lainnya: Poseidon/Neptune, Hera/Juno, Afrodit/Venus, Artemis/Diana, Dionysus/Bacchus, Ares/Mars) atau kepada dewa-dewa yang resmi diakui negara dan yang disembah dalam kultus-kultus lokal, atau kepada dewa-dewi dalam kultus-kultus keluarga (Penates, Lares, dan “genius”/“malaikat pelindung”). Tetapi dia juga sedang mengacu kepada dewa-dewi yang disembah dalam berbagai jenis agama atau kultus misteri dan kepada tokoh-tokoh adi-insani (“superhuman”) yang telah diilahikan, dideifikasi (apotheōsis), menjadi allah dan tuhan atau “manusia ilahi” yang disembah dalam berbagai kultus dan yang (sebagian) dijadikan allah-allah negara Roma. Berikut ini disajikan berbagai macam dewa atau allah dalam dunia Yunani-Romawi kuno beserta dengan kultus yang dikaitkan kepada masing-masing dewa.

Dewa-dewi dalam Agama-agama Misteri

Kultus Isis (& Osiris)

Di dalam kultus Isis yang berasal dari Mesir, yang sudah dikenal di luar Mesir sejak abad 5 S.M., dan tetap bertahan sampai abad 4 M di dunia Yunani-Romawi, Dewi Isis (bersuamikan Osiris) disembah sebagai “Ibu atas Segala Sesuatu”;[1] dia ditinggikan sebagai “Ratu sorga”, “Dewi Penyembuh” yang memiliki obat untuk hidup kekal; dia menyatakan diri sebagai Penguasa daratan, yang memisahkan bumi dari sorga: “Akulah Isis (egō eimi Isis), penguasa seluruh daratan, Akulah dia yang telah menemukan buah-buahan untuk umat manusia, Akulah dia yang memisahkan bumi dari sorga….”[2] Di dalam buku Metamorfoses (11.5:1-3) yang ditulis Apuleius (lahir 123 M.), dimuat aretalogi penyataan diri Isis: “… Akulah Ibu dari alam semesta, Ibu segala unsur, Yang sulung dari segala dunia, Yang tertinggi dari semua allah, Ratu alam maut, Yang pertama dari segala yang ada di sorga, Bentuk tunggal yang menyerap semua allah,…. Akulah Allah yang tunggal yang disembah oleh seluruh dunia melalui berbagai macam cara, melalui ritus-ritus, dan dengan banyak nama ….” Isis diakui sebagai “Juru selamat yang kekal dan paling kudus untuk umat manusia”.[3] Aretalogi ini jelas condong menempatkan Dewi Isis dalam kerangka universalisme dan monoteisme.[4]

Kultus Serapis

Di dalam kultus Serapis (Sarapis, Zaparrus), yang juga berasal dari Mesir dan bersama dengan kultus Isis menyebar keluar Mesir, Dewa Serapis, melalui perantara manusia, mengundang para penyembahnya untuk datang mengikuti perjamuan suci: “Sang Dewa mengundang anda ke perjamuannya yang akan diselenggarakan di kuil Thoeris, besok pada jam yang kesembilan.”[5] Dewa Serapis (perpaduan dua nama: Osiris dan Apis) merupakan suatu dewa gabungan dari dewa-dewa Mesir dan dewa-dewa Yunani, dan disetarakan dengan Dewa Zeus (dewa tertinggi Yunani) dan Dewa Asklepius (dewa penyembuh). Dari perpaduan ini, muncullah figur Dewa Serapis yang merangkumi kekuasaan dewa teragung Yunani dan dewa matahari (Zeus dan Helios), dewa kesuburan (Dionysus), dewa dunia orang mati, kehidupan kekal dan juga dewa penyembuh (Hades dan Asklepius). Sejak Kaisar Konstantinus memerintah pada abad ke-4 M, wajah Serapis (sebagai Zeus orang Mesir) dengan rambutnya yang panjang dan ikal serta janggutnya yang lebat (lihat gambar di atas) diambil alih menjadi wajah Yesus, “Zeus” menjadi “Yesus”.[6]

Dewa Mithras

Penyembahan kepada Dewa Matahari agung Persia yang bernama Mithras (“perjanjian”) melahirkan kultus Mithras (para anggotanya eksklusif kaum pria) yang berkembang di Roma dan tempat-tempat lain. Pada akhir abad 3 M., Mithras dijadikan Allah resmi kekaisaran Roma.[7] Para anggota kultus ini menantikan kedatangan kembali dewa Mithras pada akhir zaman.[8] Di dalam kultus ini, ketika diadakan acara penyambutan kepada anggota baru, diselenggarakan suatu perjamuan yang unsur-unsurnya sama dengan unsur-unsur yang terdapat di dalam ekaristi Kristen: roti, anggur dan kata-kata yang mengiringi.[9]

Kultus Asklepius

Di dalam Himne Homerik (abad 5 S.M.) dinyatakan bahwa Asklepius adalah manusia setengah dewa dan setengah manusia, dilahirkan dari perkawinan Dewa Apollo dengan Puteri Koronis dari Tesalonika. Setelah kematiannya, dia diangkat menjadi seorang Hero, dan akhirnya mendapat status Allah. Dia (bersama puterinya, Hygieia, personifikasi kesehatan dan kesejahteraan) disembah sebagai Dewa penyembuh; dan dipandang sebagai Dewa yang paling bersimpati dengan manusia yang menderita dan berkenan menyembuhkan mereka. Kuil-kuil pemujaan terhadap Dewa Asklepius didirikan di banyak tempat, seperti di Atena, Pergamum dan Kos; tetapi pusatnya terdapat di Epidauros. Pada masa Hellenistik, jumlah kuil Asklepius mencapai 300 buah; angka ini menandakan keberhasilan kultus ini dalam berpropaganda.[10] Penggalian di kota Korintus memperlihatkan adanya kuil Asklepius di kota ini, lengkap dengan ruang-ruang makan untuk para pengunjung dan pasien yang mencari kesembuhan dari sang Dewa. Peringatan Paulus di dalam 1 Korintus 8:10 untuk tidak makan daging di kuill berhala tentu mengacu ke kuil Asklepius ini. Suatu kali, sehabis terjadi suatu kesembuhan, suatu pujian diangkat untuk Dewa Asklepius: “O Tuhan dan Allah, betapa besar kuasamu.”[11] Seorang penulis kuno menaikkan pujian kepada Asklepius: “Aku mau memberitakan penampakan-penampakannya yang ajaib, keagungan kuasanya dan manfaat dari karunia-karunianya.”[12]

Manusia ilahi (theios anēr)

Apollonius dari Tyana (sebuah kota kecil di Asia Kecil, di provinsi Kappadokia), hidup pada abad 1 (antara 4-96), adalah seorang filsuf Pythagorean, seorang pengkotbah keliling yang menyampaikan hikmat rahasia dari Timur (dia berguru antara lain di Babilonia, Mesir dan India), seorang pembaru agama, dan seorang pembuat mukjizat. Biografi tentang dirinya (berjudul Vita Apollonii) ditulis lebih dari satu abad kemudian oleh Flavius Filostratus (hidup antara 170 dan 245), lengkap ditulis pada tahun 222. Pada tahun-tahun awal kegiatannya, Apollonius banyak menghabiskan waktunya di kuil Asklepius di Aegae; ini menyiapkan dirinya menjadi penyembuh. Di dalam Vita Apollonii 2.17 dan 8.15, Apollonius dari Tyana disebut sebagai seorang “manusia ilahi”, theios anēr; dan di dalam 5.24 dinyatakan bahwa kerumunan orang banyak di Mesir memandangnya “seperti memandang Allah (theos).” Kata-kata sifat theios (“ilahi”) dan daimonios (“bersifat ilahi”) sering dipakai untuknya (Vita Apollonii 1.2).

Di dalam biografi Filostratus itu, kelahiran dan akhir hidup Apollonius dari Tyana digambarkan penuh dengan peristiwa-peristiwa ajaib: suatu Dewa Mesir berbicara kepada ibunya di dalam suatu mimpi; ketika dia dilahirkan angsa-angsa bernyanyi, dan kilat menyambar dari angkasa ke bumi sehingga penduduk memproklamirkan dia sebagai Anak Dewa Zeus (paida tou Dios). Ketika usianya sudah cukup, dia masuk sekolah, dan semua orang heran atas daya ingatnya yang luar biasa dan atas parasnya yang rupawan. Di akhir hidupnya tidak dinyatakan bahwa dia mati, tetapi dia raib, menghilang, namun tidak jelas bagaimana caranya. Kuburannya tidak ada; tetapi dia menampakkan diri kembali kepada seorang muridnya yang tidak percaya. Pengangkatannya ke surga diceritakan berlangsung dari sebuah kuil, dengan diiringi nyanyian gadis-gadis: “Meninggalkan bumi dan masuk ke surga.” Aktivitasnya digambarkan sepenuhnya paralel dengan aktivitas Yesus: hidup berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya, mengajar, membuat mukjizat, mengusir setan-setan (Vita Apollonii 4.20; 2.4; 3.8; 4.10,25; 6.27), dan membangkitkan orang mati (Vita Apollonii 4.45). Di sekitarnya terbentuk ikatan para murid. Karena itu tidaklah mengejutkan jika pada abad 4 Apollonius dari Tyana dipandang sebagai figur tandingan Yesus Kristus.[13]

Apotheōsis (Pengilahian/Deifikasi Manusia)
dalam Kultus Penguasa, Kultus Hero dan Kultus Kaisar

Kultus Penguasa[14]

Lysander (seorang jenderal Sparta dalam Perang Peloponnesus [431-404 S.M.]) adalah orang Yunani pertama yang untuknya, ketika dia masih hidup dan perang hampir berakhir (404 s.M.), kota-kota membangun altar-altar dan memberikan kurban-kurban; dan yang untuknya juga madah-madah keagamaan digubah dan dinyanyikan. Kultus dirinya ini didirikan sebagai suatu bentuk penghormatan atas kemenangan-kemenangannya melawan orang-orang Atena, sehingga orang-orang Sparta memperoleh kembali negeri, kedaulatan dan harta milik mereka.

Berbagai penghormatan ilahi (berupa kurban-kurban syukur, kompetisi atletik, altar, citra kultis) diberikan kepada Antigonus I (orang Makedonia, seorang jenderal dari Aleksander Agung) pada tahun 311 S.M., karena dia telah membawa kabar baik (euaggelion) kepada penduduk kota Skepsis (dekat Troy, sebelah barat laut Asia Kecil) bahwa dia telah membuat perjanjian damai dengan para jenderal lainnya dan bahwa “semua pihak yang mengadakan perjanjian itu” menjamin adanya “kebebasan dan otonomi bagi semua negara bagian”.

Pada tahun 307 S.M., Demetrius yang diberi gelar Poliorketēs (“penakluk kota-kota”), putera tertua dari dua putera Antigonus, membebaskan kota Atena dari seorang penguasa tiran dan dari pendudukan orang-orang Makedonia. Sejak itu orang-orang Atena memberi penghormatan kepadanya; dan pada kunjungan keduanya di kota Atena (tahun 304 s.M.) tempat dia berpijak setelah turun dari kereta perangnya dinyatakan sebagai tempat kudus dari “Allah yang turun”, dan sebuah altar dibangun di situ. Suatu madah kultis digubah untuk memujanya. Dalam madah ini dinyatakan antara lain bahwa dia adalah “Yang terbesar dari para allah, yang sedang datang masuk (pareisin) ke kota kami”; “Anak dari Dewa perkasa Poseidon dan Dewi Afrodite”; dan bahwa, berbeda dari dewa-dewa lain yang jauh dari umat, tuli, atau tidak ada, atau tidak memedulikan mereka, dia “berada di tengah kami bukan dalam bentuk kayu atau batu tetapi secara jasmaniah, karena itu kami berdoa kepadamu”; bahwa dia “membawa perdamaian karena engkau adalah Tuhan (kurios).”

Kultus Hero[15]

Kultus hero adalah pemujaan atas orang yang sudah meninggal, yang semasa hidupnya telah melakukan tindakan-tindakan heroik luar biasa, dan yang dipercaya masih tetap memiliki kuasa setelah kematiannya. Orang mati yang telah dinyatakan sebagai “hero” dapat naik statusnya menjadi semacam “demigod”, manusia setengah dewa, atau lebih tinggi lagi menjadi daimōn, dan pada akhirnya dapat menjadi Allah. Pusat kultus dirinya adalah kuburannya yang berisi tulang-belulangnya. Orang-orang Atena mendirikan kultus hero untuk Theseus, pendiri demokrasi Atena yang legendaris, karena dilaporkan bahwa dia telah “menampakkan diri kembali” setelah kematiannya dalam pakaian perang lengkap di kota Marathon, ketika berlangsung perang melawan orang-orang Persia. Setelah Perang Persia berakhir, atas petunjuk suatu orakel (wangsit) Delfik (476/5 S.M.), tulang-belulangnya dipindahkan ke Atena dan dikuburkan kembali di tempat terhormat. Tempat keramat kuburannya menjadi tempat pelarian para budak dan orang-orang kebanyakan yang takut terhadap orang-orang yang lebih berkuasa dari mereka. Semasa hidupnya Theseus memang dikenal sebagai orang yang memberikan perlindungan dan bantuan kepada orang-orang tertindas.

Deifikasi Aleksander Agung[16]

Kemahabesaran Aleksander Agung (356-323 S.M.) telah melahirkan banyak mitos dan legenda tentang dirinya. Peristiwa kelahirannya dituangkan dalam suatu mitos. Konsepsi dirinya dalam kandungan ibunya (Olympias) digambarkan sebagai akibat penetrasi kekuatan supranatural dari dunia ilahi. Sebelum ibu dan ayahnya (Raja Filip II dari Makedonia) memasuki malam pengantin, sang ibu bermimpi terjadi “guntur menggelegar dan kilat masuk ke dalam tubuhnya; kilat ini menimbulkan api besar yang berkobar-kobar dan menyebar ke segala arah.” Beberapa waktu kemudian, setelah perkawinan, Filip bermimpi pula. Dalam mimpinya dia membubuhi sebuah segel ke tubuh isterinya, dan tampak kepadanya bahwa ukiran pada segel itu menampilkan gambar seekor singa. Mimpi-mimpi ini ditafsirkan. Ukiran singa pada segel menunjukkan bahwa akan dilahirkan seorang anak laki-laki yang “gagah berani dan penuh gairah seperti seekor singa”; dan “api besar yang berkobar-kobar dan menyebar ke segala arah” menandakan bahwa anak yang dikandung itu akan menjadi penakluk dunia. Juga diceritakan bahwa suatu saat, ketika ratu Olympias sedang tidur, “tampak seekor ular menjalar, meliliti tubuhnya”; ini diartikan bahwa yang menjadi ayah Aleksander Agung bukanlah Filip, tetapi Dewa Zeus-Ammon, yang datang sebagai seekor ular yang mengadakan hubungan seksual dengan Olympias. Aleksander Agung sendiri percaya bahwa dirinya adalah “anak Zeus” (pai Dios) karena dia disapa dengan nama itu oleh imam di oasis Siva di padang gurun Lybia, ketika dia mencari wangsit dari Zeus-Ammon.

Ketika Aleksander Agung benar-benar berhasil menjadi penakluk dunia, beberapa kota Yunani di Asia Kecil memujanya sebagai Allah. Kultus pemujaan terhadap Aleksander Agung ini didirikan ketika dia masih hidup, yakni ketika dia melakukan kampanye militernya di Asia Kecil (334-333 s.M.) untuk membebaskan orang-orang Yunani di situ dari penindasan Persia. Kultus ini dibangun sebagai suatu penghormatan ilahi terhadap dirinya. Di Efesus terdapat sebuah kuil untuk kultus Aleksander Agung lengkap dengan imamnya (dari 102-116 M).

Lain halnya bagi penduduk kota-kota di Yunani sendiri. Pada tahun 324 S.M., di Atena dan Sparta timbul diskusi mendalam tentang apakah Aleksander Agung harus dideifikasikan. Diskusi ini melahirkan sebuah keputusan untuk memberikan gelar ilahi bagi Aleksander Agung. Utusan-utusan dari Yunani mendatangi Aleksander yang sedang berada di Babilonia untuk menganugerahkannya penghormatan ilahi; mereka datang dengan memakai mahkota-mahkota yang hanya cocok dipakai ketika orang datang menghadap Allah. Aleksander Agung sendiri memang menginginkan suatu penghormatan ilahi diberikan kepadanya, mengingat keberhasilannya dalam memikul tugas besar yang adi-insani dan kedudukannya yang tinggi. Dengan meminta dirinya di-“apotheosis”-kan, Aleksander Agung telah membuka jalan untuk para pemimpin lainnya melakukan hal yang sama. Pada tahun 323 S.M. Aleksander Agung terserang demam yang membawanya pada kematian di Babilonia pada usia yang masih muda, kurang dari 33 tahun.

Deifikasi Kaisar-kaisar Roma

Dalam masa pemerintahannya, Julius Kaisar sudah diberikan penghormatan kultis: silsilah mitis disusun untuknya bahwa dia adalah anak dari Dewa Ares/Mars dan Dewi Afrodite/Venus; patung dirinya dibangun di dalam kuil Dewa Quirinus; nama “Juli” dijadikan nama suatu bulan; sebuah kuil dibangun untuk dirinya dengan imamnya Mark Antony. Pada sebuah prasasti dari Efesus (berasal dari tahun 49 S.M.), tentang dirinya antara lain dikatakan bahwa dia adalah “Allah yang telah menampakkan diri (tēs theon epifanē) dan penyelamat kehidupan manusia (tou anthrōpinou biou sōtēra).” Sebuah inskripsi lain dari tahun yang sama, dari Demetrias di Thessaly, menyatakan “Gaius Julius Caesar, Imperator, Allah.” Setelah kematiannya (dibunuh, tahun 44 S.M.), berdasarkan suatu kesaksian bahwa rohnya telah naik ke sorga dari tumpukan perapian yang bernyala-nyala, Julius Kaisar resmi di-apotheosis-kan, dan dia dinyatakan sebagai salah satu Allah negara. Suetonius menceritakan bahwa selama kompetisi atletik pertama yang diselenggarakan Augustus (Oktavianus) dalam rangka menghormati Julius Kaisar, sebuah komet muncul pada jam yang kesebelas dan menerangi angkasa selama tujuh hari; orang percaya bahwa “ini adalah roh Kaisar, yang telah diangkat ke sorga” (Divus Julius 88).[17]

Oktavianus diberi suatu gelar kehormatan “Augustus” (= “dikuduskan”, “tidak dapat digugat”, “patut dimuliakan”, “ditinggikan”; Yunani: sebastos) pada 27 S.M. Pada tahun 29 S.M., sang Kaisar mengizinkan dibangunnya sebuah kuil untuk Dea Roma dan Divus Julius di Efesus, dan pada waktu yang sama dia memperbolehkan pembangunan sebuah kuil di Pergamum bagi Dewi Roma dan bagi dirinya sendiri. Penduduk kota Mytilene merayakan hari kelahiran sang Kaisar (23 September) pada tahun 25 S.M.; dalam konteks inilah muncul prasasti-prasasti di Asia Kecil yang menyebut Augustus sebagai penyelamat ilahi bagi umat manusia dan sebagai pencipta perdamaian. Pax Romana dipandang sebagai prestasi besar pemerintahan Augustus; keadaan damai inilah yang menjadi alasan untuk memuliakan Augustus. Sebuah inskripsi yang memuat dekrit Majelis Provinsial Asia (9 S.M.), yang berasal dari kota Priene di Ionia, menyatakan bahwa “hari kelahiran Kaisar yang ilahi telah mendatangkan lebih banyak suka cita, atau lebih banyak kebaikan”, bahwa hari kelahirannya adalah “permulaan (arkhē) segala sesuatu”, “permulaan kehidupan dan eksistensi”; bahwa dialah “sang penyelamat bagi kami dan keturunan kami”, “orang yang telah mengakhiri perang dan menciptakan perdamaian”; dan bahwa “hari lahir allah [Augustus] bagi seluruh dunia telah menjadi permulaan kabar baik (euaggeliōn) tentang dirinya”.[18] Setelah kematiannya, Senat memutuskan (17 September 14 S.M.) untuk meng-apotheosis-kan dirinya dan memberikannya tempat di antara para Allah negara. Seorang bekas praetor bersumpah telah melihat figur Augustus naik ke sorga pada waktu dia dikremasi.

Seperti pada Aleksander Agung, mitos dan legenda di sekitar kelahiran dan kematian Augustus berkembang. Dikisahkan (oleh Suetonius, Augustus 94.1-7) bahwa Atia (ibunya) pergi pada suatu tengah malam ke ritus suci Dewa Apollo; di kuil itu dia memasang tandunya. Ketika perempuan-perempuan lainnya sudah tidur, dia pun terlelap. Tiba-tiba seekor ular merayap menuju dirinya; melilitinya lalu segera meninggalkan dirinya kembali. Ketika dia bangun, dia menyucikan dirinya seperti lazimnya dilakukan kaum perempuan sehabis berhubungan seks dengan seorang pria. Segera pada tubuhnya muncul suatu tanda berwarna seperti seekor ular, dan tanda ini tidak bisa dihilangkannya. Karena itu dia selalu menghindar dari tempat pemandian umum. Augustus dilahirkan pada bulan yang kesepuluh setelah peristiwa itu, dan karena peristiwa itu dia dipandang sebagai anak Apollo. Sebelum kelahirannya, Atia bermimpi rahimnya di bawa ke atas menuju bintang-bintang lalu disebar ke seluruh bentangan langit dan bumi. Ayahnya, Oktavius, juga bermimpi seberkas cahaya matahari memancar keluar dari rahim Atia.[19]

Kultus Kaisar Tiberius (memerintah 14-37 M) berkembang di tujuh kota di Asia Kecil; di sana untuknya didirikan kuil, lengkap dengan imam-imamnya. Sebuah prasasti dari kota Myra di Lycia memuat pernyataan berikut: “Rakyat Myra (memberi penghormatan kepada) Kaisar Tiberius, Allah yang dimuliakan, anak dari para allah yang ditinggikan, Tuhan atas daratan dan lautan, sang pelindung dan penyelamat seluruh dunia.”[20]

Kaisar Kaligula (memerintah 37-41 M) pada satu pihak adalah seorang pemimpin yang dipuja-puja, tetapi di lain pihak dia adalah seorang pemimpin dengan reputasi buruk karena kesewenang-wenangannya. Tentang Kaligula, Philo pada satu pihak menulis bahwa “dia akan mencurahkan aliran-aliran berkat baru bagi Asia dan Eropa sebagai penyelamat dan pelindung (sōtēr kai euergetēs), dengan mendatangkan nasib baik yang langgeng bagi semua orang dan bagi setiap orang perorangan” (Legatio ad Gaium 22). Tetapi pada pihak lain, Philo menyebut Kaligula sebagai seekor “binatang yang kejam” (Legatio ad Gaium 22); demikian juga Suetonius menyebutnya sebagai “monster” (Kaligula 22:1). Sebutan semacam ini muncul karena Kaligula membangun persaingan dengan allah-allah tradisional, khususnya terhadap Dewa Zeus Olympus. Ketika Philo pribadi muncul di hadapan Kaisar Kaligula untuk membela kepentingan orang-orang Yahudi di Aleksandria, sang Kaisar menyalami Philo, “Jadi Saudara-saudara adalah orang-orang yang merendahkan allah-allah, orang-orang yang tidak percaya bahwa akulah Allah” (Legatio ad Gaium 353).[21] Sebuah prasasti yang dibangun oleh Majelis kota Efesus di Asia Kecil sekitar tahun 38 M untuk memuliakan Gaius Julius Caesar Germanicus (atau Kaisar Kaligula) memuat tulisan ini: “Majelis dan penduduk kota-kota (Efesus dan Yunani), yang tinggal di Asia dan bangsa-bangsa (mengakui) Gaius Julius, anak dari Kaisar Gaius, sebagai Imam Besar dan Penguasa Absolut, … Allah yang kelihatan yang dilahirkan dari (dewa-dewa) Ares dan Afrodite, sang Penyelamat kehidupan manusia seluruhnya.”[22] Kaligula tidak dideifikasikan setelah kematiannya.

Untuk Kaisar Klaudius (memerintah 41-54 M), hanya setelah kematiannya dibangun sebuah altar dan kuil di Kamulodunum di Britania Raya; di situ dia dipuja sebagai Allah. Sebelumnya di tempat itu berdiri sebuah altar untuk Dewi Roma dan Allah Augustus.[23]

Tentang Kaisar Vespasianus (69-79 M) dikatakan bahwa ketika dia sedang menanti ajal, berkatalah dia, “Celakalah! Aku kira aku sedang menjadi suatu Allah” (Suetonius, Vespasianus 23.4). Menurut Suetonius (Domitianus 13.2), Kaisar Domitianus memakai ungkapan Dominus et deus noster, “Tuhan dan Allah kita”, ketika mengacu kepada dirinya sendiri pada waktu dia menulis surat dan mengeluarkan edik.

Penutup

Dunia sosiokultural, religius dan politis Yunani-Romawi kuno yang menjadi konteks historis-kultural dan politis kehidupan komunitas Kristen yang didirikan oleh Paulus ditandai oleh “pluralisme” dan toleransi yang ramah di dalam kehidupan kultis keagamaan. Pada masa Paulus, di provinsi-provinsi kekaisaran Romawi sebelah timur, tidak ada satu “agama” kekaisaran yang resmi diterima. Praktek-praktek kultis keagamaan yang berbagai jenis diterima dengan toleran.[24] Pada masa Paulus aktif dengan kegiatan-kegiatan misioner evangelistiknya (tahun 34-64) di kawasan-kawasan Laut Tengah utara, khususnya di Asia Kecil, Makedonia dan Akhaia, kekristenan di dunia Yunani-Romawi dapat cepat berkembang tanpa hambatan dari pihak pemerintah Roma.[25] Selain harus mempertahankan kesatuan internal yang kokoh, yang diikat oleh suatu pengakuan atas Allah yang satu dan Tuhan yang satu, kekristenan yang tumbuh sebagai suatu kultus di tengah dunia religius yang majemuk juga harus terlibat persaingan untuk memperebutkan anggota-anggota baru dengan kultus-kultus keagamaan lainnya.[26] Sebelum Kaisar Konstantinus berkuasa pada abad keempat, kekristenan bukanlah agama resmi yang dilindungi negara, melainkan salah satu agama dalam konteks keagamaan dunia Yunani-Romawi yang majemuk. Pada masa itu, ada banyak allah dan ada banyak tuhan yang disembah. Dan kekristenan harus berjuang di lapangan ideologis politis untuk menentukan tuhannya sendiri, yang sebisa mungkin harus lebih tinggi dari tuhan-tuhan Yunani-Romawi, atau sedikitnya setara dengan tuhan-tuhan itu. Di luar konteks persaingan ideologis politis tuhan-tuhan itu, Yesus tidak akan dipertuhankan oleh kekristenan.

Catatan-catatan

[1] Luther H. Martin, Hellenistic Religions: An Introduction (New York Oxford: Oxford University Press, 1987) 72, 76.

[2] Hans-Josef Klauck, The Religious Context of Early Christianity: A Guide to Graeco-Roman Religions (Edinburgh: T&T Clark, 2000) 132.

[3] David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study of the Gospels (Minneapolis: Fortress Press, 19942) 165-168.

[4] Helmut Koester, Introduction to the New Testament. Vol. 1: History, Culture and Religion of the Hellenistic Age (New York – Berlin: Walter De Gruyter, 1987 [1982]) 188.

[5] Klauck, The Religious Context, 139.

[6] Lebih lanjut, lihat artikel “The Error of the Long-haired Jesus” dalam http://www.askelm.com/secrets/sec103.htm; dan Jefferson Monet, “Feature Story: Serapis (Sarapis), the Composite God” dalam http://www.touregypt.net/featurestories/serapis.htm.

[7] Koester, Introduction to the New Testament, 1. 372.

[8] Klauck, The Religious Context, 140.

[9] Klauck, The Religious Context, 141-142. Bdk. Martin, Hellenistic Religions, 117.

[10] Koester, Introduction to the New Testament,1.174.

[11] Klauck, The Religious Context, 156-157, 159.

[12] David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 124.

[13] Lebih jauh tentang Apollonius dari Tyana, lihat Klauck, The Religious Context, 168-177; David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 203-238.

[14] Tentang ini, lihat Klauck, The Religious Context, 253-261.

[15] Klauck, The Religious Context, 261-262.

[16] Lebih jauh, lihat Klauck, The Religious Context, 266-274; juga Koester, Introduction to the New Testament, 1.6-12; David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 131-132.

[17] Klauck, The Religious Context, 289-294.

[18] Tentang kaitan prasasti tentang kelahiran Kaisar Augustus ini dengan kisah kelahiran Yesus dalam Injil Lukas, lihat Richard A. Horsley, The Liberation of Christmas: The Infancy Narratives in Social Context (New York: Crossroad, 1989) 27ff.

[19] Lihat Klauck, The Religious Context, 294-301; David R. Cartlidge & David L. Dungan, eds., Documents for the Study, 132-133.

[20]Klauck, The Religious Context, 302.

[21] Klauck, The Religious Context, 303-304.

[22] Bart D. Ehrman, The New Testament: A Historical Introduction to the Early Christian Writings (New York, Oxford: Oxford University Press, 20043) 30.

[23] Klauck, The Religious Context, 305.

[24] Wayne A. Meeks, “Breaking Away: Three New Testament Pictures of Christianity’s Separation from the Jewish Communities”, dalam Jacob Neusner and Ernest S. Frerichs, eds., “To See Ourselves As Others See Us”: Christians, Jews, “Others” in Late Antiquity (Chico, California: Scholars Press, 1985) 104; Bart D. Ehrman, The New Testament, 30-33.

[25] Penganiayaan atas orang-orang Kristen di kota Roma atas perintah Nero (tahun 54-68) terjadi bukan karena mereka beragama Kristen, tetapi karena mereka dijadikan kambing hitam atas peristiwa kebakaran besar selama sembilan hari yang melanda kota Roma pada Juli 64 (Tacitus, Annals 15.44). Lihat: Lester L. Grabbe, Judaism from Cyrus to Hadrian. Vol. 2: The Roman Period (Minneapolis: Fortress Press, 1992) 2.445; Bart D. Ehrman, The New Testament, 430.

Sejauh terdokumentasi, reaksi resmi pertama dari kekaisaran Roma terhadap kekristenan muncul dari Pliny (yang lebih muda), gubernur Roma untuk propinsi Bithynia-Pontus di Asia Kecil, ketika ia pada tahun 111 menulis surat kepada Kaisar Trajanus (98-117), Surat Pliny kepada Trajanus (10.96). Di dalam suratnya ini, Pliny meminta pendapat dan petunjuk sang Kaisar perihal bagaimana dia telah dan harus menangani suatu agama baru, kekristenan. Di dalam suratnya ini, dia menceritakan usaha-usaha yang telah dilakukannya untuk menghambat orang-orang Kristen menghayati agama mereka, dan perihal bagaimana dia dapat memaksa mereka berpaling meninggalkan Kristus untuk menyembah dewa-dewa Romawi dan sang Kaisar sendiri, dan perihal bagaimana dia mengeksekusi mereka yang membangkang. Dia berprasangka bahwa kekristenan sebagai suatu gerakan keagamaan yang baru adalah suatu “perhimpunan politik” yang dengan cepat dapat menjadi suatu ancaman bagi kekuasaan pemerintahan Romawi yang sah. Tetapi dia tidak dapat membuktikan hal ini; yang dia temukan justru kekristenan, dalam penilaiannya, sebagai suatu bentuk “takhayul yang berlebihan dan bejat.” Lihat Luther H. Martin, Hellenistic Religions: An Introduction (New York Oxford: Oxford University Press, 1987) 124-125; Helmut Koester, Introduction to the New Testament. Vol. 1: History, Culture and Religion of the Hellenistic Age (New York – Berlin: Walter De Gruyter, 1987 [1982]) 370-71; Vol. 2: History and Literature of Early Christianity, 334ff.; Ehrman, The New Testament, 430-431.

[26] Jack T. Sanders, Schismatics, Sectarians, Dissidents, Deviants. The First One Hundred Years of Jewish-Christian Relations (London: SCM Press, 1993) 255.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: